Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
112. Pelemasan Otot


__ADS_3

...Happy Reading...


Akhirnya pikiran Hana sudah tidak tertuju lagi dengan aksi Ganesh dan Adelia, karena seharian ini dia disibukkan dengan beberapa meeting dan pekerjaan yang menumpuk.


Hingga tanpa terasa matahari sudah hampir tenggelam, saatnya para pekerja kantoran pulang kerumah mereka masing-masing.


" Kakak sayang."


Saat masih memeriksa beberapa dokumen, Hana dikejutkan dengan suara kekasihnya.


" Ray... kamu sudah datang? kan aku belum menghubungimu tadi?" Hana melepas kaca matanya dan tersenyum melihat kekasihnya berjalan mendekat, rasa lelahnya seolah sirna saat kedua sorot mata kekasihnya hanya tertuju kepadanya.


" Lama sekali nungguin kakak menghubungiku, keburu bau wangi parfumku hilang, aku sudah mandi dari tadi loh."


Walaupun sering terlihat menyebalkan namun hanya Raymond lah yang selalu membuat hati seorang Hana terhibur dari rasa penatnya hidup.


" Udah bau asem lagi dong ini?" Hana langsung terkekeh sambil menyandarkan kepalanya dibahu kursi.


" Enak saja, civm nih ketiak aku, masih wangi tau, seger melebihi es sirup Mbah Marijan kali!"


Ray langsung memiting kepala Hana dan menyuruhnya mencivm ketiaknya dengan paksa.


" Aaaaa... ampun, iya.. iya.. aku yang asem, aku kan yang belom mandi, hehe." Hana langsung mengalah saja, walau sebenarnya dia bisa membanting Ray saat itu juga.


" Tapi karena aku kekasih yang baik, biarpun kakak bau asem, aku tetep mau kok nyium kakak."


Ray langsung menghujani kecvpan di kepala Hanami.


" Kamu mah modus aja."


" Biarin, modus sama calon istri sendiri, daripada sama orang lain hayow?" Bukan Ray kalau tidak bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.


" Coba saja?"


" Emang boleh?"


" Boleh lah, kalau sudah tidak sayang nyawa lagi?"


" Wuidiiiihh... serem boskuh." Ray langsung merangkul lengan Hana dan menyandarkan kepalanya disana dengan manja.


" Kamu sudah makan belum mas?"


Hana iseng-iseng dengan memanggil kekasihnya dengan sebuan mas.


" MAS..? kakak manggil siapa?" Ray malah terlihat syock dan curiga.


" Ya kamulah, siapa lagi?" Hana mengerutkan keningnya, selebay itu ekspresinya, pikirnya.


" Ini nih yang perlu dicurigai, biasanya juga kakak manggil nama ke aku? atau jangan-jangan kakak lagi dekat dengan mas-mas lain ya, trus tadi salah manggil aku?"


" Apaan sih Ray?"


Padahal Hana tadi berharap jika dia memanggilnya dengan sebuan mas, Ray akan tersipu malu dan terlihat menggemaskan, ehh... ternyata khayalan tidak sesuai dengan realita.


" Dimana dia, jangan-jangan sembunyi diruang istirahat kakak." Ray langsung berlari mengecek ruangan kecil disudut kantor itu.


" Astaga, nggak ada Ray, kamu nyari siapa?" Hana langsung mengacak rambutnya sendiri, tau gitu nggak usah coba-coba tadi, pikirnya.


" Mana cctv? aku mau lihat, sama ponsel kakak mana? pinjam?" Ray malah seperti depkolektoor yang jngin menagih kembali uangnya.


" Huh... Raymond sayang, nggak ada pria lain dihati aku kecuali kamu, mengerti?" Hana mulai melembutkan suaranya.


" Bohong, CEO kayak kakak pasti banyak yang deketin kan?"


" Memang--"


" Tuh kan!" Ray semakin mendelik kesal.


" Belum selesai ngomong sudah disela aja sih Ray?" Hana langsung menyentil bibirr Ray perlahan.


" Aku benci kamu." Ray memasang tampang angry bird.


" Memang banyak yang deketin, tapi kan nggak ada satupun yang membuat hati aku bergetar kayak saat dekat dengan kamu."


" Ciih.." Ray langsung melengos, padahal dalam hati dia senang karena jarang-jarang Hana mau berkata manis dengannya.


" Kita dinner romantis berdua yuk diluar, biar aku yang traktir kamu, sepuasnya." Hana langsung memeluvk lengan kokoh tunangannya untuk membujuk.


" Kakak ini ngomong kayak aku orang paling miskin sedunia deh, kalau kakak mau, restorannya skalian juga kubeli buat kakak!" Ucap Ray dengan sombongnya.


" Ceileh... beneran nih?" Hana menyentil dagu Raymond dengan gemas.


" Tapi bo'ong! gaskeunlah... kapan lagi ditraktir makan sama calon istri, hotel bintang lima ya kak." Ucap Ray sambil terkekeh dan langsung menautkan jemari mereka berdua seolah kemarahanya lenyap karena rayuan Hana yang tidak seberapa.


" Dasar bocah!" Hana melongo saat mendengar ucapan kekasihnya dan hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Haripun mulai gelap, mereka benar-benar memasuki kawasan restoran di hotel berbintang lima.

__ADS_1


" Kita makan disini sekali nggak sampai melebihi gaji kakak seminggu kan?" Ray langsung membuka buku menu dan melihat-lihat makanan yang terlihat menggugah selera.


" Kamu pikir gaji kakak besar apa?"


" Emang berapa gaji seorang CEO?"


" Yaa... cukuplah kalau cuma sekedar buat makan." Jawab Hana dengan santainya.


" Apa kita pindah restoran aja? ntar gaji sebulan pula habis cuma gara-gara makan kayak beginian?"


" Nggak papa, ini sih paling cuma gaji satu jam kerja doang!" Ucap Hana sambil menyilangkan kakinya dengan elegan.


" Waaah... aku jadi malu karena masih jadi pengganguran ini."


" Eeh Ray... lihat deh tuh cewek lagi berantem kali ya." Hana mengalihkan pandangannya kearah meja dibelakang kekasihnya.


" Biarin aja kak, itu urusan pribadi mereka masing-masing, nggak usah dilihatin." Jawab Ray yang memang tidak mau ikut campur urusan orang yang tidak dia kenal.


" Wah... datang cowok satunya Ray, apa dia ketahuan selingkuh ya Ray? trus dilabrak sama dua-duanya." Hana seolah terus menyimak meja yang ada dibelakang Ray walau paling pojok.


" Haish... dasar cewek jaman sekarang, lubang aja cuma satu kok mau merangkap dua cowok sekaligus, mau taruh dimana coba, biar kapok sekalian tuh cewek." Ray malah langsung menaikkan satu sudut bibirrnya tanpa mau melihat apa yang terjadi dibelakang sana.


" Jangan ngomong gitu Ray, kamu kan nggak tau alasan dia yang sebenarnya apa?"


" Mau alasan dalam bentuk apapun, selingkuh itu tidak dibenarkan kak, nggak bisa apa setia hanya dengan satu pasangan saja?" Jiwa lelaki sejati Ray seolah merasa tidak terima.


" Astaga... ceweknya sampai didorong-dorong gitu Ray, kasihan loh?"


" Biarkan saja, biar bisa jadi pelajaran hidupnya, jangan bisanya cuma mempermainkan hati seorang pria saja, nih yaa kak... ketika hati seorang pria tersakiti, walau suatu saat nanti dia bisa berbalikan lagi dengan pasangannya, tapi hati yang luka masih membekas bahkan mungkin tidak bisa hilang untuk selamanya." Jawab Ray panjang lebar, seolah dia menjadi pujangga cinta malam ini.


" Berat banget bahasamu deh Ray?"


" Emang benar kok, karena luka tercipta dari seseorang yang kita anggap istimewa."


" Astaga berondongku, kenapa jadi kamu yang seolah merasa tersakiti? kamu tidak mencurigaiku lagi kan, gara-gara aku panggil mas tadi?" Hana malah jadi ketakutan sendiri akhirnya.


" Kalau nggak salah, jangan takut begitu dong kak?" Ray langsung tersenyum miring menatap wajah kekasihnya.


" Aku jadi sedih." Hana langsung memasang tampang memelasnya.


" Heh?" Ray langsung menaikkan kedua alisnya.


" Padahal semua sudah aku berikan kepadamu, tapi kamu masih mencurigaiku, apa kita batalkan saja acara pernikahan kita?" Giliran Hana yang membuat Ray jadi gelagapan sendiri.


" Janganlah kak... jangan bawa-bawa rencana pernikahan kita, semua akan berjalan sesuai dengan rencana, ngomong apaan sih kok malah jadi sampai kesitu." Ray langsung menggengam jemari Hana.


" Ya sudah jangan ngomongin orang deh, kita lanjut makan saja ya, abaikan orang yang ada dibelakang sono, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri okey?" Ray langsung kembali bersikap manis. Karena mereka berdua sebenarnya sama-sama takut kehilangan.


" Ya ampun, kalau itu sih keterlaluan Ray, sejahat-jahatnya cewek, sang cowok jangan melakukan kekerasan fisik dong, nggak gentle banget sih, dua cowok lawan satu cewek?"


" Mungkin dia penjahat kali kak."


" Tapi dia cewek Ray?"


" Siapa bilang cewek nggak bisa jadi penjahat bahkan ada cewek yang ikut gabung jadi geng mafia besar kok, tapi ehh..


Dan saat itulah Ray tertarik untuk menoleh dan melihat siapakah yang sedari tadi asyik dibicarakan oleh tunangannya.


" Dia kayak..."


Astaga itu kan Samantha!


" Kayak apa, jangan bilang kamu kenal? gara-gara dia cantik jadi sok kenal? dasar cowok, dimana-mana semua sama."


" Kakak tunggu sebentar, aku akan membantunya."


" Hey... katanya jangan ganggu urusan orang, tapi kenapa malah disamperin? awas saja kamu Ray."


" Tetap disana kak!"


Ray langsung berlari saat melihat dua pria itu terlihat menarik Samantha keluar dari sana, dan yang lebih anehnya Samantha tidak memberikan perlawanan sama sekali.


" Ray... jangan Ray!" Hana berteriak untuk mencegahnya namun Ray tidak memperdulikannya, ditambah lagi pengunjung cuma ada beberapa orang saja, karena tempat itu memang kelas atas.


" Katanya biar dia dapet pelajaran hidup, ehh... malah diselamatkan juga!" Terpaksa Hana ikut mengejar mereka dan meninggalkan meja mereka setelah meninggalkan puluhan uang ratusan ribu.


" Siapa gadis itu sebenarnya sih, untung aku tadi bawa uang cash banyak, kalau tidak kejar-kejaran kami sama pelayan restoran ini?" Umpat Hana sambil berlari.


" Wah... jangan bilang kalau dia mantan kekasihnya." Entah mengapa pikiran Hana langsung menjurus kearah itu, padahal Raymond sama sekali tidak punya mantan kekasih.


Mereka berlari kejar-kejaran bahkan cukup jauh, saat mereka sampai di sebuah gudang yang tidak terpakai didekat parkiran mobil, Ray langsung menghajar mereka berdua, namun karena dua lawan satu, akhirnya Hana langsung ikut mendekati mereka, karena Samantha hanya terdiam saja dipojokan.


" Kyaaaaaaa... berani-beraninya kalian memukul wajah calon suamiku!" Teriak Hana.


Glodak!


Saat melihat salah satu pria berbaju serba hitam itu memukul wajah Ray, Hana langsung melepas high heelsnya dan melempar kearah wajah pria itu.

__ADS_1


" Argh!" Pria itu menger@ng kesakitan, karena hak sepatu yang cukup tinggi itu menggores wajahnya.


" My Hana? i love you!" Teriak Ray yang langsung menatap kagum kepada calon istrinya itu.


" Dasar bocah sableng, dalam situasi genting pun dia masih sempat-sempatnya bilang i love you!" Umpat Hana terheran.


" Hehe.. terima kasih sudah membantuku kak." Ray malah terkekeh karenanya.


" Sebenarnya aku juga malas membantumu, aku hanya tidak ingin, wajahmu babak belur dan jelek saat resepsi pernikahan nanti, yang benar saja kan, nanti istri spek bidadari tapi suami wajahnya hancur, mana cowok nggak bisa pake dempul lagi."


Hana langsung menghajar satu pria lagi, dan akhirnya mereka duel satu lawan satu, walaupun Hana sudah lama tidak latihan, namun dia menguasai tekhnik dasar dari taekwondo, dia pun pengamat yang handal, bisa melihat kelemahan dari lawan hanya dengan melihat gerakannya saja, itu kenapa dia bisa menjadi pelatih saat itu.


Tidak butuh waktu yang lama, mereka langsung membuat dua pria itu babak belur, dan saat kedua pria itu merasa lemah mereka memilih kabur dari sana.


" Hei... mau kemana kalian, dasar pengecut!" Teriak Hana yang ingin mengejarnya, namun dicegah oleh Raymond.


" Sudah kak, tak perlu dikejar, kita balik saja sekarang, nggak ada gunanya mengejar mereka, buang-buang waktu saja." Ray langsung merangkul bahu Hana dan membawanya balik ke mobil.


" Lepas! sono kalau mau kenalan, sudah aman kalian berdua!" Hana langsung mengibaskan tangan Ray yang nangkring dibahunya.


" Apaan sih kak, siapa juga yang mau kenalan, orang aku sudah kenal kok."


" Ya sudah lanjut sono!" Hana langsung berjalan duluan, mood dinner romantispun sudah hilang entah kemana.


" Samantha, ayo ikut aku!"


Ternyata namanya Samantha, bener-bener tu bocah, ngapain juga ngajak dia?


" Tidak, terima kasih." Jawab Samantha yang langsung menolak.


" Samantha ayolah, tidak aman disini." Ray tetap ngotot ingin mengajak Samantha.


Cih... kalau nggak mau ya biarin aja, ngapain juga dipaksa, emang siapa dia, dasar modus!


Hana mengumpatnya diam-diam sambil terus menguping pembicaraan mereka.


" Tidak apa-apa, mereka sudah pergi." Jawab Samantha yang tetap kekeh dengan pendiriannya.


" Astaga.. justru karena mereka pergi kamu lebih bahaya, mereka pasti punya kompl○tan, kalau mereka bawa kemari, habis kamu malam ini juga."


" Tapi..."


" Sudahlah, ayok ikut ke mobil kami, aku juga ingin membicarakan sesuatu dengan kamu." Ray langsung menarik paksa tangan Samantha.


Kebetulan sekali, ini moment yang pas ketika bisa bertemu Samantha ditempat ini, jadi dia tidak harus pergi jauh ke desa.


Sialaan... mana pake diajak naik satu mobil denganku lagi, wah... priaku ini benar-benar menguji kesabaranku!


" Kalau begitu kalian naik saja berdua, biar mesra! aku bisa pulang naik taksi saja!" Ucap Hana dengan nada ketus.


" Kakak sayang, nanti aku jelaskan di mobil siapa dia, sekarang kita pergi dulu dari sini, bahaya nanti kalau mereka datang lagi." Kalau sudah menggunakan panggilan kakak sayang, Hana langsung meleleh.


" Hei... lepas dulu itu tangannya! berani-beraninya kamu memegang tangan wanita lain didepanku!" Teriak Hana dengan kesal saat tanpa sengaja matanya melihat tangan Ray.


" Hehe... maaf sayang, habisnya dia bandel tadi, nggak akan aku ulangi lagi, okey?" Ray langsung melepas tangan Samantha yang malah terlihat canggung didepan mereka.


" Cepat masuk Samantha!" Teriak Ray melotot kearah Samantha, karena dia hanya mematung saja didepan mobil mereka.


" Cih... maksa banget!" Hana langsung melengos mendengarnya.


" Kakak sayang... nanti akan aku jelaskan semuanya." Ray ingin mengusap wajah Hana namun langsung ditangkisnya.


" Jangan sentuh aku dengan tanganmu ini, dia sudah menyentuh kulit wanita lain." Hana bahkan beringsut minggir duduk ditepi jendela mobil.


" Ya ampun sayang... segitunya kamu, nih dah aku lap, aku semprot pakai handsanitezer deh, nah... puas kamu?" Ray langsung menunjukkan tangan kirinya yang sudah bebas dari kuman.


" Astaga, apa kita sekarang lagi syuting drama FTV? aku merasa menjadi orang ketiga sekarang?" Ucap Samantha perlahan namun bisa membuat sepasang kekasih itu menoleh bersamaan.


" Duduk diam disitu, kita berangkat sekarang!" Jawab Ray yang langsung melajukan mobilnya untuk segera meninggalkan tempat itu.


" Ciih... gagal sudah dinner romantis malam ini gara-gara dia!" Umpat Hana sambil cemberut.


" Maaf ya sayang, kita bisa dinner romantis lain kali okey?" Ray tetap menampilkan senyum terbaiknya, dia tahu tunangannya pasti kecewa, apalagi dia sudah mengeluarkan banyak uang pasti tadi di restoran, padahal mereka belum sempat menikmatinya.


" Malas, aku sudah bad mood." Rasa cemburunya seolah meledak-ledak karenanya.


" Kalau tidak, kita dinner spesial berdua dikamarku nanti malam, mau?" Ray langsung merayu tunangannya seperti biasa.


" Ogaaah, dinner sono sama yang dibelakang!" Hana langsung membuang pandangan kesamping.


" Owh... begini rasanya jadi Mbak Pelakor, kerjamu ternyata berat ya Mbak, okey.. silahkan dilanjut, yang semangat!" Umpat Samantha sambil memejamkan kedua matanya dan menutup kedua telinganya sambil meringkukkan tubuhnya yang lelah dikursi belakang dengan santainya.


Dan kata-kata itu sontak membuat Ray dan Hana kembali menoleh kebelakang, ucapan gadis itu tidak banyak, tapi selalu lain daripada dugaan yang ada dipikiran mereka berdua.


..."Segemuk-gemuknya ikan pasti ada durinya dan sekurus-kurusnya ikan pasti ada dagingnya, se buruk-buruknya orang, pasti ada kebaikannya, dan sebaik-baiknya orang, pasti ada buruknya."...


..."Buang yang keruh, ambil yang jernih, carilah kebaikan dalam keburukan orang, itulah AKHLAK dan carilah keburukan diri sendiri, itulah IKHLAS."...

__ADS_1


Dan jangan lupa, ojo lali, like dan hadiahnya😁


__ADS_2