Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
40. Sakitnya Merindu


__ADS_3

...Happy Reading...


Disaat sang fajar mulai menunjukkan pesona indahnya dipagi hari ini, dengan cahaya yang bersinar bak lukisan yang menyejukkan hati dan pikiran, sedangkan Hanami masih terduduk dibalkon kamarnya sendiri, ditemani beberapa cangkir kopi yang sudah tak berisi dan beberapa kantong plastik yang berisi snack dan cemilan yang berserakan diatas meja.


" Kenapa mataku sulit sekali terpejam?" Hana meletakkan kepalanya diantara kedua kakinya dengan selimut menempel ditubuhnya, bahkan matanya belum terpejam walau sesaat.


" Huft... sudah capek aku ngitung bintang dilangit, berharap ada bintang jatuh, trus buat permintaan kayak di film-film, ternyata sampai matahari nongol nggak dapet apa-apa, mata udah pedes sepedas omongan tetangga, tapi nggak juga bisa merem." Hana bahkan memukul-mukul kepalanya sendiri.


" Ray... kenapa kamu jahat sekali denganku, masak iya baru kemarin berantem terus tadi sudah dapet gebetan, secepat itu kamu berpaling?" Semalaman otak Hana hanya dipenuhi nama Ray saja, seolah bayangan wajahnya yang sedang tertawa dengan perempuan lain didepan matanya itu selalu berlalu lalang dipikirannya.


" Tapi kenapa aku harus marah? dia kan bukan siapa-siapanya aku?" Terkadang dia juga sadar diri, Ray seperti itu karena ucapannya.


" Aaaarrggghhh... tapi aku nggak suka kamu godain cewek lain Ray! kenapa harus dia yang kamu gombali, kenapa bukan aku saja?" Hana seolah merasa tidak ikhlas dengan apa yang dia lihat kemarin, apalagi saat dia melihat cewek itu yang terlihat bahagia sekali saat mereka saling adu gombalan.


" Harusnya kamu tahu dong Ray, walaupun aku mau berteman dulu dengan kamu, tapi kan tidak bermaksud menyuruhmu untuk menghindariku Ray, aku hanya butuh waktu saja loh!" Dia sangat menyesali kata-katanya hari itu, andai waktu bisa dia putar kembali, dia lebih memilih tidak membahas soal itu.


" Aaaaaaaaaa... dasar cowok, nggak ada yang bisa ngertiin perasaanku." Umpat Hana kesal, padahal dia sendiri belum tentu bisa memahami perasaan orang lain kepadanya.


" Raaaaayyyyy... aku benci kamu!" Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari bi bir mungilnya.


" Dasar berondong sableng!" Dia bahkan langsung menemukan nama panggilan yang dia rasa cocok untuk Ray, yang memang lebih muda dua tahun dari dirinya.

__ADS_1


" Kamu nyebelin, ngeselin! tapi... kamu ngangenin, gimana dong? hiks.. hiks.." Akhirnya setelah capek menjerit air matanya menetes juga.


Baru kali ini dia merasakan kekesalan pada seorang cowok secara berlebihan, bahkan sampai tidak bisa tidur, padahal dulu saat di Singapore dia tidak perduli dengan pria yang mendekati dirinya dengan cara apapun, dia selalu menanggapi dengan sikap cuek bebek.


" Uhuk.. uhuk... haduwh, mana laper banget lagi, capek juga ternyata teriak-teriak saat belum sarapan begini ya, mana si bibi lagi ambil cuti lagi?" Tak lama kemudian dia mengusap perut rampingnya, bahkan saat pesta tadi malam tidak ada satu makanan pun yang tertelan diperutnya, hanya rasa kesal, emosi dan rasa ingin marah saja itu sudah membuatnya kenyang dadakan.


" Makan apa ya? mau masak tapi bisanya ngrebus endomie doang, mana telor, bakso, sosis, sama sawi hijaunya habis lagi, cabe rawitnya juga habis, huftt... hidupku terasa hampa tanpamu, ehh... kok tanpamu sih, tanpa temen-temen endomie maksudnya." Dia bahkan seperti orang tanpa gejala, ngoceh sana sini sendiri sesuka hati.


" Kyaaaaaa... apa aku kembali ke Singapore saja ya? tapi pasti tidak di izinin sama papa dan mama lagi, astaga... apa salah dan dosaku ini Tuhan?" Hana kembali merengek, seolah melampiaskan semua kekesalan yang ada.


" Begini amat nasip gw yak?" Dia memangku wajahnya dengan kedua tangannya yang sudah terlihat kisut karena kedinginan.


" Ibarat esuk mendung, awan aku kudanan, sore mbok larani mbengi tak tangisi, mung iso mbayangke kabeh kenangan... aishh, kenapa malah jadi nyanyi sih gw?"


" Aaaaaa... bodo amat lah! biar Amat saja yang bodo! mending gw minum obat tidur saja sekalian!" Hana langsung beranjak masuk kedalam rumah.


Setelah matahari muncul dia berani mengumpat Ray dengan keras, padahal sudah sedari tadi dia menahannya, Hana ingin berteriak cuma takut kalau sampai membangunkan tetangganya atau bahkan menggangap dia gila karena berbicara sendiri, sedangkan mama dan papanya masih berada di hotel Anderson Group.


" Ciiiih... ternyata dia tidak tidur, aaaaa.. ternyata ini yang dinamakan 'Bahagia diatas penderitaan orang lain' hehe.." Umpatnya sambil senyam senyum nggak jelas, bahkan dia meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala dan menurunkan kursi mobilnya, untuk menikmati segala ocehan Hana dari atas sana yang terdengar menghibur ditelinganya.


" Emang enak rasanya Merindu? hello... rindu itu berat sayang!" Rasa-rasanya jerih payah penantiannya terbayar sudah selama ini.

__ADS_1


" Kaliurang jarene penak, aku wes sayang jebul tok tolak, pinggir jurang kaline burem, koe tak sayang matamu merem.. hahaha..."


Kalau pria yang satu ini memang, walau tumbuh besar di luar negri tapi faseh dalam bahasa Jawa, karena sering duet nyanyi dangdut koplo bersama sang mommy tercinta.


" Siji loro bar kui telu, aku tok tolak tetep iso nguyu, guyub rukun dalane Gusti, aku tok tolak tak tinggal nyanyi... hoo... uwo... uwo...uwo... hahaha..."


Bahkan sedari tadi perut dan pipinya terasa kram karena terus saja tertawa saat mendengar ocehan Hana dipagi buta.


" Haissh... enaknya aku apain ya dia? gimana kalau gw kerjain lagi dia? haha... owh Tuhan, terima kasih atas semua jalan yang Engkau berikan." Semangatnya kembali membara dan cintanya kembali bermekaran bak datangnya musim semi tahun ini.


Siapa lagi pria yang bisa tertawa bahagia saat ini kalau bukan Raymond, setelah mendengar umpatan gadis yang dia incar selama ini, yang sok pura-pura jual mahal itu, tapi endingnya menyesalinya sendiri.


Setelah dia menjadi pihak perusuh dimalam pertama kakak iparnya, dia memutuskan untuk pulang saja, setelah torpedonya sudah berhasil dia amankan.


Namun saat dipertengahan jalan pulang menuju kerumahnya, dia teringat sosok Hana dan iseng-iseng ingin lewat didepan rumahnya.


Malam itu, karena dia terlalu asyik bercanda dengan Hesti, Raymond jadi tidak menyadari kepergian Hana, saat dia menoleh kebelakang ternyata Hana sudah tidak ada dikursinya, jadi sebenarnya Ray masih penasaran juga dengan tanggapan Hana selanjutnya.


Terkadang kalau kita benar-benar menyayangi seseorang, sekedar lewat di depan rumahnya saja sudah bisa membuat hati kita senang dan bahkan bisa tersenyum bahagia, memang sepele sih, tapi Cinta terkadang memang se sederhana itu.


... "Cinta adalah kekuatan aktif yang bersemayam dalam diri manusia, kekuatan yang mengatasi tembok yang memisahkan manusia dengan sesamanya, dan kekuatan yang menyatukan manusia dengan yang lainnya."...

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2