Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
133. Hangatnya cinta keluarga


__ADS_3

...Happy Reading...


Keluarga yang baik dibangun dengan cinta, dimulai dengan kasih sayang, dan dipelihara dengan kesetiaan.


Dan itu semua selalu Hesti dapatkan dari keluarganya, walau dia tumbuh dari keluarga yang sederhana, hidup di kampung yang jauh dari kerumunan kota namun dia selalu merasakan hangatnya cinta keluarga.


Namun kali ini dia begitu kecewa dengan segala pertanyaan ibuknya tentang orang yang paling dia cintai kali ini, seolah-olah ibunya tidak menyukai pilihannya, hanya karena statusnya saja, padahal menurutnya hanya Arka yang bisa membuat dia merasa nyaman dan menjadikan dia ratu di kerajaan cintanya.


" Aku benci ibu." Hesti memukuli bantal dikamarnya, dia tidak tahu saja ibu dan kekasih hatinya diluar sana sedang tertawa membicarakan tentangnya.


" Sejak kapan ibu jadi pemilih seperti itu? dulu mau aku pacaran sama siapa saja beliau nggak pernah protes kok, ini dapet Om Arka yang tampan, mapan dan kece badai gitu kok malah ngamuk."


" Trus kenapa kalau duda? jaman sekarang juga banyak perjaka rasa duda!"


" Ckk... bukannya duda lebih berpengalaman? jadi lebih tau bagaimana memperlakukan istri dengan baik!"


" Aaaaaaaaa... ibu bawang merah nyebelin!"


Akhirnya umpatan demi umpatan Hesti lontarkan sendirian di kamar, sambil memukuli bantal sebagai pelampiasan kemarahannya.


" Yank... sayang... kamu dimana?"


Terdengar samar-samar suara Arka memanggilnya dari luar kamar, dengan suara yang terdengar panik.


Astaga... aku sampai melupakan Om Arka, kenapa aku malah meninggalkannya tadi, aduh... diapain lagi itu Om tampan gue?


Hesti segera mengusap sisa air matanya dan berlari keluar kamar.


" Hesti... sayang?" Panggil Arka kembali.


" Iya Om... aku disini."


Saat Hesti baru membuka pintu kamarnya, kedua matanya langsung menangkap bercak dar@h di kemeja milik Arka.


Pikirannya tidak karuan, jangan-jangan ibunya khilaf trus melakukan kekerasan fisik kepada kekasihnya itu, secara tadi ibunya bawa pisau.


" Astagfirulloh... Om Arka diapain sama ibu?" Air mata yang sudah mulai mengering menjadi kembali basah, Hesti bahkan membungkam mulutnya sendiri karena ketakutan.


" Hesti ini...?"


" Maaf Om, harusnya aku nggak ninggalin Om tadi?" Hesti langsung menangkupkan kedua tangannya ke wajah Arka sambil mewek.


" Ibu ini keterlaluan sekali, dia nggak tahu apa kalau anaknya ini sudah cinta mati sama duda yang satu ini."


" Apa coba salahnya duda, kenapa bisa menghakimi seseorang seperti itu, aku saja bersyukur om jadi duda, kalau om punya istri aku mana bisa dapetin om ya kan?"


" Apa sakit sayang? mana yang sakit? biar aku obati, setelah ini kita langsung balik ke kota saja, nggak usah didengerin ibu bawang bombay itu, biar nanti aku goreng crispy aja, biar enak dimakan." Umpat Hesti terus menerus dan panjang lebar, sambil mengusap lengan kokoh Arka dengan mata tidak beralih dari bercak dar@h di kemeja Arka.


Cup


Arka langsung menyambar pipi Hesti, sebenarnya dia gemas saat melihat bibiir kekasihnya itu saat mengoceh tanpa henti, namun dia tidak berani melakukannya, takut nanti jika tidak bisa menahan hasr@tnya yang sudah lama terpendam, semenjak kepergian ibu Dimas dari sisinya.


" Om?"


Hesti malah terheran sendiri, dia begitu khawatir saat ini, namun Arka terus tersenyum memandang wajahnya.


" Hei... i love you."


Arka malah menaikkan kedua alisnya dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibirnya.


" Nggak! jangan bilang i love you kalau Om berniat mau meninggalkan aku, karena itu akan lebih sakit daripada sebuah pengkhianatan!" Ucap Hesti yang langsung berburuk sangka, dia bahkan memundurkan tubuhnya kembali masuk kamar.


" Hesti.."


" NGGAK! aku nggak mau putus sama om, titik!"


" Loh kok malah sampai situ?"


" Om... ibuk tuh biasanya nggak jahat kok, ibu pasti cuma khilaf saja tadi, beliau baik selama ini walau kadang suka galak."


" Please Om, jangan menyerah begitu saja, perjuangin aku kenapa Om?" Hesti kembali terisak sambil memeluk lengan Arka dengan erat.


" Aduh... sayangnya Om ini, bikin gemas aja."


Arka langsung mengangkat tubuh Hesti kedalam gendongannya.


" Om?"


" Apa sayang?" Akhirnya Arka duduk di tepi ranjang dengan Hesti tetap berada dalam pangkuannya.


" Om kok malah senyum-senyum aja sih dari tadi?" Hesti kembali dibuat heran olehnya.


" Habisnya kamu lucu." Arka menempelkan hidungnya ke hidung Hesti.

__ADS_1


" Kok lucu sih Om, aku tuh lagi sedih loh, takut banget kehilangan Om, kok om malah kayak orang kesenengan gitu? dan tadi yang luka nggak sakit apa? turunkan aku, biar aku lihat dulu lukanya." Hesti berontak ingin turun dari pangkuan Arka namun Arka semakin mengeratkan kedua tangannya di pinggang Hesti.


" Nggak ada yang luka sayang, itu tadi dar@h ayam." Jawab Arka sambil terkekeh geli.


" Ayam? kok bisa dar@h ayam?"


" Ibu tadi nyuruh aku nyembelih ayam, nah... saat ayam itu sudah om sembelih, mas yang megang langsung melepasnya begitu saja, nggak pake aba-aba, jadi ayam itu berontak disisa-sisa @jalnya, kena deh sama baju Om?"


" Astaga... jadi bukan ibu yang melakukannya?"


" Ya bukanlah, ibu kamu baik sayang, Om suka kok sama ibu kamu!"


" Enak saja Om ini, NGGAK BOLEH! om itu cuma boleh suka sama aku, anaknya!" Hesti langsung merasa tidak terima.


" Ya ampun sayang... kamu ini memang gemesin banget."


" Dih... om ini, mana boleh suka dua-duanya, aku bilangin bapak nanti baru tahu rasa." Hesti langsung melengos, kebanyakan nangis memang bisa membuat otaknya jadi lemah berpikir.


" Ya jelas lah Om milih kamu, karena memang cuma kamu yang aku mau Hesti."


" Trus tadi?"


" Maksudnya itu suka sebagai calon ibu mertua, suka dalam artian kagum dengan kebaikan hati ibu kamu, jangan salah mengartikan sayang."


" Hehe... kirain suka beneran, mana mungkin ya kan, ibu kan ngeselin nggak kayak aku nyenengin, ya kan Om?"


" Hmm... iyalah tuh!"


" Ibu bilang apa Om?" Hesti langsung merangkulkan kedua tangannya ke leher Arka.


" Beliau merestui hubungan kita sayang."


" Benarkah? yeay..!" Hesti langsung memeluk tubuh Arka dengan erat.


" Ibu kamu berhati lembut kayak kamu, Om senang bisa diterima di keluarga kalian, Om bersyukur banget, terima kasih ya sayang, sudah hadir dalam hidup Om dan sudah mewarnai kehidupan Om yang sudah lama sepi."


Degh!


Kedua mata mereka saling bertemu, jantung mereka sama-sama berdetak kencang saat jarak diantara mereka semakin dekat.


Rasa cinta yang menggebu dan kasih sayang yang teramat dalam, membuat mereka saling memiringkan wajahnya masing-masing, mulai mengikis jarak yang hanya tinggal beberapa centimeter lagi.


Cup


Saat bibiir Arka dan Hesti baru saja menempel, suara ibu Hesti langsung muncul dari arah pintu.


" Allohu akbar, sedang apa kalian berdua!"


" Heh... owh.. maaf buk, kami nggak sengaja tadi." Arka langsung menurunkan Hesti dengan paksa dari pangkuannya.


" Argh.. ibuk ini ganggu aja lah!" Umpat Hesti tanpa rasa malu sedikitpun.


" Mau aku pites hidungmu, biar tinggal lubangnya aja atau bagaimana!" Ibu Hesti langsung berkacak pinggang dengan mata yang sudah melotot.


" Kamu lagi, disuruh ganti kaos bapak kenapa malah nyasar sampai kamar Hesti!" Ibu Hesti pun ikut memarahi Arka yang terlihat menahan malu.


" Maaf buk, tadi nggak tahu kamarnya bapak, trus nyari bapak juga nggak ada."


" Kalau nyari Hesti dan kamarnya kamu langsung tahu, begitu?" Ledek Ibu Hesti.


" Dih... sudahlah buk, jangan galak-galak kenapa, kasian duren kesayangan aku itu."


" His... pengen banget aku botakin kepala kamu itu."


" Ibuk ampun!"


" Cepat bantuin ibu masak!"


" Eh bu... sini aku bisikin." Hesti jadi punya cara agar keluarganya lebih kagum dan menyukai kekasihnya.


" Apaan?"


" Calon mantu ibuk itu jago masak tau, dia koki dan punya restoran gede di kota."


" Masak sih?"


" Bisa di uji coba buk!"


" Wokeh... mari kita coba."


" Owh...calon menantu tampanku, bisa kamu masakin ibu makanan spesial hari ini."


" Dengan senang hati calon mertuaku." Arka bahkan langsung membungkukkan tubuhnya denan senyuman. Apapun akan dia lakukan agar calon mertuanya itu bangga kepadanya, karena itu salah satu keahliannya.

__ADS_1


Akhirnya dapur mini itu dikuasai oleh Arka sendiri, sedangkan Hesti dan ibunya hanya jadi penonton setia dimeja makan.


" Ui... calon menantu, ada yang bisa ibu bantu?"


" Nggak usah buk, ibu tunggu saja disana."


" Gini nih asyik punya calon mantu yang ahli masak, ibuk tinggal kebelakang dulu ya?" Ibu Hesti langsung meninggalkan mereka berdua.


" Kalau aku yang bantu gimana Om?"


" Nggak usah sayang, nanti kamu capek."


" Ya sudah... aku bantu ngliatin wajah Om saja, pasti nanti semua masakan rasanya istimewa."


" Kamu ini bisa aja buat Om malu." Arka selalu saja dibuat mati gaya oleh kekasihnya itu.


" Om tau nggak, cuka apa yang paling manis?" Hesti bahkan menatap Arka sambil menopang dagu dengan centilnya.


" Mana ada cuka manis yank... kamu ini ada-ada saja." Arka menjawab tanpa melihat Hesti, dia mengeluarkan semua keahliannya untuk menghidangkan masakan spesial untuk calon keluarga barunya.


" Ada kok?"


" Cuka apa emang sayang?" Kini Arka sudah tidak segan lagi untuk memanggil Hesti dengan sebutan sayang.


" Cuka sama kamu, hehe..."


" Kumat lagi deh." Arka hanya menggelengkan kepalanya saja, selalu saja penyakitnya kumat kalau lagi happy begini.


" Coba tebak, kalau sayur yang paling manis apaan coba Om?"


" Apa ya? Labu mungkin?" Arka mencoba mengingat jenis-jenis sayur.


" Bukan, tapi toge lah Om." Ucap Hesti kembali.


" Kok toge sih?"


" Iya... TOGEther with you forever, haha."


Semakin Arka bersemu malu, semakin bahagia Hesti menggodanya, seolah dia dapat mainan yang limited edition.


" Kamu siapa yang ngajarin jadi tukang gombal?" Tiba-tiba ibu Hesti kembali mendekat saat bau wangi dari masakan Arka tercivm olehnya.


" Bawaan lahirlah, ibuk kan dulu sering godain tukang kreditan panci biar dapet murah ya kan?"


" Iya juga sih, pantesan suaramu kayak sales pedagang panci ya kan, cempreng!"


" Enak saja ibu ini ngatain anak sendiri, sebenarnya aku ini anak siapa?"


" Anak sapi."


" Ibuk!"


" Emang iya, kamu dulu sukanya nyusv sapi, nggak mau nen punya ibuk kok, entah besok anakmu mirip denganmu atau enggak."


" Nggak papa kalau anaknya nggak doyan susv ibunya, biar nanti bapaknya seneng, diminum sendiri tiap malam, ya kan Om Arka?" Hesti kembali menggoda kekasihnya.


" Uhuk.. uhuk.. ngomong apaan sih Hes?" Entah mengapa Arka yang merasa malu sendiri mendengarnya.


" Eh... si Ray nelpon nih."


Saat mereka masih saling mengobrol sambil saling meledek, ternyata ada panggilan telpon dari adek sahabatnya.


" Ya Ray?"


" Mbak dimana? aku ke kosan mbak kok nggak ada orang?"


" Aku lagi pulang kampung sama Om Arka."


" Emang mbak satu kampung sama Om Arka?"


" Aslinya enggak sih, tapi walau beda kampung kan yang penting hati kami selalu sama satu tujuan, eaa.."


" Wuidih... roman-romannya ada yang lagi jadian nih? dasar pecinta duda, cepat balik kesini mbak, besok acara resepsiku, jangan lupa datang sama om Arka ya, eh... Dimas juga, kata kak Adelia tadi besok dia sudah pulang."


" Kenapa harus besok pagi, baru aku mau jelong-jelong sambil kencan di kampung?" Ingin rasanya dia menolak hadir, namun tidak tega.


" Pokoknya nggak mau tahu, besok kalian berdua harus datang, kalau tidak aku pecat mbak sebagai teman gesrekku, bye."


Tanpa menunggu jawaban, Raymond langsung menutup sambungan telponnya. Bukannya malas untuk kembali ke kota, namun Hesti masih belum punya cara untuk menghadapi Dimas nantinya. Karena cuma dialah satu-satunya penghalang dalam hubungan mereka.


Disatu sisi Hesti sangat mencintai Arka dan tidak bisa menghindarinya, namun disisi lain, dia juga tidak ingin hubungan ayah dan anak itu hancur berantakan hanya karena dirinya. Akhirnya hanya perasaan Dilema yang membelenggu dirinya kini.


..."Jika kamu merasa bebanmu lebih berat daripada yang lain, itu karena Tuhan melihatmu lebih kuat daripada yang lain."...

__ADS_1


__ADS_2