Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
85. Dosa Terindah


__ADS_3

...Happy Reading...


Hana sungguh merasa pilu melihat keadaan Ray yang seperti ini, ingin sekali dia melakukan sesuatu agar Ray tidak terus terpuruk dengan keadaannya, namun sampai saat ini dia belum bisa melakukan apapun, Hana pun sudah mencoba mencari info dari berbagai rumah sakit di dalam maupun luar negri, tapi hal itu memang tidak semudah yang mereka pikirkan.


" Raaayyyyy!" Hana langsung berlari mendekat kearah Ray dan membantunya untuk bangun dari sana.


" Kak Hana? apa itu kamu?" Tanya Ray dengan lemah, bahkan seharian ini dia tidak makan, dia hanya mengaduk-aduk saja makanan yang bibi ambilkan untuknya, tidak ada nafsu makan sama sekali di diri Ray.


" Kamu kenapa bisa jatuh kebawah sih Ray?" Tanya Hana yang langsung terlihat menyesali diri sendiri karena menyeting ponselnya dengan mode silent, jadi tidak tau kalau Ray menghubunginya.


" Namanya juga jatuh, pasti kebawah lah, mana ada jatuh keatas, awas... aku bisa bangun sendiri!" Umpat Ray yang sudah mengubah mimik wajahnya menjadi kesal.


" Heh?" Hilang sudah rasa iba di diri Hana saat mendengar ucapan Ray yang diluar dugaannya.


" Ngapain kakak kesini? masih ingat kalau punya aku? pulang saja sana." Umpat Ray kembali.


" Woaaaah... kamu benar-benar ya Ray?" Hana langsung berkacak pinggang didepannya.


" Apa? sudah pergi saja kalian, nggak usah perdulikan aku." Ray pun tak kalah sewot.


" Bi... ayok kita keluar, sudah selesaikan membersihkannya!" Ucap Hana saat melihat bibi sudah selesai membersihkan pecahan lampu di kamar itu.


" Ya... pergi kalian semua, siapalah aku ini, nggak penting kan buat kalian semua!" Teriak Ray.


" Bukan begitu Ray?" Hana langsung menurunkan intonasi suaranya.


" Apa kakak tahu, satu menit buat orang sepertiku terasa sangat lama sekali, kakak bayangkan saja kalau seharian ini aku sendirian di kamar ini, seperti apa rasanya?"


" Ray?" Hana kembali menyesali dirinya sendiri saat mendengarnya.


" Ngakunya aja sebagai pacar, tapi akhir pekan pun pergi jalan sendiri, weekend sama siapa kakak coba? langsung lupa dengan pacarnya, ditelpon berulang kali satupun tidak ada yang dijawab, wajar sih... kekuranganku terlalu banyak untuk seorang CEO perusahaan seperti kakak!" Umpat Ray panjang lebar, yang seolah mengeluarkan segala unek-uneknya sejak kemarin.


" Bukannya kamu mau kita putus? baru juga dua hari nggak di telpon sudah marah-marah." Hana yang belum sempat istirahat juga jadi ikut kesal sendiri saat mendengarnya.


" Loh... bukannya kakak yang menolak?"


" Kalau begitu kita putus saja bagaimana?" Ucap Hana sambil memberikan isyarat keluar untuk sang bibi yang malah terlihat asyik menyimak obrolan mereka.


" KAK?" Ray menaikkan intonasi suaranya.


" APALAGI!" Hana menutup pintu kamar Ray dan bahkan menguncinya.


" Disindir bukannya instropeksi diri malah minta putus, dasar wanita!" Umpat Ray yang langsung melengos kesal.


Enaknya gw apain ini bocah ya? capek gw dengerin rengekannya terus menerus, harus dengan bukti apa coba, agar dia bisa percaya kalau aku itu hanya mencintai dia.

__ADS_1


" Kakak tau nggak, seharian bahkan aku tidak makan, aku kesusahan mau makan sendiri, kalian semua malah pergi entah kemana, nggak pulang-pulang." Ray kembali mengadu, mencoba mengalihkan perhatian Hana dari kata putus, karena sesungguhnya dia tidak menginginkan itu semua terjadi.


" Astaga Ray, kan ada si bibi, dia bahkan standby loh didepan pintu kamar kamu." Hana kembali mendekati Ray dan menuntunnya agar duduk diatas ranjang kembali.


" Apa kakak rela aku disuapin sama wanita lain selain keluargaku, sebenarnya kakak sayang nggak sih sama aku?" Gerutu Ray yang membuat Hana langsung melongo.


" Ya Salam... cuma disuapin aja loh Ray, bukan sampai tahap mencintai?" Ucap Hana yang takjub dengan apa yang ada dipikiran kekasih bucinnya itu.


" Cuma apa? bibi itu juga wanita kan? lagian kakak ngapain aja dua hari ini? kenapa bisa lupa denganku, apa kakak sudah menemukan pria tampan lain selain aku sekarang? diam-diam kakak berkencan dibelakangku ya?" Di otaknya seharian ini cuma ada bayangan Hana yang tersenyum dan jalan bergandengan dengan pria lain, yang membuat kepalanya terasa mau pecah saja.


" Ray... kemarin aku meeting diluar kota, baru siang tadi perjalanan pulang, sampai sini sudah malam."


" Alasan saja kakak ini!" Ray tetap tidak terima, seberapa susahnya untuk sekedar menelpon pikirnya.


" Aduh Gusti, dimanalah Engkau jual kesabaran itu? aku pengen beli sabar sebanyak-banyaknya." Hana mencoba merayu dengan mendekatkan dirinya ke tubuh kekasihnya itu.


" Aw.. aw... awas tangan kakak, jauhin dari sana kebiasaan deh!" Ternyata tangan Hana menyenggol benda pusaka milik Ray.


Heh? apa itu? emm... kira-kira apa yang bisa gw lakuin dengan benda ini ya?


Hana melihat ada pergerakan di benda itu, apalagi Ray hanya menggunakan setelan piyama tidur yang tipis saja, sehingga membuat semua terpampang dengan jelas.


" Kalau ini aku pegang, jadinya kayak apa ya?" Hana mengoceh sendiri sambil memperhatikan gerak-gerik keris Brajamusti milik Ray yang hanya ada satu-satunya itu.


Grek!


" Diam dulu Ray, jangan teriak-teriak!" Hana bahkan mendorong tubuh Ray sampai dia jatuh terlentang di ranjang mewahnya yang empuk tidak terkira itu.


" Astaga kakak, jangan menyentuhnya lagi, aww!" Ray semakin panik sendiri, ingin menolak tapi kok enak, ingin mengiyakan dia takut kebablasan.


Tuing!


" Wuidih... kenapa bisa seperti ini sih? coba kakak intip sedikit ya Ray?" Hana semakin penasaran saat pisang Raja itu terlihat semakin membesar dan mene gang saja.


" JANGAN KAK! tolong kak... jangan sentuh itu!" Ray langsung mencoba bangun, namun Hana langsung menyiku tubuh Ray dengan jurus Taekwondonya dan membuatnya kembali terjatuh di kasur.


" Astaga, ya ampun kak, apa kakak mau memperko sa diriku?" Ray yang belum bisa melihat hanya bisa mer@ba-rab@ saja disekelilingnya, sambil menahan segala rasa yang tercipta.


Apa ini Dosa?


Hana berperang dengan akal sehatnya, antara ragu dan penasaran yang ada pada dirinya.


" Ray, gimana kalau kita, emm...." Hana terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu.


" Jangan main-main dengan benda itu kak, nanti kakak yang rugi sendiri." Ucap Ray yang langsung menggangkat kedua tangannya.

__ADS_1


" Tidak ada kata rugi untuk kamu Ray." Ucap Hana yang masih berperang batin sambil terus mengamati pergerakan keris Brajamusti kebanggaan Raymond.


" Kak jangan, please!"


Ini dosa.. ini dosa.. ini dosa.. ini dosa.. ini dosa.. tapi? argh..


Namun Hana tetap tidak beralih dari sana, dia masih mencoba memikirkan siasat apa yang akan dia lakukan dengan benda itu.


Ternyata bukan cuma Hana yang perang batin, Raymond pun tak kalah pening merasakan kelakuan gila kekasihnya itu.


" Okey... MARKICOB!" Teriak Hana seolah membakar semangat didirinya.


" Apa lagi itu kak?" Tanya Ray yang tidak bisa berbuat apa-apa, bergerak sedikit saja tangan dan kaki Hana langsung berulah menghalangi dirinya.


" Mari kita coba!" Jawab Hana dengan cepat.


Maafkan hambamu ini gusti... tolong ampuni hambamu yang lemah ini.


Hana mengambil nafas dalam-dalam lebih dahulu sebelum melakukan aksi nekadnya.


" Kak, jangan!"


" Jangan berani coba-coba!"


" Kak, tolong jangan, itu bukan mainan!"


" Kak, don't touch me!"


" Kakak?"


" Sayang?"


Rentetan perkataan dari Ray sama sekali tidak Hana gubris, dia tetap melakukan aksinya dengan mudah, karena dia hanya menggunakan dress selutut dan sweater saja tadi.


Slep!


" HANAAAAAAAAAA... apa yang kamu masukkan!" Teriak Ray sambil memejamkan kedua matanya.


" Arrrrgggggghhhhhhhh!"


Entah kemasukan setan apa Hana malam ini, sehingga dia nekad melakukan sesuatu hal yang bahkan merugikan dirinya sendiri, tapi begitulah cinta, terkadang sering membuat kita menjadi orang yang bodā—‹h saat kita bersamanya.


..."Sudah pasti akan banyak hal yang dilalui dalam sebuah hubungan, jangan pernah jadikan sedikit kesalahan sebagai alasan untuk melepaskan. Perbaiki selagi mampu, pertahankan jika masih sama-sama kuat ingin bertahan."...


..." Karena setiap hujan pasti ada redanya, setiap badai pasti ada hentinya. Begitupun masalah, pasti ada jalan keluarnya."...

__ADS_1


Apa yang terjadi saudara-saudara, tolong jangan salahkan othor dalam hal ini, salahkan saja Ray yang sering bikin Hana kesal🤭 kita lanjut nanti seru-seruannya di next episode yaa.. wes pokok e jangan lupa hadiahnya ya bestie, big hug buat kalian semuašŸ¤—


__ADS_2