Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
90. Curiga


__ADS_3

...Happy Reading...


Renyahnya obrolan dua pasangan yang beda label itu, tiba-tiba terganggu dengan suara teriakan sang mommy tercinta.


Hana dan Ray pun tanpa sadar melupakan alas tempat mereka bertempur tadi malam, karena takut keluarganya merasa curiga jikalau mereka berdua terlalu lama berada didalam kamar.


Hana kembali dibuat terkejut, saat Mala menanyakan perihal bercak darah yang berada di sprei kamar Raymond.


" Tapi mommy tadi lihat ada bercak dar@h di seprai kamu?" Ucap Mala dengan ragu.


Bunuh saja aku sekalian Ray, kenapa jadi seperti ini? bagaimana ini? kenapa aku bisa sampai lupa tadi, mau aku taruh mana mukaku jika sampai semua orang tahu.


Hana memyandarkan tubuhnya di bahu kursi, mencoba memasang tampang datarnya, agar tidak ketahuan jika dialah penyebab utama adanya bercak kenikm@tan itu tertinggal disana.


" APA?" Ray pun ikut terkejut, karena dia juga tidak bisa melihat hal itu.


Gilaa... gue benar-benar lelaki sejati, itu bukti mom, bahwa putra mommy ini bisa menembus batu karang itu walau tanpa melihat sekalipun, my Hana, kamu lihat kan betapa perkasanya diriku?


Lain yang ada dipikiran Hana, lain pula yang ada dipikiran Raymond, dia malah tersenyum sendiri disaat Hana sudah senam jantung ingin menjawab apa tentang itu, akhirnya dia memilih diam, semua dia pasrahkan saja kepada Ray, karena kalau harus menikah sore ini pun dia sudah siap.


" Ray.. kamu dengar nggak mommy ngomong apa? mana yang luka? biar mommy periksa?" Mala masih mencoba mencari tahu dimana titik luka ditubuh putranya.


" Owh... bukan aku yang luka, tadi kak Hana bawa obat merah, dia fikir aku terluka karena lampu dikamar aku pecah tadi malam, tanya aja sama bibi, dia yang membereskan kamarku." Jawab Ray dengan cekatan, entah dapat ilmu darimana dia jadi pandai berdalih seperti sekarang.


" Trus kenapa bisa tumpah di sprei?" Tanya Mala kembali, dia pun tidak curiga sama sekali tentang adegan ranj@ng, karena tidak mungkin putranya melakukan hal itu pikirnya, jadi dia menduga mungkin putranya memang terluka.


" Karena tidak sengaja kami duduki tadi, cuma sedikit kan mom? orang obatnya trus kak Hana buang ditempat sampah luar sana kok tadi malam." Ucap Ray yang terlihat meyakinkan.


" Owh begitu, kamu nggak luka juga kan Hana?" Tanya Mala yang langsung menoleh kearah Hana.


" Ehh... enggak ada aunty, aku juga tidak terluka kok." Jawab Hana sambil menghela nafasnya dengan lega, seolah batu yang menghimpit tubuhnya lebur seketika menjadi pasir saat mereka semua terlihat percaya, karena tidak ada yang protes pikirnya.


" Ya sudah, kalau begitu dilanjut makannya, mommy mau lanjut beberes dulu."


" Aunty, biar aku bantu ya, aku belum begitu lapar soalnya." Hana merasa tidak enak hati jika mertuanya yang harus membersihkan bekas hasil percinta@n mereka.


" Emang kamu sudah makan tadi?" Tanya Mala sambil menaikkan kedua alisnya.


" Emm... aku tidak biasa makan berat saat sarapan aunty, palingan minum susu sama roti doang sudah kenyang, nanti kalau aku lapar baru makan ya." Hana langsung berjalan cepat menyusul Mala menuju kamar Ray, padahal dia pun sebenarnya sangat lapar, karena energinya terkuras habis tadi malam, namun apa daya, lebih baik dia menahannya.


" Sayang... aku pengen minum kopi, boleh tolong buatin nggak?" Ganesh memgusap pipi istrinya yang sedari tadi menyimak obrolan mereka sambil menikmati sarapan paginya.


" Hmm... tentu, mau kopi hitam atau kopi su su?" Tanya Adelia, karena Ganesh biasanya jarang menyuruhnya membuat sesuatu, jadi Adelia merasa semangat dan langsung bangkit dari duduknya.


" Su su dong, itu kan faforit aku sayang." Jawab Ganesh sambil mengedipkan satu matanya.


" Jangan ngaco deh kak!" Adelia langsung mendelik kesal.


" Karena susungguhnya aku sayang banget sama kamu!" Ledek Ganesh yang langsung membuat pipi Adelia merona.


" Hoeek, tiba-tiba kok jadi enek perut gw!" Ray langsung pura-pura mau muntah.


" Yo wes, tunggu sebentar ya kak." Adelia langsung memilih menuju ke dapur segera, daripada Ganesh semakin menggodanya.


" Thak thok!" Ganesh langsung memainkan lidahnya sampai berbunyi, dengan isyarat memanggil Ray dengan suara ala-ala anak muda yang sedang godain cewek lewat.


" Pa an!" Ray pun tahu maksudnya.

__ADS_1


" Eherm... kamu mau ngaku sendiri, atau gw cari bukti nih?" Ucap Ganesh tiba-tiba.


Kening Ray langsung mengkerut, dia masih belum paham alur pembicaraan kakak iparnya.


" Ngomong apa sih luu?" Tanya Ray dengan ketus.


" Kamu pikir pemikiran aku selurus kakak dan mommy kamu begitu?" Ucap Ganesh dengan pelan, bahkan dia memajukan kepalanya agar suaranya tidak terdengar istrinya dari dapur, karena dia memang sengaja menyuruh istrinya pergi sebentar dengan alibi membuatkan dia kopi, padahal dia hanya ingin menginterogasi Raymond saja kali ini.


" Maksud kamu apa?" Ray menanyakan kembali maksud suami kakaknya itu.


" Bisa nggak panggil gw abang atau kakak atau mungkin mas gitu? biar lebih enak dengernya." Ucap Ganesh sambil melipat kedua kakinya dengan santai.


" Diih... males!" Entah mengapa mereka memang tidak bisa akur dari dulu hingga sampai detik ini.


" Ckk... kamu pikir aku percaya itu obat merah?" Ucap Ganesh dengan senyum liciknya.


Door!


Raymond seolah sedang terkena tembakan pas di area jantungnya, namun dia memakai baju anti peluru, walau tidak sakit namun membuatnya kaget sekaligus terkejut.


" Maksud kamu apa?" Ray langsung salah tingkah sendiri, disaat orang lain percaya, kenapa dia tidak sendiri pikirnya, padahal dramanya terlihat sangat meyakinkan tadi.


" Mau jujur apa aku tanya sendiri sama Hana?" Ancam Ganesh yang tidak mau putus asa kali ini."


" Tanya apaan, tidak terjadi apapun, kenapa juga harus bawa-bawa kak Hana sih? terserah deh, tanyakan saja sono!" Jawab Ray dengan nada acuh, dia selalu tidak rela kalau Ganesh masih dekat dengan kekasihnya.


" Yakin? tapi kalau aku tahu darinya, aku bilangin sama mommy dan daddy loh!" Ganesh mulai mencium bau-bau aneh darinya.


" Bilangin saja, emang gw ngapain?" Tantang Raymond.


Kata-kata Ganesh terdengar biasa saja sebenarnya, karena memang itu kenyataan, namun bagi Ray ucapan itu seolah Ganesh sedang pamer dengannya, karena pernah sedekat nadi dengan Hana.


" So?" Ray tersenyum miring karenanya.


" Ya... aku bisa mendapatkan jawaban apapun yang aku mahu darinya, serahasia apapun itu, aku pasti bisa mengkoreknya, yakin nggak menyesal nanti kamu? kalau kamu jujur denganku, aku bisa jaga rahasiamu!" Ucap Ganesh yang semakin terasa mendesaknya.


" Apaan sih!" Ray masih mencoba menahan yang dia bisa.


" Kamu lupa, aku lebih dulu menikah dari kamu, atau kalau tidak, biar aku cari bukti sendiri deh, tapi kalau sampai ketahuan, aku beberkan ke orangtua kita langsung, gimana?"


Gawat, dia pasti juga pernah lihat dar@h sakral itu saat pertama kali menjebol tanggul kak Adelia, gimana ini?


" Kamu mau apa!" Tanya Ray yang secara langsung malah terlihat jadi mengakui perbuatannya itu.


" Hahahahahaha!"


Sebenarnya dia hanya menduga saja, namun ternyata benar dugaannya, karena alasan Ray terlihat meragukan baginya, apalagi mereka berada dalam satu kamar tadi malam, dan sudah curiga dengan hubungan mereka berdua sejak lama.


" Awas saja kamu berani ngomong, kami tidak sengaja melakukannya!" Jawab Ray yang semakin membuat Ganesh tertawa ngakak.


" Tidak sengaja? hahaha... dasar bocah tengil, alasan kalsik itu. Cepat panggil aku abang!" Ucap Ganesh yang membuat Ray mati kutu.


" Ckk!" Ray langsung berdecak kesal, dia seolah dijebak oleh kata-kata kakak iparnya.


Si al... maafkan aku kak Hana..


" Mau nggak?" Tanya Ganesh yang seolah sudah mendapat kartu As dari Ray.

__ADS_1


" Iya... abang!" Ray langsung patuh memanggil sesuai dengan requestnya.


" Satu lagi." Ucap Ganesh yang semakin menjadi.


" Apalagi?" Tanya Ray dengan kesal.


" Kalau nanti malam kakak kamu nemenin kamu, suruh dia balik ke kamar gw, kamu bisa dong tidur sendiri, ya kan? orang kek gituan aja bisa tadi malam, okey?" Dia malas berdebat dengan Adelia karena sering ditinggal tidur sendiri, bahkan rencananya untuk membeli rumah harus dia tunda karena ada kabar dari pen donor Ray kemarin.


" Bang!"


sad lah..


" Baik-baik luu ama gw, kalau rahasiamu nggak mau bocor!" Ancam Ganesh kembali, senyum liciknya terlihat disana.


" Si aal.." Umpat Ray perlahan, namun masih terdengar di telinga Ganesh.


" Sayang!" Teriak Ganesh kembali.


" Bang, jangan ngomong apapun dengan kakak!" Karena dia belum siap untuk menikah sekarang dalam keadaan seperti ini.


" Ceileh... dia ketakutan, tenang rahasia luu aman sama gw, asal mulai sekarang kamu menurut semua kata-kataku, okey?"


" Menyebalkan sekali."


" Gimana, mantep nggak rasanya? nagih pasti kan? awas... nggak takut dosa luu!" Ledek Ganesh semakin menjadi.


" Diamlah... berisik!"


" Sayang tadi malam---" Ganesh sengaja memancing emosi Ray karena dia sudah curiga dari awal.


" Okey... okey, aku nurut!" Jawab Ray yang langsung menyerah.


" Apa kak?" Jawab Adelia dari dapur.


" Tadi malam cemilan yang kita makan itu enak banget, masih ada nggak?" Ganesh terkekeh perlahan.


" Masih, tadi malam dibawain banyak sama bibi itu." Jawab Adelia sambil membawa secangkir kopi dan mendekat kearah mereka.


" Haish... aku korbannya disini, kenapa jadi aku yang diancam?" Gerutu Ray perlahan.


Gara-gara my Hana ini, aku jadi lemah didepan abang ipar! tapi ya sudahlah... orang en@k ini kok, rejeki masak di tolak, ye kan?


" My Hana! aku mau jalan-jalan ke taman, temani aku!" Teriak Ray tidak mau kalah kerasnya dengan teriakan Ganesh kepada istrinya.


" Ngadu sono, inget ini masih siang, jangan mencoba untuk curi-curi kesempatan lagi!" Bisik Ganesh sambil tersenyum mengejek.


" Ckk.. emang siapa yang nyuri!" Ray tidak bisa apa-apa lagi, dia sudah kalah telak kali ini.


" Kamulah, masak Hana yang mulai duluan, nggak mungkin banget kan?" Ucap Ganesh yang langsung membuat satu sudut bi bir Raymond terangkat.


Nggak tahu aja kamu, gimana kelakuan Hana kalau sudah berduaan denganku, bisa pingsan kalau kamu lihat sendiri beng.. abeng!


Walau terkadang Ray juga sering kagum diam-diam dengan kebaikan Ganesh, namun selalu ada saja moment yang sering membuatnya kesal, itulah keluarga, walau tidak selalu berjalan mulus tapi selalu memiliki hati yang tulus.


... "Sebagian dari kesempurnaan kebahagiaan di dunia adalah memiliki keluarga yang bahagia."...


..."Keluarga adalah rasa bahagia yang tak akan sirna, tempat yang nyaman untuk berbagi canda tawa dan suasana terbaik yang pernah ada."...

__ADS_1


__ADS_2