Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
74. Musim Produksi


__ADS_3

...Happy Reading...


Sudah lebih dari satu minggu Adelia menginap dirumahnya kembali, semenjak Ray sakit Adelia membantu mommynya bergantian menemani Ray walau sudah ada banyak asisten rumah tangga yang melayani Ray. Mereka hanya tidak ingin Ray merasa kesepian karena tidak ada teman ngobrol, walau kenyataannya mereka berdua sering dicuekin juga.


Awal mulanya Ganesh setuju-setuju saja karena dia juga tidak sampai hati melihat keadaan Ray yang sekarang, bahkan dia sudah lama tidak beradu argument dengannya, karena Ray menjadi sosok pendiam sekarang.


Namun lama kelamaan dia jadi uring-uringan sendiri karena seolah perhatian Adelia hanya untuk adeknya saja, dia jadi lupa kalau sudah punya suami.


" Sayang... tumben kamu bisa duduk santai sekarang? nggak nemenin adekmu tercinta?" Ledek Ganesh saat baru saja pulang dari kantor, dia bisa pulang lebih awal karena besok dia akan pergi dinas keluar kota, dia sudah mulai bekerja sekarang, walau lebih sering di lapangan dahulu, agar mengerti seluk beluk pekerjaannya.


" Tadi ada Hana datang menemani Ray, huh... aku jadi lega kak, setidaknya Ray mau ngobrol, tidak diam saja kayak patung kalau dengan aku atau mommy." Jawab Adelia seperti sedang terbebas dari tekanan batin.


" Benarkah? mommy dimana sekarang?" Ganesh langsung terlihat bersemangat.


" Pergi arisan dengan ibu-ibu, aku juga nggak tega lihat mommy terpuruk terus dirumah, jadi sengaja aku suruh berangkat, setidaknya beliau bisa melihat dunia luar, dapat hiburan kalau bertemu dengan tetangga." Walau tadi Mala sempat menolak, namun akhirnya berangkat juga karena Adelia memaksanya.


Yes... akhirnya aku bisa menggarap ladangku yang sudah menganggur sepekan lebih.


Ganesh langsung melempar tas dan membuang jas nya kesembarang arah.


" Heh? ada apa kak?" Tanya Adelia yang terheran sendiri.


" Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini!" Ganesh langsung menggendong Adelia masuk ke dalam kamarnya.


" Kakak mau ngapain?" Adelia langsung menoleh ke kanan kiri untuk memastikan Hana tidak mencarinya sekarang, karena bibi juga sedang belanja keperluan dapur sekarang.


" Ngapain lagi, minta jatah lah! apa kamu lupa kalau sekarang kamu sudah punya suami?" Bahkan dia setengah berlagi agar cepat sampai didalam kamar.


" Maaf kak, bukannya aku lupa, aku cuma kasian kalau melihat mommy ngurusin Ray sendiri seharian penuh!" Adelia mengalungkan kedua tangannya ke leher Ganesh, takut kalau jatuh.


" Aku tidak keberatan kalau kamu mengurusi Ray siang hari, tapi malam hari urusin juga suamimu sayang." Karena terlalu bersemangat Ganesh bahkan lupa mengunci pintu kamarnya, dia hanya menutupnya dengan kaki dan ternyata tidak tertutup rapat.


" Aku sudah melayani kakak seperti biasa kan?" Jawab Adelia sambil mengeratkan pelukannya.


" Tapi tidak untuk masalah ranjang bergoyang!" Tangan Ganesh langsung bergerilya membuka satu persatu baju istrinya yang masih dalam pangkuannya.


" Astaga kakak." Dalam sekejap mata semua baju mereka terlempar dilantai.


" Kamu tau nggak burung peliharaan kesayanganku, yang sering membuat kamu menjerit tengah malam itu sakit sekarang." Ucap Ganesh dengan tangannya yang tidak berhenti berkeliling mencari yang segar-segar di lahan yang sudah sah menjadi miliknya.


" Herm.. uhh.. Sakit? kok bisa sih kak?" Jawab Adelia yang selalu tidak bisa menahan jika tangan suaminya sudah nakal seperti ini.


" Karena nggak pernah kamu kasih jatahlah!" Ucap Ganesh yang selalu tersenyum kalau sudah melihat ekspresi istrinya yang merem melek seperti ini, serasa memberikan semangat ekstra bagi dirinya.


" Tapi jangan sekarang juga kali kak, ini masih siang, nanti malam aku janji okey?" Mulutnya menolak, namun tubuhnya mengge linjang saat mendapat serangan dari tangan Ganesh yang memang terampil dalam hal itu.


" Okey, tapi sekarang dia sudah terlanjur bangun, jadi tidak akan tertidur sebelum dia memuntahkan isinya!" Karena tidak ingin Adelia menghindar lagi, Ganesh beraksi saat Adelia masih didalam pangkuannya dan melakukan gaya sesuka hatinya.


" Tapi kak, emphh---"


Kalau sudah begini Adelia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah, dia juga sebenarnya tidak tega kalau melihat suaminya menyenggol-nyenggol dirinya kalau tengah malam, namun Adelia masih terlalu sedih mengingat keadaan adeknya jadi dia melupakan jatah suaminya.


Disaat Hana menahan malu karena kejadian dengan Ray di kamarnya, dia lebih memilih pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk Ray.


Namun suasana di dapur sepi, asisten rumah tangga mereka pun tidak kelihatan batang hidungnya.


" Pada kemana sih orangnya?" Hana mengedarkan pandangan ke sekeliling dapur.


" Bi? aunty Mala? Adelia?"


" Kalian dimana?" Teriak Hana namun tidak mendapatkan jawaban apapun.

__ADS_1


" Aku ambilkan saja apa ya? tapi lancang nggak ya? walau makanan buat Ray kan tetep saja nggak sopan kalau aku ambil begitu saja.


" Owh...aku ke kamar Adelia saja, mungkin dia ada disana." Hana langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Adelia.


Namun saat dia sampai didepan kamar Adelia, pintu kamar itu tidak tertutup rapat, sehingga Hana memberanikan diri membuka dan mencari Adelia didalam sana.


" ASTAGA... YA SALAM!" Teriak Hana langsung balik kanan dan membanting pintu kamar itu.


" Apa itu tadi? sedang apa mereka? apa mereka sudah gila?" Hana masih mengatur deru nafas didepan pintu kamar itu, jantungnya berdegub dengan kencang saat melihat adegan Min plus itu


" Hana." Tiba-tiba Kepala Ganesh menyembul keluar pintu.


" Owh Tuhan...maaf aku tidak sengaja, aku tidak melihat apa-apa kok tadi, aku akan pergi!" Jawab Hana yang kembali terkejut dibuatnya.


" JANGAN! Hana tolong jangan pergi dulu!" Teriak Ganesh memelas.


" Ehh... kenapa? bukannya tadi aku menggangu kalian berdua?" Tanya Hana dengan tangan masih mengusap da danya.


" Kamu tidak menggangu, justru kedatanganmu di rumah ini membantuku." Ganesh bahkan bisa nyengir kuda sekarang, setelah tadi hampir saja lengannya berdarah karena digigit oleh istrinya yang menahan malu karena Hana melihat aksi mereka.


" Membantu apaan?"


" Hana, tolong menginap sehari saja disini bisa nggak?" Hanya kepala saja yang Ganesh tunjukkan, karena dia sama sekali belum mengenakan apa-apa.


" Ngapain?" Tanya Hana yang malah merasa ketakutan.


" Tolong aku Hana, aku lagi musim produksi ini, kalau tidak ada yang menjaga Ray, Adelia terus-terusan berada di kamar itu." Ganesh bahkan memasang tampang memelas kembali.


" Hah?"


" Sudah seminggu aku nggak bercocok tanam, aku takut gagal panen tahun ini, please Hana temani Ray malam ini ya."


Ting... ting...


" Dasar kakak Omes! aku nggak perduli!" Umpat Hana yang langsung berjalan pergi meninggalkan kamar Adelia dengan wajah yang sudah memerah, otak sucinya seolah sudah merekam kejadian yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, dan karena aksi pasangan suami istri itu tadi semakin menambah beban di pikirannya.


" Hanaaaaa... jangan pergi! dek... aish!" Terdengar suara umpatan Ganesh namun tidak Hana perdulikan, dia terus berlari kembali ke kamar Ray.


Apa itu tadi? kenapa terlihat asyik sekali? astagfirullohaladzim... mataku terdonai !


Niat hati ingin mengambilkan makanan untuk Ray jadi terbatalkan sudah, karena otaknya telah terkontaminasi aksi Ganesh dan Adelia dikamarnya tadi.


" Fuh... panas... panas!" Hana akhirnya kembali ke kamar Ray dengan tangan kosong.


" Kenapa kak?" Ray meraba-raba disekitarnya saat mendengar suara Hana kembali.


" Kenapa cuacanya panas banget ya Ray?"


" Masak sih? mau di gedein lagi kah suhu AC nya? coba kakak cari remotenya diatas meja." Ucap Ray yang heran, padahal menurutnya kamarnya sudah sangat dingin.


" Udah full Ray... astaga, ada apa dengan hari ini sih?" Hana kembali mengibaskan tangannya didepan wajahnya sendiri.


" Kakak dari mana?" Tanya Ray yang merasa semakin aneh.


" Dari kamar kakak kamu!" Hana masih mengatur deru nafasnya.


" Pfffttthhh..." Hanya Hana lah yang sering bisa membuat Ray tersenyum dan tertawa dadakan tanpa setingan.


" Apa ada gempa disana?" Tanya Ray yang seolah bisa melupakan kesedihannya sejenak.


" Wuuuiiihhh... bukan hanya gempa, bahkan angin ribut dan petir menyambar-nyambar." Jawab Hana dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


" Sini kak." Ray menepuk kasur disebelahnya agar Hana mendekat, dia tahu betul apa yang terjadi dikamar kakaknya, karena berulang kali dia sering memergoki kakak perempuannya sedang berduaan dengan suaminya.


" Apaan?" Hana duduk disamping Ray dengan ragu.


" Kakak pengen ya, hayow?" Bisik Ray yang membuat Hana langsung terlonjak.


" Diiih... apaan, nggak ya! nambah dosa aja kamu ini!" Hana langsung protes keras karenanya.


" Kakak jangan pergi!" Umpat Ray saat meraba tempat disampingnya namun Hana sudah berpindah posisi.


" Enggak.. enggak, aku masih disini Ray." Hana langsung meraih jemari Ray dan membawanya kedalam pangkuannya.


" Kakak jangan jauh-jauh dariku, aku nggak bisa lagi mencari kakak." Ucap Ray yang mulai melow lagi.


" Kalau begitu biar aku yang akan mencarimu." Hana langsung mengusap wajah tampan Ray.


" Walau aku tidak lagi bisa melihat kakak, tapi wajah kakak masih jelas terlukis di pikiranku." Ucap Ray sambil menundukkan kepalanya.


" Good boy, walau kamu tidak bisa melihat wajahku, tapi kamu kan masih bisa mendengar suaraku, anggap saja kita sedang telponan sekarang."


" Tiada manusia didunia ini yang sempurna Ray, aku pun punya banyak kekurangan, kamu tahu sendiri bagaimana sifatku bukan? dan kamu tetap saja menungguku sampai entah berapa purnama, aku pun lupa." Ucap Hana kembali mengingat bagaimana perjuangan Ray untuk meluluh lantahkan hatinya.


" Hmm.. aku hebat kan kak?" Ray pun tidak menyangka bisa menjadi seperti itu, karena menurutnya Hana beda dari yang lain, semakin susah dia dapatkan, semakin menjadi tantangan tersendiri di hidupnya.


" Tentu, makanya jangan bersedih lagi Ray, Tuhan tidak akan menguji kita melebihi batas kemampuan kita, tetap kuat ya Ray, aku akan selalu menyayangimu sepenuh hatiku, apapun yang terjadi nanti."


Tidak mudah menemukan orang seperti Ray, yang tahu keburukan dan kelemahannya namun tetap bertahan dengan satu pilihan, apalagi di jaman banyak wanita yang seksih di luaran sana.


" Terima kasih kak." Ray bahkan bisa menitikkan air matanya yang jarang dia perlihatkan dihadapan orang lain.


" Ehh.. mau denger aku nyanyi nggak?" Hana kembali menghilangkan suasana canggung diantara mereka.


" Emang kakak bisa nyanyi?" Ledek Ray yang memang belum pernah mendengar Hana menyanyi, walau hanya didalam kamar mandi.


" Enggak." Jawab Hana dengan cepat.


" Lalu? kenapa kakak mau nyanyi?" Tanya Ray yang langsung kembali tersenyum karenanya.


" Biar kamu bisa denger dan mengingat betapa buruk dan hancurnya suaraku." Ucap Hana dengan santainya.


" Pffftthhhh... kakak bisa aja, coba aku mau denger suara cempreng kakak?" Ray kembali menahan tawanya.


" Eherm... tes.. tes." Dia bahkan sudah seperti penyanyi profesional, memegang ponselnya ibarat microfon, kalau Ray bisa melihat, Hana pasti sudah menutup wajahnya sendiri dengan bantal karena merasa malu.


" Kan kutulis semua cerita ini... Begitu senangnya hariku... Tenang saat kutatap matanya." Hana langsung meraba mata Ray sambil bernyanyi perlahan.


Suasana hati Ray langsung membaik saat ada Hana disampingnya, walau suara Hana tidak semerdu suaranya, namun Ray seolah menikmatinya bahkan dia menggangap merdunya suara Hana mengalahkan suara emas Diva di negri ini.


" Owh bahagia aku... saat engkau mengenggam kedua tanganku, berdebar deras jantungku, tak berdaya, lemah semua syaraf nadiku..." Tanpa terasa air matanya ikut menetes disela nyanyiannya.


Entah apa jadinya aku tanpamu kak Hana, duniaku terasa begitu gelap saat ini, namun bayangan wajah kakak tidak pernah luput sedikitpun dari ingatanku...


" Aku sayang kakak." Ray langsung memeluk erat tubuh Hana disampingnya.


" Cieee... baru aku nyanyiin sepenggal lagu aja langsung bilang sayang." Ledek Hana seketika.


Dia bahagia disaat seperti ini bisa menghibur kekasihnya yang seolah sudah patah semangat karena keadaan. Hana berharap selamanya dia akan terus bisa bertahan seperti ini.


" Emang nggak boleh?" Tanya Ray sambil melonggarkan pelukannya.


" Boleh dong Ray sayang, owh... bucinnya kekasihku!" Hana kembali merapatkan pelukan mereka, sebenarnya dia hanya menyembunyikan kesedihan saja, diantara senyum dan tawa yang terlihat.

__ADS_1


Ada pepatah mengatakan bahwa 'badai pasti berlalu'. Artinya, masalah atau badai dalam kehidupan tak akan selamanya menghantam hidup seseorang.


..."Tidak ada badai yang bisa bertahan selamanya. Tidak akan pernah hujan selama 365 hari berturut-turut. Ingatlah bahwa masalah akan datang, bukan tinggal. Jangan khawatir! Tidak ada badai, bahkan yang ada dalam hidup Anda, yang bisa bertahan selamanya." ...


__ADS_2