Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
99. Rayuan Maut


__ADS_3

...Happy Reading...


Saat aku terjaga dipagi hari ini, mata ini terasa berat untuk ku buka dengan sempurna, berulang kali aku menguap karena merasa tidak cukup istirahat, tadi malam aku searching di goggle, mencari-cari dekor dan WO yang terbaik, sesuai dengan keinginanku dan yang keluargaku harapkan.


Karena dari dulu aku sangat memimpikan akan hal ini, sebagai seorang wanita, pasti ingin moment-moment penting dalam sejarah dihidup kita itu berkesan dan tidak terlupakan, jadi aku mengusahakan semua yang terbaik.


Karena acara ini aku yang memintanya duluan, jadi aku sendiri yang akan mengurus segala keperluannya, tanpa campur tangan Ray, aku sudah bertekad, dia setuju atau tidak yang pasti orang tuanya sudah mendukungku.


Aku sering heran, entah mengapa dia masih ragu meminangku, padahal dalam segi apapun aku tidak pernah memberatkannya, dan aku juga tidak menuntut tentang apapun setelahnya.


Karena sebaik-baiknya perempuan itu, jika saat seorang pria ingin berniat baik demi menjalankan ibadahnya, dia tidak memberatkannya.


Saat mama dan papa aku beritahu tentang niatanku ini, mereka tidak terkejut sama sekali, karena sedari awal mereka selalu mendukungku dalam segala hal, apalagi calon menantunya anak dari sahabat mereka sendiri, tidak ada lagi hal yang perlu dipertimbangkan lagi, tanpa bimbang dan ragu mereka langsung mengiyakan dan menyetujui keinginanku.


Flashback tadi malam


" Pah... aku mau buat acara lamaran." Setelah kepulanganku dari rumah aunty Mala, malamnya aku langsung membahas ini dengan mama dan papa dimeja makan.


" Benarkah? Ray sudah mau melamar kamu?"


Aku hanya tersenyum saja, entah aku atau Ray duluan yang melamar itu tidak masalah bagiku, yang penting kan tujuan utamanya sama, yaitu sebuah pernikahan nantinya.


" Kapan nak?" Mama pun langsung terlihat exited saat menanggapinya.


" Lusa mah, tadi aku juga sudah membahasnya dengan aunty Mala."


Aku hanya bermodalkan nekad saja, karena memang hanya Ray kandidatku sampai kapanpun itu, karena mahkotaku satu-satunya telah aku berikan kepadanya.


Aku pun tidak tahu hasil akhirnya, jika Ray menolaknya ditengah-tengah acara nanti, aku memilih balik ke Singapore saja dan hidup menetap disana dengan eyang kung dan eyang uti, tanpa bayang-bayang Ray lagi. Atau mungkin aku akan mengikuti blind date atau semacamnya, yang pasti aku tidak akan memaafkan Ray jika dia menolaknya nanti.


Semua sudah aku fikirkan masak-masak tadi malam, tidak ada keraguan lagi tentangnya.


" Okey... acaranya malam atau siang?" Papa Mark langsung melihat ponselnya, mungkin dia langsung mengatur jadwalnya.


" Kamu sudah membuat daftar belum siapa aja yang mau diundang, trus dekornya bagaimana, cateringnya juga sudah kalian bahas dengan Mala atau belum?" Mama langsung heboh kalau sudah membahas tentang pesta.


" Mah... ini baru lamaran, cukup dua keluarga besar saja sudah, ditambah warga sekitar." Karena memang ini dadakan, jadi tidak mungkin aku membuat pesta besar-besaran.


" Kenapa nak, kamu putri kami satu-satunya." Mama langsung protes akan hal itu.


" Ya sudahlah sayang, kita bisa gelar pesta akbar saat mereka menikah nanti dan kamu boleh mengatur semuanya nanti, sesuai keinginan kamu dan sahabatmu itu." Papa Mark memang selalu tahu apa yang aku mahu, dia memang papa terbaik dijagad raya menurutku.


Bahkan saat Ray masih sakitpun, papa tidak menentangku saat aku bilang ingin menikah dengan Raymond, semua keputusan beliau serahkan kepadaku, karena aku yang akan menjalani kehidupan nantinya.


Papa Mark adalah papa terhebat menurutku, selalu menghargai semua keputusanku, dan tidak pernah menentangku, nasehatnya juga selalu terdengar adem, tidak dipaksakan dan tidak memaksakan, mungkin karena itu mama Shanum semakin cinta dengan beliau walau umur tidak lagi muda, mama selalu bilang, papa membuatnya jatuh cinta berulang kali sampai saat ini.


Kelak kalau sudah menikah, aku pun ingin seperti mereka, yang selalu ada dan saling mencintai hingga nanti tutup usia.


Akhirnya keputusan kami deal, setelah acara makan malam hari selesai, dan semua seperti apa yang sudah aku rencanakan, walau berat mama Shanum pun akhirnya setuju juga.


Flashback off


Disaat aku ingin bangkit ke kamar mandi, tiba-tiba ponselku berdering dan saat aku lihat siapa penelponnya, dua sudut bibirrku langsung terangkat.


Baru juga dipikirin, sudah nongol aja dia?


" Hallo Ray, tumben pagi-pagi sudah ingat aku?" Aku pura-pura masih ngantuk, padahal isi otakku sudah dipenuhi semua tentangnya.


" Apaan sih kak, mau pagi, siang, sore atau malam juga aku ingatnya kakak terus?" Terdengar suara khas dari orang yang baru bangun tidur.


" Preeeettt!"


" Yaelah... beneran kak, wajah kakak itu selalu terbayang-bayang di pikiranku, membuat diriku susah untuk memejamkan mata, dan gelisah karena selalu merindukan kakak seorang.


" Bohong aja kamu ini, dulu aja masih sakit dibela-belain datang ke kantor, sekarang sudah sembuh mah boro-boro mau dateng, obral janji manis doang kamu ini."


Langsung saja aku hantam kata-kata yang dari kemarin aku lontarkan ke ibu kandungnya, agar dia bisa intropeksi diri dengan segala ucapannya.


" Astaga, mana mungkin aku obral janji manis, orang setiap saat pikiranku dipenuhi semua tentang kakak kok."


" Tuh kan kamu bohong lagi? orang kalau malem juga pasti aku duluan yang nelponin kamu sebelum tidur, akhir-akhir ini kamu sibuk terus deh."

__ADS_1


Sepertinya hanya aku saja yang dirundung rindu dengannya, dia seolah seperti santai tidak ada beban, terkadang aku sering kangen saat dia bucin semasa sakit dulu, kala itu terkadang aku sering mengeluh saat dia terlalu posesif dan selalu menanyakan keberadaanku, namun ternyata sekarang aku malah menginginkan kebucinan itu hadir kembali.


" Hmm.. maaf ya kak, aku jadi nggak bisa dateng di mimpi kamu, tapi walau begitu, aku pastikan akan datang di masa depan kakak."


Kalau aku sudah ngomel begini, sudah pasti senjatanya dia keluarkan, apalagi ditambah dengan suara yang dia buat manja-manja gemes gitu, yang selalu membuatku perih menahan rindu yang semakin meraja lela sesuka hatinya.


" Aku tutup saja deh telponnya, lagi nggak mood digombalin."


Padahal bukan itu alasannya, kalau dia sudah menggombal aku jadi sering senyum-senyum sendiri membayangkan wajah imutnya, jadi aku sering gagal fokus dalam bekerja karenanya.


" Jangan dong kak, orang masih kangen ini!" Terdengar suara dia yang terkekeh disebrang sana.


" Kangen kok ngomong doang, tapi sibuk sendiri, entah kamu ngapain aja sih Ray? emang kamu sudah di perbolehin aunty kerja apa? kamu kan harus jaga kesehatan Ray, kamu baru sembuh loh, duduk diam dirumah saja nggak bisa apa?" Gerutuku panjang lebar.


" Hmm... aku kalau denger kakak bawel gini, jadi pengen ganti nama deh." Ucapnya kembali, yang langsung membuatku penasaran, mungkin hobinya saat ini sudah ganti sepertinya.


" Ganti nama apa?" Tanyaku dengan cepat.


" Dion." Satu nama yang entah apa artinya keluar dari mulutnya.


" Kenapa Dion? nama Raymond lebih bagus kok menurutku, emang bisa ganti nama seenak wudel kamu apa, yang tinggal ngetik langsung di klik jadi gitu?"


Entah apa yang ada dipikiran bocah satu ini, dia fikir ganti nama semudah ganti profil di sosial media kali ya.


" Bagus Dion dong, Dionly man for you, hehe."


Aku usap wajahku dengan kasar, ingin marah tapi raut wajahku tidak bisa dibohongi kalau sebenarnya aku senang mendengarnya. Entah kenapa dulu aku sangat kesal dan membencinya, padahal sekarang aku seolah sudah tergila-gila dengannya.


" Kak... kakak kok diem aja sih?" Teriakannya memecahkan lamunanku segala tentangnya.


" Hmm.."


" Kakak sayang, nggak marah lagi kan?" Dia mulai menggodaku kembali.


Sebenarnya ingin sekali aku balik menggodanya kembali, namun aku sendiri yang takut kebablasan.


" Mana bisa aku marah denganmu." Ucapku tanpa sadar.


" Izin kemana?" Kembali aku dibuat terkejut dengannya.


" Keluar kota."


" NGGAK!" Mungkin Ray langsung menjauhkan ponsel dari telinganya, karena teriakanku seperti sedang memanggil murid-murid Taekwondoku dulu untuk segera bersiap.


Aku langsung emosi dong ya, aku mau ngasih surprize buat dia lusa, ehh... malah mau pergi keluar kota. Apapun yang terjadi aku tidak ingin rencanaku gagal berantakan gara-gara kepergiannya yang entah kemana.


" Sebentar aja kak, paling cuma dua atau tiga hari, aku usahain cepet kelar deh."


" Kenapa mesti pergi keluar kota sih Ray?"


" Cie... kakak takut jauh sama aku ya? udah bucin banget kakak denganku sekarang? wah... senangnya hatiku."


" Nggak lucu Ray!"


" Ada sedikit urusan yang belum terselesaikan, tapi kakak jangan khawatir, semua pasukanku cowok kok, nggak ada ceweknya, jadi kakak nggak perlu cemburu, okey?" Dia langsung menjelaskan tanpa aku minta.


" Pasukan?" Kedua alisku langsung terangkat, otakku langsung memutar.


Ngapain dia bawa-bawa pasukan segala, yang pasti aku mulai cemas akan hal ini.


" Maksud aku temen-temenku kak."


" Bukannya kamu sudah pensiun dini dari pekerjaanmu? kenapa masih bawa pasukan?" Aku langsung curiga dong, karena kalau sudah bawa pasukan, berarti dia kembali ke pekerjaannya semula.


" Begini kak, kemarinkan aku pensiun dini mendadak karena sakit, jadi ada sesuatu hal yang belum aku selesaikan, tapi setelah itu aku benar-benar berhenti kok dari dunia kriminal, karena aku sudah memantapkan hati ini untuk menjadi CEO kayak kakak, biar tidak ada kesenjangan diantara kita, hehe.."


" Ngapain kamu ikutan jadi CEO, ntar aku sibuk kamu juga sibuk, kapan kita ketemunya coba?"


Tidak bisa aku bayangkan jika kami berdua sama-sama sibuk dan hanya bisa bertatap muka diakhir pekan saja, sudah pasti dari senin sampai jumat aku bakalan uring-uringan terus menerus.


" Aku janji bakal bisa bagi waktu dengan kakak, lagian nanti kan aku punya asisten, jadi ada yang bantuin aku."

__ADS_1


" Tapi Ray?"


" Kak, pada hakikatnya nanti yang harus bekerja kan juga aku, kalau kita sudah menikah nanti yang jadi kepala keluarga kan aku, jadi yang wajib memberi nafkah sudah pasti aku kan, kakak tinggal mengurus rumah saja nantinya." Dia selalu bisa bijak diwaktu yang tepat.


Memang itu yang sedang aku usahakan Ray, aku sedang menunggu moment-moment indah menjadi Makmum mu.


" Tapi kamu kan baru sembuh Ray, bisa nggak sih jangan bikin orang khawatir?"


Aku masih mengingat bagaimana saat dirinya terpuruk karena kecelakaan hari itu dan itu juga yang membuatku rasa takutku muncul kembali, aku tidak ingin hal buruk menimpa Ray.


" Aku akan berhati-hati kakak sayang, lagian aku bawa pasukan banyak, aku yang mengkoordinir, kalau mendesak baru aku turun tangan."


Kata-kata itu membuatku sedikit lega, jadi misi itu bukan dia yang menjadi pemeran utamanya.


" Kamu itu bandel ya Ray kalau dibilangin!"


Walau aku belum pernah mendengar cerita darinya kalau dia kalah atau terluka parah saat menjalankan tugasnya, tapi tetap saja hati ini resah karenanya.


" Kak, semua aku lakukan untuk kebaikan kita bersama nantinya, aku akan menjaga diri, aku juga nggak mau kehilangan kakak, karena aku ingin selamanya hidup bersama kakak."


Kalau dia sudah begini, mau sekeras apapun aku melarangnya sudah pasti tidak akan mempan, yang ada mungkin malah terjadi pertengkaran.


" Tapi besok kamu sudah pulang kan?"


Aku belajar menjadi seorang wanita yang menuruti ucapan calon masa depanku, walau umurku lebih tua darinya, namun dalam pernikahan nanti, walau dia lebih muda, tapi kedudukannya tetaplah menjadi kepala rumah tangga, jadi aku akan memaklumi keputusannya hari ini.


" Sepertinya lusa deh kak."


Suaranya benar-benar terdengar menyebalkan kali ini, entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu saja membuatku emosi, aku bahkan takut jika wajahku cepat keriput dan rambutku cepat beruban jika terus seperti ini.


" NGGAK, pokoknya besok pulang!"


Sebenarnya rencana gw sama aunty itu masih lusa, tapi kepulangan Ray kan tidak bisa ditentukan jam berapa, jadi daripada nanti dia terlambat datang dan aku sendirian di acara itu, jadi aku paksa saja besok pulangnya.


" Aku nggak janji ya kak, soalnya ini ke luar kota."


Tuh kan, selalu saja seperti itu, melawan saja terus.


" Kalau kamu nggak bisa, ya sudah nggak usah pergi!"


" Ya sudah... aku usahain, jangan marah gitu dong kak, kakak kalau cemberut jelek loh."


Disaat orang lagi ngomong serius dia masih bisa meledekku, itulah dia yang sudah kembali ke habitat awalnya.


" Bodoo amat!" Umpatku dengan kesal.


" Kak, senyum dulu napa? biar semangat akunya, biar cepet selesai tugasnya dan bisa segera pulang nemuin kakak."


" Males."


" Kak denger ya.. di atas langit masih ada langit, tapi di bawah langit masih ada aku yang akan selalu mencintai kamu, jadi senyum dikit boleh dong?"


" Udah." Aku selalu saja kalah jika berdebat dengannya.


" Udah apa sayang?"


Suaranya itu loh, apalagi kalu sudah manggil dengan sebutan sayang, bikin amarah aku yang tidak seberapa ini meleleh dan melebur menjadi butiran debu.


" Sudah senyum ini."


" Mana?" Suaranya terdengar sedang menahan tawa, sepertinya dia sudah bersorak gembira karena membuatku klepek-klepek hanya dengan rayuan mautnya saja.


" Ya nggak kelihatan lah orang cuma ditelpon."


" Aku ganti panggilan video ya?" Dia seolah tau kelemahanku saat ini.


" Jangan, aku mau kekamar mandi sekarang, Bye!"


Aku langsung mematikan sambungan telponnya, yang benar saja mau video call, ntar kalau wajahku masih ada bekas iler gimana dong? aku kan belum sempat cuci muka tadi.


Walau ada rasa takut, namun aku hanya bisa berdoa saja, semoga dia baik-baik saja, dan acaranya bisa berjalan lancar, karena aku tidak tahu harus bagaimana lagi jika terjadi apa-apa dengannya.

__ADS_1


... "Takdir bukanlah masalah kebetulan, ia adalah masalah pilihan. Takdir bukanlah sesuatu yang harus ditunggu, ia merupakan sesuatu yang harus dicapai."...


__ADS_2