
...Happy Reading...
Pasrah adalah satu-satunya jalan yang bisa kami lakukan sekarang, namun ternyata pria kesayanganku ini tau bagaimana dia bisa dengan mudahnya membalikkan keadaan.
" Owh.. ada temanku dulu, teman saat dibangku SMA dulu." Jawabnya asal.
Yakin, sudah pasti dia berbohong kali ini, entah sampai kapan kebohongan ini akan terus berlangsung, sesungguhnya aku pun sudah lelah.
" Yang mana nak? kayaknya saat mommy datang rapat dengan para wali dan juga murid saat itu semua terlihat kalem dan lugu loh?" Aunty Mala terlihat mengingat-ingat kejadian masa lampau.
" Jangan tertipu dengan tampang lugu dan kalem mommim mertua, terkadang malah mereka yang lebih ganas dan berbisa, bisa jadi yang kelihatan buaya malah bisa menjaga pedang pusakanya sampai waktunya tiba, ya kan sayang?" Kak Ganesh seolah membanggakan dirinya, bahkan membelai pipi istrinya didepan semua orang.
Namun bagiku, kata-kata itu seolah menikam jiwaku, merontokkan semua harga diriku yang selama ini aku pagar tinggi-tinggi sekali.
" Kita kabur aja gimana kakak sayang? atau mau ngaku saja sekarang didepan mereka semua?"
" Diem."
Ray kembali menggodaku, seolah dia tidak punya salah sama sekali dalam kejadian malam itu, walau kesalahannya mungkin karena dia tampan dan menggemaskan sih lebih tepatnya.
" Kamu sudah makan belum tadi kak Hana?"
Ray mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan hal itu, namun aku sedikit lega karenanya, kabur memang adalah satu-satunya jalan agar mereka tidak mencurigaiku dengan wajahku yang mungkin sudah terlihat pucat seperti hantu karena ketakutan.
Dan aku memang melihat diatas meja banyak sekali terhidang makanan, seperti orang yang sedang mengadakan syukuran saja. Bermacam lauk pauk dan berbagai cemilan ada semua disana, asisten rumah tangga dirumah ini memang terkenal jago memasak berbagai macam makanan, sudah pasti semua masakannya enak dan menggoda selera.
" Pasti belum makan kan, kak Hana pasti nggak selera makan akhir-akhir ini, apa badanya mulai terlihat kurus sekarang mom?"
" Sepertinya iya deh." Aunty Mala terlihat memperhatikanku.
Seolah Ray tahu benar bagaimana keadaanku sekarang, karena berat badanku memang kurang beberapa kilo karena sibuk mikirin dia beberapa hari ini, ditambah jadwal padat, membuatku seolah lupa menikmati hidup.
" Bener kamu Ray, Hana memang terlihat kurus sekarang, kalau dirumah juga dia males makan." Mama Shanum pun ikut membenarkan akan hal itu.
" Kak, aku temani kamu makan mau?" Senyum priaku terukir di bi birnya, membuat jantungku kembali berdebar, karena sejak saat itu aku jadi ketagihan dengan civman darinya.
Astaga... berondongku memang meresahkan.
" Iya Hana, aku tidak mau kamu gizi buruk hanya gara-gara rajin bekerja." Mama Shanum pun kembali angkat bicara.
Bukan karena rajin bekerja ma, sebenarnya gara-gara pria ini aku tidak selera makan, rinduku yang selalu menggerogoti sebagian jiwaku, sehingga membuat selera makanku hilang seketika.
" Kita makan ditaman samping saja mau kak? atau mau di balkon kamarku?"
Ingin rasanya aku melenyapkan kamar Ray yang penuh dengan kenangan des@han yang hampir membuatku gila itu, namun apa daya, aku tidak punya hak tentang itu.
" Di taman saja kali ya." Aku lebih memilih ke taman saja, setidaknya aku tidak menjadi pusat perhatian mereka disini karena kebucinan Ray.
__ADS_1
" Okey... kalau begitu sana ambil dulu makanan dan minumannya, ambil yang banyak ya sayang, biar kamu kenyang."
" Cieeeee... yang udah punya sayang."
" Bahahahaha." Tawa mereka menggelegar didalam ruangan itu.
Aku hanya bisa menunduk saja karena malu, disaat mereka semua tertawa. Namun tak apa, ketimbang malu karena ketahuan kuda-kudaan kan memang lebih baik seperti ini.
Akhirnya satu piring besar aku bawa ke taman sambil menggandeng Ray, walau isinya hanya ada nasi dan beberapa potongan rendang dan juga acar saja, karena aku ingin cepat segera keluar dari sana.
" Makan yang banyak kak, aku nggak mau hanya memelvk tulang saja nantinya."
Ini bocah pikirannya condong ke arah sana saja, membuat aku selalu salah tingkah, walau dia tidak melihat kearahku.
" Iya."
" Kemana kakak tadi? kenapa harus berbohong denganku? apa kakak sudah bosan denganku, setelah mendapatkan apa yang kakak mau?"
" Maksud kamu apa sih Ray?" Aku menyuapkan satu sendok nasi kemulutku, setidaknya aku harus punya energi untuk menghadapi tingkah kekasih bucinku ini.
" Bukannya kakak sudah mengambil keperjakaanku kemarin?"
Ini anak ngomongnya memang nggak pakai basa-basi sedari dulu, selalu membuatku kesal walau sayangnya aku tetap menyukainya.
" Nggak usah ungkit-ungkit masalah malam itu lagi kenapa sih Ray?"
" Argh.. aku jadi tidak berselera makan lagi." Aku letakkan piring itu di meja taman, dan langsung aku tenggak air mineral yang Ray bawakan tadi.
" Kakak marah?"
" Enggak!"
" Jelek kalau cemberut begitu."
Heh? tau saja kalau aku sedang cemberut.
" Sini aku pelvk." Ray langsung merentangkan tangannya.
" Ray ini diluar rumah."
" Apa kakak mau kita pindah ke kamar saja?"
" Enggak.. enggak!"
Aku langsung menolaknya, lokasi kamar adalah tempat yang paling aku hindari saat berduaan dengannya.
" Ya udah sini, nggak bakalan ada yang lihat kok, orang sepi begini!"
__ADS_1
Berondongku itu langsung menarik tubuhku dan menenggelamkan wajah tampannya di ceruk leherku.
Demi apapun itu, saat mencivm bau wangi parfumnya saja aku sudah sangat senang, apalagi dipelvknya seperti ini, sepertinya aku sudah terkontaminasi dengan tubuh lelakiku ini.
" Aku kangen kakak."
Apalagi kata kangen, ya ampun... andai aku boleh bermimpi, akan aku banting kembali dia diatas ranj@ng saat ini.
" Hmm... aku pun sama."
" Bohong, trus kenapa kakak tidak mengunjungiku beberapa hari ini, bahkan kakak tidak datang dan menemaniku disaat aku----" Ray menggantungkan ucapannya dan seolah terlihat sedang berpikir.
" Saat aku apa?"
" Saat aku demam." Jawabnya kemudian.
" Demam? kapan kamu demam, sekarang masih panas nggak?"
Aku langsung panik dong, karena aku tidak mau terjadi apa-apa dengan dirinya lagi.
" Demam karena tidak ada kakak disampingku!" Dia menarik tanganku saat aku mengecek suhu badan lewat keningnya yang memang tidak panas sama sekali.
" Kamu ini, bikin aku kaget saja, dasar bocah!"
" Kak, walau aku tidak seumuran dengan kamu, bolehkah aku seumur hidup denganmu?" Suaranya terdengar merdu mendayu-ndayu ditelingaku.
" Hah?" Aku langsung menatapnya dengan intens.
Cup
Bi bir tipis itu langsung menempel di bi birku, rasa hangat mulai menjalar diseluruh tubuhku, saat lidahnya mulai membelit dan mengeksplor rongga mulutku, tidak seperti biasanya, dia terlihat santai dan bahkan seolah menikm@ti civman fanasnya, satu menit, dua menit berlalu, bahkan sampai aku mulai kehabisan nafas.
" Bernafas kakak sayang, kayak nggak pernah civman aja deh!"
Umpatnya dengan nada kesal, namun setelah itu dia kembali menarik daguku dan melanjutkan kelakuannya yang selalu aku bayangkan disetiap malam-malamku.
Setelah sekian detik aku pasrah dan membalas pagutan mesranya, otak cerdasku seolah kembali muncul dan berputar di permukaan bumi.
Loh? kok dia tau posisi wajahku ya? bahkan dia tidak mer@b@ bi birku dulu sebelum mencivmku tadi, apa jangan-jangan dia sudah?
" Ray... kamu sudah bisa---?
Namun aku tidak ingin menyinggung perasaannya, jadi ku urungkan pertanyaanku, aku takut jika dugaanku salah dan malah berujung melukai perasaannya yang akhir-akhir ini berubah menjadi sensitif.
" Jangan pikirkan apapun, cukup kakak tahu.. bahwa aku mencintaimu, itu saja."
Aku perhatikan kedua bola matanya, namun terlihat seperti biasanya, padahal aku memang berharap dia sudah bisa melihat normal, walau tak tahu entah kapan itu terjadi.
__ADS_1
...“Cinta terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh. Hal terbaik untuk dipegang dalam hidup adalah satu sama lain. Hanya ada satu kebahagiaan dalam hidup ini, mencintai dan dicintai”...