Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
70. Tentang Cinta


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah Hanami selesai di check kembali oleh dokter, untuk memastikan keadaannya paska bangun dari pingsannya, Hana langsung dipindahkan ke ruang VVIP bersama Ray yang lebih dulu dipindahkan disana.


" Ray?" Hana yang baru saja memasuki ruangan itu dengan kursi rodanya, langsung tersentak melihat keadaan Ray yang masih belum sadarkan diri.


" Mah... kenapa mata Ray diperban?" Hana langsung memeluk lengan Shanum disampingnya yang juga tidak tau apa-apa, karena dia sedari tadi menunggui Hana diruangan rawatnya.


" Hana, bagaimana keadaanmu dek?" Ganesh yang sedari tadi menunggu Ray bersama Carlos langsung berjalan mendekati Hana.


" Kakak, Ray kenapa? apa yang terjadi dengannya?" Hana bahkan tidak menjawab pertanyaan dari Ganesh.


Baru kali ini kedua mata Hana tidak tertuju kepada Ganesh yang sedari dulu menjadi idolanya, bahkan pernah dia sukai dengan segenap hati. Saat ini hati dan pikiran Hana sepenuhnya sudah berpindah kepada Raymond.


" Kita belum bisa memastikan sebelum Ray sadar dek." Ganesh mengusap lengan Hana yang terlihat gemetaran.


" Mah aku ingin melihat Ray dari dekat." Hana menatap Shanum yang memegang kursi rodanya.


" Biar aku yang mengantarnya aunty." Ganesh langsung mengambil alih kursi roda itu dan mendorong Hana ke samping Ray.


" Uncle, apa Ray baik-baik saja?" Tanya Hana saat berada disamping Carlos, namun kedua matanya terus tertuju dikedua mata Ray yang diperban.


" Kita doakan saja ya, semoga Ray kuat." Carlos pun terlihat tidak berdaya, apalagi Mala pun masih pingsan diruangan lainnya.


" Ray... bangun Ray, nggak capek apa kamu tidur terus dari tadi?" Hana mengengam jemari Ray perlahan.


" Ray... kita pulang yuk, katanya kamu mau nganterin aku pulang?" Ucap Hana dengan sendu.


" Kita bahkan belum jadi jalan-jalan kan Ray? bangun Ray, aku pengen denger suara kamu lagi."


" Ray... tolong cepatlah bangun Ray?" Rengek Hana uang terdengar pedih mengiris hati.


Air mata Hana langsung kembali menetes dengan deras, bahkan Carlos, Shanum, dan Ganesh sampai melongo melihat Hana, mereka tidak menyangka jika Hana akan sesedih itu melihat keadaan Ray, padahal setau mereka, Ray dan Hana kan tidak pernah bisa akur sedari dulu.


" Nak, kamu baring dulu yuk diranjang sana, kamu juga harus banyak istirahat." Shanum juga masih mengkhawatirkan kondisi Hana yang masih terlihat pucat.

__ADS_1


" Enggak, aku nggak papa mah, aku mau nemenin Ray disini, sampai dia terbangun." Jawab Hana tetap menggengam erat jemari Ray.


Rasa hangat dijemari tangan Ray membuat hatinya sedikit tenang, setidaknya nyawa Ray terselamatkan sekarang, pikir Hana.


" Tapi kamu bisa nunggu sambil baring diranjang kamu nak, kan cuma deket itu." Ucap Shanum yang semakin aneh melihat gelagat Hana.


Setau Shanum, anaknya tipe orang yang cuek, yang tidak terlalu mengkhawatirkan seseorang, baru kali ini juga Shanum melihat Hana benar-benar merasa terluka karena melihat orang sakit.


" Kenapa seolah dia lebih terluka dari pada aku?" Carlos masih menatap Hana dengan tatapan kosong.


" Ada apa dengan Putriku? apa mereka punya hubungan spesial, kenapa sedari tadi yang ada dipikirannya cuma nama Ray saja, bahkan tidak memperhatikan keadaan dirinya sendiri?" Shanum sampai terheran sedari tadi, Hana bahkan tidak menggubris perban-perban ditubuhnya karena luka lecet, yang ada di pikirannya sedari tadi cuma nama Ray saja.


" Tumben ni bocah mewek terus? hari itu saat cintanya tidak terbalaskan, dia tidak selemah ini? apa mereka memang sudah pacaran? woah... berarti tu bocah sudah bisa menakhlukkan kerasnya hati Hana? bahkan sampai membuat hatinya lembek seperti bubur dihadapan Ray."


Lain pendapat Carlos dan Shanum, lain pula pendapat Ganesh yang memang sudah tau kalau Ray sejak dulu menyukai Hanami dan sudah mencivm bau-bau asmara diantara mereka.


" Uncle... apa kata dokter, kenapa Ray lama sekali bangunnya, kenapa dia belum sadar juga?" Hana bahkan tidak rela jika Ray seperti ini terus-menerus.


" Dia masih dalam pengaruh obat bius, sebentar lagi juga dia pasti akan sadar." Jawab Carlos mencoba untuk tetap tenang.


Ingin sekali Carlos mengatakan seperti itu, namun dia sendiri juga takut menerima kenyataan yang pahit itu.


Ray bangun... aku kangen suaramu Ray? aku kangen semua tentang kamu?


Hana akhirnya hanya bisa tertunduk lemas sambil memejamkan kedua mata, dengan tangan Ray yang dia letakkan dipipinya yang sudah banjir air mata.


Setelah beberapa saat mereka semua terdiam, larut dalam kesedihan masing-masing, tiba-tiba tangan Ray bergerak perlahan.


" Ray... kamu sudah bangun? uncle tangan Ray bergerak?" Hana langsung memperlihatkan kearah Carlos, padahal dia juga sudah bisa melihatnya sendiri.


" Hana... kamu kah itu? kamu dimana Hana?" Terdengar suara lemah dari bibir Ray dan mencoba meraba-raba disekelilingnya.


" Iya Ray... ini aku Hana." Hana langsung tersenyum saat mendengar suara Ray kembali.


" Gelap.. kenapa gelap kak Hana? aku dimana? apa hari ini sudah malam? apa ini mati lampu?" Tanya Ray yang sudah mulai ketakutan.

__ADS_1


Kata-kata itu membuat Carlos semakin terluka, bahkan dia kembali mengeluarkan air matanya saat mendengar pertanyaan dari putranya.


Sabar ya nak, kamu pasti akan kuat menghadapi ini semua, kamu pasti bisa, kamu adalah putra kebanggaan kami Ray.


" Sebentar ya nak, daddy panggilkan dokter dulu." Carlos berjalan lemah kearah ruang dokter.


" Sebentar ya Ray, biar uncle panggil dokter dulu." Hana mengusap lembut lengan kekasihnya itu.


" Apa kita sekarang berada dirumah sakit my Hana? kenapa mataku ditutup?" Tanya Ray yang semakin membuat semua orang disana merasa kasihan.


" Iya... semua pasti akan baik-baik saja Ray, sabar ya Ray?" Hana yang belum tau kepastiannya hanya bisa terus menggengam jemari tangannya.


" Ray... kamu sudah bangun sayang?" Tiba-tiba Mala berlari kearahnya dan memeluk putra kesayangannya itu.


" Mommy? aku kenapa?"


Ray kembali dibuat ketakutan saat tidak mendapatkan jawaban dan hanya mendengar suara parau mommynya.


" Biar saya periksa dulu, kita buka perbannya dulu ya mas?" Akhirnya Dokter itu datang dan berjalan mendekat kearah Ray dengan tergesa-gesa, dia pun ingin tahu bagaimana keadaan pasiennya.


" Ba... baik dokter." Jawab Ray yang ikut merasa deg-degan.


" Sekarang coba buka mata kamu, pelan-pelan saja, kalau masih terasa perih jangan dipaksakan ya mas." Ucap Dokter itu yang ikut penasaran juga.


" Kenapa masih gelap? ada apa? apa masih mati lampu? kenapa tidak kalian hidupkan lampunya!" Ray mencoba melihat kekanan dan ke kiri.


" Astaga Ray... cobaan apa lagi ini?" Mala kembali merasakan pusing di kepala jadinya.


" Sebentar saya cek dulu." Dokter itu menyalakan alat untuk memeriksa kedua mata Ray.


Dan benar seperti apa yang Dokter itu duga sebelumnya, kornea mata Ray terluka akibat remukan kaca mobilnya dan menimbulkan kebutaan pada dirinya.


..."Jika kamu menghadapi begitu banyak kesulitan dalam hidup, yakinlah akan hal ini, 'Allah sedang melatihmu untuk kemenangan yang besar'."...


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya bestie🄰


__ADS_2