Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
88. Semakin Mesra


__ADS_3

...Happy Reading...


Malam yang penuh dengan gelor@ asmara itupun akhirnya sudah berlalu, terlihat matahari sudah mulai naik, cahaya pagi mulai menerobos masuk kedalam kamar yang dihuni oleh sepasang kekasih yang masih berpelukan diatas ranjang king sizenya.


" Ray.. apa kamu sudah bangun?"


" Ray.. kamu sedang apa?"


" Ray.. apa yang terjadi?"


" Ray, astaga.. kamu sedang apa?"


" Raymond!"


Terdengar suara-suara berisik yang membuat tidur Ray terusik dan membawanya kembali dari alam mimpi.


" Apa sih kakak sayang, nggak usah teriak-teriak dong? aku masih ngantuk banget ini." Ray kembali mengeratkan pelukannya dengan bantal guling terindah dalam hidupnya.


" Hmm.." Hana pun hanya melengvh saja.


" Tenagaku habis buat tadi malam kak, mana aku belum sempet makan lagi, jadi biarkan aku tidur sebentar lagi ya." Ray bahkan merasakan kehangatan disana, seolah pagi yang dingin tidak menjadi penghalang untuk melanjutkan mimpi indahnya.


" Iya.. aku juga masih ngantuk Ray, nanti saja kita bangunnya, lagian aku juga pengen ambil cuti hari ini, ngapain juga bangun pagi-pagi." Padahal matahari sudah menyingsing tinggi menerangi alam semesta.


" Hmm... heh?" Ray mulai merasakan kejanggalan pada dirinya.


" Raaaaayyy... kenapa kamu kunci pintunya? kamu dimana? apa Hana sudah pulang?"


Ternyata yang berisik sedari tadi bukan Hana, tetapi suara Mala dan Adelia yang bergantian, mereka berdua berdiri didepan pintu, mencoba mendengarkan suara dari dalam, namun tidak terdengar.


" HAH!" Ray dan Hana langsung tersentak dan terbangun dengan wajah panik.


" Itu bukan suara kakak?" Ray mer@b@-r@ba wajah Hana yang masih terngaga disampingnya.


" Apa itu suara aunty Mala dan Adelia?" Hana mencoba meyakinkan bahwa ini bukan di alam mimpi.


" Kalau kakak disini, berarti itu memang mereka." Jawab Ray yang masih mencoba mendengarkan suara mereka.


" Aisshh... mampus gw, gimana ini Ray?" Hana langsung menggoncangkan bahu Ray dengan tangan yang sudah mulai gemetaran, rasa kantuk yang mendera dan rasa lelah yang menerpa tubuh mereka karena malam panjang mereka berdua, seketika langsung sirna saat mendengar suara Adelia dan Mala.


" Tenang kak, jangan panik, tarik nafas dulu pelan-pelan." Ray malah mengusap pinggang Hana dengan lembut.


" Gimana mau tenang, aduh... kemana bajuku Ray?" Hana semakin panik dibuatnya, saat melihat tubuhnya yang masih polos tidak terbungkus, hanya tertutupi oleh selimut tebal milik Ray.

__ADS_1


" Aku mana bisa lih@t kak? coba cari dibawah ranjang, ada tidak?" Ray pun tidak bisa apa-apa, dia masih memaku ditempat.


" Astaga... bajuku sobek Ray, ihh.. gara-gara kamu sih, nggak sabaran banget jadi orang!" Hana bahkan mencubit hidung mancung Ray dengan kesal.


" Aww... aku mana tahan harus buka kancing satu persatu, orang si ot○ng sudah kakak bangunin dengan cara paksa!" Jawab Ray yang langsung mengangkat kedua bahunya dengan santai.


" Aduh gimana ini, aku pakai apa? gimana kalau mereka nanti curiga, argh... aku harus bagaimana Ray? habis sudah semua!" Hana malah terisak disaat yang tidak tepat seperti ini.


" Aduh kak, ngapain pakai nangis segala sih?" Ray pun jadi bingung mau gimana lagi.


" Ray, apa terjadi sesuatu? bibi bilang kalian belum keluar? Hana dimana?" Terdengar suara Mala kembali melengking sampai di kedua telinganya.


" Ya sudahlah... nikah aja kita hari ini, mau gimana lagi kalau sudah ketahuan." Ucap Hana yang tidak bisa berfikir lagi, otaknya sudah blank karena kebanyakan mendes@h tadi malam.


" Ckkk... kakak ini, bukannya itu sudah kita bahas tadi malam?" Umpat Ray sambil mencubit asal tubuh Hana.


" Ray... tangan kamu itu loh, suka sekali berkeliaran disana!" Hana langsung memukul kedua tangan Ray dengan refleks.


" Emang apa yang aku cubit tadi?" Tanya Ray yang memang tidak tahu.


" Dasar mesvm!" Hana langsung menutupi dua gunung merapi yang tadi diusik oleh Ray.


" Ray... mommy suruh ayah dobrak saja apa gimana ini? kenapa kalian tidak bersuara?" Kali ini Mala mulai menggedor pintu kamar Ray.


" Hana mana? kenapa pintunya di kunci?" Tanya Mala kembali.


" Mampus kita Ray? habis sudah semua." Hana menundukkan kepalanya dengan lemas.


" Emm... Kak Hana baru ke kamar mandi mom, katanya takut aku kabur, jadi dia sengaja mengunci pintu kamarku!" Teriak Ray yang langsung membuat Hana melongo.


" Hah?" Hana menatap Ray dengan wajah penuh tanya.


Cup


Ray langsung meninggalkan kecvpan diwajah Hana, saat dia merasakan deru nafas Hana berada didepan wajahnya.


" Buruan mandi sana, jangan nangis aja bisanya, mau apa aku lanjut ronde ke tiga?" Ucap Ray yang sekarang sudah punya senjata untuk meledek kekasihnya itu.


" Diiih... kamu ini, itu aja yang ada dipikiranmu!" Umpat Hana yang langsung berlari ke kamar mandi.


" Emang kamu mau kabur kemana Ray? kamu nggak bikin susah Hana kan tadi malam?" Teriak Mala yang ternyata masih berada didepan pintu.


Enak saja, aku malah yang dibikin susah dan serba salah sama kak Hana mom.

__ADS_1


" Enggak lah mom, kak Hana itu yang nakal!" Jawab Ray sambil menahan senyuman.


Dia sungguh tidak menyangka bisa mendapatkan jackpot terindah malam ini.


" Benarkah? ya sudah... kalau Hana sudah selesai mandi, suruh temuin mommy di dapur ya." Ucap Mala yang langsung merasa lega.


" Mommy kapan pulang?" Tanya Ray yang penasaran, kenapa sepagi ini mereka sudah sampai saja pikirnya.


" Baru saja sampai, mommy lega mobil Hana masih ada didepan, kamu harus berterima kasih dengannya nanti, jangan buat dia kesal ya nak." Mala sebenarnya tidak enak hati karena harus menyuruh orang lain untuk mengurus putranya.


Sudah aku bilang, yang dibuat kesal itu putramu mom, karena aku korbannya disini.


" Iya.. biar nanti kak Hana saja yang bantuin aku mandi, mommy tolong siapkan makanan yaa, kami lapar banget ini." Teriak Ray yang memang merasa lapar.


" Heh, masak kamu suruh Hana bantuin kamu mandi sih, biar mommy saja, Hana pasti malu lah nak, atau mommy suruh kakakmu saja ya." Teriak Mala kembali.


Ciih... malu apanya, bahkan dia berani menganiay@ burung peliharaanku duluan tanpa seizinku, asal kamu tahu itu mom.


" Nggak usah, orang cuma nganterin kedalam kamar mandi saja kok mom, Ray mandi sendiri nanti, mommy siapkan saja sarapannya, aku mau bebek panggang sama Rawon dan sambelnya jangan lupa ya mom." Ray sengaja memesan masakan yang agak lama prosesnya, agar mereka fokus didapur dan tidak mengusiknya.


" Rawon? sepagi ini? tumben nak?" Walau Mala merasa aneh, namun dia bahagia, akhirnya nafsu makan putranya kembali, biasanya disuruh makan saja sampai berdebat dulu, ini malah minta dimasakin pikirnya.


" Iya.. Ray lapar banget mom."


" Okey sayang.. mommy masakin sekarang yaa." Rasa lelah Mala yang sengaja berangkat dini hari, karena khawatir dengan Ray pun langsung sirna seketika.


" Okey mom!" Teriak Ray kembali dengan lega.


Huft... akhirnya, bisa selamat!


" Ray... gimana?" Hana yang sudah selesai mandi langsung mendekati kekasihmya sambil berbisik.


Grep!


Saat aroma shamponya tercivm didepan wajahnya, Ray langsung memelvk tubuh Hana dengan erat.


" Heh? kakak nggak pakai baju?" Ray langsung memundurkan wajahnya saat terbentur dengan sesuatu yang keny@l kembali.


" Ray! kenapa kamu selalu mengincar benda itu, kamu ini nggak ada kapok-kapoknya yaa, kamu ini sebenarnya sudah bisa melih@t apa belum sih, atau jangan-jangan kamu menipuku!" Hana langsung mencubit seluruh tubuh Ray dari pinggang keatas dengan gemas sambil mengomel-ngomel.


" Ahahahaha... aku tidak sengaja kak, bukan salahku, tanganku saja ini yang terlalu pintar dalam segala kondisi." Ray malah tertawa cekikikan saat mendengar umpatan kekasihnya, hubungan cinta kasih mereka terasa semakin mesra, walau berawal dari sebuah kesalahan yang tidak sengaja tercipta.


... "Cinta bukanlah sebuah barang yang dapat kita beli, kita tukar maupun kita jual, tapi cinta adalah sebuah perasaan yang harus kita nikmati."...

__ADS_1


__ADS_2