
...Happy Reading...
Cinta seorang ayah memang tak terlihat, karena memang ayah tak pandai untuk menunjukkannya. Namun kalau dia diharuskan untuk berkorban sudah pasti tanpa meminta pun seorang ayah pasti akan mengabulkannya.
Ketegangan antara seorang ayah dan anak di loby hotel itu masih terjadi, Dimas masih sangat terlihat emosi dan Arka hanya bisa mencoba untuk menjawab segala pertanyaan anaknya dengan suara pelan, agar suasana tidak semakin memanas.
" Kenapa harus Hesti sih yah?" Dimas menampilkan guratan wajah yang sulit ditebak.
" Apa kamu menyukai Hesti?" Tanya Arka dengan hati yang mencoba lapang.
" Kalau iya kenapa? kalau enggak juga kenapa?" Namun jawaban dari Dimas masih gantung menurutnya.
" Dimas?" Arka kembali memelankan suaranya, padahal dalam hati dia sedang menahan rasa sesak didalam dada, kalau saja dia tahu dulu perasaannya akan ditentang oleh anaknya, sudah pasti dia akan menghindari pertemuan dengan Hesti, namun hati tidak bisa memilih kemana dia akan berlabuh.
Jadi Arka bisa apa selain hanya menerima, bukannya cinta adalah anugerah terindah bagi hamba-hamba-Nya?
" Yah.. she is my friend, dia seumuran dengan anak ayah loh, apa kata orang nanti?" Dimas bahkan sampai menjambak rambut cepaknya sendiri.
" Ayah tidak pernah memperdulikan kata orang, buat apa mendengarkan omongan orang lain, bukannya baik buruknya kita pasti juga akan menjadi perbincangan orang?" Arka langsung mencoba menelisik wajah putranya.
" Dimas... hidup itu kita yang jalani, orang diluaran sana hanya bisa berkomentar, tapi kita juga yang akan menjalani ini semua, jadi buat apa kita mendengarkan kata orang, bahagia itu kita yang menciptakan bukan orang lain?" Ucap Arka kembali.
" Sepertinya ayah sudah dibutakan oleh apa itu cinta." Umpat Dimas yang langsung membuang arah pandangan.
" Dimas... sebenarnya kamu itu suka dengan Hesti, atau hanya tidak rela jika ayah punya pasangan lagi?"
Arka memberanikan diri untuk bertanya, kalau tidak sekarang kapan lagi, toh sudah sejauh ini mereka membahasnya.
" Bukannya ayah sudah tahu, kalau aku tidak pernah mau menjalani hubungan sebelum menikah?" Pendirian Dimas masih sama seperti dulu.
" Ayah tahu dan ayah sangat menghargai itu nak." Jawab Arka sambil menundukkan pandangannya, kenapa harus seperti ini pikirnya.
" Lalu kenapa ayah menanyakan tentang suka atau tidaknya?"
Karena Hesti sudah mengungkapkan semua perasaannya kepada ayah nak, bagaimana bisa tiba-tiba kamu mengajaknya ta'aruf, apalagi orang tuanya sudah mengenal ayah lebih dulu nak?
" Atau ayah sengaja ingin mengajak aku untuk berduel mendapatkan dia?"
" Dimas, kita ayah dan anak, kenapa harus bersaing demi seorang wanita saja?"
" Karena sepertinya ayah sudah sangat tergila-gila dengannya, tanpa memperdulikan orang disekitarnya, apa ada yang melihat atau tidak kelakuan ayah tadi kan? apa ayah sadar tentang itu?"
Dimas tersenyum miring saat mengingat bagaimana ayahnya memperlakukan Hesti dengan mesra saat diatas panggung pelaminan Ray dan Hana tadi.
" Nak... begini saja, kalau memang kamu menyukai Hesti, ayah akan memberikan kesempatan buat kamu untuk mendekatinya." Ucap Arka yang tidak mau membuat Dimas semakin emosi karena hal itu.
Semua masalah tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan baik kalau masih ada kata emosi didalamnya.
" Benarkah? apa semudah itu ayah mau melepasnya untukku?" Dimas bahkan tidak habis pikir ayahnya akan menyerah begitu saja.
" Jikalau itu memang yang terbaik untuk kita semua, ayah bisa apa?"
" Owh ya?" Dimas seolah menantang ayahnya sendiri.
Padahal biasanya dia adalah sosok anak yang patuh dan tidak pernah berani melawan seperti ini.
Hesti... maafkan aku sayang, ini adalah pilihan terberat di hidup om.
" Dimas... kalau memang rasa sukamu kepada Hesti, lebih besar daripada rasa sayang ayah kepada Hesti, ayah sepenuhnya rela melepas Hesti untukmu."
" Bahkan ayah bersedia kapan pun memintakan Hesti kepada orang tuanya, untuk menjadikan dia pendamping hidupmu."
" Tapi... jika kamu hanya main-main dengannya, Ayah tidak akan pernah rela melepasnya untukmu, karena ayah sudah berjanji dengan orang tuanya, untuk tidak melukai hati dan perasaannya, apa kamu bersedia?"
Arka langsung berbicara panjang kali lebar, dia sebenarnya berat mengatakan hal ini, namun tidak ada jalan lain.
Degh!
Dimas langsung terdiam, tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.
" Dimas... bagaimana, apa kamu bisa membuktikan perasaanmu dengan Hesti, apa kamu berjanji bisa membahagiakan dia nanti?"
" Kenapa ayah tidak mau bersaing denganku?" Ucap Dimas yang mulai memelankan intonasi suaranya.
Karena kalau bersaing juga percuma nak, Hesti sudah pasti akan memilih ayah, karena hubungan kami sudah terlalu jauh nak.
" Ayah bahagia jika kamu bahagia nak, karena kamu adalah sumber kebahagiaan ayah." Sebenarnya tangan Arka sudah bergetar saat mengatakan hal itu, dia berada dalam keadaan dilema yang mendalam.
Entah apa yang akan terjadi dengan dirinya jika Dimas berhasil mendapatkan Hesti, akan seperti apa hari-hari Arka tanpa kehadiran Hesti disisinya yang selalu membuat senyum di bibiirnya mengembang dengan sempurna.
Hanya Hestilah yang berhasil membuat hatinya kembali berdebar dengan hebatnya setelah sekian lama, bahkan hanya mendengar gombalannya saja seolah masalah didepan mata bisa hilang seketika.
" Astaga Om, apa aku salah telah hadir dalam kehidupan Om?"
Ternyata Hesti diam-diam mengikuti perbincangan mereka sedari awal, dia bersembunyi dibelakang tembok diseberang mereka duduk.
" Apa sebaiknya aku pergi saja?" Ide itu terlintas dipikirannya.
" Tapi kenapa aku nggak yakin kalau Dimas itu menyukaiku? kami sudah lama berkenalan, dan sepertinya tidak ada sinyal-sinyal yang menandakan kalau dia menyukaiku, kalau ngefans sama Adelia malah iya." Hesti menggaruk-garuk tengkuknya sambil berlalu keluar dari hotel itu melalui jalan lain sambil mengingat-ingat pertemuan mereka yang memang tidak terhitung.
" Jika harus memilih, sudah pasti aku memilih Om Arka, namun jika Dimas tetap bersikeras, lebih baik aku pergi dari kehidupan keduanya saja, daripada harus ada hati yang terluka ."
" Apa aku temui atasanku aja yah, kemarin kan ada pembukaan cabang baru, lebih baik aku mendaftar kesana saja."
" Argh... om Arka, sebenarnya aku tidak rela seperti ini."
Dia juga tidak bisa membayangkan kedepannya jika tidak melihat ketampanan kekasih yang lagi anget-angetnya itu.
__ADS_1
Setelah Hesti sudah berjalan jauh dari tempat itu, dia memilih menyusuri jalan untuk mencari taksi.
" Aaaaaaa... aku sudah terlanjur sayang banget sama kamu om!"
" Tapi apa daya, cinta kita terhalang restu!"
" Apa aku secantik itu, sampai harus diperebutkan anak dan ayah secara bersamaan?" Dia malah seolah insecure dengan dirinya sendiri.
" Kenapa lah mereka datang bersamaan? kalau satu-satu kan enak mengatasinya?"
" Masak iya gue harus jomblo lagi bestie? aaa... aku sungguh tidak rela!"
Hesti sudah seperti orang gila mengoceh sendiri dipinggir jalan, hingga satu taksi berhenti dihadapannya dan membawanya pergi ke alamat yang Hesti pinta.
Sedangkan perseteruan antara ayah dan anak itu kini masih berlanjut.
" Dimas... berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk mendekati Hesti, atau setidaknya mengajak Hesti untuk mau diajak ta'aruf."
" Aku tidak bisa memastikannya." Jawab Dimas dengan ragu.
" Kalau kamu ragu, jangan teruskan langkahmu, biar ayah yang maju."
" Tapi yah?"
" Kita pulang, nggak baik ribut-ribut diacara orang, okey?"
Arka langsung memgambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Hesti untuk minta maaf karena harus pamit pulang duluan, padahal Hesti sudah lebih dulu pergi dari sana.
Keesokan harinya, Hesti sudah mengemasi barang-barangnya, kemarin keinginannya langsung dikabulkan oleh atasannya, karena memang cabang yang baru itu sangat memerlukan karyawan lama yang sudah berpengalaman seperti Hesti.
" Hesti... are you seriously? kamu ingin pindah? bukannya kamu bilang sudah sangat nyaman bekerja disini bertahun-tahun, nggak sayang apa?"
" Sayang kok sama pekerjaan, kayak sudah tidak ada lagi makhluk di muka bumi ini untuk disayangi?"
" Owh... kirain cuma om Arka yang ada dimuka bumi ini, sedangkan yang lain itu hanya sebagai alien dimatamu, apa Om Arka sudah setuju, Ray bilang tadi malam kalian mesra sekali?"
Adelia langsung meledeknya sambil duduk santai dihadapan Hesti yang masih berkemas itu.
Setelah pesta berakhir Ray baru bertemu dengan Adelia, jadi Ray baru sempat menceritakan sekilas tentang mereka, dan hari ini Adelia memang sengaja mencari Hesti pagi-pagi untuk menanyakan semuanya.
" Biar saja, untuk apa aku capek-capek mengemasi barang-barang itu, biarkan mereka saja yang bantu buang, bukannya aku sudah tidak akan kerja lagi, kalau kamu kan lain, masih sangat membutuhkan barang-barang itu." Jawab Adelia dengan santainya, karena mulai besok dia memang sudah tidak diizinkan oleh suaminya untuk kembali bekerja.
" Hmm... iya juga sih, aku lupa kalau kamu adalah anak sultan, bebas ya kan?" Gerutu Hesti.
" Gimana tadi soal om Arka, masak mau LDRan kamu? emang kuat? banyak loh godaan sang pelakor, apalagi kayak Om Arka itu, wuih... renyah tuh, pasti cepet laku kayak kacang goreng?" Adelia sengaja meledeknya agar sahabatnya itu mau cerita, kenapa sampai mau pindah tempat kerja di luar kota itu.
" Fuuhh... karena soal itulah kenapa akhirnya aku sekarang memutuskan ingin pindah ke cabang saja."
" Maksudmu karena om Arka gitu?"
" Owh ya Del, kalau menurut hasil pengamatanmu nih, apa Dimas itu ada rasa denganku?" Tanya Hesti yang seolah masih belum percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengar kemarin.
" Maksudnya ada rasa itu gimana? yang jelas dong kalau ngomong." Adelia semakin menajamkan pandangannya.
" Haaah... Cintaku memang berat bestie, terlalu banyak duri yang menghadang!" Hesti langsung meletakkan kepalanya di bahu kursi sambil memejamkan matanya.
" Maksud kamu anak sama bapak itu sama-sama suka sama kamu gitu? woow... like father like son?" Adelia seolah mendapatkan hot news kali ini.
" Aku harus gimana Del?"
" Bahagia dong, kan jadi primadona, diperebutkan oleh dua lelaki tampan ya kan?" Ledek Adelia.
__ADS_1
" Serius ini, aku sedang tidak ingin bercanda Adelia Aghata!" Hesti langsung ngamuk.
" Ckk... malang sekali nasipmu kawan, mau aku peluk?" Adelia sebenarnya tahu apa yang Hesti rasakan, memilih diantara dua pilihan pernah dia rasakan juga, apalagi ini bapak dengan anak, itu perkara yang tidak mudah.
" Aku sayang banget sama Om Arka, tapi aku tidak ingin ada luka diantara kami, karena sudah pasti ada yang akan terluka nantinya."
Akhirnya air mata Hesti mengalir membasahi baju Adelia, dia tidak bisa meninggalkan Arka begitu saja, tapi dia juga tidak mau keluarga Arka hancur karenanya.
" Untuk sementara ini memang lebih baik kamu menepi dulu, sekeras apapun kamu berjuang, kalau sudah menyangkut dengan keluarga, pasti akan ada yang tersakiti." Akhirnya kata bijak Adelia keluar juga.
" Kenapa Dimas bisa ikutan suka denganku juga, setahuku dia malah tertarik denganmu sedari dulu, dia tidak pernah memperlihatkan rasa ketertarikannya denganku, atau dia hanya tidak rela jika ayahnya dekat denganku? apa aku salah Adelia, aku kan juga ingin bahagia Adelia, aku hanya ingin mencintai dan di cintai, itu saja." Hesti semakin mengeratkan pelukannya ke perut bumil itu.
" Tidak ada yang salah Hes dan kamu juga tidak bisa menyalahkan Dimas begitu saja, semua itu tentang hati, yang memang sulit untuk dimengerti." Adelia mengusap rambut sahabatnya untuk menenangkan hatinya yang sedang gusar.
" Jadi aku harus bagaimana sekarang, aku dalam posisi terhimpit dengan keadaan Del."
" Jangan dulu pindah ke cabang, tetaplah disini nanti aku nggak punya temen segila kamu lagi?" Pinta Adelia.
" Tapi aku nggak bisa menemui salah satu diantara mereka sekarang."
" Keluargaku punya Villa di puncak, kamu bisa ambil cuti tahunan kamu selama satu minggu disana."
" Trus?"
" Biarkan mereka berfikir dulu dan biarkan Dimas menyadari perasaan dia yang sesungguhnya, mereka berdua itu satu darah, mereka pasti tahu mana yang baik dan mana yang tidak untuk keluarga mereka kedepannya."
" Kalau Om Arka trus menyerah bagaimana Del?"
" Huft... ya kamu harus legowo, hidup itu bukan melulu soal cinta Hesti, kalau memang Om Arka itu jodohmu dari Alloh, pasti akan disatukan suatu saat nanti, namun jika Om Arka bukan jodohmu, sekuat apapun kamu berjuang pasti akan dikalahkan oleh yang namanya TAKDIR."
" Ya sudah lah, aku pasrah mawon Gusti." Hesti kembali memejamkan matanya.
" Nanti aku suruh sopirku mengantarkan kamu ke Villa keluargaku ya? apa ada pesan-pesan untuk Om Arka sebelum kamu pergi?"
" Kyaaa...! aku cuma menepi, bukannya mau mati, kamu ini sahabat macam apa sih!" Umpat Hesti dengan kesal.
" Jelek aja pikiran kamu itu ya, kalau kamu pergi, sudah pasti orang yang dicari pertama itu adalah aku, karena Om Arka tahu aku ini sahabatmu Marfuah!" Adelia langsung menyentil kening Hesti.
" Hmm... "
" Hmm, itu apa artinya Marfuah!" Tanya Adelia kembali yang malah ikut sewot karenanya.
" Jika satu kalimat mampu mengembalikan sebuah rasa, bagaimana dengan satu perasaan, bisakah ia mengembalikan satu keadaan, untuk memulihkan setiap kenestapaan, agar tak berujung menjadi penyesalan.."
" Woah... kamu sudah seperti The Real sang Dewi pujangga cinta."
Adelia sontak menggelengkan kepalanya karena takjub dengan kata-kata Hesti yang sudah seperti pujangga cinta yang penuh dengan duka dan lara.
__ADS_1
..."*Kita boleh berharap, tapi tidak bermimpi kosong, cobalah untuk menjadikannya nyata, walau tidak sempurna*."...