
...Happy Reading...
Kebahagiaan dari Hanami dan Raymond dapat dirasakan oleh para sahabat dan keluarga terdekat mereka, kebahagiaan yang terpancar dari pasangan suami istri yang sudah sah itupun, membawa dampak positif kepada semua sanak saudara yang hadir dalam acara malam ini.
Begitu juga dengan Hesti yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum, apalagi ada Arka yang selalu berada disampingnya. Namun Dimas tidak bisa datang, karena dia masih ada Diklat di kota lain.
" Kita ngobrol di luar yuk Om, sambil menikmati udara malam?"
Disaat mereka semua masih ngobrol santai dan menikmati berbagai hidangan yang telah disajikan, Hesti selalu punya cara untuk selalu bisa selangkah lebih dekat dengan sang duda keren.
" Boleh deh."
Arka pun menyetujuinya, karena sedari tadi dia pegel juga melihat Carlos yang terlihat selalu melirik kearah dirinya, mungkin takut kalau dia berdekatan dengan Mala sang istri tercinta.
" Kalau Dimas keluar kota, om sendirian dong dirumah?" Hesti mulai membuka obrolan diantara mereka sambil mengajaknya duduk disebuah bangku.
Halaman yang luas, dengan ditanami berbagai tanaman hias membuat suasana malam itu terasa sejuk segar, walau terkadang angin bertiup cukup kencang namun tidak menyurutkan senyuman dari Hesti karena bisa berduaan dengan incaran hatinya dengan ditemani rembulan malam dan bintang-bintang yang bertebaran di atas sana.
" Iya... mau gimana lagi, tapi kami nyaman kok walau cuma berdua, kita tidak harus sedih karena sendirian, kita hanya perlu membiasakan diri dalam kesepian dan hidup berdampingan dengan keadaan dan ternyata semua tetap baik-baik saja."
Yaelah... tambah satu lagi napa Om? aku gitu misalnya?
" Emm... Om nggak ada niatan apa, untuk membina rumah tangga lagi?" Walau ragu namun Hesti pantang mundur sebelum mencoba.
" Maksud kamu?" Arka sedikit memiringkan wajahnya, membuat hidung mancungnya terlihat semakin mempesona dimata Hesti, karena terkena pantulan cahaya remang-remang disana.
Ya ampun... pengen cubit hidungnya Gusti.
" Emm... mungkin menikah lagi gitu Om, secara Om Arka juga masih muda, masih sangat tampan lagi, bisa lah Om buat nikah sekali lagi." Hesti berbicara sambil tersenyum.
" Hmm... sepertinya belum ada pikiran kearah sana, atau mungkin tidak akan pernah." Jawab Arka dengan nada santai.
Emak... pupus sudah harapanku bawa pulang calon mantu.
" Kenapa? Om masih belum bisa mengubur semua kenangan tentang ibunya Dimas ya?"
Motto Hesti, setidaknya terus berusaha walau nanti gagal, dari pada tidak mencobanya sama sekali.
" Bukan cuma itu, namun dalam keadaan dan situasi seperti Om sekarang, tidak mudah untuk membina rumah tangga lagi Hes, masih banyak yang harus dipertimbangkan." Ucap Arka sambil tersenyum ke arah Hesti dengan manisnya.
" Tapi Dimas kan sudah dewasa Om, dia pasti paham?" Hesti masih belum mau menyerah, walau mungkin hanya terlihat satu titik harapan didepan sana, tapi dia terus berusaha, siapa tahu Tuhan memberikan jalan lain untuknya.
" Iya... tapi Dimas adalah prioritas utama Om untuk saat ini dan juga tidak cuma Dimas saja, masih ada kedua ayah dan ibu mertua Om juga yang masih ada di Singapore loh?"
Arka paham maksud Hesti, namun dia tidak mau memberikan harapan lebih untuknya, takut jika dia akan melukainya suatu hari nanti.
Karena Arka telah banyak diajarkan oleh pengalaman, rasa sayang dan cinta saja itu belum cukup untuk menjalin sebuah hubungan yang serius.
" Maksud Om... Oma sama Opanya Dimas? Om masih berhubungan baik dengan mereka?" Hesti seolah sedikit terkejut dengan pernyataan Arka, karena jarang-jarang ada yang peduli seperti itu pikirnya.
" Tentu saja, sampai kapanpun aku akan tetap menggangap mereka sebagai orang tuaku, sama seperti saat almarhum istri Om masih ada, karena Om dan ibunya Dimas bukan berpisah karena ada masalah, namun karena istri Om harus lebih dulu pergi menghadap ke Sisi-Nya."
Ada rasa kagum, namun ada juga rasa kecewa, karena sepertinya sangat sulit bagi Hesti untuk bisa mendapatkan pria disampingnya itu, walau hatinya sepertinya sudah mulai terisi oleh dirinya.
" Tapi kalau ada seseorang yang menyayangi Om dengan setulus hati, apa Om mau menerimanya?"
Degh!
Ucapan Hesti seolah langsung menembak tepat pada sasarannya.
" Misalnya?" Arka sengaja pura-pura tidak paham, hatinya yang sudah membeku memang sedikit demi sedikit meleleh dengan adanya Hesti akhir-akhir ini.
Keceriaan Hesti dan kehangatan sikap Hesti yang selalu membuat Arka sering tersenyum itupun mulai menggoyahkan pendiriannya untuk menutup diri selama ini, karena memang tidak pernah sedikitpun terbesit dipikirannya untuk bisa dekat kembali dengan seorang gadis selama ini.
__ADS_1
" Ya... tidak menutup kemungkinan kan, pasti ada seorang wanita yang tertarik dengan Om gitu, aku misalnya, hehe..."
Hesti langsung memalingkan wajahnya sendiri, karena sudah nekad untuk mengungkapkan perasaannya.
" Hahaha..." Arka malah tertawa renyah saat mendengar pernyataan Hesti diakhir kata-katanya.
Dia anggap gue bercanda kali ya? astaga... Gini banget namanya usaha, padahal aku sudah nekad mencintaimu... tapi kamu tidak menganggapku ada Om, huuh... sakitnya hati adek bang.
" Hesti..." Arka mengusap lengan Hesti dengan perlahan.
Haduh... jantungku kok jadi berdebar-debar gini, apa mungkin karena terkena serangan Duren?
" I.. iya Om?" Tiba-tiba Hesti terlihat mendadak gemetaran.
" Kenapa harus Om, kenapa nggak Dimas saja? bukannya Dimas lebih segala-galanya dari Om?"
Hesti terdiam, bukan kata itu yang ingin dia dengar, dia pun tak tahu alasannya, karena dia hanya mengikuti kata hatinya saja.
" Dari segi apapun Om kalah darinya Hes, dari segi ketampanan, dari segi pendidikan, trus pekerjaan juga dia lebih keren kan, Dosen muda loh? dan yang paling menonj○l adalah dari segi usia."
Hesti masih belum angkat bicara, karena dia pun bingung, kenapa hatinya terus tertuju pada duren disampingnya itu.
" Hesti... apa nanti kamu tidak malu, misalnya jalan sama Om, trus nanti dicibir orang-orang yang melihat kita gitu?" Arka sadar diri, dengan segala kekurangannya, karena definisi mencintai bagi Arka tidak harus memiliki, melihat orang itu bahagia saja itu sudah lebih dari cukup.
" Kamu kan tahu sendiri, status Om sudah duda Hes dan kamu masih gadis, dan kamu itu masih sangat muda Hes, perjalanan kamu masih sangat panjang, banyak cita-cita yang bisa kamu kejar, kenapa harus Om coba?"
Entah mengapa kata-kata itu pelan tapi terasa menusuk bagi Hesti, atau mungkin ini seperti penolakan secara halus.
" Om... Akan datang waktu di hidup Om, ketika Om harus memilih untuk membalikkan sebuah halaman, menulis buku yang lain atau sekadar menutupnya, kenapa harus membahas kata Duda, apa yang salah dengan nasib duda?" Hesti menghela nafas berulang kali.
" Hes... Dimas itu anak kandung Om, dia pasti punya sifat hampir sama dengan Om, gimana kalau kamu mencoba membuka hati dengan Dimas saja? dia seribu kali lebih baik dari Om, dan nanti dengan senang hati Om akan merestui hubungan kalian Hes, Om yakin kamu akan bahagia bersama Dimas."
Dimas lagi...Dimas lagi, aku tuh maunya sama Om?
Padahal cinta Hesti baru bermula, namun nyatanya harus pupus dan layu sebelum berkembang.
" Bukan begitu Hesti, duh.. gimana Om mau ngomongnya ya?" Arka langsung terlihat canggung, merasa tidak enak hati dan serba salah.
" Kalau Om tidak menyukaiku katakan saja, aku tidak akan memaksa Om kok, tapi jangan paksa aku untuk membuka hati kepada orang lain, cinta itu datang dari hati Om, tidak bisa kita jatuhkan dengan sebuah aturan, apalagi dengan paksaan."
" Hesti... dengar dulu, Om hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik saja."
" Terbaik menurut Om, belum tentu yang terbaik untuk aku."
Hesti merasa kecewa, kenapa harus menawarkan orang lain, dia fikir cinta semudah itu.
" Tapi Hes--"
" Jika ragu, ikutilah kata hati Om. Berikan pertanyaan, temukan jawabannya. Belajarlah untuk mempercayai hati." Kata-kata bijak pun dengan santainya mengalir begitu saja dari mulut Hesti.
" Maafkan aku Hes." Arka merasa bersalah kali ini.
" Hidup terlalu singkat, untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita bahagia Om, ingat itu."
Hesti langsung beranjak dari tempat duduknya, entah mengapa dia sedikit merasa tersinggung dengan ucapan Arka malam ini.
" Dia pikir hati ini seperti robot apa, bisa di setting sesuka hati, kalau mau nolak ya nolak aja, pake acara promo anak sgala lagi!" Umpat Hesti sambil melangkahkan kakinya.
Arka masih mematung ditempat, bingung harus membujuk Hesti atau membiarkan kisah mereka yang singkat namun berkesan akhir-akhir ini, akan berakhir seperti itu saja.
Akhirnya Hesti memilih berjalan cepat, untuk kembali mengikuti acara Hana dan Ray didalam sana.
" Hes... kamu nggak makan?" Adelia yang melihat sahabatnya hanya berdiri di pojokan langsung mendekatinya.
__ADS_1
" Lagi nggak nafsv makan." Jawab Hesti dengan lesu.
" Tumben! makanannya enak-enak loh, makan sepuasnya juga nggak usah bayar Hes, gratis all item." Ucap Adelia sambil tersenyum seperti biasanya.
" Emang wajahku kelihatan banget kayak orang yang nggak pernah makan enak ya, nampak gitu wajah-wajah miskin dari diri gue?"
Bukan karena ledekan dari Adelia dia marah, namun sisa-sisa kekesalannya terhadap Arka masih terbawa sampai sini.
" Heh... kamu kenapa Hes? sakit ya?" Adelia langsung menelisik wajah sahabatnya, tidak biasanya dia sedih hanya karena ledek-ledekan dengannya, bahkan biasanya Hesti yang lebih parah ngejahilin dia.
" Enggak... aku mau pulang aja." Ucapnya tiba-tiba, yang semakin membuat Adelia terheran.
" Hes... Hesti, jangan begitu dong, aku hanya bercanda tadi, maaf kalau kata-kataku menyinggung perasaanmu."
Adelia yang notabenya seseorang yang lembut dari dulu langsung merasa bersalah, apalagi saat dia sedang sedang hamil, rasa sensitifnya pasti langsung meningkat kali ini.
" It's okey, tolong pamitkan ke Ray ya, maaf aku nggak bisa mengikuti moment terindah mereka sampai akhir."
" Kamu beneran mau pulang? acaranya masih lama Hes, kita gabung sama pengantinnya yuk?" Adelia langsung mengajak ke tempat saudaranya yang lain.
" Maaf.. sepertinya aku lagi nggak enak badan, jadi moodku sedikit labil."
" Kamu beneran sakit? mau aku mintakan obat saja?"
" Nggak... nggak usah Del, aku cuma pengen istirahat sebentar doang kok, palingan tidur aja langsung bisa sembuh."
Pasti ada yang tidak beres ini?
" Benarkah?" Adelia seperti yakin tidak yakin, karena baru kali ini dia melihat Hesti lemah tak berdaya, padahal biasanya walau sedang Pms atau sedang datang bulan pas lagi deras-derasnya juga dia masih tetap cengar-cengir saja.
" Hesti.... tolong dengerin Om dulu?"
Tiba-tiba Arka muncul dari arah pintu sambil berlari mendekat kearah mereka dengan wajah yang tak kalah membingungkan.
" Nggak ada yang perlu diomongin lagi Om, karena mungkin tidak ada yang penting diantara kita." Jawab Hesti dengan cepat.
" Hesti, tolong jangan begini, kita bicara lagi di luar yuk." Arka langsung melembutkan suaranya.
" Lepasin Om, aku mau pulang saja." Hesti bahkan tidak ingin tangannya disentuh Arka, padahal dulu disenggol sedikit saja bahagianya sudah selangit.
" Sebentar saja Hes, dengerin penjelasan Om dulu." Arka mencoba menahannya.
" Maaf.. sepertinya aku sudah lelah." Jawab Hesti tanpa mau melihat wajah Arka dihadapannya.
" Kita bisa bicara lagi, jangan seperti ini Hes?"
Setelah beberapa saat tadi merenung, Arka sepertinya menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya.
" Ada saatnya kita berada dititik jenuh. Tidak ingin membahas apapun dan tidak ingin tau apa-apa, maaf aku harus pulang, permisi."
Hesti kembali bergegas keluar dari sana, bahkan dia sedikit berlari agar segera keluar dari situasi yang sangat menyebalkan menurutnya.
Ada apa ini? *sepertinya hubungan mereka sudah jauh dan sangat dalam?
Ada apa dengan Cinta? opsh eh... ada apa dengan Hesti dan om Arka*?
Adelia memilih menjadi pengamat setia saja disana, karena dia belum tahu juga inti permasalahan dari mereka, karena Hesti juga belum cerita apa-apa soal kedekatannya dengan Arka lebih lanjut, namun Adelia sudah tahu lama, kalau memang sahabatnya itu menaruh hati kepada mantan kekasih mommynya.
Mencintai seseorang memang tidak ada salahnya. Namun jika kamu terus-terus mengejarnya tanpa ada balasan maka kamu hanya menyakiti diri sendiri.
Ingatlah tak selalu apa yang kita inginkan itu harus kita dapatkan. Jadi cobalah untuk ikhlas menerima kenyataan. Tak masalah jika kamu belum bisa membuka hati untuk yang lain, karena itu tidak bisa dipaksakan.
..."Jika memang cinta, ia tak akan membuatmu menunggu. Lebih baik menyambut masa depan berdua daripada menyia-nyiakan cinta yang di depan mata."...
__ADS_1