
...Happy Reading...
Agenda akhir pekan kali ini, di kantor Hanami mengadakan acara Employee Ghatering dengan seluruh karyawan kantor, setiap tahunnya saat ulang tahun kantor itu memang selalu dirayakan dengan berbagai acara dan kegiatan, selain mempererat tali silaturahmi juga memberikan hiburan kepada seluruh karyawan agar tidak jenuh dalam bekerja dan bisa refresing gratis.
Hana sebagai CEO baru pun disuruh papanya untuk ikut berpartisipasi, agar bisa dekat dan mengenal seluruh lapisan karyawan kantornya.
Pantai berpasir putih adalah tujuan utama destinasi mereka, lautan yang biru dan langit yang cerah juga terlihat sangat mendukung perjalanan wisata mereka, perusahaan sudah menyewa dua hari satu malam resort terbesar di dekat pantai itu. Jadi seolah pantai itu hanya dikuasai oleh mereka saja.
" Nona Hana, menginap di kamar berapa?" Tanya sekertaris barunya.
" Kenapa emangnya?"
" Ya tanya aja, siapa tahu deket, jadi kalau malem-malem butuh teman ngopi saya siap nona, hehe.."
" Aku lebih suka jus daripada kopi."
" Aku juga suka kok minum jus, malah bagus kalau diminum malem-malem, bisa buat amunisi ya kan?"
" Ngapain juga malem-malem aku minum jus? kurang kerjaan banget, mending buat tidur, sudah sana gabung dengan teman-temanmu!" Hana langsung menggelengkan kepalanya melihat sekertaris latahnya itu.
Kamar Hana berada dipaling ujung dan jendela kamarnya berhadapan langsung dengan pantai, dia berada di kamar utama resort itu. Mereka sampai disana sudah siang hari, dan memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu sebelum memulai acara gathering sore nanti dengan agenda permainan yang sudah diatur oleh panitia gathering di Kantornya.
" Kasih tau Ray nggak ya kalau aku ada acara gathering?" Hana berbaring dilantai sambil menaikkan kakinya keatas ranjang sambil menikmati suasana pantai dari dalam kamar.
" Coba aku telpon dulu deh, daripada nanti dia ngamuk nyariingue kan ribet." Hana langsung mendail nomor ponsel Ray namun tidak diangkat-angkat.
" Kemana ya? apa lagi tugas ya?"
" Tapi nanti kalau nggak aku kasih tau ngambek dia, merasa nggak dipedulikan."
" Aisssh... begini nih kalau pacaran sama berondong, jadi serba salah, mana nggak diangkat-angkat lagi." Hana mencoba berulang kali menelpon Ray namun hasilnya tetap sama.
" Ya sudahlah, tunggu dia hubungin aku balik saja deh." Hana langsung melempar ponselnya ke atas kasur dan memilih memejamkan matanya dan tidur dilantai.
Setelah beberapa jam berlalu, Hana terbangun karena suara ketukan dari pintu kamarnya.
" Nona...nona Hana?" Terdengar salah satu karyawan wanitanya mengetuk pintu dan memanggil namanya dari luar.
" Ya... tunggu sebentar." Jawab Hana yang langsung bangun dan berjalan sempoyongan ke arah pintu.
" Nona, acara sudah dimulai, nona harus memberi sambutan terlebih dulu."
" Kenapa harus ada sambutan? mulai ajalah." Jawab Hana dengan lemas.
" Kalau nona belum memberikan sambutan, acara belum bisa kita mulai nona, ayolah nona kita main game bersama, biar seru." Pinta sang sekertaris yang tiba-tiba nongol dibelakangnya.
" Tapi aku baru bangun tidur, kalian main saja dulu deh, nanti pembukaannya belakangan, dirapel aja sama sambutan penutup aja nggak papa." Jawab Hana yang memang males.
" Ayolah nona.. ikutlah main bersama, biar semangat kita nya?" Bahkan kedua karyawannya itu kompak memonyongkan bibir mereka masing-masing sebagai aksi protes mereka.
" Ckkk...ya sudahlah, tunggu sebentar, aku mandi sebentar." Jawab Hana yang langsung masuk lembali ke kamar.
" Kami tunggu didepan pintu nona." Mereka berdua langsung duduk bersila didepan pintu kamar Hana.
" Astaga... kalian masih disini?" Setelah kurang lebih setengah jam Hana keluar dengan baju pantainya, dia terkejut melihat kedua karyawannya yang benar-benar menunggunya didepan pintu.
" Hehe... takut nona lupa, ayo nona kita mulai acaranya."
Akhirnya mereka sampai dipantai berpasir putih, ratusan karyawan sudah berjajar rapi membuat lingkaran ditepi pantai yang memang luas itu.
__ADS_1
Kata sambutan pun sudah Hana sampaikan, dan gathering kantornya sudah resmi dimulai, tak lupa mereka menyewa khusus beberapa koki untuk menyajikan menu barbeque nan ditepi pantai untuk sore ini sambil menikmati sunset di pantai indah itu.
" Nona, ayok gabung, ikutan gamenya dong?" Pinta salah satu karyawannya.
" Owh tidak, kalian saja yang main, saya melihat dari sini saja." Jawab Hana yang langsung melambaikan kedua tangannya.
" Argh... nggak seru nona, ayolah gabung!"
" Nona.. nona.. nona.. nona.. nona!"
Mereka semua kompak menyoraki Hanami agar ikut permainan balon itu.
" Astaga, okey baiklah." Hana langsung bangkit dari duduknya dan terjun ke area permainan itu.
" Okey gaess, sekarang kita sambut CEO kita, nona Hanami!"
" Yeeeeaaaayyyyyyy!"
Mereka ikut bersorak dan menyemangati Hanami, dia tipe orang yang humble, jadi para karyawannya tidak merasa terintimidasi olehnya, karena awalnya Hana juga masuk sebagai sekertaris terlebih dahulu.
" Permainan kali ini berpasangan ya, boleh cewek atau cowok bebas pokoknya?" Sang panitia langsung memberikan aba-aba, para peserta yang maju kedepan sudah membawa pasangan masing-masing, sedangkan Hana hanya terdiam ditempat karena dia tidak punya pasangan.
" Woah... ternyata nona Hana belum punya pasangan, okey tidak masalah biar saya yang mencarikannya." Panitia itu langsung mengedarkan pandangannya ke arah karyawan lainnya.
" Peter, silahkan maju kedepan!" Teriak sang panitia.
" Hei... kenapa harus pria?" Hana langsung terlihat protes.
" Tidak apa-apa nona, saya perkenalkan nona, dia Peter salah satu Employee of the month di bagian Pemasaran, selain pandai dia juga paling tampan di kantor kita nona." Bisik panitia itu disamping telinga Hana.
" Tapi---?" Entah mengapa perasaan Hana tiba-tiba jadi tidak enak saja.
Gimana kalau Ray sampai lihat? woaah...bisa ngamuk beneran nanti dia, ehh.. tapi kan aku belum sempat kasih tau dia tadi kan, pasti dia juga nggak akan lihat ini, nggak papa deh, sekali ini saja, daripada aku nanti di cap sebagai CEO sombong ya kan?
" Baiklah." Jawab Hana yang hanya bisa pasrah saja maju kedepan.
" Okey... permainan yang pertama adu balon ya, pasangan siapa yang bisa bertahan sampai akhir, berarti dia yang menang."
" Silahkan berdiri di posisi kalian masing-masing ya, dan jangan lupa letakkan balon ditengah-tengah kening kalian, jangan sampai lepas atau meledak yaa." Beberapa panitia membagikan balon dan memposisikan di depan kening mereka masing-masing.
" Dan buat Peter, jangan coba-coba mengambil keuntungan, ingat dia CEO kita, tetaplah sopan agar gaji kamu tidak dipotong okey, hehe?" Ketua panitia itu malah terlihat sengaja menakut-nakuti Peter.
" Bahahahaha... piwwwiiittt!" Mereka semua ikut bersorak saat melihat Peter terlihat ketakutan.
" Tenang saja, gajimu akan tetap utuh walau kita kalah nantinya." Ledek Hana yang membuat Peter tersenyun malu.
" Tiga... dua... satu... Go!" Teriak sang panitia itu dengan heboh.
DOR... DOR...!
Bukan suara balon meletus, namun itu adalah suara tembakan pistol ke udara.
" Aaaarrrrgggghhhhhh... apa itu!" Mereka yang ditengah langsung berteriak dan bubar menepi, bergerombol dengan teman mereka masing-masing.
" Astaga, apa itu?" Hana langsung mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, mencoba mencari pelaku yang membuat kacau acara gathering perusahaannya.
" Eherm... bolehkah saya ikutan main di game ini nona CEO yang terhormat?" Tiba-tiba terdengar suara dari seseorang yang berjalan dengan gagahnya dibelakang Hana sambil memutar-mutarkan pistol ditangannya.
" RAY!" Hana bahkan langsung terlonjak dari tempatnya karena terlalu kaget melihat kenyataan.
__ADS_1
Dia sungguh tidak menyangka jika Ray tiba-tiba ada disana, padahalkan dia sama sekali belum memberitahukan kepadanya kalau dia pergi ke pantai itu.
" Wuidih... kayaknya seru banget tadi, kenapa kalian bubar, ayo silahkan lanjutkan lagi permainannya." Ray berjalan santai sambil memegang lengan Hana yang terlihat sedikit gemeteran karena terkejut dengan suara tembakan tadi.
Apa aku berhalusinasi? kenapa Ray bisa ada dimana-mana?
" Ray, kenapa kamu ada disini?" Tanya Hana yang seolah masih belum bisa percaya atas kehadiran Ray kali ini.
" Kenapa emangnya?" Ray langsung terlihat kesal karena kedatangannya tidak membuat Hana terlihat bahagia.
" Nona? apa anda mengenalnya?" Ketua panitia itu langsung terlihat lega.
" Iya... aku mengenalnya, semua aman, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalian bisa lanjut saja permainannya, dia bukan orang jahat kok, kalian tenang saja." Jelas Hana yang mencoba memberikan pengertian.
" Owh pak polisi yang terhormat, anda sungguh membuat kami ketakutan." Sekertaris Hana yang sudah pernah bertemu dengannya langsung mengusap da danya yang tadi hampir mau copot.
" Ray... kita bicara didalam saja yuk?"
" Kenapa harus didalam? bukannya tadi kalian baru main game? mana tadi pasanganmu? sepertinya kalian tadi terlihat dekat ya?" Ray langsung menyindir kekasih barunya.
Astaga, berarti tadi dia sempat melihatnya, aaa... habis deh gw ini nanti?
" Uhuk... uhuk..." Hana langsung pura-pura tersedak karena sudah ketahuan.
" Mana! mana yang berpasangan dengan nona CEO tadi?" Ray bahkan bersidekap sambil mengedarkan pandangannya.
Raut wajah Ray kini jangan ditanyakan lagi, sudah lelah bekerja belum sempat istirahat, setelah sampai di tempat tujuan bukannya disambut dengan senyuman, malah kekasihnya terlihat asyik bermain game berpasang-pasangan dan yang lebih membuatnya emosi lagi Hana berpasangan dengan seorang pria, itu membuat kekesalan Ray bertambah kali lipat, bahkan beratus-ratus kali.
" Ray tadi itu cuma anu---"
" Cuma.. cuma apa coba? mau ngomong apa kamu sekarang, hmm?" Seolah api dan taring di kepala Ray sudah merah menyala.
Tamatlah riwayat gue? Ray... bisakah kamu mengampuniku kali ini? owh... sepertinya dia benar-benar marah? aku harus apa? aha... senjata ampuhku? tapi tidak mungkin aku mencivmnya sekarang, ratusan karyawanku ada disini semua...
" Yok... yang merasa menjadi pasangan nona CEO kalian, silahkan maju kedepan, atau aku yang akan memaksa kamu untuk maju sekarang!" Teriak Ray yang semakin membuat Peter merasa gemeteran.
Haduh... ini bukan keinginannku, kenapa jadi aku yang disalahkan?
" Sa... say.. saya pak polisi." Akhirnya Peter memberanikan diri untuk maju kedepan.
" Owh... bagus, ternyata tampangmu boleh juga, walau masih jauh sih?" Umpat Ray sambil tersenyum licik.
" Ma... maaf pak, tadi bukan saya yang---"
" Maju ke posisimu, pegang balonnya!" Ray menyerahkan balon itu didepan da da Peter.
" Nona CEO yang terhormat, silahkan kembali di posisi kalian tadi!" Ray langsung menatap tajam kedua mata Hana, membuat semua orang yang melihatnya langsung merinding, apalagi Ray masih menggunakan seragam dinas beserta pistol di pinggangnya.
" Tapi Ray---"
" Nggak ada tapi-tapian!"
Bruk!
Namun tiba-tiba saat Hana baru selangkah saja maju kearah Peter, tiba-tiba tubuh Peter langsung ambruk diatas pasir.
" Astaga, Peter!" Teriak Hana histeris.
" Ya ampun Ray, lihat kan, kamu menakutinya! hei... kalian cepat angkat Peter, bawa dia kembali ke Resort!" Ucap Hana yang langsung terlihat panik.
__ADS_1
Sedangkan Ray hanya bisa melongo saja melihatnya, padahal dia tadi cuma bermaksud untuk menakut-nakuti Hana saja, namun tidak disangka malah Peter yang jadi korbannya.
... " Majulah tanpa harus menyingkirkan orang lain, naiklah tinggi tanpa menjatuhkan orang lain dan berbahagialah tanpa menyakiti orang lain, k**arena Hidup bukan hanya tentang senyum dan tawa."...