
...Happy Reading...
Hana yang notabenya seorang gadis yang cuek pun ternyata bisa kebakaran jenggot juga jika sudah menyangkut dengan Raymond, apalagi Hesti adalah seseorang yang pernah menbuatnya sewot seharian, sampai dia tidak bisa tidur semalaman.
Dan kali ini keakraban diantara mereka berdua semakin membuat darah Hanami seolah mendidih dan tidak kuasa lagi berada dirumah Ray berlama-lama lagi.
" Pokoknya aku mau pulang sekarang juga!" Umpat Hanami sambil berjalan terburu-buru keluar rumah.
" Tunggu kak, aku mandi sebentar boleh nggak? mau ganti baju juga, masak seharian aku nggak ganti baju?" Ray mencoba menarik pergelangan tubuh Hana.
" Aku bisa pulang sendiri naik taksi, kamu temani saja gadis itu." Hana sama sekali tidak mau melihat wajah Ray.
" Ciee... kakak cemburu ya?" Ray langsung menatap wajah Hana dengan senyuman ledekan.
Sial.. apa aku kelihatan cemburu? cih... aku cuma males saja lihat tuh cewek!
Hana masih mencoba untuk menyangkal apa yang dia rasakan, padahal memang benar adanya.
" Buat apa aku cemburu, buang-buang waktu saja, mending aku kerja bisa menghasilkan Cuan!" Umpat Hana yang sudah kembali ke mode cuek.
Uluh... imutnya my Hana kalau lagi cemburu, yess... harusnya uji cobanya lulus ini sih.
" Jam segini mau masuk kerja? nanggung banget, bentar lagi juga jam kantor selesai, karyawan kakak juga pasti sudah siap-siap pulang sekarang." Ray semakin gencar menggoda Hana yang terlihat menahan malu.
" Suka-suka aku dong, mau kerja masuk jam berapa, pulang jam berapa? nggak akan ada yang ngelarang ini?" Hana masih mencoba mempertahankan harga dirinya.
Dasar.. gadis keras kepala, sudah kelihatan jelas kalau cemburu, masih juga tidak mau mengaku!
" Baiklah... nona CEO yang terhormat, tapi bisa tunggu sebentar, aku ambil kunci mobil dulu didalam okey?" Ray lebih memilih untuk mengalah saja, daripada panjang urusannya.
" Aku sudah bilang bisa pulang sendiri kok?" Walau didalam hati dia tetep berharap Ray mengantarnya, karena sebenarnya dia tidak ingin melihat Ray berduaan saja dirumah bersama Hesti.
" Aku anter, nurut sedikit bisa nggak sih kak, walau aku ini lebih muda dari kakak, tapi aku ini calon imam kakak loh, jadi tunggu disini okey!" Ucap Ray sambil memegang kedua bahu Hana.
Calon imamku? kok aku jadi seneng begini ya dengernya, hihi... dasar berondong nyebelin!
Seolah disekeliling tubuh Hana ada angin berhembus sepoi-sepoi saat mendengar kata calon imam.
" Ya sudah, buruan! nggak pakek lama!" Umpat Hana sambil melengos, padahal dia hanya menyembunyikan senyumannya.
" Okey, wait a minunte!" Ray langsung berlari kembali kedalam rumah mengambil kunci mobilnya.
" Sssttt... gimana reaksinya?" Ternyata Hesti sedang mengintip mereka dibelakang pintu.
" Astaga mbak, terkejut aku!" Ray langsung terlonjak kaget saat melewati pintu rumahnya sendiri.
" Berhasil nggak uji cobanya?" Hesti langsung membuntuti langkah Ray, kepo mendengar jawabannya.
" Dia marah mbak, ngambrk minta pulang!" Ucap Ray perlahan.
" Wah... roman-romannya berhasil dong? hmm... tapi sebenarnya masih kurang greget Ray, kurang puas loh, mbak belum mengeluarkan jurus-jurus yang lama pensiun ini, yang tadi itu masih belum seberapa kan." Hesti sebenarnya masih ingin melanjutkan aksinya.
" Belum seberapa apanya? tadi hampir saja dia tidak mau aku antar pulang kerumahnya mbak, kalau lebih parah lagi bisa-bisa dia nggak mau ketemu aku lagi nanti." Ray berhenti sebentar dan mencoba mengintip Hana di luar.
Hana bahkan tidak mau menunggu sambil duduk, dia tetap berdiri di posisinya tadi.
" Huh... pacar kamu mah nggak asyik, gampang ambekan!" Hesti langsung kembali duduk di kursi ruang tamu.
" Biasanya dia cuek bebek mbak, tapi mungkin dia sekarang sudah tergila-gila dengan pesonaku, jadi tidak bisa melihat cewek lain disekitarku, hehe.." Ucap Ray dengan bangganya, bahkan dia sampai menepuk da danya beberapa kali.
__ADS_1
" Gayamu Ray, coba lihat perutmu!" Tiba-tiba Hesti menunjuk perut Ray.
" Kenapa?" Ray langsung memegang perutnya.
" Orang sombong biasanya perutnya langsung buncit!" Ucap Hesti dengan wajah horornya.
" Dih... yang bener mbak?" Ray langsung menarik kemejanya yang dia masukkan kedalam celana.
" Astaga Ray... jangan di buka disini dong? kita pi dah ke kamar aja gimana?" Teriak Hesti sekeras yang dia bisa.
" Sial.. mbak ngerjain aku ya!" Umpat Ray yang langsung melotot kesal.
" RAYMOND KELUAR KAMU!" Tiba-tiba terdengar suara Hana yang menggelegar dari arah depan pintu.
" Haish... mbak sengaja kan, awas nanti ya mbak!" Ray langsung berlari keluar rumah.
" Bahahaha... hati-hati sayang, cepet pulang ya? mbak akan selalu setia menunggumu disini!" Hesti berteriak sambil memegang perutnya dan mengejar mereka sampai pintu.
" Ngomong apaan sih mbak! nggak lucu!" Teriak Ray kembali saat dia sudah disamping pintu mobil.
" Ray... jadikan aku yang kedua, buatlah diriku bahagia, walaupun kau takkan pernah kumiliki selamanya, haha!" Hesti bahkan semakin menggila sambil bernyanyi sesuka hatinya.
Brak!
Akhirnya Hanami menghentakkan pintu mobil Ray dengan kekuatan supernya, bahkan mobilnya sampai sedikit bergoyang, untung saja mobil Ray edisi keluaran terbaru, kalau tidak mungkin pintu itu sudah copot dari cangkangnya.
" Kak.. jangan marah ya, mbak Hesti itu cuma bercanda kok, dia emang lucu orangnya, hehe..." Ucapan Ray langsung melunak saat melihat Hana seolah ingin maju berperang namun dia tahan.
" Apa kamu bilang? dia lucu?" Lirikan Hana bahkan sangat tajam, melebihi sajam yang Ray punya.
Ettdaah... apa aku salah lagi? jadi aku harus bilang apa dong?
" Jalan, lama deh!" Ucap Hana dengan judes dan dan langsung membuang arah pandangannya.
" Tapi beneran kak, dia nggak serius bilang gitu tadi, dia cuma ngerjain aku saja itu kak." Ray mencoba untuk tetap tenang sambil melajukan mobilnya perlahan.
" Kalian pernah pacaran?" Saat ada kesempatan Hana langsung bertanya soal kejadian hari itu.
" Enggak, belum pernah! kan aku sudah pernah bilang sama kakak, kalau aku itu nggak punya mantan kekasih." Jawab Ray dengan jujur.
" Bukannya saat resepsi pernikahan kakakmu dia juga datang, bahkan kalian berdua bersenda gurau saat itu, main rayu-rayuan segala lagi, seolah tidak ada orang disekeliling kalian kan?" Hana kembali merasa kesal dibuatnya.
" Ternyata enak juga ya dicemburuin? tapi kenapa orang bahkan sampai bertengkar gara-gara cemburu, padahal asyik begini loh." Jawab Ray sambil tersenyum bahagia.
" Ray! aku serius nanya ini, kamu kenapa sih nggak bisa diajak serius kalau ngomong!" Hana merasa kesal karena pertanyaanya tidak dijawab.
" Habisnya kakak bikin gemes kalau marah begitu, malah kelihatan manis banget lagi, emm... jadi pengen nyubit deh!"
Pletak!
Hana langsung menyentil tangan kiri Ray yang mencoba mencubit pipinya.
" Aw... sakit kakak, kekerasan dalam rumah tangga ini sih, kami cuma temenan aja kak, ketemu juga baru beberapa kali kok, dia teman deket kak Adelia, tidak ada hubungan apapun diantara kami?" Ray langsung pura-pura kesakitan, padahal sama sekali tidak terasa.
" Dasar berondong nyebelin!" Umpat Hana dengan ketus.
" Woah... hari ini mendung banget ya kak!" Padahal diluar cuacanya terang benderang, bahkan sesore itu hawanya masih bikin gerah.
" Cih... bahkan kalau njemur kerak nasi juga langsung gosong ini!" Umpat Hana sambil berdecih.
__ADS_1
" Masak? makannya senyum dong kak, biar dunia cerah lagi, hehe.." Ray langsung mengeluarkan gombalannya.
" Males!"
" Ngambeknya udahan dulu napa kak, nanti boleh kok dilanjut lagi, tapi sekarang senyum dulu, biar dunia nggak ikutan murung, okey?" Ray mengacak rambut Hana dengan gemas.
" Apaan sih Ray, jangan sentuh-sentuh aku."
" Aku tungguin deh sampai perasaan kakak baikan, jangan lama-lama ngambeknya, nanti akunya kasihan loh?" Ray bahkan seperti orang yang teraniaya.
" Bodo amat!"
" Aku nggak punya apa-apa buat dikasih ke kakak, saat lagi marah gini!" Ucap Ray kembali.
" Siapa juga yang minta, orang aku nggak minta apa-apa kok!" Umpat Hana perlahan.
" Yang bisa aku kasih, cuma kata I Love You dan jangan pernah coba untuk meninggalkan aku, karena aku tidak bisa tanpamu, apa itu cukup kakak sayang?"
Bunuh saja aku Ray, daripada kamu tikam hatiku pelan-pelan seperti ini!
" Diem, ngegombal aja bisanya kamu ini!" Bahkan wajah Hana sudah kembali bersemu merah karena ulah Ray.
" Beneran loh kak, karena di da daku nggak cuma ada Garuda saja, tapi juga ada namamu yang tertulis indah disana." Seakan tidak akan habis ide gombalan yang Ray punya, apalagi untuk orang tersayang.
" Dasar begal! udah nyetir aja yang bener!" Ucap Hana yang kembali tersipu malu, walau terdengar receh namun entah mengapa Ray selalu membuat hati Hana berbunga-bunga.
" Kok begal sih kak, emangnya aku udah begal hati kakak ya?" Ray langsung menoel pipi mulus Hana.
" Eherm... Tau pun!" Jawabnya sambil tersenyum.
" Kakak kenal mobil yang dibelakang itu nggak?" Tiba-tiba Ray sedikit menambahkan laju kecepatan mobilnya.
" Mana sih?" Hana langsung menoleh kebelakang.
" Kayaknya dari tadi dia ngikutin kita berdua deh kak." Ray semakin menambahkan kecepatan mobilnya, dia merasa ada yang aneh.
" Atau mungkin wanita yang tadi itu, mau ngikutin kamu, karena nggak bisa jauh dari kamu, tadi katanya dia nungguin kamukan?" Hana mencoba mengusir pikiran buruknya.
" Bukan deh kak, tadi dia datang ke rumah nggak bawa mobil kok, orang nggak ada mobil lain di halaman rumah kami." Ucap Ray yang mencoba mengingatnya, karena memang Hesti tidak memiliki mobil, menyetirpun dia tidak bisa.
" Jadi siapa dong? coba kamu cari jalan lain." Hana jadi ikut gelisah karenanya.
" Atau jangan-jangan dia salah satu musuh aku kali ya?" Ray langsung mengambil ponselnya dan mencoba mencari kontak rekan kerjanya dikantor.
" Awas Raaaaaaaay!" Ternyata didepan ada mobil yang tiba-tiba mengerem mendadak.
Cekiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitt!
" Aaaaaaaaaaaaaaaaw!" Teriak Hana yang langsung ketakutan.
Dengan sigap Ray melepas sabuk pengamannya dan memeluk tubuh Hana.
Duaaaaaaarrrrrrrr!
Akhirnya kecelakaan itu tidak bisa dihindari, mobil mewah Ray menabrak mobil yang ada didepannya dengan sangat keras, bahkan kaca depannya pecah semua dan berhamburan mengenai tubuh Ray karena dia melindungi Hanami.
Darah segar mengalir dari tubuh dan kepala Ray, dan akhirnya mereka berdua tidak sadarkan diri. Orang-orang yang berlalu lalang dijalan semua berhenti, mencoba menolong mereka serta menghubungi polisi dan juga ambulance agar nyawa mereka berdua bisa terselamatkan.
Yakin bahwa setiap ujian adalah cara Tuhan untuk mendewasakan kita. Terlebih semua ujian hidup ini tak ada yang abadi.
__ADS_1
..."Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Ketika Allah mencintai seseorang, maka Dia akan mengujinya."...