Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
131. Down


__ADS_3

...Happy Reading...


Entah sebesar apa rasa malu yang Arka rasakan saat ini, yang pasti jumlahnya tidak terkira, namun setidaknya dia lega kalau ternyata Tenda Biru itu bukan simbol adanya sebuah pernikahan di rumah Hesti.


Saat itu Arka tidak mengamatinya dengan jelas, karena fikirannya seolah sudah tersugesti dengan omongan Hesti kemarin, tentang disuruh pulang karena mau dijodohkan.


Karena sudah merasakan sayang yang mendalam, jadi yang ada dipikirannya cuma panik dan takut kehilangan.


Dan kali ini masalahnya belum selesai, Arka harus menghadapi kedua orang tua Hesti, karena ungkapan cintanya yang dia laporkan kepada ibu dari kekasihnya secara langsung tadi.


" Hes... aku mau diapain?" Tanya Arka ketika kedua orang tuanya sedang berbicara serius di pojokan ruangan.


" Entah... Om mau disunatin kali." Jawab Hesti yang malah bercanda, seolah dia tidak merasakan kecemasan pada diri Arka.


" Hush... kamu ini kalau ngomong ya, Om sudah sunat Hes, hasilnya aja udah nyata segede kamu, masak kamu masih meragukan Om sih?" Arka yang pikirannya lurus-lurus aja langsung kelihatan gelisah dan canggung disana.


" Kan mereka belum tahu kalau Om sudah punya anak?" Hesti malah menyandarkan tubuhnya dikursi dengan santainya.


" Haduh... beliau setuju nggak ya Hes kalau kamu berhubungan sama duda kayak Om?"


Apa aku salah mencintai Hesti dengan keadaanku yang seperti ini? aku sudah menahan untuk tidak mencintainya, namun entah kenapa rasa ini mengalir begitu saja. Aku harus bagaimana ini?


Akhirnya kepercayaan diri Arka melorot sampai disini, kepalanya tiba-tiba terasa berat, dia semakin takut akan kehilangan Hesti.


" Santai aja kali Om, nggak usah kelihatan panik gitu dong, nanti makin dikerjain kamu sama ibu?" Hesti malah terkekeh melihat wajah Arka yang terlihat sedikit pucat, matanya pun masih sedikit memerah karena tadi sempat menangis.


" Gimana caranya biar nggak kelihatan panik Hes, Om takut jika setelah beliau tau statusku, trus aku disuruh ngejauhin kamu?"


Bahkan tangan Arka saja sudah basah karena gugup sedari tadi, dulu saat meminta ibunya Dimas dia tidak segugup itu, karena sedari awal mereka sudah diberitahu dulu, jadi saat dia datang sudah langsung disambut dengan senyuman, tapi kalau sekarang lain ceritanya, harusnya dia tidak sepanik tadi agar tidak seperti ini jadinya.


Orang tua mana yang tidak terkejut saat tiba-tiba ada seorang pria bilang mencintai putrinya dengan setulus hati bahkan tanpa aba-aba sama sekali.


" Dibikin rileks aja om, kayak tadi loh? mana dong tadi semangatnya, yang bilang kalau maaf buk.. saya mencintai putri anda setulus hati? masak langsung mleyot seketika?" Ledek Hesti.


" Hesti kamu jangan main-main, Om beneran panik ini, nggak tahu harus mulai dari mana?"


Arka langsung terlihat kesal saat wanitanya seolah malah meledek dirinya.


" Hehe... ya udah sih Om, tenang aja kan ada aku disini, aku nggak akan kemana-mana kok."


Akhirnya Hesti kasian juga melihat wajah tampan yang sudah matang itu terlihat sedikit pucat, bahkan terlihat keringat mengalir dikeningnya.


" Hesti, apapun yang terjadi kamu harus temani Om berjuang ya?"


" Kayak mau perang aja sih Om, sampe keringatan begini?" Hesti mengusap keringat itu dengan ujung lengan bajunya.


" Ckk... gemeteran juga aku Hes, bingung nanti mau ngomong apa duluan?"


" Dih.. Om bukannya sudah pernah menikah? masak masih takut aja menghadapi calon mertua?"


" Tapi ini lain ceritanya Hes?"


" Kenapa emang, bapak sama ibuku mengerikan ya?" Hesti kembali nyengir karenanya.


" Ya.. gimana ya?"


" Wo... aku bilangin ibuk ya!" Hesti ingin membuat suasana menjadi rileks sebenarnya.


" Jangan Hes... kamu ini lah, nakal banget jadi orang, Om marah nanti sama kamu?" Dan ternyata Arka sama sekali tidak bisa diajak bercanda disaat situasi seperti ini.


" Ya sudah marah aja, biar nanti Om beneran lewat tenda biru di pernikahanku." Ucap Hesti yang langsung terdengar mengancam Arka.


" Jangan gitu dong Hesti, kamu bukannya nenangin Om, malah tambah bikin Om panik saja." Arka langsung melotot kearah wanitanya.


" Panggil dulu aku sayang." Ucap Hesti sambil mengedipkan satu matanya dengan genit.


" Nggak mau." Gerutu Arka sambil menghela nafas berulang kali.


" Wooo... beneran nih, aku aduin sama ibuk loh? Buuuuukkkkkk!" Hesti langsung berteriak sekuatnya.


" Heh.. heh..! iya.. iya sayang... sayangku, kamu ini memanglah.." Arka mencubit pinggang Hesti dengan gemas.


Haha... udah matang juga masih saja penakut, lucu sekali memang Om kesayangan aku yang satu ini.


" Tunggu sebentar, ibu baru nyari pisau." Ibu Hesti langsung bersuara dari sana.


Degh!


Apa tadi katanya? pisau? untuk apa?


" Sayang... ibukmu ngapain nyariin pisau? beliau nggak bener-bener mau nyunatin Om kan?"


" Entah?"


" Aduh yang bener Hes, Om kok malah jadi takut ya?" Arka tidak seperti pribadi yang biasanya, karena ini menyangkut dengan wanita yang dia sayangi.


" Om ini ngomong apa sih? ibuku emang kelihatan serem diluar, tapi hatinya baik, nggak mungkin lah dia main pisau kalau Om nggak mainin hati anaknya." Hesti langsung saja mencari kesempatan.


" Emang kapan Om mainin hati kamu, Om itu selalu berhati-hati memperlakukan wanita, karena Om takut menyakitinya, sama seperti denganmu." Arka sudah berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti kisahnya yang terdahulu.


" Janji ya?"

__ADS_1


" Kamu meragukan Om?"


" Ya siapa tahu, ntar saat om merasa sudah lelah berjuang Om pergi lagi, kabur gitu entah kemana?"


" Hesti.. pundakku mungkin memang tidak akan selalu ada saat kamu bersedih dan menangis, tapi cintaku akan selalu ada untukmu sayang.” Ucap Arka penuh dengan kelembutan.


Serr!


Hesti memang sengaja memancingnya, agar mendengar kata-kata manisnya yang selalu membuat hatinya melayang-layang.


" Awas aja bohong, aku santet Om nanti."


" Emang kamu tahu caranya?"


" Enggak, nanti aku searching dulu di google."


" Kamu kira mbah dukun pakai media online apa?"


" Hehe... Om tenang aja, aku selalu disini menemani Om, apapun resikonya apapun kendalanya asalkan kita selalu melangkah bersama, pasti semua ada jalannya." Hesti meraih tangan Arka dan mengengamnya dengan erat dan senyuman yang tidak pernah surut untuk kekasih durennya.


" Hesti... have I mentioned today how lucky I am to be in love with you?”


(Sudahkah ku katakan hari ini betapa beruntungnya aku jatuh cinta kepadamu?)


Seolah kerisauan di hati Arka melebur hilang saat kedua mata Hesti selalu tertuju dengannya.


" Belum." Jawab Hesti dengan cepat.


" I love you.. i love you.. i love you.. i love you.."


Arka berbisik sambil mengulangi kata-katanya berulang kali.


" Beuh... nancep dihati, trus Kiss nya mana?" Hesti semakin menggila kalau sudah begini.


" Nggak boleh, nanti ketahuan ibuk." Ucap Arka yang tidak mau ambil resiko sekarang.


" Buuuuuuukkk!" Teriak Hesti kembali saat permintaannya tidak dituruti.


" Hesti ihh... besok ya?" Arka melotot kearah kekasihnya yang memang nakal menurutnya.


" Takut banget sih Om?" Hesti langsung terkekeh, karena dia juga cuma bercanda saja tadi.


" Om sebenarnya lebih takut kehilangan kamu sayang."


" Tidak akan, aku akan selamanya untuk Om." Hesti mengusap pipi Arka yang sudah bersemu.


" Terima kasih sayang." Arka selalu bersyukur telah dipertemukan dengan orang seperti Hesti dalam hidupnya.


" Kalian ngapain senyum-senyum?" Setelah berunding di pojokan ibu Hesti segera mendekati mereka berdua.


" Karena putri ibuk selalu membuat saya tersenyum." Arka sontak menjawab dengan bangga.


" Trus?"


" Ya.. oleh karena itu saya menyukai anak ibu." Jawab Arka tanpa sadar.


" Keren nggak mah calon mantu ibu?" Hesti langsung tersenyum sambil memeluk lengan Arka disampingnya.


" Lepas itu tangannya atau ibu eksekusi dia sekarang!" Ibu Hesti langsung mengayunkan pisau ditangannya, yang kilauannya menyilaukan mata.


" Allohu akbar, ibu ihh... ngagetin orang aja!" Hesti langsung melongo melihat tatapan ibunya.


" Lepas yank.. lepas sayangku!" Arka yang malah langsung ketakutan sendiri saat membayangkan pisau itu menyayat kulitnya dan akhirnya Arka memilih menggeserkan tubuhnya sampai keujung sofa.


" Ibu ini bikin calon imamku ketakutan deh!" Hesti kasian melihat Arka sepertinya tertekan dipojokan sana.


" Percaya diri sekali kamu bilang dia calon imammu, emang dia sudah bilang mau melamar kamu?" Ucap Ibu Hesti sambil melengos.


Degh!


Arka langsung mulai jantungan, sebenarnya sekarang pun dia siap melamar Hesti, tapi disisi lain dia belum mendapatkan persetujuan dari putranya.


" Emm... begini buk, sebenarnya saya juga sudah berkeinginan untuk melamar putri ibu, tapi mungkin waktunya belum pas buk?" Ucap Arka mencoba mencari cara untuk mengulur waktu.


" Kalau kamu benar-benar menyukai putri saya, kenapa harus menunggu waktu? bukannya ini moment yang pas? bahkan keluarga kami semua kumpul disini?" Ibu Hesti langsung to the point ke intinya.


" Emm... maaf sebelumnya buk, tapi saya harus meminta izin dulu kepada anak saya, sekarang dia masih di luar kota."


Duerr!


" ANAK SAYA? maksud kamu anak saya itu siapa?" Ibu Hesti langsung memajukan tubuhnya dengan pisau masih ditangannya.


" Buk..." Hesti langsung memelankan suaranya.


Astagfirulloh... sepertinya ibu Hesti tidak menyukaiku, fuuh... bismilah, apapun itu hasilnya aku harus terima, setidaknya aku sudah berusaha.


" Nggak papa sayang, biar aku yang..." Ucapan Arka langsung terhenti begitu saja.


Jujur mental Arka sekarang down, serendah-rendahnya, bahkan untuk menatap kedua orang tua Hesti saja dia tidak sanggup, akhirnya Arka hanya bisa menundukkan kepalanya.


" Jangan dulu kamu panggil dia sayang, kalau kamu belum menceritakan statusmu itu apa!" Ucap Ibu Hesti dengan acuh.

__ADS_1


Bismilah.. kalau Hesti jodohku, Alloh akan selalu bersamaku.


" Maaf pak, buk... saya memang sudah duda beranak satu." Jawab Arka yang mencoba untuk bersikap tenang walau hatinya sudah tidak karuan.


" Istrimu kemana?" Tanya Ibu Hesti yang seolah melemparkan tatapan tajam mematikan.


" Istri saya sudah meninggal buk, beberapa tahun yang lalu." Jawab Arka yang langsung memejamkan matanya sekejab.


" Trus atas dasar apa kamu berani mencintai putri ibuk yang masih perawan itu?" Lagi-lagi perkataan ibu Hesti tidak pakai basa basi.


Dorr!


Seolah tembakan demi tembakan mengenai tubuh Arka pas pada intinya.


" Ibuk... kenapa nanyanya gitu? jodoh itu nggak pandang status juga kan buk?" Hesti langsung ikut membela Arka yang sudah ketar-ketir disampingnya.


" Diam kamu, ibu belum selesai bicara dengannya!"


" Sayang... ehh... Om nggak papa Hesti." Arka mencoba untuk tersenyum walau hatinya penuh luka.


" Om? wah.. dia memang pantasnya jadi Om kamu Hes?" Ibu Hesti terkejut juga mendengar nama panggilan itu.


" Buk... dari sekian banyaknya perjaka di muka bumi ini, nggak ada yang nyantol di hati aku, kalaupun dulu pernah ada, tapi nggak ada yang bener, cuma om Arka yang bisa ngertiin aku, dan selalu membuat aku merasa nyaman." Hesti juga tidak terima kekasihnya diperlakukan seperti itu.


" Waah.. sepertinya kamu sudah cinta mati dengannya?" Ledek Ibu Hesti.


" Itu ibuk tahu, lagian ibuk nggak biasanya kayak gini deh, ibuk ini nyebelin banget?" Hesti langsung memasang wajah bad mood dengan ucapan ibuknya.


" Hesti... nggak boleh ngomong kek gitu sama orang tua sayang, beliau benar, orang tua kamu cuma mau yang terbaik buat kamu, dan mungkin bukan Om orangnya." Arka langsung memandang kearah mata Hesti yang terlihat sudah memanas.


" Tuh kan buk, aku kan jadi sedih dengernya, ibuk itu nggak bisa apa melihat anaknya bahagia dengan pasangannya, yang nikah kan juga Hesti kenapa ibu yang repot."


Sebenarnya dia tidak habis pikir, kenapa ibunya sampai segitunya menanggapi kalau Arka duda, biasanya ibunya itu sosok yang legowo dalam segala hal, walau suaranya seperti kilat yang menyambar-nyambar.


" Kamu marah sama ibuk gara-gara dia?"


" Lalu aku harus tepuk tangan gitu buat ibuk? ibuk tuh nggak tahu aja perjuanganku panjang buat bisa deket sama dia." Umpat Hesti kesal.


" Hesti... cukup sayang." Arka bahkan terlihat marah dengan semua ucapan Hesti yang menyudutkan ibuknya.


" Lihatlah... betapa baiknya om Arka, sudah ibu kata-katain saja dia masih marah saat aku menyalahkan ibuk, aku benci ibuk!"


Hesti langsung memilih berlalu pergi dari ruangan itu karena kesal dan masuk kedalam kamarnya.


" Hesti.."


Arka tahu bagaimana perasaan Hesti saat ini, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


" Biarkan saja dia pergi, dasar tuh bocah kapan dewasanya." Umpat Ibu Hesti.


" Maaf buk, tolong jangan salahkan Hesti."


" Kamu mau membelanya?"


" Tentu buk, karena dia wanita spesial buat saya." Jawab Arka dengan mantap.


" Ya jelas... dia masih gadis kok?"


Jleb!


Kata-kata itu kembali menusuk hati Arka.


" Begini buk, saya atas nama pribadi, minta maaf yang sebesar-besarnya jika ibu belum bisa menerima saya karena status saya, saya paham dan saya bisa mengerti." Arka menjeda ucapannya.


" Saya juga sudah berusaha untuk menahan perasaan saya, mencoba menghindarinya, agar saya tidak menyukai putri ibuk, saya pun sadar diri, tapi entah mengapa takdir seolah terus mempertemukan kami, dan akhirnya pertahanan saya lumpuh karena senyuman dan sikap hangatnya, maafkan saya buk.. maaf telah lancang menyukai putri ibuk."


Sedih sudah pasti, bahkan sebenanya air mata Arka sudah ingin berontak sedari tadi, karena pikirannya sudah mengarah ke kandasnya hubungan mereka yang sedang berada di fase cinta sedalam-dalamnya.


" Ehermm... emang sedari tadi ada ibuk bilang kalau dia itu tidak merestui hubungan kalian?" Bapak Hesti yang sedari tadi diam langsung angkat bicara.


" Hah? maksud bapak?"


" Ibukmu tadi kan cuma mau kamu menceritakan identitasmu bukan? dia tadi cuma nanya saja, kenapa kalian sudah menyimpulkan yang lain?"


Ibukmu? apa ini sinyal positif?


" Jadi maksud bapak sama ibuk, saya..."


" Ambil pisau ini." Ibu Hesti langsung menggeser pisau didepannya dengan satu jari kehadapan Arka.


" Astaga!" Arka langsung memundurkan wajahnya karena terkejut.


" Ambil cepat, ayok ikut ibuk!"


Ibu Hesti langsung beranjak berdiri dari sana dan berjalan melenggang dengan di ikuti oleh sang bapak disampingnya.


Walau masih gemetaran akhirnya Arka memberanikan diri memegang alat yang sebenarnya disetiap harinya adalah senjatanya di dapur, namun kali ini pisau itu terasa mengerikan baginya.


Dengan mengucap Basmalah berkali-kali dia bertekad, apapun yang terjadi nanti, dia akan menerima dengan ikhlas hati, yang penting dia sudah berusaha, masalah hasilnya dia serahkan kepada sang Pencipta Alam semesta.


..." Nilai hidup seseorang ditentukan oleh Cinta yang diberikan, bukan Cinta yang didapatkan."...

__ADS_1


__ADS_2