
...Happy Reading...
Saat menunggu kedatangan Hanami di ruangannya, Ray bahkan sudah berlatih duduk dan berpose agar nanti terlihat keren dimata Hana, hingga seseorang mengetuk pintu ruangannya agak keras membuatnya terlonjak kaget.
" Ckk... itu pasti my Hana, kapanlah dia bisa bersikap lemah lembut denganku!" Umpat Ray sambil berjalan kearah pintu untuk membukanya.
Namun saat pintunya terbuka, hanya ada sebuah amplop coklat yang tergeletak dilantai.
" Heiiii... siapa itu!" Ray langsung mengambil amplop itu dan menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada orang disana.
" Siapa sih, berani-beraninya ngerjain gue?" Ray langsung membuka amplop berwarna coklat itu dengan seksama dan masih berdiri didepan pintu.
" Ini data dari uncle Mark kan, tapi siapa yang mengantarnya kemari ya?" Ray kembali melihat lorong kanan dan kiri ruangannya namun tidak ada jejak orang disana, padahal saat pintu diketok dia langsung keluar, kalau sudah pergi harusnya kelihatan jejaknya.
" Aisshh... aku tanya saja sama uncle Mark, emang sesibuk apa sih my Hana, sampai tidak bisa mengantarnya sendiri kemari?"
Saat Ray ingin menutup pintu ruangannya kembali, indera pencivmannya seolah menangkap sesuatu.
" Hmm... kayak wangi parfum my Hana ini?" Ray kembali memundurkan tubuhnya.
" Haisshh... sudah sampai ngecas tiga kali, kok ya masih saja malu." Ray langsung tersenyum dan melangkahkan kakinya ke arah tembok samping.
" Doooooorrrrr!" Ray langsung berteriak dibalik tembok samping ruangannya.
" Astaga!" Teriak Hana langsung kembali mendekap mulutnya, dia memang sengaja tidak mau bertemu dengan Ray, dan memilih sembunyi dulu, namun siapa sangka ternyata polisi tampan itu mengetahui keberadaannya juga.
Tadi dia berulang kali menolak permintaan dari papanya, namun Mark terus saja memaksa, dan berdalih bahwa semua ini demi keselamatan Ganesh dan Adelia, jadi dia terpaksa menyetujuinya.
" Ngapain coba kakak disitu? mau ngajak maen petak umpet denganku?" Tanya Ray sambil terkekeh geli sendiri.
" Apaan sih kamu." Hana langsung melengos, takut kesengsem dengan senyuman dari pria ini.
" Daripada maen petak umpet, kenapa kita nggak maen yang lainnya saja, hehe.." Ray langsung mulai menggoda Hana.
" Jangan ngeres deh kamu Ray, sudahlah.. tugasku sudah selesai, aku mau pulang." Ucap Hana yang ingin segera pergi dari sana.
" Eiiittsss... nggak boleh, ayok masuk keruanganku dulu." Ray langsung menarik lengan Hana.
" Ngapain Ray, aku nggak mau berlama-lama di kantor polisi." Umpat Hana sambil berontak.
" Kenapa emangnya, kantorku bersih kok, nyaman lagi." Ray tetap menarik Hana agar masuk kedalam ruangannya.
" Nanti aku disangka tahanan lagi, aku mau kembali ke kantor Ray, masih banyak pekerjaanku disana." Hana tetap saja menolak.
" Kakak kan memang tahanan sekarang."
" Enak saja, siapa bilang? aku nggak melakukan kesalahan kok." Ucap Hana langsung membantah.
" Akulah, karena kamu adalah Tahanan hatiku, eaaaa... eaaaa..." Bukan Ray namanya kalau tidak mengeluarkan aksi dunia pergombalannya.
" Diiihhh... nyebelin." Jawab Hana sambil melengos, padahal hatinya sudah serr-serran.
__ADS_1
" Temenin aku makan siang dulu kenapa kak, aku belum makan loh dari pagi." Ray langsung memasang wajah memelasnya.
" Siapa suruh nggak makan?"
" Aku nggak sempat kak, banyak hal yang aku kerjakan untuk menangani kasus si Playboy itu." Umpat Ray yang langsung menuntun Hana untuk duduk dikursi kebesarannya.
" Maksud kamu kasus kak Ganesh?" Tanya Hana yang tiba-tiba langsung menurut, karena dia juga sedikit banyak mendengar dari papanya tentang musuh Ganesh yang berbahaya itu.
" Emang siapa lagi?" Ray langsung menyodorkan satu kotak paket pizza yang sudah dia pesan sedari tadi namun belum sempat dia sentuh kepada Hana.
" Ckk... kamu ini jangan ngomong begitu, dia sudah jadi kakak kamu sekarang." Hana langsung membuka kotak itu yang ternyata bukan cuma pizza saja, ada sosis bakar dan juga kentang gorengnya juga disana, jadi walau satu kotak tapi lebih dari cukup untuk dua orang.
" Kak, suapin?" Pinta Ray yang langsung bersandar ke meja didepan Hana.
" Apa sih Ray, sudah gede kok minta disuapin, tangannya nganggur juga!" Hana langsung menggigit potongan pizza yang dia ambil tadi, karena dia juga belum sempat makan siang.
" Kakak ini nggak pengertian banget sama aku, tangan aku tuh pegel dari tadi ngetik terus, lagian aku males cuci tangan, suapin lah kak, pelit banget sih?"
" Waah... aku juga lupa cuci tangan tadi, kalau nanti kamu sakit perut kan bahaya?" Hana masih asyik dengan potongan pizza ditangannya.
" Mau nyuapin, atau aku ambil sendiri dari mulut kakak?" Ray langsung menajamkan pandangannya kearah Hana.
" No! nah... nah..." Hana langsung menyuapkan sisa potongan pizza kemulut Ray yang langsung tersenyum puas, Hana memilih mengalah saja, dari pada harus kembali menahan malu karena mengingat kejadian kemarin.
Disaat mereka masih menikmati makan siangnya dengan romantis berdua, tiba-tiba kembali terdengar ketukan pintu dari ruangan Ray.
" Astaga, siapa Ray?" Hana langsung terlihat panik.
" Tunggu, aku gimana Ray?"
" Kok gimana? ya nggak gimana-gimana lah?" Jawab Ray dengan santai.
" Aku malu, aku nggak mau temen kamu melihat aku ada disini!" Ucap Hana yang mulai merasa kebingungan.
" Ciiih... kalau begitu ngumpet saja kak." Ucap Ray yang malah sengaja ngerjain Hana.
" Owh iya, ide yang bagus, tapi dimana?"
" Noh... dibawah kolong meja!" Ray menunjuk kolong meja tempat dia bekerja sambil menahan tawa.
Dengan cepat kilat Hana langsung jongkok dan bersembunyi dibawah kolong meja.
" Masuk... ada info apa bro?" Tanya Ray yang langsung kembali ke mejanya setelah membuka pintu itu.
" Ini ada foto dan identitas pelaku serta alamat lengkapnya di Roma, coba anda lihat dulu." Ucap rekannya sambil menyerahkan kertas dan beberapa lembar foto disana.
Namun saat Ray ingin menerimanya, ternyata foto itu jatuh melayang dibawah kaki Ray.
" Owh... maaf Ndan!" Rekan Ray ingin berjongkok dan mengambilkan foto itu namun Ray melarangnya.
" It's okey biar aku saja." Ray langsung menunduk dan tersenyum dibawah kolong meja, saat melihat Hana yang kembali panik disana, dia pasti takut kalau ketahuan nantinya.
__ADS_1
Cup
Ray langsung menyambar bi bir mungil itu saat Hana mendongakkan wajahnya ke atas, dan tangan kirinya mengambil foto yang jatuh disamping tubuh Hana.
" Empph!" Hana langsung mendekap bi birnya sendiri sambil memelototi wajah Ray yang malah tersenyum-senyum disana.
" Kenapa senyum-senyum Ndan, apa ada yang lucu?" Tanya rekannya yang merasa aneh.
" Ehermm... tidak... tidak ada." Jawab Ray yang sebisa mungkin menahan tawanya, dia seolah untung banyak dengan posisi seperti ini.
" Ehh... jatuh lagi." Ray sengaja menjatuhkan satu fotonya lagi disamping Hana.
Cup
Ray kembali melancarkan aksi keduanya, saat Hana sudah melepas dekapan tangan dimulutnya.
Dugh!
Karena terkejut, tanpa sadar kepala Hana menyundul meja kerja Ray dan menimbulkan suara, yang membuat rekan Ray merasa curiga.
" Kyaaaa... siapa gadis itu Ndan?" Rekannya yang penasaran langsung berjongkok dan melongo melihat posisi Hana yang berada dibawah kolong meja.
" Hahahahaha..." Ray tidak bisa lagi menahan tawanya.
" Ngapain kamu sembunyi disitu!" Rekan Ray ikut menertawai Hana yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
" Eherm.. ehermm.. kami sedang main petak umpet tadi, aku akan memeriksa berkas ini nanti, silahkan kembali ke ruanganmu." Ucap Ray yang kasian saat melihat wajah Hana pucat dibawah sana.
" Baiklah... saya tidak akan menggangu kalian berdua, selamat bersenang-senang." Jawab Rekan Ray yang pura-pura pengertian, padahal dia sudah tidak sabar ingin menyebarkan gosip heboh terkini, keseluruh penjuru kantor.
" Raaaaayyy kamu jahat ya!" Hana langsung berdiri dan memukuli da da bidang Ray saat pintu ruangan itu sudah tertutup.
" Hahaha... kenapa aku yang disalahkan, orang kakak sendiri yang menyundul meja ini kok, kan jadi ketahuan deh?" Jawab Ray yang terus saja tertawa.
" Tapi kan gara-gara kamu, civm-civm aku terus tadi." Hana semakin mempercepat pukulannya.
Greep!
Ray langsung menarik tubuh Hana yang masih memukulinya dengan histeris, namun karena Hana terhimpit jadi saat Ray menarik tubuhnya dia kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh kedalam pelukan Ray, yang masih terduduk di kursi putarnya.
" Raaaayyy!" Teriak Hana yang semakin kesal.
" Sayang... aku Kangen." Ucap Ray dengan lembut, sambil memelvk tubuh ramping Hana yang ada dipangkuannya.
Ya Tuhan, apa aku memang sudah jatuh cinta kepada Berondong Sinting yang satu ini?
Kata 'Kangen' yang terucap dari mulut Ray, seolah berubah menjadi nyanyian indah dan syahdu ditelinga Hana kali ini, sorot mata indah milik Ray sungguh membutakan akal sehat dari seorang Hanami.
..." Cinta adalah ketulusan, bukan sebuah alasan. Cinta suci datang dari hati, bukan untuk disakiti."...
Yuhuuu... Bunga sekebon sama kopinya ditunggu ya😊
__ADS_1