
...Happy Reading...
Dengan kaki panjangnya dia berjalan cepat dengan sedikit berlari, entah mengapa rasa takut didalam dirinya begitu kuat, takut jika gadis itu berubah pikiran dan pergi dari hidupnya untuk memilih pria lain.
Apalagi saat dia sampai didalam kamar Adelia yang ternyata pintunya terbuka namun terlihat sepi tak berpenghuni, tidak ada jejak suara yang menandakan ada Adelia disana.
" ADELIA.. ADELIA.. kamu dimana?" Ganesh langsung masuk dan mengedarkan pandangannya disetiap sudut ruangan, namun tidak menemukan batang hidungnya.
" ADELIA... jangan pergi!" Teriaknya kembali, bahkan dia langsung membuka pintu kamar mandi yang tertutup, namun nihil, disana pun dia tidak menemukan Adelia.
Dan itu semakin membuat ketakutannya bertambah kali lipat, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika Adelia benar-benar kabur malam ini.
" Astaga, apa dia benar-benar kabur dari acara ini?" Ganesh kembali berlari menuruni anak tangga dan mencari ke ruangan lain.
Namun saat melewati dapur besar yang sudah seperti kafe itu, ekor matanya menangkap seseorang yang sedang duduk di meja makan dengan segelas air su su didepannya.
" Adelia? apa itu kamu?" Ganesh kembali memundurkan langkah kakinya dan mulai menajamkan kedua bola matanya.
" Iya, kenapa?" Jawab Adelia dengan santainya, dia mengusap perlahan sudut bi birnya takut jika masih ada air su su yang menempel disana, setelah selesai dirias tadi dia merasa lapar karena seharian tadi dia lupa belum makan, jadi memilih minum su su saja untuk mengganjal perut kosong, mau makan juga kasian sama tukang make upnya harus membetulkan riasannya nanti.
" Ya ampun Adelia, aku takut sekali!" Bahkan Ganesh langsung berjongkok didepan Adelia yang langsung refleks memundurkan kursinya agar sedikit menjauh dari tubuh Ganesh.
" Kakak kenapa?" Adelia terkejut bukan kepalang, kenapa dia tiba-tiba jongkok begitu, apa dia tidak takut celananya kotor, padahal acaranya kan belum dimulai pikirnya.
" Aku takut kamu kabur." Jawabnya dengan jujur sambil mengatur nafasnya yang masih memburu sekaligus ketakutan.
" Kabur kemana? kabur dengan siapa coba?" Adelia malah tersenyum sumbang karenanya.
" Aku.. aku takut kamu kabur dengan pria itu." Ganesh menundukkan kepalanya masih dengan posisi yang sama.
" Pria siapa, pria yang mana?" Adelia masih belum paham dengan ucapan Ganesh yang tiba-tiba, selama empat tahun ini, baru kali ini dia bisa berbicara langsung bahkan hanya dua orang saja disana.
" Pria yang kamu peluk hari itu!" Ucap Ganesh yang kembali mengingat rasa kesalnya pada sosok Dimas empat tahun lalu.
__ADS_1
" Hari itu? apa maksud kakak empat tahun lalu?" Adelia mencoba menelisik wajah Ganesh yang belum berani menatap wajahnya secara langsung.
" Siapa lagi, apa kamu sudah berhubungan dengan orang lain semenjak kita putus hari itu?" Tanya Ganesh dengan wajah yang sendu.
" Cih... emang aku kakak, yang suka gonta ganti pasangan sesuka hati dan berganti pasangan semudah membuat mie instant?" Adelia bahkan memberikan sindiran yang kembali membuat hati Ganesh seolah tertusuk.
" Maaf." Hanya itu yang bisa Ganesh katakan kali ini.
" Bangun kak, duduk di kursi, nanti celana kakak kotor!" Adelia menarik kursi disampingnya agar Ganesh pindah dari hadapannya, dia merasa canggung sendiri melihat Ganesh seperti itu.
" Biar saja." Jawab Ganesh dengan suara yang terdengar memelas.
" Fuuuh." Adelia mengatur nafasnya perlahan.
Sepertinya sudah saatnya aku menjelaskan tentang kejadian empat tahun yang lalu, karena sebentar lagi aku akan menikah dengannya.
" Duduk yang benar kak, biar aku jelaskan kejadian hari itu." Suara Adelia kembali melunak, dia tipe orang yang tidak tega an melihat orang yang seolah terpuruk didepan kedua matanya.
" Katakan saja, aku akan mendengarnya." Perlahan dia tegakkan kepalanya, ingin mencoba menatap wajah gadis itu namun masih ragu, jadi dia hanya meliriknya sekilas, namun itu sudah membuat jantungnya berdegub kencang karena wajah Adelia terlihat sangat cantik sekali dari jarak dekat, apalagi full make up walau hanya flawless, ditambah dengan baju gamis kebaya modern mewah ditubuh langsingnya, membuat kecantikan wajahnya terpancar dengan sempurna.
" Katakan saja sejujurnya, aku tidak akan memarahimu seperti waktu itu." Ganesh sudah mencoba untuk memakluminya karena kelakuan dia bahkan lebih bej*t dibanding hanya sekedar berpelukan saja.
" Aku sama sekali tidak takut kalau kakak marah kok, karena memang aku tidak melakukan kesalahan yang besar." Ucap Adelia dengan santainya, andai dulu dia bisa setenang ini, pasti masalahnya tidak akan serunyam ini.
" Maksudnya?" Ganesh kembali melirik wajah Adelia sekilas, karena dia takut khilaf jika menatap wajah cantik itu terlalu lama, apalagi hanya ada mereka berdua, karena para asisten rumah tangga Adelia semua sibuk mempersiapkan hidangan di halaman depan.
" Saat itu awal mulanya kak Dimas ingin meminta bantuanku memilihkan hadiah untuk ibunya, yang katanya sedang tidak enak badan dan menyuruhnya untuk segera kembali pulang ke Singapore." Adelia kembali mengingat betapa kasihannya dia melihat wajah Dimas hari itu.
" Lalu?" Ganesh terlihat menyimak cerita Adelia dengan seksama.
" Dan ternyata, salah satu saudaranya disana yang sebenarnya hanya ingin mengucapkan rasa prihatin kepadanya, namun secara tidak langsung malah memberitahukan kepadanya kalau ibunya sedang koma dirumah sakit karena kecelakaan hebat yang menimpanya." Adelia membuang pandangannya ke sembarang arah.
" Astaga Adelia, kenapa kamu tidak mengatakan itu semua padaku?" Dengan mengumpulkan keberanian penuh, Ganesh meraih kedua jemari Adelia perlahan.
__ADS_1
" Tidak ada gunanya, saat kakak baru datang saja hanya amarah yang kakak tunjukan kepadaku, tanpa mau memberiku waktu untuk aku menjelaskannya." Adelia langsung menarik kedua tangannya, seolah enggan diperlakukan manis oleh Ganesh.
" Maafkan aku, aku sudah terbawa emosi saat melihat kamu berpelukan, apalagi sama Dimas, kenapa harus dia, kenapa harus pria yang aku benci." Saat tidak bisa memegang kedua tangan Adelia, Ganesh memilih memegang kedua kaki Adelia dengan erat, bahkan sedikit merapatkan ke da da kekarnya.
" Memangnya musibah bisa memilih dengan siapa dia akan datang? kakak ini lucu lah!" Adelia ingin melepaskan kakinya dari pelukan Ganesh, namun dia takut kalau nanti tanpa sengaja malah menendangnya.
" Maaf." Berulang kali dia berucap kata maaf yang tidak pernah dia lontarkan kepada wanita-wanita di hidupnya setelah Adelia.
" Ya sudahlah, sudah berlalu ini, lepas dulu kakiku kak, jangan begini." Adelia merasa tidak enak hati, apalagi jika ada orang lain yang melihatnya.
" Tapi kenapa kamu menyetujuinya saat aku bilang putus? apa semudah itu kamu menyudahi hubungan kita?" Ganesh tetap tidak menggubris rengekan dari Adelia, dia tetap pada posisi itu dengan nyaman, bahkan merasa lebih tenang.
" Loh.. kakak sendiri kenapa, semudah itu ingin mengakhiri hubungan kita tanpa penjelasan yang sebenarnya dariku?" Adelia kembali membalikkan pertanyaan itu dengannya.
" Ckk.. kamu sendiri kan tahu aku bagaimana orangnya, berulang kali aku melarangmu dekat-dekat dengannya, kamu tetap saja pergi dengannya, kamu tau nggak perasaanku saat itu, hancur Adelia." Ganesh seolah mengadu atas kesakitan yang dia rasakan.
" Kakak pikir hatiku baik-baik saja begitu?" Adelia tidak mau kalah.
" Kamu kan tahu, bagaimana perasaanku denganmu, seberapa dalamnya aku mencintaimu?" Ganesh seolah mengeluarkan kekesalannya saat itu.
" Ciiih... sok-sokan bilang cinta, dengan mudahnya bermesraan dengan wanita lain, bahkan ditempat umum lagi." Adelia langsung mengingat sekelebatan kekasih Ganesh saat itu yang sedang mera ba mesra tubuhnya, membuat tubuhnya seolah merinding disko sendiri, rasa nyeri di ulu hatinya pun tiba-tiba kembali terasa.
" Maaf Adelia, maafkan aku, saat itu aku tidak tahu kalau ada kamu disana." Ganesh langsung menjatuhkan kepalanya dipangkuan Adelia dengan kedua tangannya yang tetap memeluk kedua kaki Adelia dengan erat.
Dia sungguh sangat menyesali kebodohannya karena tidak menanyakan hal itu sebelum kata putus, amarahnya benar-benar sudah meluluh lantahkan cinta pertamanya dan menghancurkan saat-saat remajanya dengan cinta sesaatnya.
Woaah... aku sudah kehabisan kata-kata lagi untuk mengumpatnya, jadi kalau aku tidak ada disana apa dia akan melakukan yang lebih dari itu? ya Tuhan... kenapa sesak sekali hatiku saat mengingatnya.
Adelia hanya bisa memejamkan kedua matanya saja, posisi Ganesh saat ini membuat tubuhnya seolah mematung, ada rasa bahagia namun ada juga rasa sakit hati yang seolah lebih besar dari itu semua saat mengingat kejadian hari itu.
..."Menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan dan penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima."...
..."Setiap penyesalan adalah pengalaman dan pengalaman akan membawa kita pada kebijaksanaan."...
__ADS_1
..."Salah satu cara Tuhan yang membuat Anda menjadi hebat adalah dengan meletakkan penyesalan di posisi paling belakang."...