
...Happy Reading...
Perlengkapan senjata sudah siap, pasukan dari anak buah Simon Anderson pun sudah berada di posisi mereka masing-masing yang siap bertindak jika sudah mendapatkan arahan dari sang komandan.
Sedangkan Ray masih mencoba mengamati situasi disebuah gedung tua, yang dari luarnya terlihat terbengkalai tak berpenghuni, namun ternyata didalamnya bak rumah mewah, karena ternyata disitulah markas besar geng mafia itu berkumpul.
Sang pelaku yang hampir saja menghabisi nyawa Ganesh hari itu adalah anak buah dari geng mafia ini, karena suami dari mantan cinta sesaat Ganesh itu ikut bekerja sama dengan mereka jadi mereka ikut mengincar Ganesh, karena masih belum bisa terima jika istrinya ditikung Ganesh begitu saja.
" Gimana Ndan, apa kita sudah boleh menyerang sekarang? sepertinya mereka sudah lengah." Rekan Ray yang sekaligus teman curhatnya yang selalu mendampinginya kemanapun dia beraksi itu seakan sudah tidak sabar, tangannya sudah gatal untuk menyerang.
" Jangan, kita tunggu para pengawal itu lengah!" Ray masih terus melihat celah untuk melancarkan aksinya.
" Huh... aku sudah tidak sabar ingin menancapkan peluru ke kepala botaknya itu!"
" Bilang saja kamu sudah tidak sabar ingin melihat wanita bahenul itu dari dekat!" Disaat situasi siaga seperti ini pun mereka masih sempat bercanda bersama.
" Diiih... sory ya Ndan, aku nggak selera sama dagangan yang terbuka seperti itu!"
" Gayamu Ken!" Umpat Ray kepada rekannya yang bernama asli Kendrick itu.
" Apa anda tahu alasannya?" Ucap Ken sambil menajamkan pandangannya kearah para wanita seksih yang sedang begelayutan dilengan-lengan kokoh para pengawal itu.
" Apa an?" Tanya Ray sambil mengecek isi peluru didalam pistolnya.
" Aku nggak bisa ngerikin badannya, kalau nanti dia masuk angin bagaimana, hehe...!" Jawab Ken sambil terkekeh geli saat membayangkannya saja.
" Astaga, pelankan suaramu!" Ray memukul lengan rekannya karena terkejut dengan tawanya.
" Owh iya Ndan, bisa kita lanjut sesi love story anda yang tertunda kemarin?" Jawab Ken sambil terus mengamati keadaan sekitar.
" Tentu saja, Pasukan BLACK serang dari arah samping!" Tiba-tiba Ray memberikan arahan untuk menyerang.
" Astaga, terkejut aku!" Ken langsung kembali siap siaga, komandannya itu memang sering mengejutkan dia seperti itu.
" Pasukan YELLOW serang dari Belakang!"
" Pasukan GREEN serang dari atap!"
" Trus kita pasukan apa Ndan?" Tanya Ken sambil mengikuti langkah Ray perlahan.
" Kita pasukan berani mati, KEPUNG MEREKA SEKARANG!" Jawab Ray dengan kobaran semangat yang membara.
__ADS_1
DORRRR... DORRRR... DORRRR!
Ray langsung membidik dan menembakkan pelurunya kearah tangan-tangan mereka, agar mereka tidak bisa menyerang balik dirinya dan pasukan lainnya.
Suara riuh renyah terdengar dari para wanita penghibur yang dibayar khusus untuk melayani mereka yang haus akan belaian dan kasih sayang seorang wanita.
" Kita cari bos nya dilantai atas!" Ray mengajak Ken menuju ke lantai atas, meninggalkan para pasukan lainnya yang sudah bertebaran dan mengamankan mereka yang menurut dan menembak yang berusaha melawan.
" Sepertinya mereka punya ruang rahasia Ndan." Ken mengamati sebuah ruangan yang dikunci dengan sandi yang menyala di pintu.
" Berapa ukuran nomor celana kekasihmu!" Tanya Ray yang membuat Ken langsung memelototkan kedua matanya kearah Ray.
" Astaga, anda bercanda bos? nggak sekalian saja nanyain ukuran br a kekasihku?" Tanya Ken yang semakin terheran-heran dibuat oleh komandannya.
" Kalau kamu tahu mungkin itu lebih bagus!" Jawab Ray sambil mencoba menekan acak tombol berangka tersebut namun ternyata gagal.
" Empat puluh B!" Jawab Ken ngasal.
Nitt.. nitt.. nitt!
" Yes... berhasil, apa gw bilang!" Ray langsung tersenyum dan kembali menyiapkan senjatanya.
" Diam... jangan berisik! gunakan saja penutup wajahmu itu, kamu pikir hidup se 'HAHA' itu apa, mereka tidak sebodoh itu untuk membuat sandi dengan nomor br a ukuran kekasih khayalanmu itu!" Ucap Ray sambil mengeluarkan sesuatu, walau nyawa mereka adalah taruhannya, namun aksi mereka selalu dibikin asyik aja.
Dia sengaja membuka pintu ruangan itu sedikit dan melemparkan alat gas air mata kedalamnya dan segera menutupnya kembali dan mengunci gagang pintunya dengan borgol miliknya agar pintu itu sulit untuk dibuka kembali.
" Kita serang mereka dari atap!" Teriak Ray yang langsung berlari menaiki tangga menuju rooftop.
Dengan lihainya Ray dan Ken bergelantungan dari rooftop menuju jendela lantai dua dengan merayap sedikit demi sedikit ditembok yang ketinggiannya cukup memacu adrenalin.
" Haish... yang mana satu big bos mereka? semua pakai penutup wajah hitam!" Tanya Ken sambil mengamati dari atas.
" Pasti ada salah satu dari mereka, biar aku pilih dulu!" Ray langsung terdiam sejenak dan mulai mengamati targetnya yang terlihat berjalan tak tentu arah karena mata mereka tidak dapat melihat sekeliling ruangan.
" Cap Cip Cup! owh... pasti yang itu!" Ucap Ray yang seperti sedang memilih jawaban soal ujian ketika dia memang benar-benar tidak tahu jawabannya.
Doooorrrr... doooorrrr... doooorrrrr!
Ray langsung kembali menembak sasaran dari jendela ruangan itu.
" Kyaaa! apa seperti itu cara anda membidik musuh Ndan?" Ken kembali dibuat terkejut oleh kelakuan komandannya itu.
__ADS_1
" Hehe... jangankan musuh, nembak cewek aja sesuai sasaran kok." Jawab Ray sambil tersenyum dan langsung terjun ke lantai ruangan itu.
Brak!
Mereka berdua melompat dari ketinggian yang lumayan tinggi dan langsung menggelindingkan tubuh mereka masing-masing untuk mencari tempat bersembunyi, karena mereka masih belum tahu ada berapa orang musuh yang ada didalam ruangan itu.
" Owh ya Ndan? kemarin setelah anda menunggu selesai meeting, apa yang kalian lakukan berdua didalam ruangan?" Bisik Ken yang kembali mengkorek cerita Romansa komandannya kemarin sambil terus tetap waspada dengan musuh disekitar.
" Ciiih... terbuat dari apa isi pikiranmu itu?" Ray langsung mengarahkan senjatanya ke kepala Ken.
" Astaga Ndan, nanti terlepas pelurunya bisa melayang nyawaku, mana ceritanya baru separuh lagi, nanggung Ndan, cerita lah dulu!" Pinta Ken sambil memundurkan tubuhnya.
" Hehe... kita lanjut ya, tapi tetap waspada, jangan lengah dan jangan lupa tetap utamakan keselamatan." Ray langsung kembali terkekeh saat mengingat kelanjutan kisahnya kemarin, suasana yang tidak nyaman namun ternyata bisa membuat hati Raymond berbunga-bunga.
" Siap Ndan!" Jawab Ken dengan semangat, seolah dunia pergosipan itu menjadi penambah daya energinya kali ini.
" Kamu tau nggak kalau ternyata dibalik cuek dan ketusnya seorang perempuan itu ternyata menunjukkan rasa cemburu didirinya." Ucap Ray yang langsung berpindah tempat dan mencari posisi yang lebih dekat lagi dengan musuh.
" Haissh...maksudnya gimana Ndan?" Ken ikut berpindah mengekori tempat persembunyian Ray.
" Gimana mau ngejelasinnya kalau kamu saja masih jomblo kawan!" Ledek Ray.
" Heleh... nggak usah pamer deh, langsung to the point saja ke kisah selanjutnya! apa jangan-jangan sebenarnya anda ditolak dulu ya, trus anda ngemis-ngemis cinta begitu?" Ledek Ken yang kesal karena merasa di ejek status jomblonya.
" Eiiiitttsss... sory! biarpun dia sering menolakku berulang kali, tapi kali ini dia yang maju duluan, hehe?" Jawab Ray dengan bangga dan dengan sigap mengisi kembali peluru didalam pistolnya.
" Maksud anda dia yang menyerang komandan duluan begitu? woaaaah..."
" Intinya Kesabaran itu penting dalam menghadapi gadis yang punya watak 'jinak-jinak merpati." Ray kembali mengeluarkan kata bijaknya.
" Trus?"
" Terus.. terus! tembak dulu musuh kamu itu, dia ada diarah jam tiga!" Umpat Ray sambil menyenggol lengan Ken yang malah melongo.
Otak si kepo Kendrick pun langsung membayangkannya, seolah dia ikut menyaksikan adegan dua manusia yang sudah saling jatuh cinta, namun terhalang oleh gengsi gede-gedean salah satu darinya.
...“Kesabaran adalah kekuatan. Kesabaran bukanlah tidak adanya tindakan, melainkan adalah “waktu” untuk menunggu di saat yang tepat untuk bertindak, dan untuk prinsip-prinsip yang benar dan dengan cara yang benar."...
..."Tidak ada keuntungannya untuk bergegas dalam kehidupan karena Kesabaran itu pahit, tapi buahnya manis.”...
TO BE CONTINUE...
__ADS_1