Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
107. Pucuk dicinta ulampun tiba


__ADS_3

...Happy Reading...


Kring... kring...


Suara ponsel Arka membuyarkan lamunan mereka masing-masing, tentang menikah diarak keliling komplek oleh warga.


" Hallo?" Jawab Arka yang langsung meloudspeaker panggilan dari karyawannya.


" Maaf pak, koki utama di Restoran kita tiba-tiba pingsan, dan pesanannya masih banyak karena restoran kita dibooking sampai tengah malam nanti, gimana dong pak?" Ucap Salah satu karyawan Arka dengan panik.


Setelah istrinya meninggal dunia dulu, Arka membangun sebuah restoran kecil-kecilan, namun karena masakannya memang lezat dan tempatnya juga menampilkan view yang bagus, restoran Arka kini berkembang dengan pesat dan punya beberapa cabang di kota itu.


" Astaga, kalau begitu aku akan kesana sekarang juga, sudah kamu kondisikan belum koki kita? kalian sudah membawanya ke rumah sakit?" Tanya Arka yang tidak kalah panik.


" Sudah pak, dianterin oleh salah satu dari kami." Ucapnya dengan lemas.


" Baik, saya akan langsung kesana." Arka langsung menutup panggilan telponnya.


Wow... pucuk dicinta ulampun tiba nih..


" Om punya restoran?" Tanya Hesti yang sok kepo.


" Iya... aduh gimana ya Hes, sepertinya saya tidak bisa nganterin kamu malam ini? koki utama kami pingsan." Arka merasa tidak enak hati jadinya.


" Boleh aku mampir ke restoran Om saja? lagian besok aku libur Om, pulang juga palingan bergadang nonton drama Korea aja sampai pagi."


" Tapi aku..."


" Siapa tahu aku bisa membantu karyawan Om juga? aku juga pernah kerja paruh waktu dulu pas kuliah, jadi pasti bisalah berperan baik jadi waitress." Jawabnya dengan mantap, padahal dia hanya modus, biar bisa lama-lama melihat duren montong.


" Benarkah? tapi aku tidak mau merepotkanmu, apa aku panggilkan taksi online saja ya?"


" Jangan, ehh... maksud saya tidak perlu Om, aku... emm... aku lapar, boleh nyicipin masakan di restoran Om nggak?"


Hesti yang memang berniat modus berakal bulus langsung mengeluarkan cara terbaiknya, karena ini merupakan kesempatan terbaik untuknya agar bisa lebih dekat lagi dengan Arka.


" Apa kamu tadi belum kenyang makan di acara Ray dan Hana?"


Wah... jangan-jangan dia berfikir gue makannya banyak lagi? tapi kan gw tetep langsing ya kan, jadi tidak masalah, ehh... kalau dia fikir aku cacingan gimana dong? makan banyak tapi badan tetap kurus, waduh... entar dia ill fell sama gue nggak ya?


" Tadi cuma ngemil doang, makan desertnya aja, hehe..."


Padahal dari rendang, sate kambing, gulai, gado-gado, ayam bakar, bebek goreng semua Hesti cicipin.


" Ya sudah... kalau begitu kita langsung ke Restoran sekarang ya?" Ucap Arka sambil tersenyum dan menambah laju kecepatan mobilnya.


Dia lihat gue makan nggak ya tadi? argh... kenapa dia tersenyum? jangan-jangan dia memang menganggapku gadis tukang makan lagi? lah... bomatlah, whatever do you think, namanya juga lagi usaha cari calon mantu buat emak, cayo Hesti!


Tak butuh waktu yang lama, Arka dan Hesti sudah sampai didepan Restoran milik Arka, setelah dia memarkirkan mobil Arka langsung berlari kearah dapur restoran, Hesti yang terkejut langsung saja mengikuti Arka sampai ke meja dapur.

__ADS_1


" Akhirnya bapak datang juga, kami kekurangan pelayan pak?" Salah satu koki pembantu di restoran itu langsung mengeluh, karena tangannya tidak diam sedari tadi.


" Saya akan membantunya, ini pesanan di meja yang mana?" Hesti langsung berdiri dan mendekat kearah koki yang sedang membawa nampan berisikan makanan disana.


" Terima kasih ya Hes, maaf merepotkanmu." Ucap Arka dengan lega.


" Dengan senang hati Om, aku senang bisa bantu om." Hesti bahkan menampilkan senyum terbaik yang dia bisa.


Setelah selesai mengantarkan makanan itu Hesti balik kedapur, dia melihat Arka melepas kancing kemejanya dan menggulung lengannya dengan cepat, terlihat biasa kalau menurut orang lain, tapi menurut Hesti dia terlihat sangat keren dan maskulin, apalagi saat melihat lengannya kokoh.


Woah... tidak sia-sia aku kesini, sungguh pemandangan yang indah, mataku jadi terasa bening saat melihat duren montong yang satu ini, Ya Tuhan... jika memang dia jodohku dekatkanlah kami, jika tidak... jangan berikan dia jodoh selain aku, maaf jika aku sedikit memaksa Tuhan.


" Hesti kamu mau aku masakin apa, kamu pasti sudah capek daritadi mondar mandir, istirahat dulu sini?" Arka melambaikan tangan kearah Hesti yang sedang memeluk nampan sambil menatap dirinya.


" Hatimu." Jawab Hesti tanpa sadar.


" Apa? hati? kamu mau hati apa? hati ayam apa hati sapi?" Tanya Arka sambil memotong bawang bombay dengan lincahnya.


" Om keren banget." Hesti tidak mendengarkan ucapan Arka, entah mengapa dia terkagum-kagum saat melihat Arka menggunakan celemek dan masak di area dapur.


" Apanya yang keren sih? katanya tadi lapar kan, mau makan apa?" Arka kembali tersenyum dengan manisnya.


Gilak... bisa diabetes gue lihat om Arka!


" Aku mau makan yang manis-manis, kayak Om, hehe..." Bukan Hesti namanya kalau tidak pandai membuat orang tersipu-sipu.


" Yeeee... Om Arka curhat ya?" Hesti langsung tertawa sambil duduk dikursi didekat tempat Arka memasak.


" Dari pada kamu ngantuk nantinya? nggak ada nanti yang bantuin Om, hehe." Arka ternyata juga bisa diajak bercanda.


" Sejak kapan Om bisa masak?" Hesti mulai mengkorek info tentang Arka.


" Semua orang pasti bisa masak Hes, cuma niat apa enggak aja."


" Salah... bukan niat, tapi cuma enak apa enggak kayaknya deh, hehe..."


" Kamu ini jujur banget jadi orang." Sudah lama Arka tidak tersenyum selama ini, hari-harinya dipenuhi dengan wajah keseriusan saja.


" Om... kenapa sih Om dulu bisa putus sama aunty Mala?"


" Mulai lagi deh kamu, nanya yang lain aja kenapa Hes?"


" Pengen tahu yang itu, soalnya om Carlos kelihatan jealous banget sama Om, pasti ada yang spesial dari om gitu." Hesti masih ingat perdebatan sengit diacara pertunangan Ray tadi.


" Tidak ada alasan apapun, Alloh sudah memberikan jawaban, bahwa mungkin dia bukan yang terbaik buat kita, karena Alloh selalu punya cara yang romantis untuk membuat kita senantiasa duduk bersujud kepada-Nya."


" Tapi kenapa Om masih berhubungan dengan aunty Mala? malah Om kan yang bantuin Ray yang akhirnya dia jadi mendapatkan pendon○r mata?"


" Dimas yang memberi tahuku duluan, dan aku hanya melanjutkannya saja, aku senang bisa membantu Ray, dia masih muda, masih sehat, banyak yang bisa dia raih diumurnya yang sekarang."

__ADS_1


" Om benar-benar baik, pasti aunty Mala akan mengingat jasa Om kali ini."


" Mala juga selalu baik sama Om, dari dulu sampai sekarang, bahkan saat aku pernah melukainya begitu dalam, dia pun masih baik dengan Om."


" Owh ya?" Hesti langsung terlihat terkejut, ternyata Arka lah yang menyakiti aunty Mala duluan, berbeda dengan pemikiran awalnya tadi.


" Ada dua hal yang harus kita ingat, yaitu kebaikan orang lain sama diri kita, dan keburukan kita sama orang lain, itu harus kita ingat baik-baik dan ada dua hal yang harus kita lupakan, yaitu kebaikan kita sama orang lain, dan keburukan orang lain sama kita, lupakan.. supaya kita bisa ikhlas dan tenang."


" Tapi Om tetep Hebat."


" Masak sih?"


Di hati aku, hehe..


Namun terlepas dari itu semua Hesti tetap kagum dengan sosok Arka yang bijaksana dan semua perkataannya terasa adem ditelinganya, mungkin itu semua karena efek dari jatuh cinta.


" Capek juga ternyata ya Om." Hesti menghempaskan tubuhnya disofa tempat untuk para karyawan melepas lelah walau sesaat.


" Minum dulu." Arka mengambilkan sebuah minuman dan duduk disamping Hesti.


" Kamu mau aku anter pulang sekarang? sepertinya mereka sudah tidak akan pesan makanan lagi." Karena Arka sudah menyiapkan menu utama semua disana.


" Apa Om mau nikah sama aku?" Ucap Hesti dengan mata yang terpejam, sebenarnya dia lelah karena siang tadi dia kerja dan malamnya langsung datang ke acara Ray.


" Hah? maksud kamu?" Arka sontak langsung memelototkan kedua matanya karena terkejut bukan kepalang.


" Kalau Om nggak mau, biarkan aku istirahat disini saja, soalnya ini sudah tengah malam, nanti kalau Om anter aku pulang, kita bisa diarak keliling komplek sama bapak-bapak yang jaga pos ronda."


Hesti tetap memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya dibahu sofa.


A few moment later...


" Astaga ini bocah, baru aku tinggal ke kamar mandi sebentar sudah nyenyak dia ke alam mimpi."


Arka tersenyum melihat Hesti yang tertidur dengan lelap, dia langsung melepas jaketnya dan menyelimutkannya ditubuh Hesti yang meringkuk ditepi sofa karena kedinginan.


" Hmmm..."


Saat merasakan kehangatan ditubuhnya, Hesti berbalik dan tiba-tiba tangannya memeluk perut Arka yang duduk disampingnya.


" Heh?" Arka yang terkejut hanya bisa mematung ditempat, ingin membangunkannya namun dia tidak tega, karena Hesti terlihat capek sekali.


" Heisss... Hesti... Hesti... kamu gadis pertama yang membuatku deg-degan setelah kepergian almarhumah ibunya Dimas, hah... aku harus bagaimana?" Dan akhirnya Arka merangkul Hesti agar kepalanya bisa bersandar dengan lengannya.


" Jangan menyesal ya Hes, kamu yang ngotot masuk di kehidupanku." Arka pun memejamkan kedua matanya sambil menyandarkan kepalanya di kepala Hesti.


Arka bukannya bocah kemarin sore yang tidak tahu apa-apa, dia tahu kalau Hesti terlihat tertarik dengannya, namun dia memilih diam saja, dia masih belum bisa menggantikan tempat almarhum istri dihatinya sampai sekarang, namun entah nanti.


..."Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai; dicintai untuk diri kita sendiri, atau lebih tepatnya, dicintai terlepas dari diri kita sendiri."...

__ADS_1


__ADS_2