
...Happy Reading...
Arka POV
Saat kita merindukan seseorang, sering kali yang benar-benar kita rindukan adalah bagian dari diri kita yang dibangkitkan oleh seseorang.
Senyumannya itu yang sangat menyiksaku, beberapa hari ini tidak lagi aku lihat senyuman yang selalu menular denganku, jangankan melihat, untuk sekedar mendengar suaranya saja tidak mungkin, karena tadi aku baru sadar bahwa ternyata nomorku di block oleh Hesti.
Ya... Hesti adalah gadis yang sudah berhasil meluluh lantahkan pendirianku, selama ini aku tidak pernah punya fikiran untuk menikah lagi, jangankan menikah, dekat dengan wanita lain saja tidak pernah terlintas dipikiranku.
Aku hanya fokus dalam hal pekerjaan dan membesarkan Dimas disisa umurku setelah kepergian istriku, namun nyatanya ditengah-tengah perjalanan ada seorang gadis yang mencuri perhatianku.
Namun sayang, dia terlalu muda untukku, walau tidak dipungkiri saat aku dekat dengannya, hatiku yang sudah membeku itu seakan kembali hidup, jiwa mudaku seolah kembali, keceriaan yang dia miliki selalu membuat jantungku ini berdetak lebih cepat saat bersamanya.
" Kenapa dia memblokir nomorku? apa dia tidak rindu denganku?"
" Katanya dia suka denganku, tapi kok gini?"
" Ingin selalu dekat denganku, karena aku selalu membuatnya nyaman katanya, nyatanya dia bisa menjauh dariku sekarang?"
" Apa gadis jaman sekarang selalu penuh tipu daya? apa dia hanya bermain-main denganku?"
" Argh... aku benci dengan perasaan yang seperti ini, tapi aku kangen kamu Hesti."
" Fuuh... rindu ini sungguh menyiksaku!"
Aku bahkan sudah berada dibawah selimut sambil mengotak-atik ponselku, berharap dia tiba-tiba membuka blokirannya dan menghubungiku lebih dulu, namun nyatanya nihil, hpku sepi.
" Apa aku datangi saja ke kosannya? jam berapa ini?"
Saat aku melihat jam kecil diatas meja, ternyata waktu menunjukkan jam sembilan malam.
" Bodo amatlah, kalaupun tidak bisa menemuinya sekarang, aku bisa menunggu di mobil sampai pagi menjelang."
Daripada tidurpun tak nyenyak, lebih baik aku nekad saja datang ke kosannya. Aku segera mengambil jaketku dan turun kebawah, sedangkan Dimas kembali pergi keluar kota, tadi pagi dia berangkat, walau kemarin kami sempat berdebat, namun akhirnya kami kembali akur, walau tidak seperti biasanya.
Dan saat aku hampir sampai dirumah Hesti, terlihat disana ada mobil milik Ganesh dan Adelia. Aku memundurkan mobilku dan membuka kaca mobilku agar bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan dihalaman rumahnya.
" Sudah sana cepet pulang, ibu hamil nggak boleh keluyuran malam-malam."
Gadis yang aku rindukan itu ada disana, dia memakai sweater yang tebal bahkan berlapis, mungkin dia kedinginan, atau sedang tidak enak badan, pantas saja sedari tadi aku gelisah memikirkannya.
__ADS_1
" Panasmu tinggi banget, beneran nggak mau aku antar ke rumah sakit?"
Terlihat Adelia sedang membujuk Hesti, namun sepertinya dia tolak.
" It's okey, aku cuma demam biasa, minum obat yang kamu bawain juga pasti sembuh kok."
Dia memang selalu begitu, selalu tidak ingin membuat oang lain khawatir dengan keadaannya.
" Ya sudah, kamu masuk gih sana, angin diluar dingin banget, kalau ada apa-apa hubungi aku ya, aku pulang dulu."
" Okey... makasih ya Del, hati-hati bawa mobilmya kak Ganesh, sabar ya si bumil memang suka rewel, banyakin sabarnya aja hehe.."
Walau terlihat lemas tetap saja dia masih suka bercanda seperti biasa. Akhirnya mobil Ganesh keluar dari pekarangan kosan Hesti.
" Hoeeek.. hoeek..."
Hesti terlihat berjongkok dan memuntahkan isi didalam perutnya, dia terlihat kesakitan sambil memegang perutnya sendiri.
Akhirnya aku nekad untuk pergi menemuinya, bahkan aku berlari saat melihat dia lemas sambil duduk berjongkok didepan pintu kosan miliknya.
" Hesti? are you okey?"
Aku langsung mendekat kearahnya dan memijat tengkuknya, benar saja, wajahnya sangat pucat, sepertinya dia benar-benar sakit.
" Kamu sakit apa? kita kerumah sakit ya?" Aku langsung mengecek suhu badannya, ternyata memang panas sekali.
" Aku nggak papa, hanya demam dan masuk angin saja sepertinya." Jawabnya dengan lemah.
" Tidak, kamu harus periksa ke rumah sakit sekarang."
" Aku nggak mau Om, sana pulang saja, nanti Dimas nyariin." Dia terus saja menolakku.
" Dimas sedang pergi ke luar kota, pokoknya kamu harus periksa, titik!"
Tanpa menunggu persetujuan darinya aku langsung membopongnya masuk kedalam mobil.
" Om... nggak usah, aku nggak mau ke rumah sakit!"
" Hesti... kamu demam tinggi, setidaknya biar diberi obat penurun panas!" Walau dia berontak namun aku tetap memaksanya masuk kedalam mobil.
" Ckk... aku nggak papa, ini sudah biasa."
__ADS_1
" Yang penting kita jumpa dokter dulu, aku tidak mau kamu pingsan sendirian nanti di kosan, okey?" Akhirnya aku bisa kembali mengusap rambut lurusnya itu.
" Tapi kita pergi ke klinik saja ya om, aku malas kalau harus dirawat dirumah sakit." Akhirnya dia menyerah, karena sepertinya dia pun merasakan tidak enak badan.
" Okey." Aku pun menyetujuinya, yang penting dia mau diperiksa.
Tak lama kemudian kami sudah sampai disebuah klinik dua puluh empat jam, dan benar saja kata dokter di klinik itu dia terkena penyakit asam lambung, masih baik belum terlalu parah.
" Jangan lupa segera diminum obatnya, lebih baik istirahat total dulu dirumah saja, jangan melakukan aktifitas jika belum kuat, dan yang terpenting jangan lupa makan walau rasanya tidak enak, paksakan saja ya, karena asam lambung itu berawal dari telat makan." Ucap Dokter itu sambil menyerahkan satu kantong obat.
" Baik dokter, terima kasih."
Akhirnya aku segera melajukan mobilku keluar dari halaman klinik, kami saling diam, berperang dalam pikiran masing-masing.
" Kita mau kemana? jalan ke kosanku bukan lewat sini Om?" Dia mulai bersuara karena aku sengaja membelokkan mobilku kearah jalan menuju rumahku.
" Kita pulang ke rumah." Jawabku tanpa sadar.
" Kerumah siapa?" Dia langsung terlihat panik.
" Ke rumah Om lah."
" Nggak! aku nggak mau, puter balik Om." Dia langsung menolaknya, namun aku tidak perduli, tetap saja akan aku bawa dia ke rumah, aku takut terjadi apa-apa kalau dia tinggal sendiri di kosannya.
" Om... jangan begini, aku nggak enak Om, apa kata orang nanti kalau aku kerumah Om malam-malam begini?"
" Tidak masalah, rumah Om jaraknya jauh sama rumah tetangga, nggak akan ada yang lihat."
" Tapi kenapa aku harus kerumah Om?"
" Kamu sedang sakit Hesti, kamu lupa apa kata dokter? kamu harus banyak istirahat Hes, siapa yang akan menjagamu kalau di kosan? kamu juga sering telat makan kan?"
Dia langsung menatapku dalam diam, entah apa yang ada didalam pikirannya, namun aku tidak ambil pusing, aku tidak perduli dengan asumsinya, aku hanya ingin dia cepat sembuh, itu saja.
" Om... aku bisa jalan sendiri." Dia kembali terkejut saat aku menggendongnya masuk kedalam rumahku.
Entah yang aku lakukan benar atau tidak, yang pasti aku hanya tidak ingin dia merasakan kesakitan sendiri, karena melihat keadaan Hesti seperti itu, aku ikut sedih dan gelisah.
POV End
..."Cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka. Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya."...
__ADS_1
To be continue...