
...Happy Reading...
Sebuah pesta yang cukup mewah sedang berlangsung siang ini, hotel berbintang dengan berbagai dekorasi membuah pesta itu terlihat sangat megah.
Terlihat juga Raymond yang sedang mengungkapkan betapa bangga dan bahagianya dia, saat akhirnya mereka berdua bisa sampai di titik ini.
" Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa masalah atau kebanggaan, Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tidak tahu cara lain untuk mencintai selain ini.. i love you my Hana.."
" Piwiiiitt..."
Gemuruh tepuk tangan dari semua tamu undangan langsung memenuhi ruangan itu, apalagi saat Raymond berjongkok didepan Hana dan mencivm tangannya, membuat semua para jomblo iri dengan keromantisan mereka berdua.
" Sae... itu si kaleng rombeng!" Ganesh yang melihat itu langsung protes.
" Apaan sih kak, romantis tau mereka." Sedangkan mata istrinya sudah langsung berkaca-kaca saat melihat adegan adeknya, semenjak hamil memang Adelia menjadi sangat sensitif.
" Astaga... kamu kenapa sayang? apa si dedek mulai bisa nendang bola atau bermain golf didalam sana?" Ganesh langsung kembali khawatir, bahkan dia jarang ke kantor saat ini, karena Adelia selalu ingin nempel dengannya, bahkan seharian penuh.
" Belum?"
" Terus?" Tanya Ganesh dengan lembut sambil mengusap perut istrinya.
Dia selalu menemani istrinya saat ada kelas ibu hamil, agar dia bisa tahu cara menghadapi kebiasaan ibu hamil.
" Mau kayak mereka." Adelia menunjuk adeknya yang sedang romantis-romantisan di depan sana.
" Ya salam... apa kamu mau pindah ke kamar saja?" Tanya Ganesh yang hanya bisa tersenyum melihat istrinya yang selalu jadi manja.
" Ini bukan dirumah kita." Adelia langsung memasang tampang cemberut.
" Aku sudah menyiapkan satu kamar VVIP untuk kita disini." Ucap Ganesh yang memang sudah berjaga-jaga, perut istrinya yang sudah mulai membesar membuatnya gampang merasa capek.
" Benarkah?" Raut wajah ceria langsung terpancar disana.
" Kita ke kamar sekarang mau?"
" Mau banget!"
Semenjak Hamil memang Adelia selalu ingin diperlakukan romantis oleh suaminya, hubungan mereka bahkan sangat baik, seperti saat cinta mereka masih awal bersemi dulu dan itu menjadi hal keberuntungan buat Ganesh yang memang masih mencintainya dari dulu sampai sekarang.
Akhirnya sepasang suami istri itu memilih meninggalkan pesta dan menyewa kamar di hotel tersebut.
Sedangkan Arka terlihat menggandeng Hesti masuk kedalam gedung yang sudah disulap seperti taman berbunga itu.
" Akhirnya resmi juga dirilis ke pelaminan. Ciee... happy wedding, ya!" Hesti langsung naik keatas panggung bersama Arka untuk memberikan ucapan selamat kepada Ray dan Hana.
" Hoping you two have a beautiful life and an endless love story. Congrats on your wedding day!"
(Aku harap kalian berdua memiliki kehidupan yang indah dan kisah cinta yang tak ada habisnya. Selamat atas pernikahanmu!)
Arka pun ikut memberikan ucapan selamat kepada kedua pasangan itu.
" Makasih Om Arka dan tante Hesti." Ucap Ray dengan senyum ledekan yang tertuju kepada Hesti.
" Enak saja, aku bukan tantemu ya bocil!" Hesti langsung memukul lengan Ray saat menyebutnya dengan panggilan tante.
" Haha... ada yang salah? ini Om gue, trus kamu udah main gandengan mulu kayak mau nyebrang, bukannya mau melamar jadi tante gue?" Ray dan Hesti memang satu jalur, selalu saja kocak kalau sudah ketemu.
" Dih, sejak kapan dia jadi Om luu, owh ya Hanami... boleh aku minta tolong sesuatu sama kamu?" Hesti tiba-tiba langsung berjalan mendekat kearah Hana yang sudah ikut tersenyum sedari tadi.
" Minta tolong apa mbak?" Tanya Hana yang tidak lagi merasa cemburu dengannya.
" Tapi maukah kamu berjanji untuk mengabulkannya?"
__ADS_1
" Apa dulu? kalau aku bisa sih.. kenapa tidak?" Jawab Hana yang terlihat penasaran jadinya.
" Tolong jangan kasih jatah Ray malam ini ya?"
" Enak saja kalau ngomong, aku sudah pesan hotel yang paling bagus malam ini, masak iya dianggurin!" Ray yang mendengarnya langsung tidak terima.
" Please?" Hesti memasang tampang memelasnya.
" Nggak... nanti malam aku jadwalnya tujuh ronde kok." Ray langsung tersenyum menyeringai.
" Gilak luu... eh, jangan mau Han, nanti kamu cepet turun mesin loh." Hesti langsung menjadi pihak provokatornya.
" Hesti." Arka hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan kekasihnya itu.
" Awas kamu ya mbak, owh ya Om... kenapa Om mau sama kak Hesti sih? nanti om dijahatin lagi sama dia." Ray langsung tidak mau kalah, dia ingin membalasnya.
" Dia emang nakal sih? tapi Om terlanjur sayang sama dia." Arka langsung menarik tangan Hesti agar mendekat kepadanya dengan sangat mesra.
" Astaga... om pasti sudah kena jampi-jampinya mbak Hesti." Tutur Ray kembali.
" Nggak papa, aku rela kok mau diapain aja sama dia, yang penting cuma dia dan hanya dia." Arka langsung mengusap pipi Hesti yang sudah tersipu sedari tadi.
" Werk!" Hesti langsung menjulurkan lidahnya sekilas kearah Raymond.
" Diih... pulang yuk yank, kita turun panggung saja, masak iya kita kalah romantis sama mereka?"
Raymond langsung pura-pura sewot, namun setelahnya mereka langsung tertawa diatas sana, karena mereka memang cuma bercanda saja.
Dan ternyata pemandangan itu tidak luput dari sepasang mata, yang sedari tadi melihat kearah mereka.
Perlahan Dimas melangkahkan kaki jenjangnya, menuju ke arah mereka dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
" Selamat ya Han dan Ray, semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan."
" Terima kasih banyak Mas, owh ya... kak Adelia tadi kemana ya?" Ray langsung mencari keberadaan kakaknya namun tidak kelihatan.
" Aku ingin bicara dengan ayah." Dimas bahkan mengabaikan semuanya.
Degh!
Astaga... apa Dimas melihat semuanya tadi ya? tapi kapan dia datang? kenapa aku tidak melihatnya?
Hesti langsung mundur satu langkah, hatinya langsung tidak tenang, pikirannya entah mengapa tiba-tiba menjadi kalut.
Seolah wajah tampan Dimas menjadi momok yang paling menakutkan malam ini.
" Okey, kita cari tempat diluar saja." Jawab Arka yang langsung menghela nafasnya berulang kali.
Tanpa menoleh kearah manapun, Dimas langsung berjalan turun panggung mendahului mereka, bahkan tanpa berpamitan dengan Ray dan Hana selaku pemilik acara.
Raut wajah Dimas pun sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata lagi dan Arka pun mengerti, jadi dia tidak ingin nanti masalah keluarganya menggangu acara ini.
" Om aku gimana?" Bisik Hesti, dia malah jadi bingung sendiri, sedari awal moment inilah yang paling dia takutkan.
" Kamu mau ikut kami?" Jawab Arka yang masih bersikap santai didepan Hesti yang sudah terlihat kalut, padahal dia sendiri juga deg-degan, takut kalau Dimas benar-benar menolaknya.
" Tapi aku takut." Jawab Hesti dengan jujur.
" Kalau begitu kamu tunggu saja disini, kami hanya bicara sebentar diluar." Arka pun mengerti apa yang bersarang di pikiran kekasihnya.
" Ya sudah, apapun yang terjadi tetap utamakan hubungan kalian ya Om, aku nggak mau menjadi penghancur hubungan ayah dan anak." Ucap Hesti dengan bijak.
" Terima kasih atas pengertiannya sayang, doakan aku ya, semoga Dimas bisa mengerti." Arka mengusap rambut Hesti sejenak.
__ADS_1
" Tapi kalau bisa paksa sedikit ya Om, aku udah mentok sama Om, udah kayak jawaban orang Jawa kalau sedang dipanggil." Ucap Hesti dengan segala ucapan gilanya.
" Apaan tuh?" Tanya Arka yang masih saja meladeni gombalan Hesti disaat menegangkan seperti ini, karena itulah spesialnya Hesti dimatanya.
" Dhalem." Hesti bahkan memegang dadaanya agar terlihat menjiwai.
" Hmm... kamu ini, ada aja istilahnya, boleh aku peluk kamu sebentar?" Bukan hanya Hesti, Arka pun sebenarnya tidak mau berada di posisi yang tidak mengenakkan seperti ini.
" Pengennya malah yang lama." Hesti langsung merentangkan kedua tangannya.
Akhirnya Arka memeluk Hesti sebentar, hanya sekedar mencari kekuatan dari diri gadis yang sudah membuatnya kalang kabut akhir-akhir ini.
" Tunggu disini sebentar ya?"
" Hmm... aku yakin Om pasti bisa jadi Ayah yang hebat, semangat sayang!" Hesti bahkan mengepalkan tangannya ke udara untuk mengobarkan semangat seolah ingin pergi berperang.
Ya Tuhan... jika memang Hesti adalah takdirku, tolong bantu hambamu menuju jalan terindahmu, lunakkan hati putra hambamu...
Arka hanya tersenyum saja dan langsung pergi mengejar putranya yang sudah keluar dari gedung hotel itu.
" Hei boy... kapan kamu pulang? kok ayah belum lihat kamu dirumah tadi?" Arka mencoba membuat suasana tidak tegang.
" Aku langsung kesini tadi, cuma mau mampir sebentar saja, untuk sekedar menghargai undangan mereka."
Ternyata dia masih mau menjawabnya.
" Owh... begitu, gimana pekerjaanmu disana, apa semua lancar?" Arka sedikit merasa lega saat Dimas masih mau menjawab pertanyaannya.
" Baik." Jawabnya singkat.
" Apa masih harus pergi ke luar kota lagi? nggak bisa disini saja?" Dia menggeser tubuhnya agar bisa duduk lebih dekat dengan putranya.
" Apa sebegitu mudahnya ayah melupakan almarhumah mama?"
Degh!
Akhirnya Dimas langsung bertanya pada intinya.
" Dimas." Arka mencoba menghirup udara disekitar untuk mencari kekuatan.
" Apa semua perhatian mama selama berpuluh-puluh tahun ini langsung tergantikan oleh sosok Hesti yang baru beberapa saat ayah kenal?"
Pertanyaan demi pertanyaan Dimas gelontarkan dan semakin membuat Arka merasa bersalah karenanya.
" Apa kamu melarang ayah untuk berhubungan dengan Hesti karena masalah itu?" Tanya Arka yang sebenarnya juga ingin tahu alasan Dimas yang seperti tidak suka jika dia dekat dengan Hesti.
" Masalah itu? apa almarhumah mama itu ayah sebut sebagai masalah sekarang?" Nada suara Dimas langsung meninggi.
" Dimas.. bukan begitu maksud ayah nak?"
Kalau sudah menyangkut mamanya, Dimas memang menjadi sosok yang sensitif, bahkan dia menjaga pergaulannya dengan seorang wanita karena tidak ingin menyakiti perasaan seorang perempuan, seperti pesan dari almarhum mamanya dulu.
" Kenapa juga harus Hesti yah?"
Ini dia pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh Arka, dia tidak bisa bergerak jika alasan utama Dimas menentang hubungan dengan Hesti karena Dimas juga punya rasa yang sama dengannya.
Akan sangat sulit jika itu alasannya, karena sudah pasti hubungannya akan memburuk kedepannya, tapi kalau alasannya karena almarhum istrinya, Arka yakin perlahan Dimas akan mengerti dan bisa menerimanya.
" Apa kamu menyukai Hesti?"
Sebelum Arka bertanya, dia memejamkan kedua matanya sebentar, apapun jawaban Dimas dia harus bisa menerima konsekwensinya.
Sebenarnya jika harus mengalah demi kebahagiaan putranya Arka rela, namun dia tidak tega jika harus melihat Hesti terluka, karena itu adalah janjinya kepada orang tua Hesti kemarin.
__ADS_1
... "Saat jalan yang dilalui kian berliku, maka beristirahatlah sebentar. Tenangkan pikiran dan temukan jalan keluarnya."...