
...Happy Reading...
Akhirnya keputusan sudah Mufakat, malam nanti acara Akad Nikah Raymond dan Hana akan digelar di kediaman rumah Mark saja, tak perlu menyewa gedung yang besar karena memang acara ini sangat mendadak, dan mereka hanya mengundang keluarga juga teman dekat saja.
" Mungkin... saat ini ku akan, melepas masa lajangku, kan ku persunting dirimu.."
" Awek... awek... " Mom Mala langsung ikut menggeolkan tubuhnya dengan asyik, saat kami sedang menghias kotak perhiasan untuk mas kawin dan seserahan kepada calon istriku nanti, karena memang cuma mommylah yang satu server denganku dirumah ini.
" Jadilah... pasanganku dan hidup menua bersamaku... terimalah cintaku..."
" Dikasih goyangannya juga dong maszeh." Lagu yang seharusnya pop itu kami buat versi dangdut koplo biar tambah seru.
Entah kata-kata indah seperti apa yang melukiskan betapa senangnya aku hari ini, bahkan disaat keluarga Hana sudah pulang untuk mempersiapkan Acara dirumahnya, sudah puluhan kali aku menyanyikan lagu itu sambil bersiul-siul ria.
Perjuangan yang terasa begitu melelahkan akhirnya berujung kebahagiaan, terlalu banyak lika-liku kehidupan dan pahit manis getirnya cinta sampai aku berada di titik ini.
Bisa menjadi kekasih kak Hana saja aku sudah bahagia banget, apalagi detik-detik menjelang akad nikahku, sulit aku gambarkan perasaanku yang berbunga-bunga kali ini.
Walau semua serba dadakan, nggak tunangan, nggak Akad Nikah namun bagiku semua ini seperti mimpi indah yang menjadi nyata.
" Kak... kita ke kamar yuk, si dedek kayaknya males dengar suara jelek Oomnya." Adelia langsung bergelayut manja sambil mengusap perutnya dilengan suaminya yang ikut membantu disana, walau cuma bantu berkomentar saja.
" Katanya mau ikut bantuin mereka?" Ganesh langsung mengusap rambut istrinya yang akhir-akhir ini selalu manja dengannya.
" Entah... keponakanku itu bukannya males, emaknya aja yang manja!" Umpatku sambil berdecih.
Tidak biasanya kak Adelia punya sifat yang manja seperti itu, walau sedari kecil dia sakit-sakitan pun tidak pernah merengek manja dengan mommy atau daddy, ternyata bawaan bayi memang mampu mengubah jati diri seorang wanita.
" Kak... si Oom jelek marahin aku." Dia sudah mengubah nama panggilanku, walau sebel tapi aku suka.
Plak!
Kak Ganesh tiba-tiba langsung memukul lenganku yang baru membantu menempelkan pernak-pernik dikotak perhiasan, karena aku dan mommy memang sengaja ingin menghias itu sendiri, agar lebih terkesan afdol.
" Beeenngggg... sebenarnya apa masalahmu denganku hah? kenapa kamu tidak bisa berdamai denganku walau sebentar saja, gangguin orang aja deh!"
" Calon keponakanmu yang minta, bukan aku yang mau."
Kak Ganesh mulai pandai berdalih, dia langsung tersenyum dan ikut mengusap perut Adelia yang usia kandungannya ternyata sudah dua bulan.
" Iya sih, si Oom ini nggak ngerti banget, kita ke kamar aja yuk kak."
Tumben banget kak Adel jadi pro sama kakak ipar, tapi ya sudahlah, daripada berantem juga malah kasian sama orok yang ada diperutnya.
" Udah siang ini bumil, udah jadi adonannya masak masih mau ngadon terus sih? nggak boleh sering-sering kek begituan ya kan mom?" Ucapku yang sok tahu.
__ADS_1
" Emang iya mom?" Kak Ganesh terlihat langsung tertarik dengan topik kami yang satu ini, sepertinya dia tetap minta jatah rutinnya setiap malam.
" Iya... jangan terlalu sering, dan kurangi ritmenya, pelan-pelan saja." Ternyata mommy sependapat denganku.
" Haduw... gimana dong yank?" Kakak iparku si wajah mesvm itu kembali panik saat mendengar nasihat mommy.
" Emang kamu nggak bisa nahan apa? seminggu tiga kali kan sudah cukup Nesh!" Mommy langsung menggelengkan kepalanya saat menatap wajah menantunya.
" Masalahnya bukan aku yang nggak bisa nahan mom, tapi Adelia yang sering minta duluan."
Ternyata dugaanku salah, aku seperti tidak percaya dengan ucapan kakak iparku itu.
" APA?" Aku dan mommy langsung terkejut bersamaan, seolah ini tidak mungkin, kak Adelia yang lugu ternyata bisa berubah menjadi se agresif itu.
" Diiihh... apaan sih kak, kek gitu kok diomongin sih, nyebelin!"
Sepertinya kakakku langsung marah, dia langsung beranjak berdiri dan pergi menuju lantai atas.
" Astaga... maaf sayang, aku nggak segaja bilang kek gitu tadi."
Mulai lagi deh perseteruan diantara mereka, dan kak Ganesh memilih langsung mengejarnya, entah apa yang akan dia lakukan diatas sana, namun sepertinya aku sudah bisa menduganya.
" Ribet ya mom kalau istri lagi hamil, kak Adelia yang lemah lembut saja bisa jadi ganas begitu, trus gimana kalau kak Hana yang bisa membantingku dalam satu kali tarikan itu ya mom, woaaah... ngeri banget pastinya.
Bukannya menenangkan, mommy malah menyumpaiku, atau mungkin dulu mommy juga seperti kakak, jadi beliau langsung memakluminya.
" Mommy inilah, nakut-nakutin aja, tapi kalau cuma minta jatah tiap malam, aku sih asyik-asyik saja, orang enak kok ditolak, mau nambah berkali-kali hayuk aja kalau aku mah, tancap gass terus lah!"
Aku langsung nerocos saja saat membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi padaku itu.
" Emang enak ya Ray?"
" Enak banget mom, Na...."
Gih banget! astaga... mulutku ini ya ampun!
Aku langsung membungkam mulutku sendiri, sedangkan mommy Mala langsung melotot dan membanting kotak perhiasan yang sudah kami hias begitu saja.
Padahal tadi kami memasang manik-maniknya itu satu persatu agar terlihat berkilau kotaknya, saat nanti terkena pantulan cahaya, namun sekarang sudah berserakan diatas karpet.
" Kamu sudah pernah melakukannya, dengan Hana?" Mata mommy terlihat setajam pis@u belati yang siap menanc@p di tubuhku yang tiba-tiba meneg@ng ini.
" Dengan siapa lagi, ya cuma dia lah yang berani, ehh... astaga!"
Memang selama ini tidak pernah ada rahasia diantara aku dengan mommy, sedari kecil aku memang lebih dekat dengan mommy ketimbang daddy, bahkan yang pertama kali tahu dulu saat aku jatuh cinta dengan kak Hana juga mommy.
__ADS_1
" Eng... enggak kok mom, nggak pernah." Aku langsung mengalihkan pandangan dan merutuki mulutku sendiri.
" Jujur atau mommy tidak akan merestui hubungan kalian berdua lagi!"
" Sudah...! sekali, cuma sekali doang kok mom, itupun kak Hana yang..." Aku kembali mendekap mulutku yang sudah ngeblong ini, karena takut ancaman dari my mommy.
" Raymond bin Adelard, coba kamu ulangi sekali lagi ucapanmu tadi?" Mala langsung memegang kedua bahu putranya dengan sedikit menancapkan kuku-kuku panjangnya.
" Ampun mom."
Aku langsung memelvk tubuh mommy dengan erat agar dia tidak mengamuk denganku.
" Pantesan kamu berani ngempeng dengan santainya tadi malam sampai pagi ya, kamu pasti ketagihan! si Hana juga mau-mau aja gitu ngasih kamu minuman Halu itu!"
Minuman Halu? ada-ada saja mommy ini kalau memberikan istilah, padahal segernya melebihi es bobaa yang lagi ngehits itu.
" Mommy juga memang sudah curiga dengan kalian berdua."
Mom Mala langsung menyimpulkan apa yang ada didalam pikirannya sendiri.
" Mom... hari itu kami benar-benar khilaf, jangan marah ya mom, jangan bilang siapa-siapa, nanti kak Hana marah sama aku."
Aku yang langsung ketar-ketir sendiri, padahal si Abeng juga sudah tahu kalau aku sudah menjebol gawang calon istriku itu, namun lain ceritanya kalau mommy yang tahu, bisa heboh dunia persilatan.
" Hari itu?" Mom Mala langsung melepaskan diri dari pelukanku dengan paksa.
" Iya."
" Berarti kejadiannya sudah lama berlalu? bukan hanya tadi malam?" Wajah mommy tiba-tiba memerah, dan dari situlah aku mulai sadar.
" Hehe..."
Ternyata aku keceplosan bicara lagi, argh... mom Mala kenapa mommy begitu pintar mengulik semuanya, sehingga aku tanpa sadar membuka aibku sendiri, maafkan aku my Hana...
" RAYMONDNYOOOOOOOONG!"
Akhirnya kemarahan mommyku meledak saat itu juga, bahkan suaranya langsung menggelegar diseluruh ruangan.
Menyesal?
Itu sudah pasti, karena aku juga manusia yang takut dosa, tapi selebihnya aku tetap bersyukur, mungkin memang itu jalanku agar bisa segera menghalalkan gadis pujaan hatiku selama ini.
Dan malam ini, tinggal beberapa jam lagi akan aku buktikan bahwa kak Hana akan menjadi milikku sepenuhnya.
..."Hidup itu sama saja dengan belajar berenang. Jangan takut membuat kesalahan, karena tidak ada cara lain untuk belajar bagaimana hidup" ...
__ADS_1