Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
116. Asupan Gizi


__ADS_3

...Happy Reading...


Gila? Ray memang seolah sudah di buat tergila-gila oleh sosok wanita ini, terkadang dia sering uring-uringan sendiri, bahkan senyum-senyum sendiri saat memikirkan calon istrinya yang satu ini.


" Ckk... punya tunangan kok nyebelin, nggak ada romantis-romantisnya!" Ray langsung berjalan keluar rumah dengan langkah gontai.


" Nginep satu malam aja kenapa sih, ngapain juga mikirin kata orang!" Ray masih saja ngedumel sampai dia naik mobil.


" Biasanya juga kalau pasangan romantis itu sampai nyuri-nyuri waktu biar bisa berduaan berlama-lama, ini ditawarin sama mommy malah ditolak, sok jual mahal, sayang nggak sih sebenarnya itu!"


" Emangnya aku gigit apa? takut banget nginep dirumahku, dulu saja kakak sering nginep dirumah si Abeng!"


" Kenapa nginep dirumahku nggak mau, aunty Shanum juga nggak bakalan marah kalau mommy Mala yang minta izin!"


Bahkan dia masih mengoceh saja dikursi kemudi dan belum mau menghidupkan mobilnya walau Hana sudah berada disampingnya.


" Udah belom? masih mau ngomel lagi nggak? kalau sudah selesai kita jalan!"


Hana tidak perduli dengan rengekan Raymond, walau dia dulu memang sering nginep ditempat Ganesh, namun dulu dia belom menyadari perasaannya, karena memang sedari kecil mereka tumbuh bersama, setiap hari pasti diajak main kesana dan pasti tidak akan terjadi apa-apa walau mereka tidur satu kamar sekalipun. Lain dengan Ray yang sekarang notabenya kekasihnya, dia takut ada syaiton yang lewat lagi.


" Kak?"


" Aku pulang sendiri aja." Hana ingin beranjak keluar mobil karena kesal.


" Kakak sayang."


Ray lansung menahannya dan sengaja mengunci pintu mobilnya.


" Ray aku mau pulang." Hana mencoba terus bersabar, menghadapi tingkah calon suami bucinnya itu.


Ting!


" Kakak nggak takut aku digodain sama Samantha." Ray langsung mendapatkan ide cemerlang.


" Dia tidak seperti wanita penggoda?" Ucap Hana seketika, namun tangannya yang sedari tadi sudah memegang pintu mobil tiba-tiba langsung melemas.


" Yakin nih? siapa tahu saat dia lihat aku dirumah pakai kolor trus dia tertarik, hayow?" Ray sengaja membuat hati Hana panas, karena dia memang masih ingin berlama-lama menatap wajah kekasihnya.


" Mana ada orang jatuh cinta gara-gara pakai kolor, kamu jangan ngasal deh!" Namun raut wajah Hana terlihat kalau dia juga ragu.


Sial... iya juga ya, gimana dong ini?


" Kakak belum tahu aja pesona diriku kalau sudah pakai kolor, waah... begitu menggoda tiada duanya." Ray mulai tersenyum saat pertahanan Hana sepertinya terlihat mulai goyah.


" Mboyaklah!" Umpat Hana kesal.


" Nginep ya kak, semalam aja, kita kan juga harus bahas masalah persiapan pernikahan juga, owh iya.. tadi siang dari pihak WO sudah mengirimkan contoh dekor untuk kita, katanya kakak tidak bisa dihubungi, jadi mereka mengirimnya kepadaku."


" Ya udah kamu pilih saja, aku ngikut kamu pokoknya."


Kalau tidak bisa dengan cara paksa, gunakan aksi memelas... mari kita coba!


" Yang nikah kan kita berdua, masak semua yang milih aku, biarpun sibuk kamu juga harus mementingkan pernikahan kita dari pada pekerjaan loh kak, jangan terus tidak mau peduli gitu, kayak pernikahan kita nggak berharga aja dimata kakak." Ray langsung membuang pandangan keluar kaca mobil.


" Astaga, bukan begitu maksudnya Ray." Hana langsung merasa bersalah, dia memang terlalu sibuk akhir-akhir ini.


Waktunya serangan maut...


" Ya sudahlah, memang cuma aku yang terlalu cinta dengan kakak, dari dulu bahkan sampai sekarang, cinta kakak sepertinya sudah kembali padam untukku." Ray langsung menghidupkan mobilnya.


" Tunggu." Hana langsung mencegahnya.


" Apalagi, kakak itu jahat dari dulu!"


Tiga, dua....


" Okey, aku nginep dirumahmu malam ini." Akhirnya Hana mengalah.


Satu... berhasil, hahaha


" Gitu dong, jangan cuma perusahaan saja yang diurusin, pernikahan kita juga dong." Ray langsung keluar mobil dengan semangat.


" Biar aku suruh mommy minta izin sama calon mama mertua ya, kamu mandi aja dulu, nanti aku suruh bibi nyiapin baju tidur untuk kamu." Ucap Ray kembali.

__ADS_1


" Emang punya?"


" Punya kak Adelia banyak, kan cuma baju tidur doang."


Ray langsung melenggang santai mencari mommynya sambil bersiul-siul ria, akhirnya malam ini bisa menatap kekasihnya berlama-lama.


" Kakak sayang... ayok kita lihat dekornya?" Ray yang juga sudah mandi langsung mendekat kearah Hana yang masih duduk lesehan di ruang TV.


" Dimana?" Tanya Hana yang langsung bangkit dari karpet empuk dilantai.


" Di kamarku lah, laptopnya disana, ayok kita keatas."


Mati gw... bener-bener bisa jebol lagi, kalau aku sampai berduaan saja dikamar penuh kenangan itu.


" Bawa sini aja kenapa sih Ray, masih pengen nonton TV nih." Hana langsung kembali duduk di karpet.


" Kak?" Ray mulai merengek.


Astaga... ujian menuju hari H memang berat! tapi aku harus kuat!


" Kalau nggak mau besok aja kita lihatnya, lagian aku capek banget loh Ray, dari pagi meeting mulu sampai sore juga ada aja kerjaan, ditambah tadi sempat b@ku h@ntam, capek banget rasanya." Hana menyandarkan kepalanya pada kursi sofa dibelakangnya.


" Ya sudah deh... aku bawa kesini laptopnya." Akhirnya Ray pun mengalah.


" Good!" Hana langsung tersenyum dan mengacungkan jempolnya, dia selalu mencoba menahan imin nya, sampai saatnya tiba.


" Kalian berdua belum tidur?" Tiba-tiba terdengar suara Mala ditengah keasyikan mereka berdua.


" Belom aunty, masih milih-milih dekor buat pernikahan kita nanti." Jawab Hana saat dia dan Ray tiduran di karpet sambil tengkurap dengan laptop dihadapan mereka.


" Okey... bagus itu, pilih yang paling mewah okey, soal harga jangan dipikirkan, yang paling mahal itu biasanya yang paling bagus."


" Siap mom!" Jawab Ray dengan semangat.


" Ya sudah, mommy tinggal tidur dulu ya, Samantha juga sepertinya sudah tidur, Hana nanti kalau mau tidur bisa pakai kamar Adelia ya nak."


" Okey aunty."


" Iya mommy." Jawab Ray yang langsung sumringah, akhinya bisa berduaan walau diruang TV sekalipun.


" Kak, kalau dekor yang ini gimana?"


" Bagus." Jawab Hana sambil terus menguap, rasa lelah hari ini membuat matanya sedikit menyipit.


" Kalau bajunya kakak milih warna apa?" Tanya Ray namun tidak mendapatkan jawaban.


" Astaga... kakak sudah ngantuk banget ya, baru juga lihat sebentar?" Ray langsung melongo saat melihat mata Hana sempat terpejam tadi.


" Maaf... maaf Ray, aku capek banget, sampai mana tadi?" Hana mencoba membuka matanya kembali.


" Warna baju." Ucap Ray sambil terkekeh.


" Ijab Qobulnya warna putih aja dan resepsinya warna gold sama silver, kalau menurutmu cantik yang mana?"


" Emm... boleh sih, apa aja yang kakak pakai pasti kelihatan cantik."


" Ckk... kamu ini."


" Kak?" Ray langsung menggeser tubuhnya mendekat kesamping Hana.


" Apa?" Hana langsung memundurkan wajahnya saat kekasihnya sudah mulai tersenyum penuh makna.


" Mau Imun dong?" Ray mulai menggodanya.


" Apa sih Ray, janan aneh-aneh deh, ini di ruang TV." Hana langsung memundurkan wajah Ray.


" Justru karena diruang Tv aku nggak bakalan ngapa-ngapain kakak."


" Ckk... ini nih, sudah gw duga!" Hana hanya bisa menghela nafasnya berkali-kali.


Namun dia tidak bisa menolak saat tangan Ray sudah membelai rambutnya dan tersenyum manis seperti itu.


" Kak.. " Ucapnya disela-sela kecvpan dikepala Hana.

__ADS_1


" Hmm." Hana memejamkan mata sambil merasakan setiap sentvhan ringan dari Ray.


" Boleh minta Nen nggak?" Ucap Ray dengan suara paraunya.


" Apaan sih Ray, jangan aneh-aneh deh?" Hana menjawabnya dengan tidak membuka matanya.


" Sedikit aja."


" Nggak!"


" Sebentar aja deh."


" Ray.."


" Only one minutes okey?"


" Ckk.. nggak!"


" Pengen lihat, sebentar aja loh kak."


" Kamu kan udah pernah ngrasain juga sih, Ray!"


" Tapi kan belom lihat? sebentar aja kak, boleh ya?"


Padahal sebenarnya Ray hanya ingin menggoda Hana saja, yang terlihat lucu kalau ngambek seperti itu, tapi ternyata malah keterusan.


" Astaga... kuatkanlah imin dan luaskan sabarku Gusti, punya calon suami tengilnya minta ampun!" Umpat Hana sambil menggeser tubuhnya menjauhi Ray.


" Ngintip dikit ya, janji deh nggak akan kemana-mana, sampai disitu aja." Ray begitu terpesona saat melihat kekasihnya menggunakan baju tidur tipis sehabis mandi tadi, jadi jiwa kelakiannya muncul begitu saja.


" Jangan lama-lama." Karena terlalu lelah Hana malas meladeni ocehan kekasihnya, terserah saja pikirnya, toh seminggu lagi dia juga pemiliknya.


Kondisi lampu sudah remang-remang, Tv masih menyala, laptop pun masih ada didekat mereka, juga contoh-contoh surat undangan masih berserakan disekitar sana.


" Okey, sebentar aja kok, dulu kan belum sempat lihat, hehe."


Di dunia ini mana ada kucing yang diam saja, saat melihat ikan asin yang baru mateng.


Ray langsung menghela nafas dulu beberapa kali sebelum tangannya mulai merayap dikedua benda yang pernah membuatnya menggila, sebenarnya pun dia lelah, namun rasa penasaran mengalahkan segalanya.


Satu kancing mulai terbuka, tangannya mulai bergetar. Kancing berikutnya mulai terbuka kembali, senyumnya semakin melebar, dengan cepat dia buka semuanya dan mulai terpampanglah dua benda yang menyembul disana. Dengan perlahan tapi pasti Ray mulai menikmatinya.


" Emh.." Hana mulai melengvh, sepertinya dia sudah tertidur namun merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya.


Saat mendengarnya Ray semakin menggila, dia tenggelamkan wajahnya didalam sana berlama-lama sambil terus menikmatinya.


Hingga dia sampai tertidur dengan posisi yang masih sama, bahkan kedua tangan Hana dia letakkan diatas kepala Ray tanpa sadar sambil menekannya. Dan akhirnya dua manusia itu tertidur dengan lelapnya sampai pagi menjelang.


Pyaaarr!


Bukan suara ayam berkokok yang membangunkan tidur mereka, tapi suara pecahan gelas dari arah belakang mereka.


" ASTAGA RAY... HANA!" Teriak Mala yang terkejut saat melihat apa yang ada didepan mata. Bahkan mulut putranya pun terlihat asyik mengecap-ngecap sambil tidur.


" Hah? yaa... aunty." Hana langsung bangun gelagapan karena terkejut, dan seketika mendorong kepala Ray, dia fikir tadi itu mimpi, ternyata namanya disebut juga.


" Allohu Akbar.. Ray apa yang kamu lakukan!" Mala langsung memalingkan wajahnya saat melihat dua bukit milik Hana terpampang nyata disana.


" Heh... astaga my Hana!"


Ray yang ikut tersentak pun langsung menarik tubuh Hana dan memeluknya.


" Kancingkan dulu bajumu kak." Rasa kantuknya pun tiba-tiba hilang, dia lupa mengancingkan tadi malam, karena terlalu menikmati dan terlelap disana.


" RAY, kamu ihh... keterlaluan banget!" Hana bahkan sampai gemetaran mengancingkan baju tidur yang dia pakai, entah mau ditaruh dimana mukanya setelah kejadian ini.


" Maaf kak, aku ketiduran tadi malam, aku bantu deh!" Ray langsung ikut membantu mengancingkan walau tangannya juga ikut gemeteran.


" Kalian berdua cepat mandi dan temui mommy diruang kerja daddy, SEKARANG JUGA!" Teriak Mala menggelegar dipagi-pagi buta begini.


Mala tadi baru selesai menunaikan kewajibannya, dan setelah mengambil air putih dari dapur, dia melihat Tv masih menyala, jadi dia ingin memeriksanya, namun tanpa diduga dia malah melihat putranya tertidur dengan posisi seperti bayi yang sedang mencari asupan gizi sambil merem.


..."Cinta itu seperti persahabatan yang terbakar. Pada mulanya nyala api, sangat cantik, sering panas dan ganas, tetapi tetap hanya cahaya dan kedip-kedip. Ketika cinta bertambah tua, hati kita menjadi dewasa dan cinta kita menjadi seperti bara, dalam-dalam, dan tak terpadamkan."...

__ADS_1


__ADS_2