Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
35. Duren


__ADS_3

...Happy Reading...


Kecemburuan dalam asmara ibarat seperti garam dalam makanan. Sedikit dapat meningkatkan rasa, tetapi jika terlalu banyak dapat merusak kesenangan dan dalam keadaan tertentu bahkan mungkin dapat mengancam jiwa.


Namun hati siapa yang tidak terbakar, jika kedatangan seseorang dari masa lalu istrinya, yang kisah cintanya berakhir dengan tragis, disaat hati mereka masing-masing masih saling terpaut.


" Siapa itu ya? keren banget jalannya, kayak pernah lihat tapi dimana ya?" Mala mengoceh sendiri dengan perlahan, dia masih berdiri disamping Carlos sambil menyalami tamu undangan yang keluar masuk, Mala seolah terkesima dengan sesosok pria yang terlihat sedikit kebingungan saat turun dari mobil sport berwarna hitam itu.


" Siapa sih yank?" Carlos mengikuti arah pandang kedua mata istrinya.


Bahkan sampai anak mereka sedewasa sekarang, Carlos masih enggan mengubah panggilan ayank kepada Mala, walau sering diledekin sama putra putrinya namun dia seolah tidak perduli, dia selalu mengatakan bahwa panggilan ayank itu akan berakhir jika dirinya sudah tidak lagi bernafas di dunia ini.


" Ngapain kamu undang dia, kamu sengaja ya!" Entah mengapa Carlos sama sekali tidak melupakan wajah pria yang sedang berjalan menuju kearah mereka.


Siapa sih? kenapa ayahnya anak-anak ini terlihat kesal sekali saat melihatnya.


" Aku nggak tau Ay?" Mala kembali menajamkan kedua matanya disaat Carlos terlihat kesal.


" Bohong kamu! kenapa? mau CLBK lagi kamu? disaat hari pernikahan anak kita? ini nggak lucu sayang!" Carlos yang sudah lama tidak pernah mengeluarkan kemarahan karena api cemburu, tiba-tiba kembali meradang saat rambutnya kini sudah mulai memutih.


Astaga! apa dia mas Arka? ya Tuhan... beneran itu mas Arka? tapi kenapa dia bisa tahu kalau aku ada disini?


Disaat Arka melepas kaca mata hitamnya, barulah Mala ingat dengan jelas, dialah pria masa lalunya yang paling berkesan dimasa remajanya saat dahulu kala.


" Permisi?" Sapa Arka sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.


" Mas Arka?" Sapa Mala yang seolah masih tidak percaya, setelah berpuluh-puluh tahun tidak pernah bertemu, tiada angin tiada hujan mereka bisa bertatap muka kembali.


" MALA?" Arka pun tak kalah terkejut saat wanita yang dulu pernah menjadi separuh jiwanya, bahkan sekaligus menjadi penyelamat hidupnya disaat dia terpuruk dengan keadaan, bisa bertemu lagi tanpa rencana atau temu janji.


" Hehe... iya mas." Mala tersenyum kikuk sambil melirik wajah masam Carlos.


" Nggak usah senyum-senyum, nanti pipi kamu kram lagi, susah mijitnya." Umpat Carlos yang langsung memeluk pinggang istrinya dengan erat.


" Kamu apa kabarnya Mala?" Arka mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


" Baik mas, aku---" Mala ingin menyambut uluran tangan itu namun langsung ditarik oleh Carlos.


" Ingat protokol kesehatan, di zaman pandemi seperti ini, sangat tidak disarankan untuk saling berjabat tangan." Carlos bahkan tidak mengizinkan tangan mereka bersentuhan sedikitpun.


" Astaga yank, cuma salim doang ini." Mala merasa tidak enak hati sendiri jadinya.


Bahkan dulu masa pacaran saat kami bertemu langsung cipika cipiki lamaa banget ay, habis seluruh wajahku ini dia kuasai!


Ingin sekali Mala bilang seperti itu, namun dia kembali sadar, itu hanya masa lalu yang tidak perlu diingat kembali, apalagi untuk dipraktekkan.


" Lagian dia juga sudah terlihat baik-baik saja begitu, ngapain pakai acara basa-basi segala." Selama perjalanan pernikahannya, hanya Arka lah yang bisa membuat Carlos se cemburu ini.


Astaga.. rambut sudah mulai berwarna polkadot saja masih cemburu sama aku, hmm... beginilah nasib mantan terindah.. tapi Mala tetep saja masih cantik dan menggemaskan seperti dulu, semoga kamu bahagia selalu ya Mala.


" Aku sudah di vaksin kok, bahkan sampai tiga kali, jadi amanlah dari virus-virus yang membandel." Ucap Arka dengan santainya, dia hanya bisa mengumpat didalam hati saja.


" Kita mana tahu, virus kan tidak terlihat, jadi tetap jaga jarak, patuhi protokol kesehatan, kalau perlu pakai lagi maskernya." Ucap Carlos dengan lantang.

__ADS_1


" Sudahlah dad, semua yang masuk ke sini sudah dicek semua didepan, jadi tidak ada masalah okey?" Mala mencoba menjadi pihak penengah disana.


" Sejak kapan kamu panggil aku dad? biasanya kan kamu panggil aku Ayank!" Carlos merasa tidak terima jika istrinya tidak memanggilnya dengan mesra, apalagi didepan Arka, sang mantan kekasih yang pergi disaat sayang-sayangnya.


" Astaga... iya ayank."


" Kurang keras manggilnya, aku belum dengar dengan jelas!"


" Aduh Gusti... iya anyangku sayang, jangan marah-marah dong, mau aku ambilkan minum saja?" Mala memilih mengalah daripada Carlos semakin meradang nantinya.


"Aku nggak butuh air, aku cuma butuh kamu selalu ada disampingku seumur hidupku, itu saja." Carlos berbicara sambil meletakkan kedua tangannya diwajah Mala.


" Wuidiih... ternyata ada mas mantan, pantesan heboh!" Ucap Shanum yang datang bersama Raras sambil tersenyum-senyum sedari tadi.


" Arka, gimana kabarnya?" Raras pun bertanya tanpa mendekat kearah Arka, dia memilih cara aman saja, karena Simon pasti mengawasinya dari kejauhan.


" Baik, aku senang kalian masih bersahabat sampai sekarang, sungguh persahabatan yang sangat mengesankan." Ucap Arka yang ikut tersenyum dengan manisnya.


" Owh iya, kamu dapat undangan juga ya? kapan pulang sih?" Tanya Shanum seketika.


Dan pertanyaan itu lah yang sedari tadi ingin Mala tanyakan, namun dia merasa segan, takut jika menyingung perasaan Arka nantinya.


" Owh... bukan aku yang dapat undangan." Jawab Arka kembali tersenyum.


" Terus?" Carlos langsung angkat bicara.


" Ayah?"


Sebelum Arka menjelaskan tentang maksud kedatangannya, tiba-tiba terdengar suara panggilan dari dalam, yang ternyata adalah Dimas.


" Wow... apa dunia sesempit ini?" Raras bahkan sampai melongo tadi.


" Ahaii... masih baik Dimas nggak menikah sama Adelia, kalau sampai terjadi bisa hancur dunia persilatan, hihihi.." Shanum langsung berbisik disamping telinga Raras.


" Tapi seru juga kali ya besanan sama mantan apalagi mantan teruwuw, bisa sambil nostalgia gitu." Tiba-tiba muncullah ide perghibahan diantara mereka.


" Yang benar saja, bisa gaswat nanti, kalau ada syaiton lewat bahaya Ras."


" Bahaya kenapa?" Tanya Raras yang langsung semangat menghibah.


" Bisa terjadi hal-hal yang kita inginkan, hihihi!"


" Lah iya toh, kamu bayangin aja deh, kalau berdua aja sama mantan dirumah, trus inget kenangan-kenangan manis diantara mereka, apa nggak uwooow nanti, hihihi.."


" Iya juga ya, pesona mantan memang sering tidak terkalahkan." Disaat terjadi ketegangan diantara mereka bertiga, Raras dan Shanum malah asyik saling berbisik, namun ternyata suaranya sampai ditelinga Carlos, membuat kedua mata tajamnya langsung terarah kepada mereka berdua.


" Tenang saja, aku sama sekali tidak berniat untuk menggangu acara kalian dan sama sekali tidak kepikiran untuk menjadi tamu tak diundang, aku kesini cuma mau nganterin ponsel Dimas yang ketinggalan di mobil saja." Arka tahu benar bagaimana posisinya saat ini.


" Nggak kok mas, sama sekali tidak menggangu, Dimas dan Adelia adalah sahabat lama dan aku kenal baik dengan Dimas, kami sering ngobrol bareng kalau Dimas lagi main kerumah." Ucap Mala yang semakin merasa tidak enak hati saja.


" Yank." Carlos kembali mengeratkan tangannya di pinggang istrinya.


" Emang iya, mereka temenan udah lama ay." Mala berbisik disamping suaminya.

__ADS_1


Pantas saja, senyuman dan kata-katanya sering mengingatkan aku padanya, ternyata kamu anaknya.


Entah mengapa Mala memang sangat akrab dengan Dimas, karena selain sopan santunnya baik, dia juga satu-satunya teman pria Adelia yang dulu terkadang sering antar jemput ke kampus.


" Maaf ya Mala, aku sungguh tidak tahu jika ini acara pernikahan anak kamu, tadi aku cuma skalian antar putraku saja." Inti dari perghibahan Raras dan Shanum ternyata terdengar juga ditelinga Arka.


" Beneran mas, ini bukan sesuatu yang salah kok." Ucap Mala kembali, sedangkan dua sahabatnya hanya bisa menahan senyuman saat melihat raut wajah Carlos yang terbakar api cemburu.


" Dimas, ajak ayah kamu masuk, Adelia pasti seneng bisa kenalan sama ayah kamu."


" Eherm... Adelia apa mommynya nih?" Raras dan Shanum kembali membuat suasana menjadi keruh.


" Diem kalian berdua." Umpat Mala sambil mengeratkan giginya karena kesal.


" Ayok yah, aku kenalin sama Adelia, dia gadis yang selama ini aku sering ceritain." Dimas yang memang tidak tahu apa-apa tentang hubungan ayahnya dengan mommy sahabatnya malah terlihat antusias untuk memperkenalkan mereka.


" Maksud kamu apa yank? masih mau lihat dia berlama-lama lagi disini, begitu?" Carlos berbicara pelan tapi menekan.


" Hiss... nggak boleh gitu ay, mereka teman baik loh, Dimas itu anak yang baik kok, nggak pernah macem-macem sama Adelia, ayank tau juga kan Dimas itu seperti apa?"


" Terus... terus saja puji anaknya, awas saja sampai berani memuji ayahnya, aku hukum habis-habisan nanti malam kamu!" Carlos langsung membuntuti Mala saat dia ikut masuk kedalam mengantar mereka.


" Heh... Dimas? tunggu sebentar." Sebelum mereka menaiki panggung Mala teringat satu kejadian yang sering diceritakan oleh Adelia.


" Iya tante, ada apa?" Tanya Dimas langsung kembali menoleh, Arka pun ikut memandang ke arah Mala.


" Hari itu Adelia pernah cerita kalau mama kamu me... meninggal, jadi itu---? Mala seakan kembali tidak percaya jika wanita kuat yang sering Adelia dan Dimas ceritakan kepadanya adalah sosok wanita yang pernah dia minta untuk menjaga dan menyayangi mantan kekasih sendiri.


" Waduuuh... ada Duren jatuh Ras." Celetuk Shanum yang seolah kembali membakar emosi Carlos yang tadi sudah mulai mereda.


" Haiyah... pesona mantan saja sulit terlupakan, apalagi ditambah jadi Duren, lengkap sudah ini Num!" Raras kembali dibuat takjub dengan segala ketidaksengajaan ini.


" Woaah... Bumi gonjang ganjing Langit ketar ketir ini nanti Ras, kita kabur saja yok, sebelum kena semburan lahar panas dari gunung berapi cemburu, hihihi.."


" Aisssshhh! aku bubarkan saja acara resepsi malam ini." Umpat Carlos yang langsung berkacak pinggang.


" Apaan sih Ay, jangan begitu!"


" Kenapa? kamu ingin berlama-lama ngobrol dengannya? mau cerita tentang masa lalu kalian? senang kamu? apalagi dia sudah jadi duda sekarang?"


" Ayank... jangan kelewatan begitu dong, kasian mereka loh." Mala memasang wajah cemberutnya, dia sungguh tidak menyangka jika suaminya masih menganggap Arka sebagai rivalnya, padahal semua sudah berlalu begitu lama.


" Wait... wait...! ada apakah ini gerangan?"


" Apa perlu aku ambilkan borgol sekalian? atau pistol mungkin?"


" Baju tahanan sekalian nggak nih?"


" Ide yang bagus itu, biar tambah meriah acara kita malam ini!"


" DIAM, DASAR DUO KADAL!"


Kali ini sepasang suami istri itu kompak berteriak dan melotot, ketika dua sahabat lama yang sudah menjadi saudara itu, tiba-tiba muncul dengan istri-istri kembar mereka dari arah pintu masuk, sampai setua itu pun, mereka masih sering main ledek-ledekan, apalagi ada bahan pembullyan seseru ini, sudah pasti tidak akan mereka sia-siakan begitu saja.

__ADS_1


... " Masa lalu tak hanya memberikan kenangan, namun juga mengenalkanmu akan makna kehidupan."...


..." Bersyukurlah karena Tuhan memberikan kenangan, karena disanalah kita belajar untuk bisa menjadi lebih dewasa."...


__ADS_2