Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
104. Satu Komando


__ADS_3

...Happy Reading...


Selama ini aku belum pernah melihat cowok menangis sebegitu pilunya, dan kali ini aku menyaksikan langsung secara live, bahkan mamaku sendiri yang menjadi saksi betapa kacaunya hati seorang Raymond karena merasa dikhianati.


Dosakah aku?


Mungkin memang sudah banyak dosa yang aku perbuat dengannya, maka dari itu, aku memakai segala cara agar dia segera menjadi halal untukku, entah apa komentarnya, yang pasti asal suka sama suka bukannya lebih baik disegerakan saja.


" Kak Hana... berhenti kamu, diam disitu!" Teriak Ray sambil menyingsingkan kedua lengannya, dia seperti orang yang sedang bersiap untuk mengeksekusi pelaku kejahatan.


Aku hanya bisa memejamkan mata, ingin terus kabur namun kakiku seolah tidak bisa bergerak saat mendengarkan teriakannya.


" Aunty, ehh... calon mama mertua, terima kasih atas pelukan hangatnya, hehe.."


" Its okey, kalian yang akur ya?" Ucap Mamaku dengan sabarnya.


Dia berusaha tersenyum sambil mengatur nafasnya yang masih sedikit tersengal, entah sudah dapat berapa karung rasa malunya karena menangis dan curhat tentang perjuangannya mendapatkan aku selama ini dengan mama Shanum.


Namun yang pasti, aku bangga sudah memilikinya dihidupku, dia seorang pria yang berpegang teguh pada prinsipnya, bahkan Ray membuktikan omongannya disaat dia masih ABG dulu.


Ternyata nikmat Tuhan memang tidak pernah kita sangka, dia yang awal mulanya aku benci karena resek, jahil dan menyebalkan itu, kini menjadi sesosok pria yang membuatku takut akan kehilangan dirinya.


Dan sandiwaraku hari ini ternyata membuahkan hasil, aku jadi lebih yakin kalau aku memang tidak salah memilih calon imamku, walau dia tengil dan umurnya lebih muda dariku, tapi aku yakin, jika aku pasti akan bahagia jika selalu berada disampingnya.


" Kakak mau minta maaf apa nggak nih?"


Dia langsung menyerangku dan aku hanya berani melirik wajahnya sebentar saja, masih ada sisa air mata disana, namun aku takut mau mengusapnya, akhirnya aku hanya mampu tersenyum dan menunjukkan barisan gigi putihku saja.


" Sebenarnya tadi sudah mau minta maaf, tapi dekor halaman rumahku hancur kamu tendang, jadi aku ragu mau minta maaf denganmu." Ucapku perlahan.


" Itu semua juga gara-gara kakak kan!" Dia kembali menunjukkan mata elangnya yang tajam menusuk.


" Gara-gara kamulah, kan aku sudah bilang pulang kemarin, kenapa baru nongol sekarang?" Aku tidak mau disalahkan begitu saja, kasian tukang dekornya sudah datang pagi-pagi untuk menatanya, kini hancur hanya dengan satu kali tendakan dan satu kali sepakan kakinya.


" Cih... wanita memang tidak pernah mau kalah!" Umpatnya kesal.


" Orang memang iya kok." Aku masih belum mau mengalah.


" Aunty, minta izin ya." Ucap Ray yang membuat mama Shanum menaikkan kedua alisnya.


" Izin mau kemana? Hana harus siap-siap juga Ray, beberapa jam lagi acara kalian dimulai." Mama yang masih mengamati dekor yang sudah hancur berserakan itu menjawabnya walau tanpa menoleh kearahnya.


" Bukan pergi kok aunty, cuma mau izin civm dia saja!"


Dia mengatakan itu tanpa rasa malu sedikitpun, kalau orang lain pasti langsung melakukannya diam-diam, tapi lelakiku ini pake acara minta izin segala, bahkan dengan orang tuaku.


" HAH?"


Saat mama Shanum menoleh kearah kami dengan terkejut, bibirr tipis kekasih berondongku ini sudah nyasar dibibirrku dan sudah mulai menyalurkan rasa rindunya yang memang sudah menggebu diantara kita berdua, karena terpisahkan jarak dan waktu dalam beberapa hari ini.


" Heiiiiiiiii... banyak orang disini!"


Teriak mama Shanum dengan suaranya yang terdengar kaget, bahkan dengan mata melotot, namun Ray belum mau melepaskan pagvtannya, dan aku pun masih sangat merindukannya, jadi aku lanjutkan saja sesi transfer energi dengan Ray dengan santainya.


" Astaga, turunan dari siapalah itu, kemana urat malunya, apa sudah putus?"


Mama Shanum terlihat syock melihat adegan kami, atau malah bisa jadi karena mama Shanum juga pengen tapi papa belum pulang.


" Pfftthh... udah Ray, nanti mama ngamuk!"

__ADS_1


Setelah sperskian detik Ray masih menguasai bibirrku, namun saat nafasnya sudah terdengar ngos-ngosan dan pengobat rindu itu sudah hampir belok ke arah nafsv.


Aku memilih untuk menyudahinya saja, daripada tangannya tanpa sadar liar mencari yang empvk-empvk kan bisa bahaya, bukan karena malv karena dilihat mama, tapi karena takutnya aku sendiri yang tidak bisa menahannya, saat Ray masih but@ saja aku bisa dibuatnya melayang-layang, gimana dengan sekarang, membayangkannya saja aku sudah merinding duluan.


" Aku masih sebel sama kakak." Umpatnya dengan kesal namun tangannya tidak mau beralih dari pinggangku.


" Sebel kok nyosor, banyak kali ceritamu!" Akhirnya aku berani mengusap pipinya yang kusut karena kecapekan.


" Kakak ini jahat banget, bikin aku sakit hati kayak gini." Dia menatapku dengan tajam, ada rasa lucu namun ada rasa haru juga, ternyata sesayang itu dia denganku.


" Kenapa? malu ya nangis dipelukan mama Shanum, hehe.." Aku mencoba untuk menggodanya.


" Aku tuh capek kak, belum sempat pulang kerumah, karena nggak mau kakak marah, ehh.. datang kesini malah dikerjain, bisa-bisanya kakak itu ngeprank hal beginian, aku mau ngambek saja lah!" Ucapnya dengan tampang cemberut yang membuatku semakin gemas saat melihatnya.


Cup


Giliran aku yang menyambar bibirrnya yang sudah dia moncongkan, rasa sayangku bahkan bertambah kali lipat dengannya.


Klonteng!


Mama Shanum langsung menendang potongan besi yang ada didepannya dan menimbulkan bunyi yang membuat para pekerja kembali mengintip dari dalam. Mungkin mama sudah kesal melihat kami yang mengumbar kemesraan didepan umum.


" HANA! cepat masuk kalian!" Mama kembali sewot saat melihat kami malah bercivman kembali.


" Hehe... siap mah!" Aku langsung nyengir kuda saja, namun aku yakin mama pasti maklum, beliau kan juga pernah muda.


" Aku mau pulang saja!" Ucap Ray yang membuat aku kaget.


" Ngapain pulang? istirahat saja dulu disini, katanya capek tadi?" Aku langsung melembutkan suaraku.


" Aku benci kakak!" Teriaknya dengan kesal.


Aku sudah menduganya, jika sudah seperti ini tingkah manjanya pasti langsung keluar, namun lama kelamaan aku malah suka moment dimana dia bersikap manja denganku, berarti dia sangat bergantung denganku, dan tidak mau lepas dariku,.


" Nggak mau, kakak jahat!" Dia langsung melengos dengan lucvnya.


" Lagian kamu percaya saja aku kibulin, mana mungkin aku mau dilamar dengan orang lain, orang seluruh hatiku saja sudah dipenuhi oleh nama kamu, mana mungkin muat kalau ditambah dengan yang lainnya."


“Aku tidak mungkin marah denganmu, hanya karena kita terpisahkan oleh jarak dan waktu. Karena selama kita masih berbagi langit yang sama dan menghirup udara yang sama, kita masih akan terus bersama.” Ucapku kembali sambil mengusap lembut rambutnya yang berantakan, walau kakiku harus berjinjit karena tubuhnya yang menjulang tinggi, namun aku senang melakukan itu.


“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu, sepenuh hatiku.” 


Sepertinya kata-kata manisku langsung membuat hatinya ser-seran, dia terlihat meresapi semua kata-kataku.


" Mau dipelvk!" Rengeknya yang semakin menjadi.


" Dipiting aja mau nggak? dilihatin mama itu dari ujung sana." Ucapku sambil menunjuk kearah mama yang masih memantau kami, mungkin beliau takut kalau kami nekad melakukan aksi yang lainnya.


" Hana!"


Tuhkan mama langsung protes, saat aku membelai-belai wajah berondongku ini didepan beliau.


" Siap mah, satu komando kita!" Aku tahu kode dari mama, dan langsung tersenyum kearahnya.


" Masuk yuk, nanti biar baju kamu yang akan kamu pakai nanti dibawain sama aunty Mala, jadi kamu istirahat saja disini, nggak usah pulang." Aku kasihan juga melihatnya, sepertinya dia benar-benar lelah.


" Kamu bersekongkol dengan mommy Mala ya?" Dia mulai curiga sepertinya.


" Hehe.. mau makan apa Ray?" Aku mencoba mengalihkan kekesalannya.

__ADS_1


" Kapan kakak kong kalingkong dengan mommy?" Dia tetap berusaha membahasnya.


" Aku suapin makan mau nggak?" Aku langsung toel-toel lengannya yang berotot itu agar dia tidak kembali marah.


" Lihat saja pembalasanku nanti kak!" Dia malah terlihat mengancam.


Wah... bisa gawat kalau dia sudah beraksi, dia kan makhluk paling jahil dari dulu, selalu punya cara untuk menjahili orang, jadi aku lebih memilih mengeluarkan serangan maut saja.


" Diih... nggak boleh dendam kayak gitu Ray, dosa tahu!"


" Heeeiiiii... kakak juga berdosa banget kali ini tau!"


" Ini juga aku lakuin untuk kita berdua Ray, aku menyiapkan kejutan untukmu, kan enak kamu nggak usah capek-capek ikut mikirin ini itu, tinggal duduk dan pasang badan doang beres?"


" Emang yang mau menikah itu kakak sama mommy saja apa? aku kan juga pengen ikut andil dalam acara lamaranku ini, wah... kalian benar-benar keterlaluan denganku, kalian tidak menggangapku ada ya?"


" Kamu kan juga sudah ikut andil Ray!"


" Ikut andil apaan? aku bahkan tidak tahu apa-apa soal ini."


" Ray... kamu nggak kabur saja kakak sudah seneng banget loh!"


" Apa lebih baik sekarang aku kabur saja dari sini?"


" Ya terserah, itu terpulang denganmu, kalau kamu memang nggak mau, aku tinggal nyuruh saja salah satu fansku, buat datang menggantikan kamu."


" Kyaaa! semudah itu aku tergantikan dengan orang lain!" Emosinya kembali memuncak kembali saat mendengar kata fansku.


" Kan kamu yang mau kabur, sono kabur, huss.. huss sana."


" Dasar Jaenab nyebelin!" Umpatnya sambil mengepalkan kedua tangannya.


" Astaga.. bertengkar saja terus kalian! belum juga menikah, sudah nggak ada yang mau ngalah, mau mama bubarkan saja sekalian acara ini!" Mama Shanum langsung memisahkan perdebatan kami.


" JANGAN." Ucap kami secara bersamaan.


" Nah itu bisa kompak, menuju hubungan serius itu tidak mudah, pasti banyak cobaan, kalian harus lebih dewasa dalam menyikapi segalanya, dan kamu Hana.." Mama menatapku dengan tajam dari kejauhan.


" Iya mah."


" Kamu juga salah dalam hal ini, jangan mengambil tindakan sendiri, selalu musyawarahkan semua masalah berdua, mengerti kamu!"


" Bener banget tuh aunty, disini aku yang merasa dirugikan karena tidak dianggap." Ray seolah punya pengikut kali ini.


" Hmm.. gimana kalau nanti aku ganti rugi dengan cara yang lain, saat kita berdua saja, yang seger-seger gitu mau?" Aku membisikkan kata-kata itu ditelinga Ray agar aku tidak semakin terpojokkan.


" DEAL! kita masuk yuk kakak sayang, bibi masak apa tadi? aku sudah lapar, suapin loh ya?"


Ternyata semudah itu merayunya.


Dasar berondong mesvm!


" Siap sayangku."


Akhirnya dengan sekejab mata saja kami langsung akur kembali dan berjalan bergandengan tangan masuk kedalam rumah.


Mama yang masih memperhatikan gelagat kami hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja.


Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika.

__ADS_1


..."Tidak ada yang memiliki porsi lebih besar dalam menjaga hati. Setiap pasangan memiliki peran yang sama untuk saling menjaga."...


__ADS_2