
...Happy Reading...
Hanami dan keluarga memang sengaja membuat acara lamarannya dirumah mereka sendiri saja, karena hanya akan ada tamu undangan dari keluarga terdekat dan seluruh genk mamahnya beserta anak-anaknya yang pasti.
Dekorasi ruangan sudah tertata rapi, harumnya bunga segar itu juga menambah kesan nyaman dan indah tentunya. Catering pun sudah siap, bahkan ada beberapa penyanyi homeband disudut ruangan yang sengaja mereka undang untuk menambah kesan hangat dan santai dalam acara malam ini.
Para tamu undangan dan warga sekitarpun sudah mulai berdatangan, mereka terlihat menikmati suasana pesta malam ini.
" Kak, gimana nanti ngomongnya sama pihak keluarga kak Hana saat aku melamarnya?" Tanya Raymond dengan sang kakak yang sedang membantu merapikan dasinya diruangan terpisah dengan Hana yang sedang dirias.
" Hmm.. gimana ya? kakak juga nggak tau?" Adelia sempat berfikir sejenak namun dia tidak menemukan jawabannya.
" Woi... Beng, gimana dulu kamu melamar kakakku?" Ray mengalihkan pandangan kearah Ganesh yang terlihat sibuk dengan ponsel ditangannya.
" Tinggal ngomong saja, Sayang... apapun caranya kamu harus jadi istriku, trus kamu kasih cincinnya, selesai dah, gitu aja kok ribet!" Ucap Ganesh yang membuat Adelia langsung mencubit lengan suaminya.
" Ngajarin apaan sih kakak ini, jangan begitu Ray?" Adelia malah terkekeh sendiri saat mendengarnya.
" Nggak jelas luu Beng, mana ada orang nglamar kayak begitu, itu namanya pemaksaan." Ray menatap kakak iparnya dengan jengah, dia memang tidak pernah sependapat dengan Ganesh.
" Lah... dulu aku kan memang sedikit memaksa karena sudah tercidvk, apa kamu lupa?" Jawab Ganesh tanpa rasa malu sedikitpun.
" Diiihh... tercidvk kasus saja bangga luu Beng, nggak tau apa, gara-gara itu aku..." Ray langsung menggantungkan ucapannya.
" Gara-gara itu kamu kenapa Ray?" Adelia langsung menyipitkan kedua matanya.
" Emm... gara-gara itu kakak kan jadi menikah dengannya." Ucap Ray sambil melirik Ganesh yang terlihat menghela nafasnya.
" Maaf." Ucap Ganesh lirih.
" Heih... sudahlah kak, aku sudah tampan mau pakai baju apapun, kita keluar sekarang yuk, kita tunggu didepan saja sama mom and dad."
Hampir saja dia keceplosan, Ray tahu kalau Ganesh pasti mengetahui tentang kasusnya, namun dia tidak ingin membuat Adelia sedih dan yang terpenting sekarang dia juga sudah sehat kembali.
" Ada apa sih kak?" Adelia langsung mendekati suaminya."
" It's okey, kita sambut tamu didepan saja yuk?" Ganesh langsung menggandeng tubuh istrinya untuk keluar dari ruangan itu.
Sebenarnya dia ingin cerita, namun takut jika istrinya kecewa, lagipula sekarang semua sudah baik-baik saja, kalau diceritakan sekarang juga waktunya pun tidak tepat.
" Duh... gantengnya anak mommy? ini cincinnya nak, kamu mau simpan dimana?" Mala memberikan satu kotak perhiasan yang berisikan cincin berlian didalamnya.
" Cincin aja nih mom?" Ray berkomentar saat melihat isi didalamnya.
" Jadi mau apa aja? ini kan baru tunangan, lagian selang waktu pernikahan kalian juga nggak akan lama kok, takut nanti kalian nggak bisa jaga jarak aman!" Ucap Mala yang sudah berunding dengan keluarga Shanum tadi.
Tau aja mommy ini, kalau aku nggak bisa nahan kalau berduaan dengan my Hana.
" Ya kan bisa satu set perhiasan mom, kak Hana itu CEO mom, masak iya Ray nglamar CEO cuma bawa cincin doang?"
" Owh begitu ya?" Mala terlihat menyesal jadinya.
" Makanya, jangan sekongkol dengan kak Hana, ada apa-apa itu nanya ke Ray dulu dong mom."
Ray langsung memonyongkan bibirr tipisnya sebagai tanda protes.
" Ya.. mau gimana lagi, coba saja kamu bayangin, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba Hana datang nemuin mommy, dia bilang mau nglamar kamu!"
" Benarkah?" Ray langsung tersenyum miring.
" Yes.. dia bahkan lebih nekad dari mamanya dulu, selain bilang Ya, mommy bisa apa? lagian juga saat kamu sakit, semenit pun pikiranmu tidak lepas dari Hana, atau jangan-jangan kamu?"
" Apaan sih mom, jangan berfikir yang aneh-aneh deh, mau aku sakit ataupun tidak, pikiranku selalu dipenuhi dengan kak Hana, dari dulu sampai sekarang." Jawab Ray dengan mantap.
" Trus, apa yang salah? semakin cepat kalian punya ikatan kan malah semakin bagus kan? kamu nggak takut apa, kalau Hana diambil orang, dia CEO wanita termuda loh nak, bahkan sering muncul di media sosial, nggak takut kehilangan dia kamu?"
Bukannya menenangkan, Mala malah terlihat menakut-nakuti putranya.
" Aku percaya sama kak Hana, dia bukan tipe wanita yang mudah terbujuk rayu oleh pria lain." Ucap Ray dengan yakin, seolah dialah yang paling tahu tentang Hana.
" Ciihh... percaya diri sekali kamu nak? sarapan apa kamu tadi pagi?
__ADS_1
" Mommy meragukanku?" Kedua sudut bibirku langsung terangkat semua.
" Hei adek... cinta tak selamanya indah dek?" Ledek Mala sambil menoel hidung mancung putranya.
Mommy nggak tau aja, kalau kami sudah melakukan perbuatan lebih dari sekedar yang dinamakan cinta di bibirr saja.
" Terserah mommy sajalah, tapi besok saat hari pernikahan, momny harus melibatkanku dalam hal apapun okey? Ray juga mau melakukan sesuatu untuk hari yang berharga dengan Hana mom." Ray langsung meletakkan kepalanya dipundak Mala dengan manja.
" Ckk... sudah mau lamaran kok masih nempel-nempel sama mommy kamu, sana ambil posisimu, acara sudah mau dimulai." Carlos langsung menarik tubuh istrinya agar mendekat padanya.
" Iri bilang boss!" Ucap Ray sambil terkekeh sendiri melihat daddynya.
" Lihat itu yank, anak siapa itu?" Carlos langsung menjeling ke arah Ganesh.
" Anak kita berdua dong sayang." Mala langsung memelvk tubuh suaminya.
" Kita buat lagi aja gimana? kedua anak kita sudah ada yang punya semua, mereka pasti akan pergi meninggalkan kita?"
" Bukannya lebih asyik, kita bisa pacaran dengan bebas berdua dirumah?"
" Woah... istriku memang tiada duanya." Carlos langsung menghujani civman diwajah istrinya.
Dan keromantisan mereka terlihat jelas dari kedua mata seorang pria yang masih terlihat muda dengan setelan jas berwarna biru dongker diujung sana.
" Om Arka? ternyata om diundang juga?"
" Heh... Hesti?"
Lamunan Arka terpecahkan karena suara Hesti yang tiba-tiba menggema ditelinganya.
" Om sendiri aja?" Tanya Hesti dengan wajah yang sumringah.
" Iya... Dimas sedang pergi keluar kota, dia tidak bisa pulang mendadak, karena sudah satu minggu ini dia mulai mengajar di kampus daerah sana." Jawab Arka dengan senyum canggung.
Baguslah itu, akhirnya aku bisa pedekate full sama om Arka, hehe...
" Kamu juga sendiri aja?" Tanya Arka balik, dia tidak biasa berbasa-basi dengan gadis yang umurnya jauh dibawahnya.
" Kalau om mau nemenin, aku nggak akan sendiri lagi." Jawab Hesti tanpa basa-basi.
" Hehe... maksudnya ayok kita duduk disana, acaranya sudah mau dimulai, let's go om!" Hesti langsung menarik lengan Arka yang terlihat kikuk dan kebingungan sendiri dengan keberanian gadis itu.
Terkadang sebuah cinta memang harus diawali dengan keberanian, namun gagal berperang lebih baik, daripada kecewa karena tidak berusaha.
Ray sudah tersenyum-senyum terus sedari tadi saat melihat kecantikan Hanami malam ini, apalagi dengan tubuh langsingnya yang dibalut dengan gaun berwarna putih memanjang, membuat aura kecantikannya terpancar jelas dimatanya.
" Kakak cantik banget, apa kita langsung menikah saja malam ini?" Ray berbisik didekat Hana yang langsung melotot.
" Hiss... kantor KUA sudah tutup, jangan ngelantur kamu, dari kemarin disuruh nikahin aku kemana aja kamu?" Hana langsung tersenyum miring melihat kekasih bucinnya itu.
" Aku selalu ada dihatimu, i love you my Hana." Ray langsung melancarkan gombalannya saat Hana terlihat kesal kepadanya.
" Dari dulu kenyang aku makan kata i love you dari kamu."
" Kok malah jadi ngambek sih, apapun ceritanya yang pasti kakak punya utang denganku ya?"
" Utang apaan?"
" Utang yang seger-seger, pokoknya nanti selesai acara aku mau nginep disini saja."
" Nggak boleh, pulang saja kamu!"
" Nggak mau, aku mau menagih janji, daripada kakak dosa karena mengingkari janji ya kan? aku mengingatkan kearah kebaikan tau kak."
" Banyak sekali lah ceritamu Ray, sana duduk jauhan, kita belum muhrim." Hana langsung menjauh dari tempat duduk Ray.
" Cieee... malu ni yee? makannya jangan berjanji kalau tidak mampu menepati."
" Sssttt... diem kamu, acaranya sudah dimulai."
Hana langsung mendelik kesal, dia tidak menyangka jika Ray benar-benar mau menagihnya, padahal itu hanya tipu daya saja, agar dia tidak marah tadi.
__ADS_1
Acarapun berlangsung dengan santai, karena keluarga mereka memang sudah saling mengenal baik sedari dulu, jadi tidak ada kecanggungan diantara mereka, yang ada hanya gelak dan tawa, sampai Ray tiba-tiba bersuara dengan ekspresi wajah yang serius.
" Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, izinkan saya selaku calon menantu uncle dan aunty memberikan sepatah atau dua patah kata, sebelum saya menyematkan cincin ke jari manis kekasih saya malam ini."
" Waah... tentu, silahkan nak Ray." Jawab Mark dengan tersenyum bahagia, bahkan para tamu undangan disana langsung bertepuk tangan melihat keberanian Ray.
" Ehermm." Ray terlihat mengatur pita suaranya dan merapikan dasinya.
" Semangat Ray, kamu pasti bisa!" Teriak Adelia dan Hesti yang kompak secara bersamaan.
" Hmm.. melihat banyak hal yang sudah saya lakukan selama perjalanan saya berhubungan dengan anak uncle dan aunty, dan dikarenakan kak Hanami sudah datang melamar saya duluan ke rumah, jadi saya tidak mau menunda pernikahan kami nanti lebih lama lagi, lebih cepat lebih baik." Ucapnya dengan yakin.
" HAH.. MELAMAR KAMU DULUAN?" Semua orang disana seolah memaku ditempat dan melongo saat mendengar ucapan Ray.
Astaga Ray!
Hana langsung terlihat memejamkan kedua matanya karena menahan malu, dia tidak menyangka jika Ray membicarakan tentang hal itu didepan semua orang disana.
" Hehe... kamu pasti grogi ya nak, tidak apa-apa salah ngomong sedikit, kami memaklumi hal itu, kami sudah paham maksud kamu." Mark langsung ikut berbicara disana.
" Memang apa yang salah uncle?" Tanya Ray dengan serius.
" Tadi itu, emm.. masak Hana yang melamar kamu duluan?" Shanum yang memang tidak tahu apa-apa langsung ikut membenarkan ucapan suaminya.
" Memang iya, dua hari yang lalu kak Hana datang ke rumah, dan bilang sama mommy kalau dia ingin melamarku." Ucap Ray dengan bangganya.
" Awas kamu ya Ray!" Umpat Hana perlahan dan langsung mengepalkan kedua tangannya sambil terus menundukan kepala.
" Hana? masak iya kamu yang melamar Ray duluan?" Bisik Shanum yang duduk disampingnya, dia seolah tidak percaya dengan kelakuan anaknya.
Terkutuk kamu Ray, inikah cara kamu untuk balas dendam?
Namun Hana memilih tersenyum saja, tanpa mau membenarkan atau menyangkalnya, walau memang semua itu benar adanya.
" Hahaha... tidak masalah, siapa yang mau melamar duluan, ini kan jaman emansipasi wanita, yang terpenting kan mereka tetap lamaran dengan resmi dan menikah nantinya, ya kan Hana." Mala jadi sedikit merasa bersalah karena sempat menceritakan hal itu kepada putra tengilnya tadi.
" Benar itu dan ini bahkan menjadi suatu kehormatan bagi keluarga kami, putra bontot kami yang sering usil ini bisa dilamar oleh CEO wanita termuda dan terbaik seperti nak Hana, tenang saja nak Hanami kamu terlihat sangat keren sekali." Carlos malah mengacungkan kedua jempolnya kearah Hana.
Lihat saja, aku jadiin kamu perkedel setelah ini Ray!
" Benar kata daddy, itu semua menunjukkan bahwa kak Hana memang benar-benar cinta mati denganku." Ucap Raymond dengan bangga, bahkan ditengah-tengah kalutnya perasaan Hana karena menahan malu, Ray malah tersenyum dan mengedipkan satu matanya kearah Hana.
Hu.um... bahkan aku ingin mematikanmu saat ini juga Ray.
" My Hana... kamu akan selalu memberiku kekuatan, sebelum atau setelah kita menikah. Karena itulah aku memilihmu untuk hidup hingga tua bersama denganku." Dia mulai mengikis jarak diantara mereka.
"Satu-satunya hal yang bisa kujanjikan padamu saat ini adalah hatiku yang tulus. Akan kulakukan yang terbaik untuk mencintaimu dengan cara yang sama seperti hari ini seumur hidupku." Ray kemudian meraih jemari Hana dengan penuh kelembutan.
"Let all my happiness be yours, all your sadness be mine. Let the whole world be yours, only you be mine. I want to be with you forever."
(Biarkan semua kebahagiaanku menjadi milikmu, semua kesedihanku menjadi milikku. Biarlah seluruh dunia menjadi milikmu, hanya kamu yang menjadi milikku. Aku ingin bersamamu selamanya.)
Hana yang beberapa saat lalu sudah merencanakan hari pembalasan, kini dalam sekejab saja, kedua matanya sudah mulai memanas saat mendengar perkataan manis dari Ray, yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
" My Hana, maukah kamu jadi istriku, menjadi ibu dari anak-anak kita nanti? dan hidup menua bersamaku hingga akhir waktu?" Ucap Ray yang membuat air mata Hana langsung meleleh seketika.
" Hana.. ditanya itu, jangan mewek terus?" Shanum langsung menyenggol lengan putrinya.
" Hmm." Hana hanya bisa menundukkan kepalanya.
" Terima kasih sayang, I love you my Hana." Ray meninggalkan kecvpan dijari manis Hana yang sudah terlingkar cincin berlian pemberian dari Ray, sebagai tanda cintanya malam ini.
" Too." Hana tersenyum dan menahan malu saat Ray terang-terangan mengungkapkan isi dihatinya didepan semua orang.
" Jawab yang bener kak, baru dilamar sudah mewek terus deh, nanti kalau di Sah in jangan-jangan kakak nangis kejer lagi!"
" Apaan sih kamu Ray." Hana langsung mencubit lengan calon imamnya dengan gemas.
" Cie... cieeee... hahahaha."
Akhirnya malam pertunangan Raymond dan Hana berjalan dengan lancar dan diliputi rasa penuh dengan kegembiraan, mereka pun memutuskan untuk tidak mau menunda pernikahan terlalu lama.
__ADS_1
..."Air mata merupakan satu-satunya cara bagaimana mata berbicara ketika bibir tidak mampu menjelaskan apa yang membuatmu terluka, atau pun bahagia."...
... "Sederhana dalam mencintai, ikhlas menerima kekurangan, dan setia dalam menjalin hubungan."...