Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
32. So Hot


__ADS_3

...Happy Reading...


Kemeriahan acara malam itu masih berlangsung, ratusan para undangan hilir mudik silih berganti memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.


Sedangkan Ray sudah terlihat bosan disana, sedari tadi dia duduk saja dipojokan sambil scroll-scroll hp, mau ikut menyalami tamu dia malas, mau ngobrol juga sama siapa, sedangkan teman-teman yang sengaja dia undang belum juga datang.


" Sendirian aja kamu nak, kayak tiang penyangga listrik aja berdiri di pojokan?" Mala yang baru selesai dari kamar mandi langsung mendekati putranya yang terlihat murung.


" Ckkk... boring mom, teman-teman aku belum ada yang datang." Umpat Ray yang sedari tadi mengintip ke arah pintu masuk namun ternyata yang dia tunggu belum juga datang.


" Heh... Hana ada tuh didepan? bukannya kamu lagi PedeKate sama dia?" Mala langsung menemani putranya duduk untuk sekedar menggosip walau sebentar, karena Carlos dari kejauhan selalu mengawasinya agar cepat kembali ketempat semula menemaninya menyambut para tamu undangan.


" Males." Jawabnya cepat.


" Woyoo... ada apa ganteng? tumben galau? udah putus sama Hana?" Mala langsung terlihat tertarik dengan tema obrolan mereka, dan mengabaikan tatapan tajam suaminya dari kejauhan.


" Boro-boro putus, jadian aja belom!" Umpat Ray dengan kesal, entah kenapa dia jadi sedikit sensitif sekarang.


" Ckk... percuma saja kamu jadi penembak jitu, nembak cewek satu aja nggak mempan, lemah kamu!" Bukannya kasian, namun kata-kata Mala seolah malah membuat harga diri Ray terasa ternodai.


Jika Adelia lebih dekat dan terbuka dengan Carlos lain halnya dengan Raymond yang memang lebih kompak dengan sang mommy.


" Mommy nggak tau aja, kak Hana itu kayak Betina kulkas tujuh pintu, gilak nggak tuh!"


" Sudah aku gombalin, sudah aku manja-manjain bahkan sudah aku sayang-sayangin, eeh... dia cuma mau berteman doang? salah siapa dong kalau begini?" Ray terlihat sudah prustasi, sementara dia masih berpikir untuk menemukan cara lain untuk meluluhkan hati gadis itu.


" Haiiissh... wanita jaman sekarang memang suka begitu, mau mommy kasih ide jitu nggak?" Mala memberikan satu tawaran menarik.


" Apaan? aku nggak mau ya mom ngemis-ngemis cinta sama dia, rekan-rekan Ray di kantor banyak yang ngefans sama Ray, jangan salah loh!" Ucap Ray dengan bangga karena memang itu kenyataannya, sudah berapa banyak gadis yang dia tolak selama ini.


" Aish.. kamu ini, nggak ada sejarahnya mommymu yang cantik cetar membahenol ini jadi pengemis cinta, apalagi ngajarin kamu begituan! it's not my style right!" Keluar sudah jiwa lebay Mala yang sudah lama terkubur.


" Cieee... beneran nggak nih?" Ray langsung terlihat bersemangat saat melihat mommynya mengeluarkan pesona kesombongannya seperti ini.


" Mommy tuh dari dulu dikejar, nggak pernah ngejar, catet itu!" Mala langsung melipatkan kakinya dengan elegan.


" Okey, kalau begitu apa idenya?" Ray bahkan langsung menggeser tempat duduknya mendekati Mala.


" Kamu cari aja cewek siapa aja disini, kalau bisa yang nggak baperan, kamu panas-panasin saja si Hana." Bisik Mala disamping telinga putranya, dia takut jika tiba-tiba Shanum lewat dan mendengarnya.


" Caranya?" Ray terlihat tertarik dengan saran mommynya.


" Kamu godain aja dia, karu gombalin gitu, kamu kan ahlinya dalam dunia pergombalan?" Ucap Mala sambil memberikan ide gilanya.

__ADS_1


" Ya kalau mempan mom, kalau kak Hana malah jadi semakin ilfeel sama Ray gimana dong? bukannya bisa deket malah dijauhin entar." Ray yang memang belum menemukan ide sendiri malah jadi ragu.


" Haish...kamu meragukan saran dari mommy ya?"


" Bukan begitu mom, tapi kak Hana itu lain?"


" Heleh.. wanita manapun jika dia ada perasaan sama kamu juga, kalau melihat kamu berdua sama cewek lain pasti kepanasan."


" Trus kalau kenyataannya enggak gimana mom?"


" Berarti dia memang tidak punya rasa denganmu, kalau memang nanti seperti itu, buat apa kamu pertahankan, cinta sepihak itu sakit nak!" Mala langsung mengusap wajah tampan putranya yang terlihat terbengong memikirkan sesuatu.


" Jangan terus berharap jika memang dia tidak punya rasa yang sama denganmu, perjuanganmu akan seperti menaburkan garam di Lautan, sia-sia boy!"


" Hmm..." Ray terlihat menggangukkan kepalanya dan menyetujui pendapat sang mommy.


" Kalau begitu kamu coba dulu, jika memang dia terlihat biasa saja, lepas nak! jika dia terlihat so hot, pertahankan! berarti dia hanya belum menyadarinya saja."


" Jika seperti itu, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?" Tanya Mala sambil menaikkan kedua alisnya.


" Tau dong!" Jawab Ray yang langsung membetulkan kerah kemejanya yang sebenarnya sudah rapi.


" Apa?" Mala mencoba mengetes apa yang ada dipikiran putranya.


" Good Boy! itu baru anak kesayangan mommy!" Mala dan Ray langsung bertos ria disana.


" Sayang... sini, ditungguin juga!" Carlos berteriak, dia sudah mulai berjalan mendekatinya.


" Iya suamiku." Mala langsung beranjak berdiri, namun sebelumnya dia kembali berbisik dengan putranya.


" Ray, jangan bilang sama daddy kalau aku ngajarin kamu kayak gini ya nak?" Bisik Mala perlahan.


" Siap mommy!" Jawab Ray yang sudah mengetahui kebiasaan mommynya.


" Wokeh, mommy tinggal ya, nanti mommy nilai dari jarak jauh, jika butuh bantuan chat mommy okey?" Mala selalu menjadi seorang ibu yang terkadang bisa menjelma sebagai sahabat yang asyik bagi anak-anaknya.


" Okey mom!" Ray mengacungkan jempol tangannya tanda setuju.


" Semangat sayang! ganbatte!" Mala mengepalkan tangannya ke udara sambil berjalan mendekati suaminya yang sudah berkacak pinggang disana.


" Eeh.. pucuk dicinta, sambal pun tiba, opsh... salah ya kan? argh... yang penting ada target jitu disana!" Ray langsung terlihat bersemangat saat ada seseorang yang mendekat.


" Hai, mba Hesti ya?" Ray langsung menyapa sahabat kakaknya yang pernah dia temui beberapa waktu yang lalu, dan Hesti memang terlihat wanita yang riang dan suka bercanda jadi Ray mencoba menjadikan dia targetnya.

__ADS_1


" Kamu... emm, adeknya Adelia waktu itu kan?" Hesti mencoba mengingatnya, walau sekali melihat saja siapapun juga pasti mengingat wajah tampan Ray.


" Iya mba aku Ray, mau aku temenin dulu, kak Adelia masih nemuin klien daddy tuh." Ray lansung mengeluarkan jurusnya saat tanpa sengaja melihat Hana melintas dari kejauhan.


" Nggak papa nih? apa nggak ganggu? nanti gebetan kamu marah lagi, katanya kamu tipe cowok yang setia?" Hesti masih ingat benar kejadian yang membuatnya malu sendiri hari itu.


" Slepeeet, hehe... aku cuma bercanda saat itu mba!" Uap Ray sambil cengengesan.


" Ciiih... bisa aja kamu, kakakmu saja orangnya lurus betul, masak iya adeknya suka bercanda?" Ledek Hesti saat mengingat sifat Adelia yang memang tidak berbelok-belok seperti dirinya.


" Kakak masih jomblo?" Tanya Ray tiba-tiba.


" Aishh... kalau iya emang kenapa? mau cariin jodoh mba gitu?" Hesti tak kalah heboh menyambutnya, walau sempat terkejut tadi.


" Mau? kalau mba mau nanti aku kenalin sama rekan-rekan aku, sebentar lagi mereka juga datang, mungkin nunggu pergantian shift aja, gimana?" Ray langsung terlihat semangat.


" Nggak sama kamu saja nih?" Ledek Hesti yang jiwa lawaknya mulai kambuh.


" Emang mba mau sama aku?" Ray kembali meledek Hesti yang terlihat langsung melengos.


" Malas, masak iya aku harus manggil Adelia kakak nanti, cariin yang lebih matang dong!"


" Asiaaaap mba! tapi ada syaratnya." Ucap Ray yang seolah mendapat undian lotre.


" Apaan? ribet banget kayak mau masuk jadi pegawai negri saja banyak syarat dan tes nya." Hesti langsung mengubah mimik wajahnya yang tadi ceria menjadi mengendor.


" Sini aku bisikin!" Ray langsung membisikkan sesuatu disamping telinga Hesti.


Dengan ragu-ragu dia mendekat, namun lama-lama setelah mendengar perkataan dari Raymond, wajahnya kembali bersinar ceria seolah dia terlihat tertarik dengan syarat yang diajukan oleh Raymond kali ini.


" Plus dua voucher makan di hotel berbintang lima, gimana?" Bukan Hesti namanya kalau tidak jahil dan pandai memanfaatkan segala kesempatan dalam kesempitan.


" Woaaah... mba memang tidak mau rugi ya!" Ucap Ray yang langsung bersidekap.


" Setuju nggak nih?" Hesti menaikkan kedua bahunya.


" Bungkus! sepele itu sih!"


Mereka berdua langsung berjabat tangan, tanda bahwa mereka menyetujui kesepakatan itu.


..."Cinta tak cukup hanya dengan perasaan. Tanpa tindakan, cinta hanya akan terdiam. Ungkapkan perasaan melalui tindakan, jadikan cinta lebih bermakna." ...


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2