Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
39. Daging Tumbuh


__ADS_3

...Happy Reading...


Ibarat kata kondisi Ganesh pada dini hari ini, sedang berada diawang-awang menuju kenikmatan surga dunia, seolah dunia ini hanya dia dan Adelia saja yang menempati, bahkan bunga-bunga yang seharusnya jam segini masih layu karena belum terkena sinar matahari seakan sudah bermekaran disekelilingnya.


Hidung mancung, bi bir yang berwarna merah muda serta aroma parfum ditubuh Adelia yang masih tersisa, seolah membuat angan-angan Ganesh terbang melayang ke awang-awang.


" Kamu cantik sekali sayang." Tak bosan-bosan Ganesh menghujani civman diwajah putih Adelia yang masih tertidur seperti orang pingsan itu.


" Hmm... maaf ya sayang, walau tanpa seizinmu, tapi aku sudah mendapatkan cap halal kok dari kantor KUA, jadi tidak masalah ya kan?" Ganesh berbisik takut jika Adelia bangun dan masih menolaknya nanti.


" Boleh ngintip sumber air anak kita nanti nggak yank? cuma mau ngecek aja kok, berapa sizenya, jadi aku bisa memperkirakan nanti, aku dapat bagian atau tidak kalau nanti sudah ada Ganesh junior, hehe.." Tangan kekar Ganesh langsung melorot kebawah, sambil tersenyum sejuta watt dengan lancangnya dia membuka kancing baju satu persatu milik Adelia.


Bahkan sebenarnya walau suasana gelap atau pejam mata saja, sebenarnya Ganesh mahir membukanya, namun karena Adelia masih tertidur jadi dia sengaja tidak mematikan lampu dikamar itu, toh hanya mereka berdua saja disana, pikirnya.


" Hmm... vhh!" Saat Ganesh memainkan puncak gunung Merbabu itu, Adelia hanya mengeliatkan tubuhnya saja, dan seolah enggan membuka kedua matanya, rasa kantuk dan lelah seolah menjadi lem perekat dikedua mata cantiknya.


" Hihi... dia imut sekali, pasti dia menyukainya." Ganesh bahkan terlihat meresapi dan menikmati hidangan pembuka yang sebenarnya tanpa rasa itu, dengan lincahnya dia seolah membuat Adelia mimpi indah di alam bawah sadarnya.


" Ternyata kamu suka ya sayang?" Ganesh semakin kegirangan saat Adelia terlihat memeluk kepalanya dan menekankan ke tubuhnya dengan erat, mungkin dia berfikir kalau kepala Ganesh adalah bantal guling ter the Best yang pernah menemani tidurnya.


" Hehe... akan aku buat kamu terbang menjelajahi Nirwana sayang." Ganesh kembali menenggelamkan wajahnya di kedua gundu kan kenyal yang terlihat semlehot itu.


Saat tangan Ganesh mulai mera ba kebagian bawah dan mulai melanjutkan aksi lainnya, dikarenakan pedang pusaka dirinya yang sudah lama dia segel itu sudah menendang-nendang ingin mencari pasangannya sedari tadi, namun tiba-tiba terdengar suara bariton dari arah belakang tubuhnya.


" Kamu apakan kakakku!" Teriak Ray yang sedang terduduk diranjang mewah kamar itu sambil mengucek kedua matanya yang terlihat memerah.


Sebenarnya dia tadi sudah terjun ke alam mimpi, bahkan melihat Hana disana, namun dia terbangun karena mendengar suara orang seperti mengecap makanan berkali-kali, jadi dia penasaran ingin melihat siapa pelaku yang sudah menggangu tidurnya.


" Aiiissshhh sial!" Ganesh langsung terkejut dan mengumpat habis suara Ray, dengan refleks dia langsung menindih tubuh Adelia yang sudah setengah telan jang karena ulah keterampilan tangannya.


" Sedang apa kau disana!" Ray malah langsung berdiri dan ingin berjalan mendekati mereka.


" DIAM KAU DISANA, TUTUP MATAMU DULU!" Teriak Ganesh langsung memeluk dan menutupi apa yang bisa dia tutupi dari tubuh istrinya.


" Emm... kak Ganesh, apa ini kamu!" Umpat Adelia yang langsung terbangun karena teriakan dan beban tubuh Ganesh yang memang tidak ringan itu.


" Iya sayang, siapa lagi yang bisa menyentvhmu selain aku." Ganesh tidak rela jika tubuh istrinya ada yang melihat, walau itu adek kandungnya sendiri.


" Awas kak, badan kakak itu berat banget tau, aku nggak bisa bernafas ini." Adelia memberontak dibawah tubuh Ganesh.


" Heiii... apa yang kamu lakukan, kakakku nggak bisa nafas itu, kamu mau menyiksanya ya!" Ray masih berusaha melihat wajah kakaknya namun terhalang oleh tubuh Ganesh.


" Haish kau ini... mana mungkin aku menyiksanya!"


" Kamu ini tidak tahu diuntung, masih baik kak Adelia mau kamu nikahin, ini masih pagi-pagi sudah kamu siksa saja, awas kamu!" Ray ingin berjalan mendekat kembali, tapi tangan Ganesh langsung menyetop dari jauh.


" Siapa yang menyiksanya, aku malah mau membuat dia menjerit ke e nakan asal kau tau!" Ganesh langsung protes.

__ADS_1


" Tapi kamu menyakitinya, lihat dia susah bernafas itu! lepas nggak, atau aku tendang kamu sampai ke Lautan sana!" Raymond tidak melihat posisi wajah kakaknya, karena tubuh kekar Ganesh dapat menutupi wajah dan tubuh Adelia sekarang.


" Kak, awas dulu, aku mau bernafas ini!"


" Ssstttt... tahan sayang, kamu nggak pakai baju loh sekarang!" Ganesh sebenarnya ingin berbisik, namun karena Adelia terus memberontak, tanpa sadar dia menaikkan intonasi suaranya.


" HAH!" Bukan hanya Adelia yang terkejut, Ray pun akhirnya langsung berbalik badan dan menutupi wajah tampannya.


" Arrrggghhh! kalian berdua sudah gila ya!" Teriak Ray yang merasa kesal bertubi-tubi.


" Kamu itu yang gila, ngapain ada dikamar ini!" Saat Ganesh melihat Ray berbalik badan dia langsung membantu mengambilkan kain pengaman bukit barisan yang sempat dia buang tadi dan dengan lincahnya dia membantu mengancingkan baju Adelia kembali, saat ini dia terlihat gugup dan gemetaran, jadi untuk mencari lubang kancing baju saja Adelia kesusahan.


" Astaga kak, kenapa bajuku terbuka seperti ini?" Adelia masih terlihat kebingungan, seingatnya tadi dia ikut tertidur dalam posisi masih duduk memangku kepala suaminya di sofa.


" Entahlah!" Jawab Ganesh yang tidak mau mengakui perbuatannya.


" Trus kenapa baju kakak juga terbuka?" Adelia melirik sekilas kemeja Ganesh yang masih terpakai namun kancingnya sudah terlepas semua.


Hampir saja tadi aku bawa kamu sampai ke puncak Nirwana, kalau tidak diganggu sama si bocah itu yank!


" Gerah tadi yank, jadi aku buka saja." Jawab Ganesh dengan entengnya, padahal dalam hati dia mengumpat habis si Ray.


" Sudah belom ini!" Ray masih dalam posisinya yang mematung ditempat.


" Bentar lagi dek, ehh... baju kamu kancingin juga itu kak, kelihatan itu emm... roti sobeknya, eeh... maksudnya itunya." Adelia jadi salah tingkah sendiri saat melihat tubuh kekar Ganesh yang memang berpetak-petak seperti sawah.


" Aiiissshhh... kalian berdua ini mengotori mata suciku saja!" Apa yang dia ucapkan dalam hati berbeda dengan apa yang dia lontarkan.


" Ehh.. mommy, daddy, aunty sama uncle pada kemana?" Adelia bahkan belum sadar jika dia sudah berpindah tempat.


" Ya diluar lah, kakak sudah sadar belum sih sebenarnya? masih jam segini aja sudah main buka-bukaan kalian, nggak bisa apa nunggu siangan dikit gitu!" Umpat Ray kembali.


" Siapa suruh kalian tidak enyah saja dari hotel ini, lagian ngapain juga kamu masuk kamar ini? memang nggak ada gitu kamar kosong lainnya, hotel tingkat berpuluh-puluh begini, takkan mungkin ratusan kamar penuh semua!" Ganesh tidak terima saat disalahkan.


" Kenapa kamu jadi menyalahkan aku? kata uncle Simon aku bebas memilih kamar mana saja yang ingin aku tempati kok, anggap saja rumah sendiri katanya, jadi apa salahnya aku memilih kamar ini?"


" Ini kamar jatah gw bocah!" Teriak Ganesh makin kesal.


" Enak saja panggil bocah, sudah aku bilang berapa kali kalau aku bukan bocah lagi!" dua pria tampan ini malah terlihat bersiteru sendiri-sendiri.


" Astaga sudahlah, kalian berdua jangan ribut mulu bisa nggak sih, masih pagi buta loh ini?" Adelia melirik jam besar yang ada di dinding.


" Suami kakak itu yang mulai!" Ray kembali menjatuhkan tubuhnya tengkurap dikasur empuk kamar itu.


" Heii... ngapain kamu malah tidur disitu, bukannya pergi kamu ini!" Teriak Ganesh yang kembali kesal saat melihat Ray yang malah tidur bukannya pergi dari sana.


" Kenapa emangnya, dari tadi aku sudah tidur duluan disini bahkan sebelum kalian datang!"

__ADS_1


" Apa? jadi kamu sudah dari tadi disini? jadi tadi kamu melihat dan mendengar kami emm... anu nggak sih?" Mulut Ganesh terkunci saat dia mengingat aksinya tadi, yang memang menurutnya tidak sebentar.


Mampus dah, dia tadi sudah bangun belum ya? jangan-jangan tadi dia melihat aku mengoprek onderdil istriku lagi?


Ganesh terdiam sesaat dan memikirkan sesuatu yang membuat mulutnya melongo.


" Ya iyalah, orang saat kalian masih tidur didepan tadi aku sudah masuk kesini kok."


Ehh... jadi suara mengecap seperti orang makan tadi itu suara dia sama kakak lagi? aaarggghhh... dasar si kampret, apes banget dah gw malam ini!


Ray langsung menyembunyikan kepalanya dibawah bantal sambil tidur tengkurap, entah mengapa saat membayangkan aksi kakak iparnya tadi dia jadi merinding sendiri, bahkan senjata rudalnya pun ikut berontak dari sarangnya.


" Sudahlah kak, ayok kita tidur lagi, aku masih ngantuk banget ini, badanku pegel-pegel semua." Adelia langsung melenggangkan kakinya menuju kasur yang ditempati oleh Ray.


" Loh kamu ngapain kesitu?" Ganesh langsung menarik lengan istrinya yang sudah duduk ditepi ranjang disamping Ray.


" Mau tidurlah kak, ngapain lagi?" Jawab Adelia dengan lesu, matanya yang memerah tidak bisa dipungkiri lagi kalau dia memang terlihat mengantuk berat.


" Iya... tapi ngapain kamu tidur disitu, kita cari kamar lain dong yank?" Ganesh tidak terima jika melihat istrinya tidur satu ranjang dengan pria lain walau adeknya sekalipun.


" Ngapain sih kak, sebentar lagi juga sudah mau pagi ini, subuh nanti juga sudah bangun, kita tidur disini saja ya." Adelia langsung tidur disamping Ray.


" Tapi ada Ray disitu, kita cari kamar dibawah yuk?"Ganesh tetap tidak rela.


" Ray itu adekku kak, aku dulu juga biasa tidur bareng sama dia, ya kan dek?" Adelia malah mengalungkan tangannya dipinggang Ray yang masih dalam posisi tengkurap menahan rudalnya yang belum tidur sepenuhnya.


" Enak saja, kalau begitu geser kamu Ray! mulai hari ini hanya aku yang boleh kamu pelvk sayang, kamu dengar itu!" Ganesh langsung menggulingkan tubuh Ray kesamping.


Alhasil terlihatlah sesuatu yang masih menon jol dibawah sana, karena Ray hanya menggunakan celana kolor saja, jadi gundukan benda pusaka itu terlihat dengan jelas disana, yang membuat mata Adelia terbelalak seketika, karena tanpa sengaja kedua matanya terarah kesana, selama ini dia memang belum pernah melihat fenomena langka seperti itu.


" Apa itu dek?" Tanya Adelia dengan polosnya, bahkan dia menunjuk dengan jarinya.


" Astaga yank, jangan lihat!" Ganesh langsung memeluk tubuh istrinya dan menyembunyikan wajah cantik Adelia di da da bidangnya.


" Kenapa sih kak? aku mau lihat dulu itu!" Adelia kembali berontak.


" Jangan sayang!" Namun Ganesh tetap menahannya.


" Ray... sejak kapan kamu punya daging tumbuh disitu?" Adelia tetap saja nekat berteriak.


" AAAAAARRGGHHHHH... PERGI KALIAN BERDUA!"


Ray langsung kembali menyembunyikan aset berharga miliknya, yang tidak bisa diajak kompromi saat ini, padahal dia sudah menahannya sedari tadi, berusaha mengusir pikiran mesvm yang membuat adeknya terbangun tiba-tiba, namun sepasang pengantin itu malah menggagalkan usahanya.


..."Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga dan percayalah bahwa keluarga adalah tempat terbaik untuk berbagi."...


..."Zaman memang sudah berubah tapi manusia tetap sama, kita tetap butuh cinta, kebahagiaan, dan kehangatan sebuah keluarga."...

__ADS_1


JANGAN LUPA ' VOTE ' YA BESTIEEE🄰


__ADS_2