Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
127. Galau Karenamu


__ADS_3

...Happy Reading...


Suasana rumah sepi, Arka pun masuk dengan tetap menggendong Hesti didalam dekapannya sampai menuju kedalam kamarnya.


Asisten rumah tangganya pun tidak ada yang bangun, karena Arka tadi juga keluar tanpa bilang-bilang, jadi mungkin mereka berfikir dia sudah tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


" Kamu mau makan sesuatu?" Arka membaringkan Hesti dengan sangat lembut diatas ranjang mewahnya.


Aku pengen makan om boleh nggak?


" Enggak, aku pengen istirahat aja." Jawab Hesti lain dimulut lain pula dihati.


" Tapi minum dulu obatnya sebelum tidur ya?"


Arka mengambilkan obat yang dia bawa tadi, bahkan dia membukakan obat-obat itu dari bungkusnya satu persatu dan memberikannya kepada Hesti.


" Ckk... mesti pahit banget!" Hesti memang paling males minum obat, kecuali obat tolak angin, karena ada rasa jahe dan madu didalam kemasannya, kalau obat dokter dia paling benci, karena pahitnya masih terasa tersisa ditenggorokan nantinya.


" Mau yang manis?" Ucap Arka sambil menaikkan kedua alisnya.


" Emang ada?" Tanya Hesti yang langsung menanggapinya dengan serius.


" Kamu tinggal senyum aja, pasti manis banget." Jawab Arka yang malah terlihat nyengir sendiri setelah mengucapkannya.


Sae loh Om... jadi tambah gemes deh!


" Eherm... Om nggak tidur disini kan nanti?" Hesti langsung menetralkan rasa yang ada, mencoba kembali kedua nyata, walau malam ini takkan pernah terlupakan olehnya.


" Tenang saja, Om tidak akan menyentuhmu kalau kamu menolak, tapi jangan usir Om dari kamar ini, karena Om harus memantau suhu badan kamu, sekarang aja masih panas banget." Jawab Arka dengan penuh kelembutan sambil mengecek kening Hesti.


Jadi pengen nangis kan jadinya aku Om, emak gue aja yang brojolin gue ke dunia ini nggak seperhatian kayak Om?


" Bukan begitu maksudku Om." Hesti memandang kedua mata Arka dengan tatapan sendu.


" Ya sudah, kamu istirahat ya, bobok yang nyenyak, Om jagain kamu dari sofa pojok sana, kalau mau apa-apa panggil Om saja ya?"


Arka menarik selimut tebal disampingnya dan menyelimutkan ke tubuh Hesti dengan senyuman yang membuat Hesti terasa mematikan.


" Hmm." Hesti memilih langsung memejamkan kedua matanya, karena jantungnya sudah berdebar tidak menentu.


Gimana mau benci kalau diperlakukan terlalu manis kayak begini bestie? aku harus gimana Gusti nu Agung..

__ADS_1


Segala umpatan dan pujian dia ucapkan dalam hati atas perhatian yang Arka berikan malam ini, sampai-sampai dia terlelap sendiri karena efek dari obat yang dia minum tadi sampai pagi menjelang.


Saat kedua mata Hesti terbuka, dia terkejut karena Arka tertidur sambil duduk dikursi disampingnya, bahkan dengan menggengam satu tangannya yang dia tempelkan di pipinya.


Manisnya kamu Om... bisa-bisa besok aku diabetes kalau kayak gini terus?


Hesti tidak berani bergerak, takut jika nanti membangunkan Arka yang masih terlelap, sepertinya dia menjaga dirinya semalaman, karena ada tempat kompresan juga disampingnya.


Namun tanpa sengaja Hesti bersin dipagi itu, karena memang setiap pagi dia sering bersin-bersin kalau cuaca sedang dingin.


" Haciiimm." Hesti merutukinya, namun apa daya, ditahan pun tidak enak rasanya.


" Emm... kamu sudah bangun?" Arka membuka kedua matanya, namun masih meletakkan tangan Hesti di pipinya, seolah tangannya itu bantal ternyaman buat Arka.


Bunuh saja aku Om, aku sudah nggak kuat lagi melihat pesona Om itu..


" Hmm.." Hesti hanya mampu menggangukkan kepalanya.


" Baiklah.. Om buatkan bubur ya buat kamu." Arka langsung menegakkan tubuhnya.


" Nggak usah Om, aku juga nggak begitu suka bubur." Jawab Hesti dengan jujur.


" Trus kamu maunya sarapan apa? roti sama susu mau?" Tawarnya kembali.


" Nasi padang belum buka Hes? lagian juga perut kamu masih nggak enak kan, makan yang lembut-lembut dulu ya? besok baru makan yang berat-berat, kamu tunggu sebentar ya."


Arka langsung pergi berlalu dari sana setelah membetulkan kembali selimut Hesti dan membawa kompresan tadi keluar dari kamarnya.


Karena tadi malam panas Hesti tak kunjung turun jadi dia berinisiatif mengompresnya sampai dia ketiduran disamping Hesti.


" Hesti... kita sarapan ya, setelah itu kamu minum obat." Arka kembali dengan satu mangkuk bubur dan susu hangat dikedua tangannya.


" Maaf... aku jadi ngrepotin Om?"


" Om sama sekali tidak merasa direpotkan, Om senang bisa melihat kamu sampai pagi." Ucap Arka dengan jujur dari hati.


" Om."


" Hmm?"


" Jangan terlalu baik dengan aku kenapa sih Om?"

__ADS_1


Hesti sudah merasakan hatinya tidak baik-baik saja, dia takut jika perasaannya terlalu dalam nantinya namun harus kandas ditengah jalan dan akan menjadi kegalauan yang melekat dihati.


" Cih... trus aku harus jahat gitu sama kamu? masak baik kok dilarang, emang kenapa?" Tanya Arka yang malah terkekeh karenanya.


" Nanti aku tambah cinta sama Om bagaimana?" Hesti tanpa sadar mengungkapkan perasaannya kembali.


" Ya nggak papa lah, masak dikasih cinta kok nolak, apalagi dari kamu, mubazir itu namanya." Jawab Arka yang langsung tersenyum-senyum sendiri.


" Tapi aku tidak mau menjadi duri dalam hubungan seorang ayah dan putranya, karena sepertinya Dimas tidak begitu suka kalau aku dekat sama Om." Hesti menilai sepihak kejadian singkat kemarin.


" Jadi itu alasan kamu memblokir nomor Om?" Tanya Arka sambil mengusap poni rambut Hesti yang menjuntai kedepan dan menautkan ketelinganya dengan mesra.


Serr!


Jantung Hesti kembali ser-seran dengan perlakuan Arka.


" Om.. sebenarnya aku juga tidak bermaksud untuk memblokirnya, tapi aku juga nggak enak sama Dimas, aku nggak mau kayak gini Om."


" Jadi kamu maunya apa dari Om? apa Love You Too saja tidak cukup?" Ucap Arka dengan santainya.


"HAH?" Hesti bahkan langsung melongo saat mendengarnya.


Dia bilang apa tadi? Love you too... omegott? apa aku tidak salah dengar, apa aku sedang bermimpi? atau karena aku demam jadi nggak sadar? tapi ini nyata gaes... aaaaa... Om Arka aku padamu!


" Aak dulu, kamu harus makan sebelum minum obat." Setelah meniup bubur itu beberapa kali, Arka langsung menyuapkan ke mulut Hesti yang masih terngaga karena terkejut.


" Om?" Hesti bingung mau bilang apa, namun entah mengapa hatinya begitu bahagia.


" Hesti.. Om tau apa yang kamu pikirkan." Arka meletakkan mangkuk bubur itu ke meja, dan berpindah duduk disamping Hesti.


" Jika kehadiranku dikehidupan Om dan Dimas hanya membuat luka saja, aku rela kok menjauh dari kehidupan Om, agar semua tetap baik-baik saja." Ucap Hesti yang mencoba untuk mengerti dan memahami.


" Hesti, kita jalani saja dulu seperti ini, biar Om yang akan bicara pelan-pelan dengan Dimas, Om tahu siapa Dimas dan bagaimana sifat Dimas, kamu yang sabar ya?"


" Jangan dipaksakan Om, jika memang tidak bisa, aku rela kok mundur pelan-pelan, aku masih bisa kok cari pria lain saja, untuk masa depanku nanti."


" JANGAN! jangan pernah coba-coba cari yang lain lagi."


Tanpa sadar Arka langsung berteriak, seolah hatinya tidak terima, jika ada pria lain yang menggantikan dirinya dihati Hesti.


..."Beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa."...

__ADS_1


..."Karena terkadang rindu, terjawab pada waktu yang tak terduga."...


__ADS_2