Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
41. Kang Paket


__ADS_3

...Happy Reading...


Dan saat mobil mewah Raymond melewati jalanan di depan rumah Hana, dia melongok ke atas, ternyata lampu kamar milik Hana masih bersinar dengan terang, tandanya masih ada tanda-tanda kehidupan disana, bahkan pintu kamar menuju balkon itu terlihat terbuka disana.


Alhasil Ray langsung menepikan mobilnya dibawah pohon dan mencoba mengamati balkon rumah Hana kembali, sebenarnya kalau Hana mengamati dengan seksama, mobil Ray itu terlihat dari atas walau tidak begitu jelas, karena dia menggunakan mobil berwarna hitam, dan lampu disekelilingnya tidak begitu terang, namun karena mungkin pikiran Hana sedang kacau jadi dia tidak begitu memperhatikan dan tidak melihat kebawah, yang dia perhatikan dari semalam hanya lautan bintang di angkasa saja.


" Ciiiih... gayanya aja sok nolak, nyesel kan dia sekarang, aaaa... saran dari mommy memang top cer dah!" Bahkan dia sambil berjoged-joged ria didalam mobil.


Hilang sudah kekesalan dirinya karena ditertawakan oleh Ganesh saat juniornya tidak bisa dia kendalikan, karena sempat memikirkan hal-hal yang sering menghantui pikiran para pria pada umumnya.


" Hmmm... beliin sarapan aja kali ya, tapi apa ya yang disukai my Hana, kasihan banget dia sudah tersiksa semalaman karena memikirkan diriku yang tampan ini, haha.." Sebenarnya dia juga tidak menyangka ternyata Hana bisa selucu itu kalau sedang mengamuk sendiri, tidak judes dan galak malah terlihat memprihatinkan tidak seperti saat bertemu dengannya.


" Baru tahu kan, pesona tampan dari Raymond memang sulit dilupakan, hahaha..." Ray langsung mengemudikan mobilnya mencari makanan untuk sarapan disekitar rumah Hana.


" Ini belum seberapa my Hana? kalau aku kumpulkan gadis yang sudah aku tolak dikantorku dulu, semakin terbakar hatimu, bahkan mungkin sampai gosong!" Umpat Ray dengan sombongnya, karena memang sudah beberapa kali dia menolak para Polwan yang ingin mendekati dirinya.


" Wuiih... ada bubur ayam tuh." Ray langsung menghentikan mobilnya di warung bubur pinggir jalan itu.


" Bubur mas?" Tanya sang penjual yang langsung tersenyum melihat wajah tampan Ray dipagi hari walau belum mandi, seolah menjadi suntikan imun yang menyegarkan.


" Iya mbak, dua ya dibungkus." Ucap Ray sambil duduk dikursi dengan menyilangkan kakinya, walau hanya menggunakan celana hitam dan kaos dalaman hitam saja dia terlihat menawan.


" Siap mas ganteng, mau ditambah lauknya nggak?" Tanya penjual itu dengan centilnya.


" Lauknya apa aja mbak?" Tanya Ray yang terlihat berminat.


" Ada ayam goreng, perkedel, telur puyuh, ada juga hatiku untukmu, eeh... maksudnya hati goreng, hehehe..." Siapapun pasti meleyot jika pagi-pagi buta bisa melihat pria tampan dan kekar apalagi ditambah dengan senyuman manisnya yang selalu menghiasi wajahnya, bahkan janda tua pun akan tersihir oleh putra dari Carlos Adelard yang satu ini.


" Waah... Mbaknya bisa aja deh... mau tambah hati goreng saja deh mbak, siapa tahu hatinya terluka, jadi bisa sedikit mengobatinya, hehe..." Ray pun tak kalah meladeni ucapan sang penjual bubur itu.


" Oke deh kalau begitu, aku kasih bonus satu hati ayam deh buat masnya, tapi nanti kalau hati yang lain sudah expayed, jangan lupa ya... disini ada hati yang kosong dan belum terisi, eaaaaa..." Penjual bubur itu memberikan dua kantong plastik ditambah rayuan mautnya yang membuat Ray hanya bisa menggelengkan kepalanya, dengan senyum yang tidak bisa dia tahan lagi.


" Mantep banget tuh, yawdah aku kasih bonus juga deh buat mbaknya yang pinter ngegombal, uang kembaliannya buat mbaknya saja." Ray memberikan dua lembar uang berwarna merah untuk harga dua bubur ayam spesial itu.


" Waduh... terima kasih banyak masnya, sudah tampan, baik hati lagi, murah jodoh dan rejekinya ya mas, jadi enak nih, hihi.." Penjual itu semakin terpesona dengan Ray.


" Amin mbaknya, kalau begitu saya permisi." Ray bahkan menundukkan kepalanya, walau sudah berpangkat tinggipun dia tetap low profil orangnya.


Sedangkan dalam perjalanan kembali kerumah Hana dia memikirkan cara agar tetap bisa memberikan bubur itu tanpa harus memperlihatkan dirinya.


" Gimana caranya biar nggak ketahuan ya?" Ray mencari cara sambil terus menyetir mobilnya.

__ADS_1


Akhirnya dia memutuskan memakai jaket hitam miliknya yang tersimpan di mobil dan melepas kaos hitamnya untuk digunakan sebagai masker, karena kalau hanya masker biasa Hana pasti akan mengenalinya, tidak lupa dia memakai kaca mata hitam miliknya.


" Permisi!" Ray mengetuk pintu rumah Hana.


" PERMISI... ADA PAKET!" Teriak Ray lebih keras lagi, karena tidak mendengar ada pergerakan dari dalam.


" Hoahemm... siapa sih pagi-pagi sudah bertamu, kayak nggak ada waktu lain saja." Umpat Hana yang sudah terlihat mengantuk, karena dia benar-benar meminum obat tidur yang sebenarnya fungsi utamanya adalah obat untuk gatal-gatal karena alergi, namun memang banyak mengandung obat yang membuat ngantuk, karena dia tidak punya persediaan obat tidur dirumah.


" PERMISI... HALLO MBAKNYA!" Teriak Ray yang sudah tidak sabar melihat wajah Hana dari dekat.


" Iya tunggu sebentar, siapa sih?" Umpat Hana sambil membuka pintu dengan malasnya.


" Hai?"


Sayang?


Ingin sekali Ray menyapanya seperti itu, namun dia mencoba menahannya.


" Ada apa ya pak?"


Aneh ni orang, pagi-pagi sudah pakai kaca mata hitam? matahari saja belum nongol semuanya.


" Saya masih muda loh mbak, jangan panggil pak, bahkan lebih muda dari mbaknya." Jawab Ray dengan sedikit mengubah suaranya.


HAH? apa aku sudah ketahuan ini? padahal aku sudah mengganti suara loh tadi? apa ada ikatan cinta diantara kami ya?


" Astaga, maksud saya Kang Paket, hehe.. ada paketan apa buat saya?" Ucap Hana sambil nyengir kuda, karena sedari tadi otaknya dipenuhi nama Ray, jadi saat mendengar kata lebih muda darinya dia langsung teringat nama Ray.


" Kang Paket? owh ya... saya memang mengantarkan paket makanan, ini untuk mbaknya." Ray langsung menghela nafasnya dengan lega.


Haiss... my Hana? ternyata namaku sudah meracuni hatimu, hihi... untung belum ketahuan, nggak seru kalau cuma sampai disini saja dramanya.


" Dari siapa mas? kok nggak ada namanya?" Hana mengamati bungkusan plastik itu.


" Nggak tahu mbak, saya cuma disuruh nganter kesini saja." Ucap Ray meneruskan aktingnya.


" Salah alamat kali mas?"


" Nggak mungkin mbak, saya hafal jalanan sini kok, mungkin ini dari orang spesial mbaknya kali." Ray langsung mencari alasan.


" Masak sih?" Dia melihat isi dalam kantong plastik itu.

__ADS_1


" Soalnya kata mbak penjualnya tadi, dia dapet pesan dari yang bayar makanan, ini spesial pake hati pengirimnya begitu, hehe."


" Beracun nggak nih?" Tanya Hana yang malah terlihat curiga.


" Ya enggaklah mbak, orang belinya pakai cinta kok." Ray bahkan tidak mau melepas kaca mata hitamnya.


" Owh... kalau begitu makasih ya Ray, opssh... maksud saya makasih ya Kang Paket." Sudah otak ngebleng ditambah kurang tidur karena mikirin Ray, jadi dia salah panggil terus kerjaannya.


" Cieee... mbaknya kayak tergila-gila banget sama yang namanya Ray? pacarnya ya mbak?" Ledek Ray dengan senyuman tak pernah surut dibalik masker kaosnya.


" Boro-boro, jadian juga belum, eeh... dianya sudah berpaling!" Umpat Hana yang keceplosan bicara.


" Mungkin karena mbaknya terlalu dingin kali."


" Emang kenapa kalau aku dingin, dia jadi masuk angin trus gampang pilek begitu? hah... kata-katamu malah jadi menambahkan ingatanku sama dia lagi kan." Hana kembali mengingat satu persatu omongan nyleneh berondongnya itu.


" Hehe... bukan begitu mbaknya."


" Sudahlah... ngapain juga aku curhat sama Kang Paket, ya sudah terima kasih." Hana langsung mengibaskan tangannya.


" Tuh kan kumat lagi dia." Umpat Ray perlahan.


" Owh iya... nih aku kasih satu buat masnya aja, aku cuma sendirian dirumah, daripada mubazir." Hana memberikan satu kantong plastik untuk Ray.


" Mau aku temenin makan sekalian nggak?" Ledek Ray kembali.


" Hah?" Hana langsung tersentak.


" Tapi bohong, hehehe... bye-bye kakak!" Ray langsung balik kanan sambil melambaikan tangannya ke udara tanpa menoleh kearahnya.


" Dasar wong edan! hmmm... tapi kenapa bau parfumnya seperti tidak asing ya? memang kayak punya si Ray ini? astaga... ada apa denganku? kenapa hanya dia, dia dan dia saja yang ada didalam otak suciku." Hana kembali bergumam sendiri.


" Tapi tadi, kenapa dia panggil aku kakak ya? jangan-jangan dia memang....?" Seolah mesin di otak cerdas milik Hanami langsung bisa berfungsi dengan normal kembali.


" Aissshhh... Raaaaaaaaaaaaaayyyyyy, awas kamu ya!" Teriak Hana yang akhirnya mulai menyadari bahwa Kang Paket itu memanglah Raymond si Polisi Tampan yang meresahkan.


" Hahahahahahaha... wo.. o.. kakak ketahuan!" Ray pun berteriak sambil berlari keluar dari halaman rumah Hanami sambil tertawa lepas.


Ray mengemudikan mobilnya sambil bersiul-siul bahagia, ternyata dibalik kesengsaraan dirinya dini hari tadi, ada nikmat yang terselip setelahnya, setidaknya dia sudah tahu bagaimana perasaan Hana yang sesungguhnya walau belum diakui sepenuhnya.


..." Tak ada cara terbaik menikmati perjalanan selain membiarkan dirimu tersesat, ketika berhadapan dengan jalan yang tampak tak berujung dan jembatan serupa yang membingungkan, terus saja berjalan, setiap belokan, setiap sudut, menghadirkan misteri tersendiri."...

__ADS_1


..." Tersesat adalah anugerah, karena dirimu tak tahu apa yang menanti di tiap kelokan, begitu juga dengan misteri cinta, ikuti saja alurnya, jika memang sudah jodoh pasti bertemu juga."...


__ADS_2