
...Happy Reading...
Dalam dua hari ini Hana disibukkan dengan proyek baru, bahkan dalam sehari dia meeting empat sampai lima kali dengan klien, sehingga dia pulang larut malam terus, bangun pun sampai kesiangan dan harus sering sarapan didalam mobil.
" Haduwh... bisa tua sebelum masanya kalau hidupku terus begini!" Hana bahkan hanya sempat sarapan roti tawar sambil mengemudi karena sebentar lagi dia ada meeting pagi dengan karyawan kantornya.
" Bahkan aku belum menikah, masak harus nglembur-nglembur kayak sudah punya anak satu team sepak bola aja." Umpat Hana kembali.
" Mana nggak sempat metime akhir-akhir ini, huuft... kalau wajahku keriput bagaimana? Ray pasti kecewa melihatku, opsh... dia kan belum bisa melihat jadi amanlah, mau wajah gw berantakan juga pasti dia tetap cinta." Jawab Hana dengan tampang yang penuh percaya diri.
" Selamat pagi nona?" Sapa karyawan mereka saat berpapasan.
" Pagi, jangan lupa meeting pagi lima belas menit lagi." Jawab Hana yang langsung buru-buru masuk kedalam lift.
" Astaga... baru juga mau sarapan." Umpat karyawan itu perlahan saat Hana sudah hilang dari pandangannya.
Hana tipe orang yang tidak suka ada karyawannya telat dalam meeting pagi.
" Selamat pagi nona Hana." Sekertaris latahnya ternyata juga baru saja sampai diruangannya.
" Siapkan bahan untuk meeting, sepuluh menit lagi kita berjumpa diruang meeting." Ucap Hana yang langsung membuat sang sekertaris terduduk dengan lemas.
" Sepuluh menit? apa nggak bisa lebih nona?" Dia mencoba menawar waktu.
Baru saja mau bersandar sebentar, sudah harus kerja..
" Yes... apa kamu keberatan? hmm... kalau gajimu dikurangi sedikit sepertinya tidak masalah bukan?" Hana kembali menoleh saat baru saja mau berjalan masuk kedalam ruangannya.
" Owh... jangan nona, saya akan segera menyiapkan semuanya." Jawab Sang sekertaris dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
" Good, semakin cepat semakin bagus!" Umpat Hana yang langsung berjalan menuju pintu ruangannya.
" Kalau begitu silahkan tanda tangani proposal yang ini dulu nona." Sekertaris itu berjalan membuntuti Hana dari belakang.
" Taruh saja dimejaku."
" Baik nona, woaah... nona semangat sekali kerjanya, jadi terlihat bersinar, hehe.." Lebih baik memuji dari pada potong gaji pikirnya.
" Bersinar saja? emang bosmu nggak cantik?"
" Tentu dong, bos kita paling cantik!" Sekeratris pria itu langsung membukakan pintu untuk CEO nya.
" Pfftthh... jelas dong! semangat Hana demi... ASTAGA, SIAPA KAMU!" Teriak Hana sambil memundurkan tubuhnya saat melihat ada seseorang dibalik kursi kerjanya.
" Siapa tadi yang berani bilang kekasihku cantik?"
Tiba-tiba kursi kebesaran Hana berputar, dan terpampanglah wajah Raymond dengan mode datarnya.
" RAY? sejak kapan kamu disini?" Hana langsung berjalan mendekat kearahnya.
" Tadi pagi." Jawab Ray sambil meraba disekitarnya saat mendengar suara Hana yang terdengar semakin dekat.
__ADS_1
" Kamu datang dengan siapa? kenapa cuma sendirian?" Tanya Hana yang langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangannya yang nampak sepi.
" Dengan kak Adel dan abang ipar yang menyebalkan itu." Jawab Ray dengan wajah yang dia buat muram.
" Trus, kemana mereka berdua?" Hana langsung duduk bersandar dimeja didepan Ray.
" Pergi." Jawab Ray dengan singkat, padat dan jelas.
" Pergi? mereka berdua tega meninggalkan kamu sendirian disini dari pagi?"
" Hmm.." Ray pura-pura menjadi orang yang tersisihkan.
" Kenapa tidak mau menungguku sampai aku datang, kalau kamu perlu apa-apa gimana? dan kalau terjadi apa-apa denganmu tadi gimana coba?"
" Mungkin mereka takut aku menggangu kegiatan mereka."
" Menggangu? woaah... mereka keterlaluan sekali, kakak macam apa mereka?" Hana langsung sewot sendiri.
" Memang!" Ray terlihat menahan tawanya.
" Ututu... kasihan sekali kamu Ray, tapi kamu nggak papa tadi kan?" Hana langsung menangkupkan kedua tangannya diwajah Ray.
" Sebenarnya aku sedikit takut tadi kak, soalnya kantor kakak masih sepi."
" Astaga, ya sudah... aku sudah ada disini sekarang, kamu pasti aman Ray, jangan takut okey?"
" Mau peluk." Pinta Ray dengan manja.
" Sini.. sini.. hah.. kakak kalian sepertinya perlu mencoba jurus lamaku!" Hana langsung memeluk Ray dengan hangatnya.
" Astaga... pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan yang menyesakkan mata bagi para jomblowers!" Sekertaris itu langsung memilih meletakkan map itu keatas meja dan langsung balik kanan dan keluar ruangan.
Flashback
" Ray... kamu mau kemana?" Pagi-pagi sekali dia minta dicarikan baju oleh kakaknya.
" Aku mau ketemu kak Hana." Jawab Ray dengan semangat.
" Ini jam berapa Ray? matahari aja belum nongol, Hana juga masih tidur dek." Adelia bahkan tidak habis pikir, dari sebelum subuh Ray sudah minta dianterin ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Aku mau nungguin dia di kantor." Jawab Ray yang sudah bertekad bulat dari tadi malam, karena sudah dua hari ini Hana tidak datang menemuinya.
" Pagi-pagi buta begini?"
" Kakak mau ngatain kalau aku buta!" Saat mendengar kata itu, Ray langsung terlihat sensitif.
" Maaf, bukan begitu maksud kakak dek, tapi apa kantor Hana sudah buka jam segini?"
" Suruh suami kakak nganterin, pasti kita boleh masuk kedalam, lagian juga pasti ada security yang jaga shift malam kan." Ucap Ray yang sudah seperti anak kecil tingkahnya, kalau tidak di ikutin kemauannya dia pasti akan ngambek.
" Baiklah... sini kakak bantu pakai bajumu dulu." Adelia lebih memilih mengalah, ketimbang harus berdebat dengan adeknya.
__ADS_1
Ray masih bisa menggunakan boxer dan ****** ******** sendiri, namun untuk baju luarnya Adelia atau Mala lah yang membantu memakainya.
Walau dengan mata yang masih sulit terbuka Ganesh menemani Ray dan istrinya ke kantor Hana, belum ada satu karyawanpun yang datang kecuali security yang bertugas pagi itu.
Karena itu termasuk anak cabang dari perusahaan Anderson Group, mereka semua mengenali Ganesh, karena dia salah satu penerus perusahaan pusat jadi dengan mudahnya dia bisa masuk kedalam kantor cabang itu walau pagi-pagi sebelum jam kantor begini.
" Kalian berdua sekarang bisa pulang." Ucap Ray saat dia sudah duduk di kursi ruangan Hana.
" Enggak, aku tungguin sampai Hana datang saja." Jawab Adelia yang langsung menolak.
" Yank... aku tidur di sofa itu ya, nanti kalau Hana sudah datang bangunin aku, masih ngantuk banget ini." Ganesh langsung nyelonong dan membanting tubuhnya di sofa ruangan itu.
" Woi.. kakak ipar yang terhormat, jangan tidur disitu, pulang sana." Teriak Ray yang membuat mata Ganesh kembali terbuka.
" Hah?" Ganesh kembali terduduk.
" Hah.. heh.. hah.. heh, cepet sana kalian berdua pulang saja, aku mau menunggu kak Hana sendirian saja."
" Ray... jangan begini dong, nanti kalau kamu butuh apa-apa manggil siapa?"
" Aku nggak akan kemana-mana kok." Jawab Ray dengan mantap.
" Biar kami temenin kamu sampai Hana datang, baru kami pulang ya." Adelia masih mencoba untuk bersabar.
" Kakak meremehkanku karena aku buta, dan nggak bisa apa-apa begitu?"
" Astaga Ray?" Semua salah dimata Ray kalau tidak sesuai dengan keinginannya.
" Ya sudah, kalau ada apa-apa panggil kami saja ya? nomor mom Mala keypad angka nomor satu, daddy nomor dua, Adelia nomor tiga dan aku nomor empat, aku sudah menyetingnya." Ucap Ganesh yang sengaja membelikan Ponsel 'jadul' yang bisa di ra ba oleh tangan Ray.
" Nomor satu ganti punya kak Hana." Ucap Ray seketika.
" Baiklah... dasar bucin!" Umpat Ganesh yang langsung mengalah.
" Sekarang kalian pergi, jangan coba menipuku tetap menunggu disini, aku akan marah besar nanti!"
" Kenapa sih Ray?"
" Aku mau ngasih surprise buat my Hana, jadi jangan merusaknya!"
" Huft... baiklah!" Adelia menghela nafasnya perlahan.
" Kita tunggu di mobil saja, sampai mobil Hana datang, baru kita pergi." Bisik Ganesh ditelinga istrinya, dia tidak ingin Adelia khawatir dan berdampak uring-uringan nanti sepanjang jalan.
" Ide yang bagus, kamu memang cerdas suamiku?" Puji Adelia.
" Hadiahnya mana?" Ganesh langsung menunjuk bi birnya sendiri.
" Haissh... kalau nggak mesvm memang bukan suamiku!" Adelia tidak bisa menolaknya walau bagaimanapun caranya.
Flashback off
__ADS_1
... "Makin besar kesulitannya, makin besar kemuliaan dalam mengatasinya. Pilot yang terampil, mendapatkan reputasi mereka dari badai dan juga prahara."...
TO BE CONTINUE...