
...Happy Reading...
Rasa sesak dihati Arka sedikit demi sedikit mulai terkondisikan, walau rasa takutnya masih merajalela kemana-mana saat ini.
Tangannya pun masih sedikit gemetaran saat memegang pisau yang rasanya seolah memanas, seperti baru dipanggang diatas bola api.
Aku mau diapain ini ya?
Hesti kamu dimana sayang? katanya nggak mau pergi kemana-mana, ini kamu malah kabur begitu saja ninggalin om?
Sayang... tolong aku?
Segala umpatan Arka ucap dalam hati.
" Pak, Hesti kemana ya pak?"
Arka memberanikan diri berbicara dengan bapak Hesti yang masih mengikuti langkah istrinya keluar dari rumah itu dan menuju ke kebun belakang rumahnya.
" Palingan nangis di pojokan kamar." Jawab Bapak Hesti dengan santainya.
" Hah? boleh aku menemuinya sekarang pak?" Arka langsung tidak tega mendengarnya, padahal dia selalu menjaga Hesti agar dia tidak bersedih apalagi sampai menangis.
" Mau apa kamu dimakan hidup-hidup sama ibunya? aku aja ngeri kok, masak kamu enggak?" Ucap Bapak Hesti sambil mengusap lengannya.
Glek!
Perkataan dari bapaknya Hesti langsung membuat Arka menelan ludahnya sendiri.
" Iya, sama pak." Jawabnya kemudian.
" Begini nak Arka, ibarat kata nih, Tuhan menciptakan sinar matahari yang terik dan membuat suhu memanas, agar kita bisa merasakan betapa nikmatnya saat tubuh kita terkena sejuknya udara AC atau terkena angin dari kipas."
Arka pun menyetujui dengan ucapan bapaknya Hesti, dia terlihat menggangukkan kepalanya berulang kali.
" Begitu juga dengan hawa dingin, bagaimana kita bisa menikmati hangatnya tubuh kita saat menggunakan jaket, kalau tidak ada hawa dingin yang menerpa, jadi intinya kita tidak boleh menyalahkan suatu hal dengan sepihak saja, pasti ada nikmat lain yang akan kalian temui dibalik itu semua." Akhirnya penuturan yang bijak itu keluar dari mulut bapak Hesti.
Bener juga ya, takhlukin dulu ibuknya, baru urus anaknya ya kan? semangat Arka kamu pasti bisa! cinta memang perlu berjuang, agar terasa indah saat menikmatinya.
" Kamu sudah siap?" Teriak ibu Hesti saat dua lelaki itu tertinggal dibelakang.
" Sana!" Bapak Hesti langsung memajukan dagunya untuk menyuruh Arka mendekat kearah istrinya, namun dia tetap berdiri ditempatnya.
Dengan langkah berat dia berjalan mendekat kearah ibu Hesti.
" Info maszeh... itu airnya sudah panas belum?" Teriak Ibu Hesti dengan seseorang yang ada didapur miliknya.
Astaga... kenapa pakai air panas segala? aku disuruh ngapain ini, aaaa... sayang, apa kamu tidak mendegar panggilan dari hatiku? sini Hes... temani aku?
" Ini buk air panasnya sudah siap!"
Seorang pria terlihat membawa satu panci air panas yang masih mengepulkan uap panasnya dan itu semakin membuat Arka ketar ketir.
Apa aku disuruh melakukan pembuktian cinta ya? tapi masak pakai air panas, kalau aku disuruh mandi pakai itu pasti badanku sudah melepuh dan matang semua? trus nasip aku gimana? apa Hesti masih bisa cinta dengan keadaanku nanti?
Arka hanya bisa memaku ditempat, tanpa berani protes apapun didepan ibu Hesti, namun keringatnya mengucur dengan deras, tanda bahwa Arka berada di titik ketakutannya.
" Sini kamu?" Ibu Hesti kembali menjentikkan jarinya kearah Arka.
" I... iya buk, sa.. saya disuruh ngapain buk?" Tanya Arka dengan suara yang terputus-putus.
" Kamu bisa sembelih Ayam kan?" Ucap Ibu Hesti yang membuat Arka langsungterbengong.
Allohu Akbar
" Pokoknya kamu harus bisa menyembelih ayam, ibuk nggak mau tau ya, masak nanti ada dua kepala rumah tangga yang tidak bisa menyembelih ayam sama sekali." Ucap Ibu itu kembali yang membuat Arka tidak bisa berkata apa-apa.
" Jadi pisau ini untuk menyembelih ayam buk?" Tanya Arka dengan polosnya.
" Ya iyalah... jadi mau buat apa lagi?"
" Tapi tadi?
__ADS_1
Astaga... apa yang ada didalam pikiranku, kenapa aku berfikir beliau sejahat itu, ternyata ini semua tentang tragedi Ayam?
" Sudah cepat itu ada ayam sama itik juga di kandang, kamu sembelih ya, sama si maszeh itu suruh pegangin."
" Itu bapak kan ada buk?" Tanya Arka kembali.
" Bapakmu itu takut kalau ibu nyuruh dia menyembelih ayam, dia lihat darahnya aja sudah ketakutan, tapi kalau disuruh menyantap hasil makanannya dia jagonya, entah bagaimana itu modelnya!"
Bapakmu? apa mereka sudah menggangapku sebagai anak mantu?
Kata 'Mu' di belakang sebutan bapak dan ibu ternyata bisa membuat dua sudut bibiir Arka terangkat, mungkin ini maksud orang tua Hesti sedari tadi, bukan karena menentang hubungan mereka karena Arka adalah seorang duda.
" Kamu bisa kan nyembelih ayam sama itik itu? soalnya kami lebih suka makan ayam peliharaan sendiri bukan yang ayam potong."
" Insya Alloh bisa buk."
Akhirnya senyuman yang manis terbit dari wajah Arka.
" Woo... tampan juga kamu kalau begitu, pantas saja anak saya klepek-klepek sama duda kayak kamu!" Umpat Ibu Hesti yang membuat Arka semakin melebarkan senyumannya.
Sayang... andai kamu disini, aaa... ternyata kita berhasil mendapatkan restu mereka.
" Tapi kamu sudah pernah menyembelih ayam belum?" Tanya Ibu Hesti kembali, karena Arka hanya senyum-senyum saja sedari tadi.
" Belum sih buk, biasanya tinggal beli saja yang sudah bersih, tapi bismilah aja, semoga bisa."
Asalkan ada tekad semua orang juga pasti bisa melakukannya pikir Arka dengan semangat.
" Nggak gampang loh menyembelih hewan itu, kalau terlalu kuat motongnya dan sampai putus lehernya bisa jadi haram dagingnya, tapi kalau terlalu pelan-pelan nggak mati-mati ayamnya juga kamu dosa, karena menyiksa hewan itu." Jelas sang ibuk.
" Waduh?" Arka langsung menggaruk-garuk tengkuknya, keyakinan yang sudah bulat jadi luntur sedikit demi sedikit.
" Ibu nggak mau tau, pokoknya kamu harus bisa!"
" Buk... sebelumnya, boleh saya bertanya?"
" Apa?"
Plak!
Ibu Hesti langsung memukul lengan Arka, dia yang masih serius membicarakan acara potong Ayam malah Arka masih sempat-sempatnya membahas yang lain.
" Urus dulu itu ayam, malah nanya yang lain lagi!" Ibu Hesti langsung menjeling kearahnya.
" Tapi saya pengen dengar dulu penjelasan dari ibu, biar saya bisa tenang dalam memotong dua hewan itu." Jawab Arka yang mulai pandai menguasai situasi disana.
" Ckkk... hais kamu ini, kalau begitu kita duduk dulu disana."
" Baik buk." Arka langsung kembali tersenyum, inilah saatnya dia pedekate ke calon mertua pikirnya.
" Tuh kan, bapakmu itu mesti langsung ngilang kalau ada yang mau nyembelih ayam." Ibu Hesti langsung mengajak Arka duduk dikursi disamping kebun yang tertanam beberapa jenis sayuran disana.
" Mungkin nggak tega kali buk." Ucap Arka yang sudah mulai sedikit santai dan tidak tegang lagi.
" Memang dari dulu seperti itu, hmm... begini nak Arka, ibuk itu tidak pernah punya kriteria-kriteria tertentu untuk dijadikan calon mantu ibuk."
" Tapi... ibu hanya tidak ingin melihat Hesti kurang kasih sayang dari kamu, karena kamu sudah punya anak dari wanita lain." Ucap Ibu Hesti kembali.
" Saya mengerti buk, tapi saya jamin, Hesti tidak akan kekurangan satu apapun dari saya, perasaan saya tulus buat anak ibuk, tidak untuk main-main."
" Hmm... kalau begitu ibu pegang janjimu! apa itu bisa ibu sebut sebagai janjimu? kalau kamu mengingkarinya Neraka loh jaminannya?"
Sebagai seorang ibu, dia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.
" Tentu buk, aku akan menjaga Hesti dengan seluruh kemampuan yang ada padaku buk, walau terkadang dalam rumah tangga pasti anak duri dan lainnya, namun aku berjanji tidak akan meninggalkan Hesti apapun yang terjadi nanti."
" Alhamdulilah.. kalau begitu ibu bisa tenang, anakmu kelas berapa sekarang?" Ibu Hesti akhirnya bisa tersenyum.
" Sudah bekerja buk, dia sudah menjadi dosen sekarang."
" HAH? tapi kamu masih terlihat muda?"
__ADS_1
" Hehe.. makasih loh buk, ibuk bisa aja." Arka malah terlihat malu sendiri jadinya.
" Kenapa tidak anakmu saja yang jadi mantuku?"
Duar!
" Maaf buk, saya sudah menyuruh Hesti memilih putraku juga, tapi Hesti malah jadi marah-marah sama aku buk, padahal saya sudah mempertaruhkan perasaanku demi kebaikan Hesti, namun Hesti tidak mau menerimanya."
" Iya juga sih, cinta mana bisa dipaksakan, dia mengalir begitu saja ya kan?"
" Benar sekali buk, hehe.." Akhirnya Ibu Hesti satu komando dengannya.
" Apa anakmu sudah setuju?" Tanya ibu Hesti yang membuat dia kembali jantungan.
Itu dia masalahnya.
" Hmm... aku belum bilang sih buk, tapi akan aku usahakan, dia pasti bisa mengerti nantinya." Walau masih ragu namun dia tidak ingin kehilangan Hesti sekarang, apalagi sudah mendapatkan sinyal restu dari kedua orang tuanya.
" Hmm... bicara saja pelan-pelan." Ibu Hesti menepuk lembut bahu kekar Arka, seolah menenangkan.
" Terima kasih atas waktunya buk?" Arka tidak menyangka ternyata ibu Hesti juga sangat pengertian, hilang sudah prasangka buruknya diawal mereka bertemu.
" Semua anak pasti tidak akan terima jika ayahnya mau menikah lagi, tidak ada yang dengan mudahnya bisa menerima ibu sambung ataupun ayah sambung begitu saja, mungkin mereka akan merasa terkhianati, atau mungkin merasa takut jika kasih sayang orang tuanya tidak lagi untuknya."
" Apa ibuk punya saran untuk saya?" Arka selalu bisa membuat suasana menjadi tenang dan damai.
" Mana ibuk tahu? yang punya anak kan kamu!"
" Iya buk, maaf, cuma biasanya sebagai seorang ibu kan lebih tahu bagaimana perasaan seorang anak."
" Ya.. saran ibu sih, yang sabar, hati anak itu rapuh saat dia sudah kehilangan salah satu dari orang tuanya, kalau menurut ibu sih jangan terlalu dipaksakan, coba saja pelan-pelan, karena pada hakikatnya semua anak juga pasti menginginkan orang tuanya bahagia."
" Terima kasih banyak buk, saran ibu sangat membantu."
Arka merasa sangat bersyukur sekali, akhirnya jalan yang dia tempuh tidak seterjal yang dia bayangkan pada awalnya.
Ketakutan yang sering menghantuinya memiliki kekasih yang masih perawan sedikit demi sedikit mulai pudar.
" Hmm... yang semangat!" Ucap Ibu Hesti sambil mengepalkan jemarinya.
" Bu.. boleh saya menjabat tangan ibuk?" Tiba-tiba terlintas ide dipikiran Arka untuk meminta restu secara langsung.
" Heh? emang kenapa?" Tanya Ibu Hesti yang langsung terheran.
" Saya ingin meminta restu dari ibuk?" Ucap Arka dengan sopan.
" Nggak mau civm tangannya juga? cuma mau berjabat doang nih?"
Ternyata Arka baru menyadari, kalau kekonyolan Hesti itu menurun dari ibunya.
" Kalau ibuk berkenan, dengan senang hati buk?" Jawab Arka yang jadi sedikit salah tingkah.
" Kalau civm yang lainya nggak mau nih?" Ibu Hesti bahkan mengikis jarak diantara mereka.
" HAH?" Arka langsung terlonjak kaget, dia langsung mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri, dia sungguh tidak menyangka jika ibu Hesti bertindak sejauh ini.
" Gimana?" Ibu Hesti kembali menggodanya.
" Sa... sa.. saya minta izin dulu sama Hesti ya buk?" Arka kembali merasa ketakutan, bahkan kata-katanya sampai tersendat-sendat karenanya.
" Hahaha... ibuk bercanda Arka, kamu ini polos sekali, sering dikerjain Hesti nggak?" Ibu Hesti bahkan sampai memegang perutnya karena menahan tawa.
Nggak anak, nggak ibuknya, sama-sama suka membuat jantungku serasa mau copot, lemas tak berdaya.
" Hehe... sering banget buk." Tubuhnya yang tegang kembali mengendor seketika.
" Sudah ibu duga, haha.."
Arka akhirnya langsung lega dan ikut terkekeh bersama ibu Hesti, karena memang Hesti jagonya dalam bermain kata, apalagi kalau sudah menggombal, membuat wajah wanita itu selalu terbayang dipikirannya, saat Hesti tidak berada disampingnya.
...“Ada satu kata yang bisa membebaskan kita dari segala beban dan sakitnya kehidupan. Kata itu adalah cinta.”...
__ADS_1