Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
43. Pasrah


__ADS_3

...Happy Reading...


Salah satu kota yang khas di Eropa dan sering dijadikan tujuan bagi para wisatawan adalah Roma. Kota yang satu ini memang khas dengan berbagai jenis bangunan klasik yang berlanggam Eropa.


Dan akhirnya disinilah sepasang pengantin itu berada, setelah menempuh waktu perjalanan kurang lebih tujuh belas jam, tujuan destinasi pertama adalah tempat-tempat yang romantis dengan latar belakang tempat-tempat bersejarah disana.


" Sayang kita bobok dulu yuk? nanti habis itu baru jalan-jalan ya?" Ganesh yang masih menggunakan handuk sepelas mandi itu mulai merayu istrinya.


" Dari tadi sudah bobok terus kak, pengennya makan diluar." Pinta Adelia yang sudah wangi dan rapi dengan dress putihnya.


Hah... kena sumpah serapah apa gimana sih gw? kenapa setiap ngajak tempur selalu saja ada halangan yang melintang.


" Kan kita bisa makan disini aja yank, nanti dianterin kok sama pelayan hotelnya, mau makan apa, biar aku pesankan?" Ganesh mencoba tawar menawar dengan istrinya.


Rayu... rayu... ayok Adelia, kamu pasti bisa !


" Tapi aku maunya diluar kak?" Adelia langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya dan duduk dipangkuan Ganesh untuk merayunya.


" Sayang... masak kamu nggak capek sih?" Ganesh langsung tersenyum dengan tingkah manja istrinya, hal-hal manis seperti inilah yang Ganesh inginkan, walau hanya sepele tapi bisa membuat hatinya merasa senang.


" Enggak, kalau nggak gerak badanku malah capek kak, ayolah.. kita makan diluar okey?" Adelia bahkan mengedipkan satu matanya, dan berhasil membuat hati Ganesh benar-benar 'mleyot' karenanya.


" Okey sayang, ihh.. jadi gemes banget sama kamu." Ganesh menghadiahkan beberapa kecvpan dipipi putih istrinya.


" Yeaaayy... kita makan di kafe yang deket Coloseum ya kak, nanti sekalian kita jalan-jalan kesana." Adelia langsung memeluk suaminya dan bersorak gembira.


Sedari dulu impiannya memang pergi jalan-jalan jauh hanya berdua saja dengan Ganesh, karena dia adalah pria pertama yang bisa merebut hatinya dan memperkenalkan apa itu arti cinta dihidupnya.


" Asiap istriku, tapi dengan satu syarat?" Ganesh sungguh bahagia saat ini, ketika melihat Adelia seolah bisa menerima dirinya sepenuhnya dan kembali ceria seperti dulu kala.


" Apa itu?" Adelia langsung menegakkan tubuhnya dan menatap wajah suaminya.


" Nanti malam, kamu harus melakukan apa yang aku minta, apapun itu? gimana, setuju?" Ganesh menaikkan kedua alisnya.


" Contohnya?" Adelia mulai waspada dengan wajah suaminya yang sudah terlihat mesvm itu.


" Ckk... mau nggak nih, kalau enggak kita bobok saja sekarang!" Ganesh pura-pura ngambek jadinya.


" Diiih... kakak nggak asyik deh! ya udah iya... terserah kakak deh aku mau diapain, pasrah saja sudah!" Jawab Adelia dengan kesal, walau begitu dia pernah mendengar kajian bahwa wanita kalau sudah menikah itu, memang harus memenuhi apa yang suaminya inginkan, asalkan masih dalam tahap yang wajar.


" Gitu dong, baru namanya istri tercinta Ganesh Putra Anderson, hehe... lets go baby!" Ganesh langsung menurunkan Adelia dalam pangkuannya.


" Nggak jadi!" Tiba-tiba Adelia mematung ditempat saat melihat suaminya yang langsung berdiri dan menggandeng tangannya untuk segera pergi.

__ADS_1


Ada apa lagi ini? hah... kenapa keinginan wanita itu gampang sekali berubah, pagi Kedelai sore sudah jadi Tempe!


" Aduuh... kenapa lagi sayang?" Ganesh menarik nafasnya perlahan mencoba untuk bersikap tenang.


" Masa iya kakak cuma pakai handuk begitu sudah mau ngajak pergi?"


Wakwao!


Ganesh mengamati tubuhnya yang memang hanya berbalutkan handuk saja, bahkan rambutnya juga masih basah.


" Ehermm... mau pake apapun juga suamimu ini tetap saja ganteng kan!" Umpat Ganesh mencari alasan dan melenggangkan tubuhnya mencari koper miliknya.


" Pfffttthhh... malu nggak tuh!" Umpat Adelia sambil menahan tawa.


Akhirnya mereka berdua sudah berpakaian rapi dan siap untuk jalan-jalan, menikmati panorama indah disana, hotel tempat mereka menginap ada ditingkat paling atas.


" Tumben sepi ya kak? lift segede ini cuma kita berdua yang nempatin." Ucap Adelia heran.


" Mungkin dunia sedang berbaik hati dengan kita, tau kalau kita sedang berbulan madu, biar nggak ada yang ganggu." Ucap Ganesh sambil mencubit hidung mancung istrinya.


" Apaan sih kak, nggak jelas banget, cuma nggak biasa aja gitu, padahal kan kita dari lantai paling atas." Entah mengapa perasaan Adelia tidak enak, serasa ada yang mengganjal di hatinya.


Baru saja mereka selesai berbicara, namun saat pintu terbuka dilantai tingkat sepuluh, ada dua orang berpakaian serba hitam masuk dengan menggunakan kaca mata hitam dan masker berwarna hitam.


" Jangan begini kak, malu ada orang." Umpat Adelia yang malah jadi salah paham, dia berpikir Ganesh mau memeluknya dihadapan dua orang itu.


" Sudah nggak papa." Ganesh menempatkan Adelia didepan tubuhnya.


Dan saat lift itu sampai dilantai tiga, tiba-tiba dua orang itu perlahan mengikis jarak dengannya. Ganesh tidak bergerak maupun menoleh kearahnya, namun kedua ekor matanya melirik kearah keduanya.


Ting!


Saat pintu terbuka dilantai dua, tanpa aba-aba Ganesh langsung mendorong tubuh Adelia dengan cepat sampai keluar dari lift.


Brak!


" Aaaarrrgghhh kakak!" Teriak Adelia yang terkejut bukan kepalang, dia sampai tersungkur dan ambruk kelantai bahkan terpental lumayan jauh.


Bugh!


Seketika Ganesh langsung menendang kearah tangan salah satu dari orang itu, karena tadi dia sempat melihat kilauan cahaya senjata tajam dari dinding lift itu, dan dua orang berbaju hitam itu sengaja ingin menghalangi mereka agar tidak keluar lift.


" Sayang, naik ke rooftop!" Teriak Ganesh tanpa memandang kearahnya, dia mencoba menghalangi keduanya agar tidak menyerang Adelia.

__ADS_1


" Kill him!" Perintah salah satu diantara dua orang berbaju hitam itu.


" Who are you!" Teriak Ganesh sambil memundurkan langkahnya dan menginjak senjata tajam tadi, sambil mencoba memikirkan strategi dua lawan satu.


" Help.. Help me please!" Teriak Adelia, namun mereka yang ada disekelilingnya terlihat acuh saja.


Adelia langsung berlari kearah tangga darurat menuju lantai satu, dia tidak memperdulikan perintah Ganesh, karena tadipun dia sempat melihat senjata tajam yang jatuh kelantai karena ditendang oleh suaminya, walau dia merasa ketakutan namun dia juga tidak mau meninggalkan suaminya diserang musuh sendirian.


Sreet!


" Aargh!" Sedangkan didalam lift darah sudah mengucur deras dari lengan Ganesh.


Saat Ganesh membuat satu diantaranya tersungkur oleh tendangannya, rekannya pun ikut menyerang dirinya, dia bermaksud menusuk perut Ganesh namun bisa ditangkisnya walau mengorbankan lengannya dengan luka yang cukup dalam dan panjang.


Bugh!


Ganesh kembali mengarahkan tendangannya kearah dada lawannya, walau dia tidak begitu mahir, namun setidaknya dia pernah menjadi lawan Hana saat sedang bersenda gurau, jadi tanpa sengaja dia melihat tekhnik dari tendangan Hana.


" Argh!" Walau tidak terlalu kuat namun ternyata tendangan Ganesh mampu membuat lawannya merasa kesakitan.


Heh? apa yang empuk-empuk tadi? kayak pernah pegang deh?


Dan saat rekannya terlihat lemah, dia menarik masker wajah lawannya.


" ****, cewek rupanya!" Ganesh langsung melongo, pantesan dengan tendangannya yang tidak seberapa itu bisa membuat lawannya kesakitan, ternyata mengenai tepat di dua gunung berharganya.


Sreeet!


Saat Ganesh masih memperhatikan lawan satunya, ternyata rekannya berhasil melukai pa ha Ganesh dengan senjata miliknya yang terjatuh dilantai tadi.


Ruang lift yang sempit membuat Ganesh sulit untuk menahan atau mencari perlindungan.


" Aaaaaarggghh!" Saat tangan kirinya masih menekan luka ditangan kanannya, ternyata pa ha nya juga langsung memuncratkan darah segar disana.


Bugh!


Satu tendangan juga berhasil membuat tubuh Ganesh terpental dan mengenai dinding pintu lift.


" Sayang... maafkan aku, jaga di.. dirimu baik-baik!" Ucap Ganesh dengan lemah tak berdaya, dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melawan, karena darah ditubuhnya sudah banyak yang mengalir dengan derasnya, membasahi bajunya sejak tadi.


Akhirnya dia hanya bisa pasrah dengan keadaan, setidaknya istrinya berhasil pergi dari sana, itu sudah membuat dirinya sedikit merasa lega, dia yang sendirian dengan kemampuan bela diri yang tidak seberapa itu bisa apa, sedangkan nasipnya sudah dia pasrahkan kepada yang DiAtas, karena semua makhluk ciptaanNya lambat laun juga pasti akan kembali kepadaNya walau dengan cara yang berbeda-beda.


..." Ketika Alloh mendorongmu ke ujung, Percaya saja sepenuhnya kepadaNya, karena hanya dua hal yang bisa terjadi, entah Dia akan menangkapmu, atau Dia akan membuatmu belajar terbang."...

__ADS_1


__ADS_2