Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
51. Gass!


__ADS_3

...Happy Reading...


Hana berada di posisi antara malu yang teramat sangat dan juga bingung harus melakukan apa saat berhadapan dengan Ray.


Disalah satu sudut hatinya, sebenarnya dia senang saat bisa membuat wajah Ray tersenyum bahagia, namun disisi lain dia juga bimbang, apakah yang dia lakukan ini sudah benar atau malah akan menjadi bomerang bagi dirinya sendiri.


Dia merasa sakit hati saat melihat Ray tidak lagi menghiraukan dirinya, atau tersenyum kepada wanita lain, namun dirinya juga masih bimbang dengan perasaannya sendiri, apakah memang dia mencintai Ray atau hanya sekedar suka dan tidak ingin diabaikan begitu saja.


" Hayoooloh... mau pergi kemana kakak sekarang, ada sebab pasti ada akibatnya loh my Hana, hehe.." Ray langsung menarik dan membalikkan tubuh Hana agar menghadap kembali kearahnya.


" Aku... aku mau pulang, ehh... aku mau... mau balik ke kantor lagi." Ucap Hana terbata-bata, karena dia memang tidak pandai berbohong.


" Kak Hana?" Ray bahkan melembutkan suaranya agar terdengar mendayu-dayu.


" Aku pergi dulu!" Hana langsung siap-siap mengambil langkah kaki seribu untuk segera berhembus dari hadapan Ray.


" Eiiiiiitss... enak saja mau kabur!" Dengan sigap Ray kembali menarik lengan Hana dan mendorongnya ke dinding.


" Ray!" Umpat Hana dengan deru nafas yang sudah tidak karuan lagi.


" Apa my Hana?" Dengan santainya Ray langsung mengungkung tubuh Hana dengan kedua lengan kokohnya.


Haduuh... kenapa jaraknya dekat sekali, kenapa dia menatapku seperti itu? dan bi bir itu yang tadi aku... aku civm kan? aargghh... kenapa dia tampan sekali kalau tersenyum, aku harus apa Tuhan?


" Aku... aku harus pergi sekarang." Ucap Hana yang langsung melengos kesamping, seolah dia takut melihat wajah tampan Ray.


" Enak saja, setelah apa yang kakak lakukan tadi, mau pergi begitu saja? owh... tidak bisa my Hana." Ray semakin mengikis jarak diantara mereka, bahkan hangatnya hembusan nafas dari Hana pun terasa disekelilingnya.


" Ta... tapi ini penting Ray, aku harus pergi sekarang." Ucap Hana yang memang tidak pandai mencari alasan dikala wajah mereka sedekat ini, pikirannya seolah kosong, tidak lagi bisa berfikir cerdas sama sekali.


" Okey... kakak boleh pergi, tapi jawab dulu satu pertanyaan dariku." Ray mencoba mengontrol asmaranya yang menggebu-gebu, karena dia sadar bahwa dia sedang ingin menyelesaikan kasus yang penting juga saat ini.


" A... apa?" Tanya Hana yang belum mau melirik wajah Ray, dia masih setia memandang sepatu hitam milik Ray yang berkilau dibawah sana.


" Lihat dulu mataku?" Pinta Ray yang juga sedang mengamankan detak jantungnya yang sebenarnya sudah berlarian sejak tadi.


Karena hanya gadis ini yang dia inginkan sedari dulu, banyak wanita yang berusaha mendekatinya sampai saat ini, namun entah mengapa dia tidak merasakan, seperti apa yang dia rasakan dengan Hana.


" Nggak... nggak mau!" Ucap Hana tetap menolak.

__ADS_1


" Kalau begitu lihat bi birku saja, mau?" Ray mencoba menggoda Hana.


" Apaan sih Ray, awas... aku harus pergi dulu!" Hana mencoba berontak untuk bisa lolos dari kungkungan tangan Ray, namun usahanya sia-sia karena dia tidak bisa menggeser lengan kokoh itu walau sejengkal saja.


" Apa maksud kakak tadi?" Tanya Ray dengan senyum termanisnya.


" Maksud kamu apa? yang mana?" Hana pura-pura amnesia dadakan kali ini.


" Ckk... nggak usah pura-pura lupa deh kak?" Ray langsung berdecak saat mendengarnya.


" Aku nggak tau, awas Ray.. aku harus kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan yang aku tinggalkan tadi." Umpat Hana yang terus berusaha berdalih sebisanya.


" Kenapa kakak mencivmku tadi? apa itu berarti kita sudah--- emmm?" Ray langsung melayangkan pertanyaan yang membuat wajah Hana merah merona.


" Khilaf! ma.. maaf aku khilaf tadi." Jawab Hana spontan.


" Ciiihh... khilaf? yang benar saja, dasar pencuri!" Ray seolah ingin tertawa saat mendengar alasan dari Hana untuknya.


" Beneran aku khilaf Ray, maksudku emm... aku nggak sengaja, biar kamu diem gitu, nggak berisik!" Ucap Hana yang tiba-tiba mendapatkan alasan yang cemerlang menurutnya.


" Woaaaahh... khilaf kok civm di bibir, warrrbiasyaah sekali kamu kak!" Ray langsung mendongakkan wajahnya dengan kesal, namun tangannya masih memegang kedua bahu Hana agar dia tidak bisa pergi dari sana.


Dan ternyata Ray tidak mau membuang-buang waktu dan kesempatan lagi, dia langsung menaikkan dagu Hana dengan tangan kirinya dan mulai memiringkan wajahnya.


Cup


" Emmmh.. Ray!" Hana mencoba mendorong tubuh Ray namun sia-sia saja.


" Maaf, aku ternyata juga bisa khilaf kak, hehe..." Ray bahkan menjulurkan lidahnya didepan Hana.


" Kamu ini, ikut-ikutan saja." Umpat Hana yang kesal karena menahan laju detak jantungnya yang tidak karuan karena civman itu.


" Mau pulang sekarang nggak?" Tanya Ray sambil menyatukan kening mereka.


" I.. iyalah." Jawab Hana yang semakin gugup dibuatnya, tidak pernah dia sedekat ini dengan lawan jenis.


" Okey, tapi setelah iklan khilaf yang satu ini yaa, hehe..." Ray langsung memiringkan wajahnya kembali.


" Jangan Ray!" Hana langsung mendekap bi birnya sendiri dengan rapat.

__ADS_1


" Kalau begitu kakak nggak boleh pulang, kakak temenin aku disini." Ray tahu, Hana pasti akan menolaknya, karena terlihat dari mimik wajahnya yang merasa tidak nyaman sekarang, mungkin karena malu berat sepertinya.


" Nggak mau!" Hana langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


" Ya sudah, kakak tinggal pilih saja? boleh nggak nih?" Perkataan Ray sungguh membuat Hana kebingungan.


" Yaa.. ya gimana ya?" Gadis ini mencoba berfikir sejenak walau tetap tidak menemukan solusi.


" Tapi harus dibales loh ya, kalau nggak kita langsung pergi ke KUA sekarang, gimana?" Ray bahkan berani membuat ancaman yang membuat Hana seolah mati kutu.


" Ya sudah cepetan." Ucap Hana yang akhirnya sudah prustasi, dia tidak bisa menemukan ide untuk menolaknya, karena memang dia sendiri yang memulainya sedari awal walau tanpa kesadaran dari dirinya.


Namun jauh didalam lubuk hatinya, dia sebenarnya tidak menyesal dengan apa yang dia lakukan, karena pria itu memang sudah sejak lama mengoyahkan imannya, untuk tidak menyukai berondong di kehidupan percintaannya, karena dari dulu dia mendambakan sosok dewasa di kehidupannya.


Padahal sebenarnya dewasa itu bukan dilihat dari segi umurnya, namun dari kepribadian orang itu masing-masing.


" Ciee... malah jadi nggak sabaran, awas... jangan merem loh ya!" Dalam situasi yang seperti ini pun Ray masih sempat-sempatnya menggoda Hana, entah mengapa wajah Hana terlihat begitu lucu disaat panik seperti ini.


" Ray!" Umpat Hana yang malah jadi kesal sendiri.


" Kak, kalau kita pergi ke dapur ada Tabung Hijau atau Pink itu namanya apa?" Ray kembali membuat ulah dengan segala ucapan banyolannya.


" Gaasss?" Jawab Hana dengan ragu.


" Okey baiklah, kakak loh ya yang minta?" Ray langsung kembali menempelkan bi birnya perlahan, namun lama kelamaan dia mulai berani memperdalam civmannya hingga tubuh Hana kembali dia dorong agar menempel di dinding, untuk memudahkan serangannya kali ini.


" Raaaayyyyy... kamu dimana, dicariin uncle Mark ini?" Tiba-tiba terdengar suara kakaknya dari dalam rumah, yang berhasil menggangu konsentrasinya.


Padahal Hana baru saja ingin membalas serangan mautnya, saat dia mulai mengeksplore mulut gadis incarannya itu, namun halangan selalu saja hadir disaat lagi seru-serunya, dan akhirnya gagal mendapatkan sensasi indah begitu saja.


" Pffftttthhh... bye Ray!" Sebenarnya sudah sejak tadi Hana menahan tawanya.


Hana langsung mendorong kembali tubuh Ray dan meloloskan dirinya dari serangan Ray yang seolah menghentikan seluruh aliran darahnya dan berhasil membuat hati dan jantungnya menjadi tidak baik-baik saja.


..."Kehidupan adalah bunga dan cinta adalah madunya."...


..." Kehidupan percintaan sama dengan lukisan cat minyak, kesalahannya memang tidak bisa dihapus, tapi bisa diperbaiki dan akhirnya bisa menjadi indah dipandang mata."...


AYO YANG LAGI PADA SENYUM-SENYUM SENDIRI JANGAN LUPAKAN 'VOTE' nya LOH YAA...🥰

__ADS_1


__ADS_2