
...Happy Reading...
Jantung dihatiku semakin berdetak kencang saat ini, takut kalau melewatkan sesuatu yang mungkin akan membuatku menyesal bahkan untuk seumur hidupku.
Sayup-sayup aku mendengar obrolan mereka, disela deru nafasku yang masih ngos-ngosan walau hanya lari sekejab saja, waktuku yang selalu habis untuk bekerja membuatku jarang sekali berolahraga sekarang.
Walau mama Shanum sering mengomel tiap pagi mengajakku ke ruang Gim untuk sekedar melemaskan ototku, namun aku memilih untuk bersembunyi dibawah selimut dan melanjutkan mimpiku.
Saat aku sudah sampai didepan pintu, dengan wajah yang mungkin terlihat kebingungan. Aku mencoba mengabsen satu persatu, siapa saja yang ada didalam ruang tamu yang sudah seperti lapangan basket itu.
Semua yang ada disana komplit dari genk mama beserta pasangan mereka masing-masing, ditambah ada beberapa pria yang aku belum begitu mengenalnya, juga ada Hesti, wanita yang pernah membakar api cemburuku sampai gosong.
Namun setidaknya aku sedikit lega, karena tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan orang-orang terdekatku. Padahal tadi aku sempat membayangkan jika ada yang terluka dan ada suara tangisan disini, masih baik itu tidak terjadi saat ini.
" Ray... Hana sudah datang itu." Terdengar suara Adelia memanggil pria bucin kesayanganku.
" Owh... kak Hana? kamu sudah sampai?" Dia langsung menoleh kearah pintu tepat dimana aku berdiri saat ini.
Entah mengapa walau baru hampir seminggu ini aku tidak bertemu langsung dengannya, seolah lelakiku ini terlihat lebih tampan daripada hari-hari biasanya, atau mungkin ini efek karena aku terlalu merindukannya, atau memang aku baru menyadarinya, akupun tidak tahu.
" Hmm... ya, maaf aku terlambat." Jawabku perlahan, padahal memang aku tadi sengaja membuat lambat, bahkan mampir dibeberapa tempat terlebih dahulu untuk mengulur waktu.
" Aku kira kamu minta izin cuti mau kesini nak, ternyata tidak, tadi kamu kemana nak?" Tanya Papa Mark sambil menyeruput kopinya yang masih tertinggal setengah gelas.
" Aku ada urusan sedikit pa di luar." Aku berusaha menutupi segala kebohonganku dibalik senyuman.
" Dengan siapa?" Ray langsung angkat bicara.
" Dengan teman lamaku dulu." Sudah aku duga, kekasih bucinku ini pasti langsung curiga.
" Namanya?"
" Perempuan kok, temen masa SMA dulu."
" Aku kan cuma tanya nama, kenapa kakak sebut genre, takut banget kalau aku marahin kakak ya, sesayang itu kakak denganku?" Ucap Ray yang langsung membuatku melotot kesal kearahnya, walau mungkin dia tidak melihatnya.
__ADS_1
" Hahahaha.." Mereka semua malah tertawa, sepertinya mereka semua sudah tahu hubunganku dengan Ray.
" Sini kak duduk disampingku." Pinta Ray tanpa rasa segan apalagi malu, walau ada kedua orang tuaku disana.
" Aku disini saja."
Aku memilih menghempaskan buntutku di sofa disebelah mama saja, karena aku terlihat menjadi sorotan sekarang, seolah aku menjadi pelaku utama dalam film bertemakan kejahatan.
" Kenapa sih kak, merasa berdosa karena sudah membohongi kekasihmu ini? duduk sinilah." Rengek Ray kembali sambil menepuk sofa disampingnya.
Entah mengapa kepercayaan dirinya sudah kembali tumbuh seperti sedia kala, biasanya dia lebih memilih diam, apa karena sudah aku cas full hari itu, entahlah... hanya dia yang tahu. Jadi aku memilih mengalah saja dan menuruti semua kemauan Ray.
" Wah... jiwa mudaku seolah kembali saat melihat tingkah mereka berdua." Ucap Papa Mark yang hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat kami secara bergantian.
Plak!
Mama Shanum langsung memukul lengan papa dengan keras, seolah marah dengan ucapan suaminya.
" Bisa adu taekwondo ini nanti kalau tidak dipisahkan!" Raras langsung nyeletuk saja saat melihat sahabatnya.
" Lagian masa lalu kelam saja diingat-ingat, kayak nggak ada kerjaan lain saja." Simon pun tak kalah membumbui suasana siang itu.
Entah kelam yang seperti apa pun aku tidak tahu, karena mama dan papa tidak pernah menceritakan kejadian masa lalu yang buruk, selalu yang romantis dan yang indah-indah saja selama ini.
" Tidak apa-apa, semua pasti punya kenangan buruk, tapi satu yang ku pesan, jaga keperjakaanmu itu sampai kamu sudah mendapatkan sertifikat halal untuk mendapatkan semua dari putriku, mengerti Ray?" Mama Shanum seolah memberikan kultum di siang bolong.
" Uhuk.. uhuk.."
Walau belum makan apa-apa disana, tenggorokanku tiba-tiba menjadi kering, seolah ada yang mengganjal di leherku, bahkan seperti padang pasir yang tidak disirami hujan selama satu abad saja.
Ingin rasanya aku membuat lubang ditumpukan salju dan berendam didalamnya, agar rasa maluku ikut membeku disana tanpa ada yang melihatku.
Karena lagi dan lagi, ini salahku, ini dosaku..
" Pffftthhh." Ray langsung membungkam mulutnya sendiri begitu juga dengan Ganesh yang langsung membuang arah wajahnya kebelakang karena langsung tertawa dengan nada mengejek.
__ADS_1
" Apa sih yang lucu kak, aunty Shanum lagi ngomong serius itu." Adelia memukul lengan suaminya, bahkan tubuh suaminya sampai berguncang karena menahan tawa.
" Benar sekali itu, jangan coba-coba melakukannya ya Ray, apalagi dengan putriku, karena kamu akan menyesal nantinya." Papa Mark kembali berbicara.
" Andai papa dan mamamu tahu, siapa yang sudah merenggut keperjakaanku, beliau pasti menyesal sudah bicara seperti itu sekarang."
Aku yang sudah berpindah tempat duduk disamping Ray langsung mencubit pinggangnya dengan kesal saat dia berbisik ditelingaku.
" Aw... aw..." Sontak Ray langsung menjerit.
" Kenapa Ray?" Semua mata beralih kepadanya, seolah dia adalah barang berharga yang tidak boleh diusik apalagi sampai dibuat lecet sedikitpun.
" Tidak papa, memang banyak anak muda jaman sekarang yang tingkah dan kelakuannya sulit kita duga."
" Contohnya?" Ganesh langsung ikut berargumen disela-sela senyumannya.
" S€ks bebas!" Bukan Ray yang menjawab, namun Mala yang ikut memberikan jawabannya.
" Memang, itu adalah hal yang harus kalian jaga, jangan memikirkan rasanya saja, pikirkanlah akibatnya dikemudian hari, jangan punya pikiran bersumbu pendek, yang melampiaskan hawa nafsv kalian hanya dengan kesenangan sesaat, bukan begitu pah?" Mama Shanum langsung berbicara panjang lebar seperti kereta api yang tidak mau berhenti sebelum sampai di Stasiun kereta.
" Eherm... betul sekali sayang." Jawab Papa Mark yang langsung menengak kopinya yang masih tinggal sedikit.
" Benar sekali itu om dan tante, saya pun setuju dengan argumen itu, tapi kalau memang sudah terlanjur kejadian ya mau gimana lagi, yang penting tujuan akhirnya menikah nanti." Ray bahkan menunjukkan aktingnya yang luar biasa itu.
Tangan kokohnya melingkar dipinggangku, bahkan sengaja menggelitikiku dengan posisi begini.
" Emang siapa yang sudah terlanjur kejadian? siapa yang sudah kebobolan?" Mama Shanum menaikkan kedua alisnya, jiwa kepo sang emak-emak mulai muncul disana.
" Hayolo?" Ganesh langsung menarik kedua sudut bibirnya.
" Heh?" Ray terlihat sedikit terkejut karena kelepasan bicara.
Astaga.. ini yang aku takutkan, kenapa Ray tidak bisa menjaga lisannya, lebih baik diam daripada membongkar aib sendiri.
..."Bahagia itu sederhana, di mana hati selalu bersyukur atas apa yang kita dapat."...
__ADS_1
..."Mendengarlah dengan sabar. Berbicaralah dengan bijaksana. Berdirilah dengan tegar. Bersikaplah dengan sederhana."...
TO BE CONTINUE...