Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
136. Hanya Tidak Rela


__ADS_3

...Happy Reading...


Semua kejadian di dunia ini ga ada yang kebetulan, semuanya pasti ada tujuannya. Dan Hidup ini harus tetap berjalan walaupun tidak sesuai dengan harapan.


POV DIMAS


Aku tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan kasih sayang, sejak kecil ayah dan mama selalu mencurahkan kasih sayangnya kepadaku, begitu juga dengan oma dan opa aku yang kini menetap di Singapura.


Hari-hariku berlalu dengan sewajarnya, hingga aku tumbuh dewasa dan memilih kuliah di negara yang membesarkan ayahku, hingga aku berkenalan dengan seorang gadis yang berada nun jauh disana, namun terasa dekat dihati.


Adelia Aghata, dia adalah gadis itu, teman curhat dalam segala bentuk apapun, susah, sedih, senang semua kami ceritakan tanpa tahu identitas lengkap masing-masing, namun kami merasakan kenyamanan akan hal itu.


Sampai akhirnya dia datang ke kampus yang sama denganku, saat aku ingin mencoba berharap lebih dengannya, ternyata Tuhan tidak memberi jalan, karena saat bertemu denganku ternyata dia sudah ada yang punya, namun Adelia tetap menggangapku seseorang yang spesial walau hanya sebagai teman.


Walau sempat kecewa namun aku mencoba mengikhlaskannya, karena cita-citaku sedari dulu menjadi dosen adalah yang paling utama.


Namun ternyata Takdir Tuhan tidak begitu baik padaku, ditengah-tengah perjalanan hidupku aku mengalami cobaan yang sangat berat, yaitu mamaku mengalami sebuah kecelakaan hebat.


Dan itulah awal mula kehancuran hidupku, apalagi saat mama mengalami koma selama beberapa bulan dan akhirnya Tuhan mengambilnya dari kami.


Aku sempat mengalami depresi karena masih belum bisa menerima keadaan, seolah bayangan mama masih ada disana, hari-hariku memburuk, kuliahku berantakan, hidupku pun sudah tak karuan, dan lagi-lagi sosok Adelia lah yang datang dalam kehidupanku.


Walau ternyata dia juga hancur karena harus berpisah dengan kekasihnya, namun semangatnya masih keras, tekadnya kuat, sehingga semua itu membawa dampak baik kepadaku.


Apalagi dia memang mengambil kuliah di jurusan Psikologi, dengan tutur katanya yang lembut dia berhasil menenangkanku dan selalu membantuku untuk kembali bangkit dari keterpurukan.


Sampai akhirnya aku bisa baik-baik saja itu semua karena Adelia, sempat berfikir ingin memilikinya namun sepertinya hatinya tidak bisa berpaling dari mantan kekasihnya dan lebih menutup diri untuk semua pria, namun aku bisa mengerti, mungkin cintanya memang terlalu dalam.


Masih bisa terus bersamanya walau hanya sebagai sahabat saja aku sudah beruntung, dan benar saja saat mantan kekasihnya kembali ke tanah air tercinta, tiba-tiba dia langsung menikah dengan mantan kekasihnya itu, banyak gosip yang simpang siur, namun aku percaya Adelia pasti bisa bahagia, karena memang cintanya memang masih utuh dengan pria itu walau sudah beberapa tahun berpisah.


Dan dari dialah aku mengenal gadis yang bernama Hesti, sesosok wanita yang ramah, supel dan selalu murah senyum.


Pada awalnya aku melihatnya biasa-biasa saja, memang dia cantik tapi menurutku tidak semenarik Adelia, atau mungkin karena memang aku tidak mau mencoba untuk mengenalinya.


Namun lama kelamaan aku sedikit merasa tertarik, karena saat mengobrol dengan Hesti dan Adelia, aku selalu bisa tersenyum dengan segala topik dan candaan yang mereka bicarakan.


Adelia yang dulu hanya senyam-senyum saja bisa menjadi sosok yang suka bercanda karena dekat dengan Hesti, mungkin virus positifnya memang menular, bahkan aku pun menjadi penasaran dengannya.


Hingga aku mencoba untuk mengenalinya lebih dekat lagi, dan ternyata dia memang sosok wanita yang menyenangkan, namun setelah mama meninggal dia pernah berpesan kepadaku, jangan pernah menyakiti wanita, hormati wanita, jangan menjadi pria pengecut yang hanya bisa merusak kehormatannya, dan berpuluh-puluh kali mama menyarankan untuk ta'aruf saja jika memang aku sudah mampu untuk membina sebuah rumah tangga.


Karena kesibukannku sebagai dosen muda, baru dan masih harus diklat di berbagai kota, aku jarang bertemu dengannya, namun aku masih bisa mengingat senyuman dan candaannya.


Hingga tiba-tiba aku melihat dia datang diacara resepsi pernikahan Raymond dan Hana kemarin dengan ayahku, yang lebih mengejutkan lagi ayahku memperlakukan dia sangat manis dan bahkan menggandengnya dengan mesra sekali.


Memang saat itu sempat beberapa kali aku melihat ayah dan Hesti ngobrol bersama, namun tidak sama sekali terfikirkan jika mereka akan sedekat itu, bahkan terlihat punya hubungan spesial.


Dan apa yang aku takutkan ternyata benar-benar terjadi, saat aku bertanya ayah pun mengakuinya, bahwa memang mereka sedang menjalin hubungan yang istimewa.


Sakit hati?


Sebenarnya hatiku tidak terlalu sakit hanya karena Hesti sudah berpunya, namun yang lebih menyakitkan adalah ayahku adalah pasangannya.


Serasa hancur hatiku saat mengingat almarhumah mama yang sudah tenang di sisi-Nya. Seolah aku merasa tidak terima jika posisi mamaku tergantikan oleh wanita lain, apalagi dia adalah sahabatku, yang umurnya sama denganku.


Aku merasa tidak terima dan akhirnya bertengkar hebat dengan ayahku, emosiku seolah tidak terkendali saat melihat ayah seolah sudah melupakan ibu yang telah mengandung dan melahirkan aku ke dunia ini.


Maka dari itu aku sengaja menentangnya, bahkan aku mengajak ayahku untuk bersaing, walau Adelia gadis yang pertama mencuri hatiku, namun saat mulai mengenal Hesti dengan baik, ternyata dia juga terasa spesial karena sosoknya yang periang.


Tapi... setelah dua hari berlalu dari pertengkaran itu, aku menyadari bahwa semua ini Salah.


Ayah seolah kehilangan semangat hidupnya, sebagai anak aku juga ingin melihat dia bahagia, tapi aku masih belum terima jika Hesti adalah orangnya.


" Yah... ayo kita sarapan?"


" Kamu saja duluan nak, ayah belum lapar." Jawab Ayah dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


Awalnya aku benci melihat ayah, namun saat melihat wajahnya pucat, lesu dan tidak nafsu makan sama sekali, aku jadi merasa bersalah, beliau begitu terluka sedangkan aku baik-baik saja.


" Nggak lapar bagaimana? ayah sudah tiga hari nggak mau makan nasi kata simbok, apa ayah sudah bosan hidup?"


Aku ingin mendiamkan ayah, namun melihatnya terpuruk seperti itu aku jadi tidak tega.


" Mulut ayah pahit nak, nanti minum susu sama madu saja nggak papa, lanjut sarapan ya, ayah mau ke kamar lagi." Ucap Ayah yang meninggalkan aku di meja makan sendirian.


" Woaah... apa gara-gara wanita itu? apa yang dia lakukan sehingga mampu membuat ayah seperti ini." Aku sengaja memancing ayah, untuk mengetahui penyebab utama ayah seperti itu.


" Dimas?"


" Apa se spesial itu dia dimata ayah?" Aku kembali bertanya dengan nada yang cukup tinggi.


" Dimas, jangan bawa-bawa dia dalam hal ini."


" Masak iya sih gara-gara Hesti ayah seperti ini, kenapa harus dia diantara semua wanita didunia ini, sepertinya dia gadis yang biasa-biasa saja kan, apa dia sudah melakukan sesuatu dengan ayah?"


" Dimas cukup!"

__ADS_1


" Ayah?" Aku masih belum mau mengalah.


" Kalau kamu tidak suka dia dekat dengan ayah, tidak apa-apa, tapi jangan menjelek-jelekkan dia didepan ayah! mengerti kamu!"


Suara ayah meninggi, entah seberapa dalam rasa cintanya kepada Hesti, apa mungkin melebihi rasa ketertarikanku dengan gadis itu?"


" Apa wanita itu terlalu istimewa bagi ayah, bahkan melebihi rasa sayang ayah denganku?"


" Dimas.. sudahlah, ayah sedang tidak ingin berdebat denganmu!" Kurang tidur mungkin penyebab ayah menjadi seperti ini pikirku.


" Kalau aku ingin menikahi Hesti besok, apa ayah tidak keberatan?" Aku mencoba memancing lebih dalam lagi.


" Apa kamu berhasil menghubunginya? Sudah tiga hari ini nomornya tidak aktif, apa Hesti ganti nomor? atau ada sesuatu yang terjadi dengannya?"


" Ayah?" Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran ayah.


" Katakan Dimas, apa dia baik-baik saja?"


Ternyata Ayah sangat mencemaskan dia, aku pikir ayah takut karena aku akan merebut wanitanya, namun ternyata Ayah lebih mengkhawatirkan keadaan Hesti.


Entah mengapa aku jadi malu sendiri sebagai anak muda? what's wrong with Him?


" Aku pun tidak tahu." Akhirnya aku mengalah, karena memang aku tidak tahu.


Semakin dewasa aku semakin sadar, semua yang bersama suatu saat akan pergi. Entah ditinggalkan ataupun meninggalkan.


" Fuh... ya sudah, ayah mau istirahat saja, kepala ayah sedikit pusing."


Ayahku ingin kembali ke kamarnya, namun aku belum selesai bicara.


" Apa ayah benar-benar menyayanginya?"


" Dimas, sudahlah... ayah sedang tidak ingin membahasnya sekarang." Keadaan ayah memang tidak terlihat fit, wajahnya saja pucat, tapi aku masih sangat penasaran dengannya.


" Apa rasa sayang ayah kepada Hesti melebihi rasa sayang ayah kepada almarhumah mama?"


" Dimas?"


" Jawab ayah!" Pertanyaan itu yang menjadi unek-unekku selama ini.


" Nak... kita sudah berbeda alam dengan almarhumah mama kamu, mama sudah tenang disana Dimas, kalau mamamu masih hidup juga dia tidak mau anaknya berfikiran seperti kamu sekarang!"


" Kalau denganku? lebih sayang mana?"


" Ayah tidak pernah sampai seperti ini bukan saat aku sakit dulu? apa Hesti sudah mengalahkan segalanya di hati ayah?"


" Dimas! jaga ucapanmu!" Ayah ikut emosi, tapi aku tidak perduli.


" Ayah aku ingin tahu alasannya!"


Saat ayah meninggikan suaranya aku pun meninggikan suaraku, bahkan mungkin suara kami sudah menggema diseluruh ruangan.


Braaak!


" Ayah!"


Tiba-tiba ayah jatuh dan tergeletak di lantai dengan kondisi lemas tak berdaya.


Betapa terkejutnya aku saat ayah tiba-tiba pingsan seperti itu, masih baik ayah belum jadi naik tangga, kalau sampai dia ditenggah-tengah tangga dan pingsan, aku pasti tidak akan memaafkan diriku sendiri.


Ini salahku, ayah yang memang sedang tidak enak badan, masih saja aku ngotot untuk berdebat dengannya.


Aku langsung mengangkat ayah dibantu dengan simbok yang ternyata melihat perdebatan kami dari arah dapur.


" Apa kita bawa ke rumah sakit saja mbok?" Setelah beberapa saat namun ayah belum sadar.


" Mas telpon saja dokter pribadi pak Arka, sepertinya pak Arka hanya kurang tenaga karena tidak makan dalam beberapa hari ini." Simbok yang memang sudah mengadu denganku tentang keadaan ayah sedari kemarin.


" Baik mbok!"


Benar saja, setelah dokter pribadi ayah memeriksanya dan memasang selang infus ditangannya, ayah langsung sadar dan itu sungguh membuatku sangat lega.


" Pak Arka, tolong jaga pola makannya ya?"


" Iya dokter."


" Ini tidak seperti kebiasaan pak Arka deh, biasanya pak Arka selalu pandai mengatur pola makan dan menjaga kesehatan, pasca penyakit bapak yang terdahulu?"


" Maaf dokter, saya sedikit lalai."


" Jangan minta maaf dengan saya, minta maaf dengan tubuh anda, karena dia yang tersiksa karena kelalaian bapak."


" Iya dokter, saya akan memperbaikinya."


" Baiklah kalau begitu, sementara bapak tetap pakai selang infus dulu ya, tapi tetap harus makan, walau memang rasanya tidak enak, harus dipaksa, demi kesehatan bapak ya."

__ADS_1


" Baik dokter dan emm.. boleh dokter resepkan sekalian obat tidur dan penambah nafsu makan? dalam beberapa hari ini saya kurang bisa tidur dengan baik dan sering kehilangan selera makan."


" Ada masalah apa ini?" Tanya pak dokter.


" Tidak ada dokter, hanya kecapekkan mungkin."


" Ya sudah, nanti saya resepkan sekalian, kalau begitu saya permisi, semoga pak Arka cepat sembuh seperti sedia kala ya."


" Amin, terima kasih banyak dokter."


Dan setelah kepergian dokter pribadi kami, baru aku sadari sebesar apa rasa sayang ayah kepada Hesti.


Sebenarnya hatiku cukup sakit, sulit diungkapkan dengan kata-kata, saat hati ayah seolah dipenuhi dengan orang lain, bukan dengan keluarganya sendiri.


" Dimas, sini nak."


Ingin rasanya menolak mendekat ke arah ayah, aku masih belum bisa menerima kenyataan ini, namun orang tuaku hanya tinggal dia, mau tidak mau walau berat hati aku mendekat ke sisinya.


" Ya ayah."


" Maafkan ayah ya Mas?"


Itulah ayah, walau aku yang mungkin lebih bersalah dalam masalah ini, namun beliau pasti yang lebih dulu legowo dan meminta maaf, beliau sama sekali tidak pelit dengan kata maaf.


" Kenapa harus ayah yang minta maaf?"


" Karena memang ayah yang salah, telah membuat kamu berfikir bahwa ayah mencintai orang lain dan mengabaikanmu."


Tanpa terasa air mataku menetes disana, sebagai seorang anak, apa aku salah?


" Nak.. ayah memang menyayangi gadis itu, tapi rasa sayang ayah kepada keluarga kita tetap sama besar seperti dulu, begitu juga rasa sayang ayah kepada mamamu, namun mama sudah tenang disana nak, cinta ayah kepada mama kamu tetap abadi sampai kapanpun itu."


" Dan sayangnya ayah kepada kamu beda dengan sayangnya ayah kepada Hesti, sampai kapanpun itu cinta ayah kepada kamu tetap besar nak, tidak akan berkurang sedikitpun." Ucap Ayah lagi saat aku hanya bisa diam.


" Maaf ayah, maafkan Dimas."


" Kamu tidak salah nak, wajar jika kamu punya pikiran seperti itu, ayah hanya belum sempat ngobrol santai saja dengan kamu."


" Aku memang sedikit sibuk akhir-akhir ini."


" Bukan karena menghindari ayah kan? ayah sedih banget loh kalau kamu cuekin kayak kemarin?"


" Hmm." Aku hanya bisa menunduk.


" Cukup kamu tahu Mas, rasa sayang ayah kepadamu dan almarhumah mama kamu tidak akan berkurang, hanya karena ada satu bunga tumbuh dihati ayah, mereka akan tumbuh beriringan sampai ajal menjemput ayah."


" Ngapain sih ngomongin ajal segala."


" Karena manusia itu sejatinya tercipta dari tanah dan pasti akan kembali lagi ke tanah, jadi selama kita masih bisa menghirup udara didunia ini, jangan biarkan ego merusak kebahagiaan keluarga kita Mas."


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena memang ucapan ayah ada benarnya.


" Ya sudahlah Yah."


" Jadi... apa ayah boleh memilikinya?"


Dasar orang tua ini, ujung-ujungnya juga dia ingin mempertahankan Bunga barunya, kemarin saja bilangnya mengalah, kenyataannya bagaimana?Ayah itu ibarat kata, melepas kepalanya namun menahan ekornya.


" Ckk... aku pikir-pikir dulu!"


Aku langsung beranjak berdiri dari tempat dudukku.


" Dimas kamu mau pergi kemana?"


" Mencari ilham dulu biar hati bisa tenang!"


" Memang ilham itu anaknya siapa?"


" Haish... anaknya duren sawit!" Umpatku kesal, karena sebenarnya aku tahu ayah mengerti maksudku.


" Siapa duren sawit?"


" DUDA KEREN TAPI PELIT!"


Aku sempat menoleh wajah ayah sekilas, ada guratan senyum disana, aku lega dan sebenarnya aku ingin selalu melihat beliau tersenyum seperti itu.


Ingin ku tak banyak, aku hanya ingin merasakan indahnya tinggal bersama keluargaku seperti mereka yang lain.


Aku langsung pergi meninggalkan kamar ayah, mungkin aku perlu mencari seseorang teman curhat yang bisa menenangkan hatiku yang sedang kalut.


POV END


..."Kesadaran tentang singkatnya hidup ini sering membuat kita salah tentukan misi & visi hidup, bahkan kita terlambat untuk menyadari untuk apa dan untuk siapa sebenarnya kita hidup."...


Yang sabar ya Bestie... tinggal beberapa episode lagi, kasian kan si duren montong sama si Marfu'ah... biarkan kan dia bahagia dulu🤗

__ADS_1


__ADS_2