Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
82. Bahasa Cinta.


__ADS_3

...Happy Reading...


Disaat Hesti masih melongo, bingung dengan jawaban yang harus dia utarakan, ternyata mobil mereka sudah berhenti di pekarangan rumah yang cukup sederhana, namun sangat bersih dan asri, dikelilingi oleh pagar dari pepohonan yang di potong sedemikian rupa, dan halaman yang dipenuhi dengan rumput hijau, sangat indah dan menyejukkan hati.


" Apa benar disini om?" Tanya Ganesh sebelum dia turun dari mobil.


" Owh... iya... benar sekali, itu rumahnya. Ayo kita turun." Arka langsung melupakan ucapannya kepada Hesti dan memilih turun dari mobil.


" Hes... woi... Hesti? kamu nggak mau turun, malah bengong lagi ni orang!" Adelia menggebrak pintu mobil Hesti dari luar.


" Tunggu Del... tunggu!" Hesti tidak segera turun, dia malah menurunkan kaca jendelanya dulu.


" Ya udah turun, ngapain juga kamu masih nangkring disitu?" Adelia langsung berkacak pinggang kearah sahabat gilanya itu.


" Del... kamu denger juga tadi kan, apa om Arka tadi bermaksud nembak aku?" Tanya Hesti yang seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


" Kamu mati enggak?" Tanya Adelia yang menatap wajah sahabatnya yang ternyata sudah merah merona.


" Bukan nembak mati Adelia Aghata! paham nggak sih luu bahasa cinta?" Umpat Hesti dengan kesal.


" Bahasa cinta apaan sih Hes? Om Arka pasti cuma bercanda doang tadi, jangan baperan deh jadi orang, apa kamu lupa perkataan dia yang sebelumnya?" Adelia langsung terkekeh sendiri sambil menyandarkan kedua tangannya di jendela mobil.


" Yang mana?" Otak Hesti seakan sudah ngeblank karena terlalu hanyut dengan perasaannya sendiri.


" Om Arka nggak mau mikirin jodohnya, dia mau Dimas saja yang menikah." Ucap Adelia sambil tersenyum miring.


" Iya juga sih? tapi kenapa dia malah nembak gw tadi?" Geruti Hesti dengan lemah.


" Itu kenapa gw saranin, kamu sama Dimas aja, noh... orangnya datang, ganteng begitu kok, pintar lagi, dia sebentar lagi jadi Dosen tuh, kurang apa coba Dimas, he's perfect Man, right?" Adelia menunjuk Dimas yang baru saja keluar dari mobil ayahnya.


" Ckk... orang aku suka sama bapaknya kok, kalau dia perfect kenapa nggak kamu nikahin aja dulu? kenapa milih kak Ganesh coba?" Umpat Hesti yang langsung mendorong pintu itu dengan keras, sehingga membuat tubuh Adelia hampir jatuh kebelakang.


" Astaga Adelia?" Dimas langsung berlari dan menangkap tubuh Adelia agar tidak terjatuh di rumput hijau itu.

__ADS_1


Ganesh yang mendengar nama istrinya disebut langsung kembali menoleh kebelakang, dan saat melihat Dimas memegang tubuh Adelia, seolah biji matanya sudah mau keluar, dan siap mematuk mangsa dari pihak lawan.


" Jangan sentuh istriku!" Ganesh langsung berlari dan menarik Adelia kedalam pelukannya.


" Ciih... lebay!" Umpat Dimas yang langsung meninggalkan mereka dan memilih masuk kerumah saudaranya menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu masuk kedalam.


" Cemburumu merantai hati... melenguhkan semangat diri.. bila aku kenangkan kemanisan lalu.. semua itu ku ketepikan.." Hesti yang melihat adegan itu langsung mulai bersenandung ria, dan menyindir mereka, seolah pasangan suami istri itu menjadi hiburan atas kekecewaan dirinya saat mengingat ucapan Adelia tentang Arka tadi.


" Andai ku turut rasa hati.. telah jauh ku bawa diri.. tapi kemaafanku lahir dari hati.. Mengatasi.." Dimas yang memang suka lagu Melayu langsung ikut bernyanyi meneruskan lirik lagu dari Hesti.


" Tuh kan, kamu itu cocoknya dengan anaknya, ngapain sih ngincar bapaknya!" Ucap Adelia yang langsung mengejar langkahnya.


" Sssst diam! asal kamu tahu ya Del, yang berpengalaman itu lebih menawan." Ucap Hesti dengan mantap.


" Sotoy luu!" Adelia langsung menyenggol lengan sahabatnya dan akhirnya mereka tertawa bersama.


Jalan Tuhan memang tidak pernah bisa di duga oleh siapapun, dan tidak pernah disangka oleh umatnya, asalkan mereka percaya, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.


Apalagi ibunya Arka yang rambutnya sudah terlihat memutih itu, namun masih terlihat cantik dengan wajah yang sudah berkeriput. Beliau sengaja datang kerumah saudaranya karena Arka juga menghubunginya kalau dia akan berkunjung kesana.


" Nak Mala.." Saat pandangan pertama saja, ibu Arka langsung mengenali Mala.


" Ibu? ehh... tante?" Jawab Mala langsung berjalan mendekat dan mencivm jemari ibu Arka.


IBU? iya... dia memang seharusnya jadi ibumu dulu, namun ternyata Tuhan punya kehendak lain.


Arka tersenyum saat melihat keduanya saling bersalaman dan bahkan saling berpelukan.


" Eherm.. ehermm.." Carlos yang melihat Arka tersenyum langsung berdehem ria.


" Kamu sehat nak? kamu masih terlihat cantik loh sampai sekarang?" Ucap Ibu Arka yang tersenyum bahagia, dia mengingat jasa Mala saat keadaan Arka terpuruk dulu, dan tidak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun itu.


" Ahh.. tante bisa saja, anak saya sudah besar-besar tante." Jawab Mala merasa malu sendiri jadinya.

__ADS_1


" Kalau begitu kita masuk ya?" Ibu Arka langsung memeluk pinggang Mala untuk masuk kedalam ruangan itu.


Andai dulu ibu membela Mala saat dia datang kemari, sudah pasti sekarang dia yang jadi anakmu Mah.


Senyuman Arka tidak bisa surut melihat keakraban mereka berdua.


Kenapa mereka seakrab itu? kayak seneng banget ketemu ibunya Arka, awas saja nanti sampai rumah, aku buat kamu nggak bisa bangun dari ranjang sayang!


Lain Arka lain pula sikap Carlos, yang memilih membuang pandangannya ke halaman rumah yang sejuk.


Dan perbincangan mereka pun dimulai, tidak ada yang merasa keberatan dengan keputusan saudaranya Arka, karena itu memang kemauannya sendiri, menjadi orang yang berguna disisa-sisa hidupnya.


" Terima kasih pak, bapak telah sudi menolong putra kami." Ucap Carlos sambil menjabat tangan pria yang sudah lemah itu.


Bahkan dia sudah tidak mau dibawa kerumah sakit, karena memang sudah tidak ada perkembangan lagi, dan uang mereka pun sudah habis untuk biaya pengobatannya.


" Aku senang bisa membantu putramu, setidaknya kedua ma taku masih bisa melihat putriku sampai dia tumbuh dewasa nanti, walau bukan dengan tubuhku." Jawab pria itu dengan perlahan.


" Terima kasih pak, semoga ini menjadi ladang pahala dan amal bapak sekeluarga ya." Jawab Carlos yang sangat terharu akan kebaikan bapak itu, karena ternyata masih ada orang sebaik itu di muka bumi ini, bahkan tidak meminta syarat apapun sebagai timbal baliknya.


" Kapan kalian akan melakukannya, aku sudah siap lahir batin." Ucapnya kembali.


" Hmm... Carlos, bisa kita bicara sebentar diluar?" Arka langsung memegang bahu Carlos saat mendengar penuturan saudaranya.


" Tentu." Jawab Carlos yang langsung menyanggupinya.


" Kami keluar sebentar ya paman, ada beberapa hal yang harus kami bicarakan, paman lanjutkan istirahat saja dulu." Ucap Arka sambil memegang tangan pamannya yang sudah seperti tinggal tulang saja.


Berulang kali dia membujuk pamannya agar mau berobat di kota atau keluar negri, namun dia tidak pernah mau, karena memang harapannya sudah tipis dan tidak kuat lagi harus berpergian jauh, dia hanya ingin menikmati sisa umurnya di kampung halaman tercinta.


..." Tidak ada hidup tanpa masalah, dan tidak ada perjuangan tanpa rasa lelah, tetap semangat sampai Bismilah mu menjadi Alhamdulilah."...


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


__ADS_2