Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
73. Melow


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah menembus ramainya jalanan kota, akhirnya Hana sampai juga di kediaman rumah Ray, saat itu begitu Ray kembali sadar dari obat penenang yang disuntikkan ke tubuhnya dia langsung meminta untuk pulang kerumahnya, karena suasana rumah sakit yang membuatnya malah semakin prustasi dan sering histeris.


Baru saja kaki Hana melangkah diruang tamu yang ternyata terbuka tadi, dia sudah disuguhkan dengan suara pecahan piring dari arah taman disamping rumah besar itu.


Krompyanggggg!


" Ray... kamu harus makan dek, sedikit saja ya?" Terdengar suara Adelia yang melemah, sepertinya dia sedang merayu Ray agar mau makan sesuap nasi untuk mengisi perutnya yang masih kosong sampai sesiang ini.


" Apa gunanya makan? walau aku makan sampai kenyang juga tidak akan mengembalikan penglihatanku kan?" Jawab Ray yang memang tidak punya selera makan lagi sekarang.


" Tapi Ray, kamu harus tetap makan, jangan begini dek?" Tiada hari tanpa tetesan air mata dirumah itu, bukan hanya Ray saja yang tersiksa, namun seluruh penghuni rumah itu ikut menderita sama seperti Ray.


" Del.." Bisik Hana disamping telinga Adelia.


" Hana.. hiks.. hiks.." Adelia menjawabnya tanpa bersuara, hanya tangisan yang semakin pecah saat kedua mata Hana pun sudah berair.


" Biar aku yang membujuknya makan nanti, kamu istirahat saja dulu." Bisik Hana kembali.


" Terima kasih kamu sudah datang Han." Karena seseorang yang Ray butuhkan disampingnya kali ini memang hanya Hana saja.


" Ray.." Hana berjalan perlahan melewati pecahan piring itu.


" Sudah aku bilang kak, aku belum mau makan, jangan paksa aku seperti anak kecil bisa nggak?" Umpat Ray sambil menengadahkan kepalanya.


" Siapa bilang? aku kesini bukan untuk memaksamu makan kok Ray." Ucap Hana yang sudah kembali bersikap tenang saat didepan Ray.


" Kak Hana? kamu sudah datang?" Ray langsung mencari-cari sumber suara itu, dia tidak menyangka jika Hana datang secepat itu, karena dia berfikir Hana pasti datang disaat malam sudah larut seperti biasanya karena sibuk bekerja.


" Aku disini Ray." Hana duduk berjongkok didepan tempat duduk tempat Ray berada.


" Kakak, aku... aku..." Ray menggantungkan ucapannya.


Rindu


" Aku pun sama Ray." Jawab Hana seolah tau apa yang ingin dia katakan.


" Sama apa?"


" Sama kamu, hehe.."


" Apaan sih kak." Terlihat senyuman Ray walau hanya sekilas, suara Hana adalah moodbooster bagi dirinya.


" Kenapa nggak baring didalam aja Ray, apa nggak panas disini?" Tanya Hana mencari topik pembicaraan lain.


" Aku bosan didalam kamar terus kak, sumpek rasanya!" Jawab Ray yang kembali cemberut.

__ADS_1


" Kalau ada aku masih bosen nggak?" Tanya Hana sambil meraih kedua jemari Ray.


" Entah." Jawabnya malu-malu.


Sedari dia masih muda dulu memang Ray sosok anak yang aktif, tidak pernah betah berdiam diri dirumah, selalu ada saja kegiatan diluar rumah untuk mengisi waktu luangnya, dan sekarang dia hanya bisa berbaring dikamar dan bolak balik ke taman rumahnya saja, membuat emosinya labil setiap harinya.


" Gimana kalau kita ke kamar kamu saja?" Hana menempelkan kedua telapak tangan Ray ke pipinya.


Dia berharap kalau menemani Ray didalam kamar, Hana bisa sekalian mengerjakan tugasnya yang tadi terbengkelai, kalau diluar cuacanya sangat terik, dalam keadaan gerah, pasti dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang.


" Emang kakak mau ngapain?" Lain Hana lain pula pikiran Ray.


Hmm... jangan sampai dia tahu tujuanku, nanti dia bisa makan hati lagi kalau tau keadaanku yang amburadul seperti ini.


" Kita bisa berduaan disana." Bisik Hana yang langsung membuat bulu kuduk Ray meremang seketika.


" Kak?" Mulut Ray bahkan sampai terngaga.


" Mau nggak?" Hana bahkan menoel hidung Ray karena gemas melihat reaksinya.


Dasar cowok, pasti pikirannya mesvm ini, tapi dia malah terlihat menggemaskan sekali?


Hana tersenyum-senyum sendiri melihat wajah Ray yang memang semakin putih tapi pucat, karena jarang terkena sinar matahari dan angin luar.


" Ya sudah kalau kakak maksa." Ray langsung memalingkan wajahnya karena senang.


" Pelan-pelan kan, aku tidak bisa melihat jalan." Ray memegang erat lengan Hana.


" Maaf, aku terlalu semangat!" Ucap Hana sambil membukakan pintu kamar Ray, semenjak sakit dia pindah ke kamar bawah agar lebih mudah kemana-mana, tidak perlu naik tangga.


" Bukan kakak yang salah, tapi aku yang lemah." Jawab Ray yang mulai melow lagi, dia jadi sangat sensitif sekarang, tidak seperti dulu lagi.


" Ray... hari ini aku nggak mau suasana melow ya?"


" Maafkan aku kak, maaf atas segala kekuranganku." Ucap Ray kembali.


" Ray..?" Hana langsung duduk disamping Ray kembali saat sudah menutup pintu.


" Aku bukan Ray yang dulu lagi kak, bahkan sekarang aku sudah pensiun dini dari pekerjaanku, aku sudah tidak punya masa depan lagi kak."


Kemarin dia mendapatkan kabar itu dari sahabatnya Ken yang datang mengunjunginya, walau hati terasa tercabik-cabik namun dia bisa apa, karena tidak mungkin dia bisa kembali bekerja dalam keadaan seperti itu, bahkan entah kapan keluarganya bisa mendapatkan pendonor untuknya.


Cup


Hana tidak bisa berkata-kata, namun bi birnya mampu membuat hati Ray merasa bahagia karenanya.


" Kak?"

__ADS_1


Saat Ray ingin kembali berkata-kata lagi, Hana semakin nekad memperdalam civmannya, bukan hanya Ray, dia sendiripun merasakan kesakitan yang sama saat mendengar cerita dari mulut Ray sendiri.


" Kakak kok sekarang sudah mahir melakukannya? padahal kita baru melakukannya beberapa kali? hayo... kakak latihan sama apa?" Bukannya senang Ray malah terkesan curiga dengan Hana.


" Ngomong apa sih kamu Ray! yaa.. dengan kamu lah, emang dengan apa aku latihan? bantal guling? kamu kira aku sudah gila apa!" Hana bahkan langsung mencubit pinggang Ray dengan kesal.


" Kakak nggak mendua dibelakang aku kan?" Tanya Ray perlahan.


" Sekali lagi kamu bilang kayak begitu, aku marah besar ya Ray!" Hana paling tidak suka dicurigai seperti ini.


" Siapa tahu kan, karena aku sudah----"


" Emphh... kak? kakak ganas ya sekarang?" Ray bahkan sampai terhuyung jatuh diatas kasur karena civmannya, dengan tubuh Hana diatasnya.


" Cukup kamu tahu saja Ray, aku melakukan itu hanya dengan kamu, dan akan selalu denganmu, sampai kapanpun itu."


" Ray... aku tidak pernah mempermasalahkan kekurangan di diri kamu, karena aku jatuh cinta bukan hanya karena fisikmu saja, tapi hatimu juga." Ucapnya kembali.


" Jadi jangan pernah berfikir aku mendua atu pergi meninggalkanmu, karena aku akan selalu ada untukmu."


" Hmm... benarkah?" Senyuman itu kembali terbit di bi birnya.


" Kamu masih tidak percaya?" Bahkan Hana dengan santainya tiduran tengkurap diatas tubuh kekar Ray.


" Bukan begitu kak, cuma masalahnya---?"


" Cuma apa, masalah apa?"


" Ini apa kak?" Ray tidak berani menunjuknya.


" Mana sih Ray? kenapa kamu jadi gemeteran begini, pasti karena kamu belum makan ya?" Hana malah semakin merapatkan tubuhnya.


" Yang dua biji ini loh kak, yang empuk dan kenyal diatas tubuhku, bisa tolong dipindahkan dulu nggak, aku tidak tahan lagi kak?"


" Aaaaaaaaaaaaaaaaaa... Ray!" Hana langsung bangkit dan berteriak.


Dugh!


" Arrgh.. kakak sudah gila ya, sakit kak!" Giliran Ray yang merintih kesakitan saat kedua kaki Hana menumpu pada Pisang Raja miliknya.


Peyot sudah Pisang Raja ku, mana belum sempat ada yang makan lagi!


Hilang sudah moment-moment mesra saat mereka berdua bersama, karena pasti ada salah satu dari mereka yang mengacaukan suasana, namun Ray tetap merasa bahagia, karena disaat masa tersulitnya, Hana tetap berada disampingnya.


..."Tidak semua yang dibakar api akan hangus menjadi abu, bata merah sengaja dibakar agar menjadi kokoh."...


..." Begitu juga dengan kehidupan, tidak semua yang menimpa kita akan menghancurkan, terkadang Tuhan menguji mu untuk lebih kuat."...

__ADS_1


KOPI... KOPI dan bunga sekebonnya, jangan lupa ya Lur...🥰


__ADS_2