Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
117. Sidang


__ADS_3

...Happy Reading...


Raymond dan Hanami kini bagai anak sekolah yang terciduk berbuat mesvm ditempat terbuka, mereka berdua duduk sambil menunduk, menunggu hasil keputusan sidang dari orang tuanya.


Terlihat Carlos yang masih sedikit ngantuk karena dibangunkan paksa oleh Mala yang sudah sewot duluan sedari dia bangun.


" Raymond.. Hana!"


Mala langsung duduk bersandar di meja, dengan Carlos duduk dibelakangnya.


" Iya mom."


Sebenarnya Raymond tidak perduli mau keciduk atau apapun, tapi masalahnya Hana yang jadi marah dengannya, sedari tadi dia tidak mau diajakin ngomong, sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya.


" Iya Aunty."


Dia bahkan tidak berani menatap wajah kedua calon mertuanya, Hana tidak sadar jika Ray ngempeng sampai pagi, dia terlalu lelah kemarin, jadi tidurnya seperti orang pingsan, apalagi Ray terus memelvknya jadi terasa nyaman dan penuh kehangatan.


" Berdiri kalian berdua!"


Sontak Hana langsung berdiri dengan patuh, diukuti Ray yang seolah malas-malasan.


" Jewer telinga pasangan kalian masing-masing." Ucap Mala yang langsung membuat Carlos terkekeh karenanya.


" Mom?" Raymond ingin protes, namun Mala langsung melotot kearahnya.


" Tarik sekuat-kuatnya!" Teriak Mala kembali.


Wing!


Dengan cepat Hana menaikkan tangannya, dan menggapai telinga Ray, juga menarik sekuat tenaganya, seakan hukuman itu juga mewakili keinginannya tersendiri.


" Aww... kakak sayang, sakit ini, jangan kuat-kuat dong?" Raymond meringis karena telinganya terasa panas, dia bahkan sampai memiringkan kepalanya.


" Ray... jewer juga telinga Hana!" Mala tidak pilih kasih, satu yang salah, dua-duanya dapat hukuman yang sama.


Namun Ray tidak tega membalasnya, dia hanya mengusap telinga Hana saja, karena Hana juga melotot ke arahnya, seolah ingin berkata ini semua gara-gara kamu.


" Emang mereka ngapain sih yank?" Carlos sudah tidak tahan ingin bersuara.


" Ckk... gimana mau nyeritainnya ya yank?" Mala langsung menghela nafasnya berulang kali.


" Kalau kamu sulit menjelaskan dengan kata-kata, coba praktekin saja ke aku, memangnya mereka ngapain di ruang TV?" Carlos memelvk pinggang istrinya untuk menenangkan, sedangkan Raymond langsung cengengesan sendiri.


" Aish... nggak mungkinlah didepan mereka, anak kamu itu kelewatan, belum sah kok sudah begituan, sudah nggak sabar atau gimana, tinggal nunggu seminggu saja bibirrnya itu sudah kegatelan!" Umpat Mala sambil bersidekap.


" Emang kamu ngapain sih Ray?" Carlos masih belum jelas dengan jawaban dari istrinya.


" Nen." Jawab Ray dengan santainya.


" Owh." Jawab Carlos masih dalam mode tenang.


" Sampai pagi." Ucap Ray melanjutkan ucapannya dengan jujur.

__ADS_1


" HAH?" Kali ini dia baru terkejut, semenit dua menit masih wajar, kalau sampai pagi memang keterlaluan, kalau Carlos sendiri pasti sudah melalang buana sampai kemana-mana.


Dugh!


Hana langsung menginjak kaki Ray dengan kuat, dia sungguh tidak menyangka calon suaminya itu berani dengan entengnya, mengatakan ini semua secara terang-terangan.


" HAH... maksud kamu itu... emm anu?" Carlos ingin mengatakan tapi dia tak sanggup jadi hanya menatap mereka saja secara bergantian.


" Kelewatan kan putra kamu itu? dengan santainya dia tenggelamkan kepalanya itu disana sampai pagi, bahkan di ruang TV coba, kalau si Samantha bangun trus lihat mereka gimana penilaian dia dengan keluarga kita coba yank?" Mala sampai menggeleng-gelengkan kepalanya saat bercerita.


" Kamu haus banget ya Ray?" Pertanyaan Carlos membuat Hana menatap calon ayah mertuanya dengan kaget.


" Apanya?" Ray masih belum paham.


" Tadi malam?" Tanya Carlos kembali.


" Hehe... iya dad, kering kerontang bibiirku, karena takut dehidrasi juga, jadi aku memutuskan untuk Nen sampai pagi." Dia malah cengengesan saat diledek oleh daddynya, bahkan tanpa rasa malu dia ikut membanyol pagi itu.


" Woo... dasar bocah gemblung, dia malah bangga lagi!" Mala ingin menyentil telinga putranya namun ditahan oleh suaminya.


" Sudahlah sayang... mereka sudah dewasa, lagian juga cuma kamu yang lihat kan?" Carlos kembali tersenyum karenanya.


" Lagian kami juga nggak ngapa-ngapain selain itu kok dad, beneran! coba aja cek CCTV disana kalau nggak percaya." Jelas Ray dengan sungguh-sungguh.


" Dasar bocah edan! kamu nyuruh orang tuamu melihat perbuatan mesvm kalian itu? woaaah... anak siapa lah kamu ini, aku nggak kenal!" Mala sungguh takjub melihat hasil karyanya sendiri.


Ya Tuhan... ada CCTVnya pula di ruangan itu, kalau mereka nanti melihatnya gimana coba, jadi tontonan umum aku gara-gara Ray, awas kamu Ray, malam pertama nanti habis kamu aku kerjain!


" Pokoknya mommy nggak mau tahu, besok lusa kalian menikah saja, dari pada jebol duluan sebelum menikah!" Mala langsung melotot kearah putranya.


Emang Hana sudah aku jebol duluan mom, sudah lama lagi.


" Siap mom!" Ray malah tersenyum dan hormat kepada Mala tanpa protes sedikitpun.


" Dalam dua hari ini kalian nggak boleh bertemu sampai kamu mengucap janji suci didepan penghulu, mengerti kalian?" Mala langsung memberikan ultimatum.


" Kenapa sih mom, kan kami juga harus bahas banyak hal, apalagi dimajukan acaranya, masak sama calon istri sendiri nggak boleh ketemu?" Kali ini Ray yang jadinya protes.


" Tuh... anakmu yank, kalau dibilangin orang tua ngeyel aja jadinya." Mala langsung mengadu dengan suaminya.


" Dia dulu kita buat hari apa sih yank? malam jumat bukan sih?" Pembicaraan Carlos malah menyimpang dari topik utama.


" Astaga... anak sama bapak nggak ada yang lurus!" Mala langsung kembali ngedumel sedangkan Hana hanya diam saja, tidak berani berkutik sedikitpun dihadapan calon mertua.


" Boleh ya mom, sehari aja nggak jumpa my Hana rasanya berat banget mom, masak dua hari sih?" Ray mencoba melakukan sesi tawar menawar.


" Sekali enggak ya tetap enggak, apa kamu keberatan Hana?" Mala beralih menatap Hana yang menunduk sedari tadi.


" Tidak sama sekali aunty." Jawab Hana dengan cepat.


" Kak... kamu kok gitu sih ngomongnya? nggak kangen apa sama aku?" Ray langsung menatap Hana dengan tampang memelas.


" NGGAK!" Jawab Hana dengan mantap.

__ADS_1


" Kalian berdua boleh keluar, setelah sarapan pagi, kamu antar Hana pulang dan jangan coba-coba bertemu sebelum ijab qobul, mengerti kalian?"


" Mom?" Ray yang merasa tidak terima.


" Mengerti aunty." Jawab Hana tanpa ragu dan langsung menundukkan kepala dan keluar dari ruangan kerja Carlos.


" Kak... kakak."


Ray langsung mengejar Hana saat dia tidak menoleh sama sekali keberadaannya, bahkan Hana menggangapnya seolah tidak berwujud.


" Kakak marah sama aku?"


" Minggir!" Hana mendorong lengan Ray yang mencoba ingin memeluknya.


" Kak... maaf, aku ketiduran semalam."


" Tiada maaf bagimu!" Umpat Hana yang ingin berlalu dari sana.


" Kak jangan begini dong, dosa tau kek gitu sama calon suami?" Ray kembali mengejar langkah Hana yang terlihat kesal sekali dengannya.


" Awas!"


Rasanya tidak seberapa, malunya luar biasa!


" Kakak!"


Ray langsung menarik dan menyudutkan Hana ketembok dan mengungkungnya dengan kedua lengan kokohnya.


" Awas Ray aku mau ke dapur bantuin bibi nyiapin sarapan!" Ucap Hana yang mencoba menjadi calon mantu yang baik.


" Nggak perlu, asisten rumah tangga dirumah ini nggak cuma satu!"


" Kamu ini emang nyebelin, katanya cuma mau ngintip sebentar doang? kenapa malah sampai pagi!" Hana akhirnya memukul dadaa Ray dengan gemas.


" Habisnya kakak nggak mau dilepas." Jawab Ray dengan santai.


" Kenapa jadi nyalahin aku?" Hana merasa tidak terima karena memang bukan dia yang menginginkan duluan.


" Ikut aku!" Ray langsung pergi keruang CCTV dirumahnya.


" Apaan?" Hana langsung dag dig dug saat Ray menghidupkan layar monitor dan mengecek cctv bagian ruang TV.


" Lihatlah.."


Ray terkekeh sambil menunjuk ekspresi tunangannya yang terlihat sangat menggemaskan itu.


Astaga...kenapa aku seperti itu!


Hana merutuki dirinya sendiri ketika wajahnya terlihat sangat menikmati walau kedua matanya terpejam, apalagi kedua tangannya memang terlihat mendekap kepala Ray dengan erat dan malah menekannya kedalam, seolah meminta lebih lama dan itu ternyata berlangsung sampai pagi.


..."Jatuh cinta itu seperti melompat dari gedung yang sangat tinggi; kepalamu bilang, 'Idiot kamu akan mati', tapi hatimu bilang 'Jangan khawatir, gadis cantik, kamu bisa terbang'."...


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2