Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
34. Dia


__ADS_3

...Happy Reading...


Ketika Ray dan Hesti masih asyik bersenda gurau untuk membakar hati sang Hana, suasana diatas panggung ikut memanas ketika sahabat Adelia yang seolah menjadi rival terberat suaminya datang dan langsung naik keatas panggung untuk memberikan ucapan selamat.


" Dia...? kamu ngundang dia yank?" Ganesh langsung merubah mimik wajahnya, yang tadi tersenyum ceria kini mulai menegang.


" Iya.. dia sahabat aku kak, kan sudah aku jelasin semua kemarin?" Dengan santainya Adelia menjawab, karena menurutnya semua tentang Dimas sudah dia ceritakan semua.


" Ckkk... merusak suasana saja, kalau enggak usah diundangkan sebenarnya juga nggak masalah yank?" Ganesh langsung merapatkan pelvkan dipinggang istrinya.


" Nggak boleh begitu kak, dimas itu selain sahabat baik dia juga sahabat chatku dari dulu." Adelia berusaha untuk jujur namun ternyata kejujurannya malah membuat Ganesh semakin kesal.


" Apa? sahabat chat? jadi kalian chatingan juga?" Tanpa sadar Ganesh menaikkan intonasi suaranya karena terkejut.


" Iya.. sudah sejak lama sekali, bahkan sebelum Adelia mengenalmu."


Bukan Adelia yang menjawab, tapi Dimas yang sudah berada disampingnya menampilkan senyuman terbaik yang tertuju kearah Adelia.


" Woaaahh... gilak, bahkan sekarang aku merasa tertipu untuk yang kedua kalinya." Ganesh bahkan sampai melepas kancing Jas mahalnya, entah mengapa bajunya tiba-tiba terasa sesak sekarang.


" Selamat ya Ade, semoga kamu bisa sabar dalam menghadapi hari-harimu kelak." Ucap Dimas sambil menjabat tangan mulus Adelia.


" Ciihh... Ade?" Ganesh bahkan tidak diajak berjabat tangan tadi, dia dilewati begitu saja dengan santainya.


" Kok sabar sih Mas, nggak sekalian kuat juga? seharusnya kan semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah warohmah gitu?" Ucap Adelia sambil tersenyum, Dimas memang sering bercanda dengannya, dan selalu terbuka, karena Adelia termasuk salah satu orang yang menyelamatkan Dimas dari keterpurukannya.


" Ya sabar lah Ade, kalau aku doain kamu semoga kuat, bisa habis babak belur nanti pria disampingmu itu kamu buat." Dimas bahkan tidak merasa takut sama sekali berucap seperti itu didepan Ganesh.


" Woaaah... maksud kamu apa?" Ganesh merasa tidak terima dengan ucapan rivalnya itu, dia bahkan langsung memajukan langkahnya, namun tangan Adelia langsung sigap untuk menariknya.


" Kamu ini ada-ada saja sih Mas?" Adelia malah terkekeh jadinya, benar juga pikirnya.


" Kalau nanti dia macam-macam, putusin aja langsung, segera cari aku ya, masih hafal nomor telponku kan?" Dimas malah semakin gencar menggoda Adelia saat melihat api kemarahan terbit diwajah Ganesh.


" Heii... kami sudah menikah ya? mana ada kata putus-putus, kamu pikir kami hanya pacaran doang, ciih... open your eyes!" Umpat Ganesh sambil menunjuk mata Dimas dengan kedua jarinya.


" Jadi kamu nyuruh aku bilang cerai gitu?" Dimas belum mati kutu hanya karena umpatan Ganesh itu.


" Enak saja kamu ini kalau ngomong, sampai kapanpun juga, aku tidak akan melepaskan Adelia, apalagi kepadamu, Never!" Api kemarahan Ganesh bahkan sudah sampai di ubun-ubun sekarang.


" Sudahlah kak, Dimas pasti hanya bercanda saja, jangan terlalu diambil hati." Adelia mengusap da da Ganesh yang terasa bergetar.


" Enggak, kalau dia berani nyakitin kamu, aku yang akan maju duluan, bahkan aku tidak segan-segan merebut kamu darinya." Dimas bahkan menaikkan kedua alisnya.


" Aissshh! kenapa manusia model beginian kamu undang sing yank, kayak nggak ada makhluk lain saja yang bisa dijadikan teman!" Kalau saja tamu undangan semua sudah bubar, sudah pasti Ganesh akan memberikan satu hadiah bogeman untuk pria itu.

__ADS_1


" Dimas... nggak boleh ngomong begitu, doain saja semuanya baik, kamu tahu sendirikan siapa pria yang selama ini nongkrong dihatiku, ya cuma dia doang kan?" Adelia bahkan menoyor perlahan lengan Dimas yang masih terkekeh saat melirik Ganesh.


Beeerrrrrrr!


Saat mendengar ucapan Adelia, hati Ganesh yang tadi seolah seperti berada di puncak gunung berapi dengan tingkat suhu panas yang tinggi, tiba-tiba seolah terguyur hujan es, ditambah selimut salju yang menyejukkan hatinya.


Hehe... ternyata perasaan Adelia masih sama seperti empat tahun yang lalu, uuuu... makin cinta deh sama kamu yank, argh... cepatlah berakhir acara malam ini, aku sudah tidak sabar ingin menguji coba mesinku yang sudah lama aku segel ini!


" Ngapain kamu senyum-senyum sendiri, habis obat mu!" Ledek Dimas yang langsung menatap jengah wajah Ganesh yang tersipu-sipu itu.


" Enak saja, kamu pikir aku gila apa!" Ganesh kembali berteriak.


" Emang iya! kalau enggak juga nggak bakalan kamu ninggalin Adelia hanya karena dia memelukku hari itu!" Sindir Dimas yang membuat ingatan Ganesh kembali ke masa lalu.


" Aku mana tahu, emang siapa yang nggak marah kalau kekasihnya berpelukan dengan orang lain?" Umpat Ganesh sambil melirik kearah Dimas.


" Makanya cari tahu dulu, jangan gampang emosian jadi orang, masih baik aku nggak khilaf saat kamu berada di luar negri, kalau tidak--" Dimas menggantungkan ucapannya.


" Kalau tidak apa, jangan main-main kamu ya!" Bahkan Ganesh langsung membentaknya.


" Kalau tidak, hari ini kamu pasti sudah melihat aku menggendong anak dari hasil buah cinta kita berdua, ya kan Ade?" Dimas bahkan meletakkan siku tangan kanannya ke bahu Adelia yang membuat Ganesh semakin murka karenanya.


" Yaaaaaannnnkkkk! usir dia, suruh pulang sana!" Ganesh langsung menarik Adelia kedalam pelukannya.


" Hahahaha... dari dulu sampai sekarang masih saja sama, aku heran deh, apa nggak ada tes psikologi di universitasmu yang terkenal di dunia itu? kok bisa kamu diterima disana?" Tawa Dimas bahkan sampai menggelegar malam itu.


" Yank... dia terus menerus meledek suamimu ini, suruh dia pergi saja kenapa sih yank?" Ganesh meletakkan dagunya dibahu kanan Adelia, dengan tangan tetap memelvk erat perut ramping istrinya dengan manja.


" Dimas cukup dong, kasian suami gue, mau apa kamu melihat aku jadi janda setelah resepsi pernikahan ini?" Ucap Adelia yang sudah tidak tahan melihat sikap manja Ganesh.


" Mau.. mau banget!" Jawab Dimas dengan cepat, bahkan dengan senyum yang semakin melebar.


" Sayaaaanggg... kamu ini apa-apa an sih!" Ganesh langsung melepas pelukan dan berkacak pinggang, tidak pernah terbesit dipikirannya sekalipun tentang kata perceraian.


" Hehe... jangan keras-keras kak, malu dilihatin orang tuh?" Adelia langsung menarik kembali tangan Ganesh.


" Jangan ngomong sembarangan kamu, sampai matipun aku tidak mau menceraikan kamu, inget itu!" Ganesh langsung melengos dengan wajah kesalnya.


" Adelia aku turun ya, kalau saja nggak ingat dosa aku ledekin terus suami itu, lucu banget kalau marah, sudah lama nggak ngakak bareng sama kamu soalnya, hehe..." Dimas kembali menjabat tangan Adelia.


" Wokey, terima kasih sudah mau datang ya, sukses buat skripsinya, siap-siap saja jadi pak dosen, hehe.."


" Amin, kalau lanjut S2 kabarin ya? siapa tahu aku bisa jadi dosen favoritmu." Ucapan dari Adelia kembali menahan Dimas diatas panggung.


" Pasti itu." Jawab Adelia yang memang punya keinginan untuk lanjut kuliah S2 lagi.

__ADS_1


" ADELIA AGHATA, jangan mimpi kamu!" Ganesh langsung kembali membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Adelia.


" Kenapa? kesal kak? ini belum seberapa kesalnya dibanding saat lihat kakak digerayang i perempuan seksih hari itu." Bisik Adelia disamping telinga suaminya sambil tersenyum miring.


" Tapi kan yank?" Mau membantah tapi memang itu kenyataan, jadi Ganesh hanya bisa memasang wajah memelas saja kali ini.


" Hahaha.. jangan khawatir brother, kalau kamu tidak mengizinkan aku jadi dosen favoritnya, biar Adelia yang akan menjadi mahasiswi kesayangan dosennya, gimana?" Tak henti-hentinya Dimas membuat Ganesh kelimpungan sendiri dimalam spesialnya itu.


" Aishh sial! kalian sengaja ya, mau ngerjain aku?" Ganesh menghantukkan lengannya ke lengan Dimas dengan kuat, namun itu tidak membuat tubuh kekar Dimas bergeser sedikitpun dari tempatnya.


" Kalau iya emang kenapa?" Dimas sama sekali tidak bergeming.


" Enyah kau dari sini!" Kekesalan Ganesh seolah sudah berada dipuncaknya.


" Kalau aku nggak mau kamu bisa apa? Adelia sahabat gue loh, dari dulu sampai sekarang, bahkan disaat elu ninggalin dia, aku yang berada disampingnya." Dimas seolah membanggakan dirinya.


" Sayang... please yank, suruh dia turun dari sini." Ganesh meraih kedua jemari Adelia dan meletakkan dikedua pipinya dengan imut.


" Pfffthh... okey Dimas aku rasa sudah cukup, selamat menikmati hidangan kami disana, owh ya Hesti juga aku undang kok, mungkin dia ada didepan sana, kamu temenin dia ya, kasian kalau dia sendirian." Ucap Adelia yang sebenarnya ingin mendekatkan kedua sahabat baiknya itu, siapa tahu jodoh pikirnya.


" Owh iya, kamu mau hadiah spesial apa dariku? cincin, gelang apa kalung? atau mau mobil? sebutkan saja merknya biar aku kirim nanti." Ucap Dimas yang sudah siap ancang-ancang untuk kabur, karena sudah pasti akan ada yang ngamuk nanti, pikirnya.


" Heiii... kamu pikir aku tidak sanggup membelikan itu semua untuk istriku? bahkan pabriknya sekalian aku mampu membelikannya! Turun atau aku balikkan panggung ini!" Ganesh bahkan ingin melepas jas yang melekat ditubuhnya.


" Hahahaha... bye Adelia, doa yang terbaik semua untukmu, semoga kamu bahagia selalu." Dimas berbicara sambil berjalan mundur dan melambaikan tangan untuk segera turun darisana sebelum Ganesh nekad merobohkan panggung pelaminannya sendiri.


" Thanks Mas, enjoy the party ya." Adelia membalas lambaian tangan dari Dimas sambil menggelengkan kepalanya, dia bersyukur akhirnya Dimas bisa kembali ceria seperti dulu lagi.


" Udah tangannya, pegel nanti melambai terus sedaritadi, jangan lihat dia terus, dosa tahu! nih pandangin yang halal saja." Ganesh langsung menarik dagu Adelia agar terarah kepadanya.


Baru saja selesai terjadinya tragedi diatas panggung pelaminan, ternyata didepan pintu utama Ballroom itu terjadi lagi tragedi mantan yang mengejutkan.


Dan itu cukup membuat sebagian para tamu undangan menoleh kearah mereka untuk sekedar mencari tahu tentang inti permasalahannya.


" Ngapain kamu undang dia, kamu sengaja ya!"


" Aku nggak tau Ay?"


" Bohong kamu! kenapa? mau CLBK lagi kamu? disaat hari pernikahan anak kita? ini nggak lucu sayang!" Carlos yang sudah lama tidak pernah mengeluarkan kemarahan karena api cemburu, tiba-tiba kembali meradang saat rambutnya kini sudah mulai memutih.


Ketegangan mulai terjadi disana, bahkan Shanum dan Raras yang mendengarnya pun ikut datang dan melihat, apakah yang terjadi dengan pasangan suami istri yang biasanya selalu terlihat romantis sepanjang waktu itu.


..." Seseorang yang mencintaimu karena Allah tidak akan meninggalkanmu karena kekuranganmu dan tidak akan menyakiti karena kesalahanmu....


...Sebab celahmu akan dianggap sempurna oleh hati yang memang ditakdirkan untukmu."...

__ADS_1


__ADS_2