Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
84. Angin Segar


__ADS_3

...Happy Reading...


Ternyata tanpa diduga hujan angin disore itu, berlangsung cukup lama, bukan semakin terang namun malah semakin deras saja sampai malam menjelang, bahkan sudah muncul dalam berita bahwa jalan satu-satunya ke arah kota tertutup karena beberapa pohon besar tumbang dan menutup jalan, sehingga kendaraan tidak bisa melintas.


" Astaga Mom, sepertinya kita tidak bisa pulang malam ini." Adelia berulang kali mengecek suasana di luar rumah.


" Kalian menginap saja disini, tapi maaf kalau tempatnya seadanya, karena untuk mencari hotel sepertinya tidak mungkin, jalannya tidak bisa dilalui." Ucap Arka yang tidak tahu harus berbuat apa.


" Tidak apa-apa Om, begini juga bagus, terlihat keren kebersamaannya, yaa kan Del?" Ucap Hesti yang malah terlihat gembira saat mereka terjebak dalam cuaca buruk disana.


" Gue tau akal bulusmu, bilang aja kamu mau tidur sambil liatin om Arka kan?" Bisik Adelia disamping telinganya.


" Woah... kamu memang selalu tahu apa yang gw mau, siapa tahu bisa jadian ntar malam, walau didalam mimpi, hihi." Hesti mengedipkan satu matanya kearah Adelia.


" Hesti... kamu tidur dibawah nggak papa kan?" Dimas berjalan mendekatinya.


" Nggak papa mas, aku sudah biasa tidur lesehan, jadi tidak masalah." Jawab Hesti yang tetap terlihat santai.


" Ehermm... sepertinya ada angin segar nih!" Ucap Adelia saat melihat Dimas berjalan mendekat kearah mereka.


" Apaan sih Del, kamu sih enak kalau kedinginan ada yang dipeluk, lah kita yang jomblo ini bisa apa? hanya bisa saling menyemangati ya kan Dimas?" Ucap Hesti yang akhirnya bisa membuat seorang Dimas tersenyum terus menerus.


" Itu ada kaki meja nganggur kalau mau kamu peluk Hes, dijamin halal nggak akan dosa." Ledek Ganesh yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.


" Jangan kaki meja Hes, nanti bisa benjol kepala kamu kalau kejedot, nih... om ambilin bad cover untuk kalian berempat, dan ini guling buat kamu Hesti, lebih aman meluk ini dari pada kaki meja." Ucap Arka sambil meletakkan bad cover tebal milik pamannya diatas meja.


" Waaaah... om itu memang satu tiga empat deh?" Ucap Hesti yang kembali dibuat terpesona oleh sesosok Arka.


" Apa itu satu tiga empat?" Tanya Arka yang langsung memicingkan kedua matanya karena heran dengan ucapan Hesti.


" Om memang Tiada Dua nya, hehe..." Jawab Hesti yang sudah mengeluarkan aji-aji pergombalannya.


" Bahahaha... bisa aja kamu mbakyu, jualan jamu ya!" Ledek Adelia yang hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar celotehan Hesti.


" Duda memang meresahkan ya Del?" Bisik Hesti kembali.


" Sudah gila kamu yan Hes?" Adelia langsung melotot.


" Nggak dibales nih Om?" Tanya Hesti yang terlihat mengharap digombalin juga oleh Arka.

__ADS_1


" Dibales apa? nggak ngerti om bahasa-bahasa seperti itu." Jawab Arka yang sebenarnya menahan senyuman.


" Haisssh... coba ada Ray, pasti seru ini dunia pergombalanku!" Ucap Hesti yang langsung mengingat sosok Ray yang selalu bisa membalas gombalannya tanpa berfikir panjang.


" Ray? kenapa dengan Ray? apa kamu bisa menghubunginya Hes, sinyal di ponsel kami hilang, aunty kasian dengannya, dia cuma sama bibi di rumah?" Mala langsung ikut nimbrung saat nama Ray disebut.


" Sama aunty, sinyal di ponselku pun hilang, mungkin karena hujan deras aunty." Jawab Hesti sambil menunjukkan ponselnya.


" Haduwh... Ray gimana ini? mommy khawatir dengan dia? Hana jadi datang nggak ya?" Mala langsung kembali panik sendiri.


" Sayang... tenang dong, tidak akan terjadi apa-apa dengan Ray kita, dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik, kamu lupa siapa Ray?" Carlos mencoba menenangkan istrinya yang terlihat gelisah.


" Hmm... Ray sedang apa ya Ay, malang sekali nasipmu nak?" Mala menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya sambil mengingat putranya yang berada di kota lain.


🍃🍃🍃


Praaaaanggg!


Tanpa sengaja Ray menyenggol lampu tidur yang berada diatas mejanya, karena tiba-tiba dia haus saat terbangun dari tidurnya dan ingin meminum air yang sudah bibinya siapkan diatas meja.


" Tuan muda, apa yang terjadi? bibi masuk ya?" Tanya si Bibi yang masih stand by didepan pintu.


" Benarkah, apa anda yakin Tuan?" Bibi pun tidak berani membantah apa perintah Ray.


" Iya... bibi istirahat saja dikamar, aku akan tidur kembali." Jawab Ray yang tidak tega membuat sang bibi bergadang menungguinya didepan pintu.


" Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." Ucap sang bibi dengan patuh, namun dia memilih turun keruang tamu.


" Hana... kamu tega sekali tidak menghubungiku dari kemarin, padahal ini kan hari minggu." Umpat Ray yang kembali melow saat suara bibi tidak terdengar lagi.


" Mommy, daddy, kak Adelia, kenapa kalian tidak pulang-pulang!"


" Argghh... kalian tidak ada yang peduli denganku, tidak ada yang sayang denganku, aaaa... aku benci kalian semua!" Umpatnya sambil melempar bantal, guling dan selimutnya.


" Hanaaaaaaaa... aaaaaa... kenapa kamu tidak menjawab panggilan telponku!"


" Hana.. kamu dimana sayang, sedang apa, dengan siapa?"


" Ini kan hari minggu, harusnya kamu menemaniku?"

__ADS_1


" Sayang... kamu tidak berkencan degan pria lain kan dibelakangku?"


" Hana datanglah... aku kangen kamu sayang."


Setelah mengumpat panjang lebar, akhirnya Ray meneteskan air mata kesedihannya, baru kali ini dia ditinggal pergi hampir seharian penuh, bahkan sampai selarut ini keluarganya belum ada yang pulang.


Sedangkan Orang yang sedang Ray rindukan saat ini kembali menambah kecepatan mobilnya menuju kerumah Ray, dia ada dinas diluar kota juga dari kemarin dan baru dalam perjalanan pulang siang tadi, sesampainya dirumah dia baru membuka ponselnya karena dia lupa menyalakan mode dering dan baru tahu kalau ada panggilan dari Ray yang sudah sampai beberapa kali, juga pesan dari Mala yang memberitahukan bahwa mereka semua pergi keluar kota untuk kepentingan yang mendesak dan meninggalkan Ray dirumah hanya dengan bibi.


Tanpa menunda waktu lagi, dia langsung berlari kembali keluar rumah dan mengendarai mobilnya menuju ke rumah Ray dengan perasaan was-was.


Tok tok tok!


Akhirnya Hana sampai juga didepan rumah Ray dan langsung mengetuk pintu rumahnya, jam ditangannya saat itu menunjukkan pukul sembilan malam.


" Nona Hana?" Bibi langsung terlihat lega saat ada seseorang datang kerumah itu.


" Cepet banget bukain pintunya bi, apa bibi tidur didepan pintu?" Tanya Hana yang terheran, perasaan dia mengetok baru beberapa detik, kenapa pintunya sudah terbuka pikirnya.


" Bibi takut non." Jawab bibi panik.


" Takut kenapa bi, apa yang terjadi?" Hana mengerutkan keningnya.


" Tuan Ray non." Jawab Bibi yang juga terlihat gemetaran.


" Apa? Ray kenapa?" Hana langsung berlari menuju kamar Ray.


" Ta.. tadi seperti ada yang pecah di kamarnya, tapi bibi nggak boleh masuk, setelah itu dia terdengar marah-marah sambil berteriak memanggil nama tuan dan nona besar, nama nona Hana juga dipanggil-panggil loh?" Bibi pun jadi ikut berlari mengikuti Hana.


" Apa mereka tidak pulang bi?" Tanya Hana sambil ngos-ngosan karena berlari.


" Tidak tau nona, sedari tadi bibi ketakutan, tapi tuan Ray malah menyuruh saya istirahat, jadi saya berjaga-jaga didepan pintu sambil nunggu tuan dan nyonya besar pulang." Jawab sang bibi yang terlihat ketar-ketir.


" Raaaayyyy!" Teriak Hana.


Saat dia membuka pintu, dia sudah melihat Ray yang jatuh tersungkur di lantai dengan pecahan lampu disampingnya, ditambah lagi bantal guling dan juga selimut berserakan di sekelilingnya, suasana kamar Ray sungguh terlihat sangat mengenaskan.


..." Tanpa kita katakan pun Alloh tahu, ada saatnya kita lelah, tapi Dia tidak ingin kita menyerah, Dibuatnya kita mampu menghadapi semua. Begitulah, Alloh selalu menenangkan hati setiap hamba dengan cinta kasih-Nya."...


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


__ADS_2