
...Happy Reading...
Semua team yang Ray bawa sudah berangkat dalam satu pesawat, sedangkan Ray dan Ken tidak kebagian kursi penumpang, karena jumlah mereka memang banyak.
" Ndan, kenapa kita nggak sekalian ikut mereka?" Tanya Ken yang terlihat iri melihat mereka semua pasukan sudah masuk didalam pesawat dan bersiap lepas landas.
" Bukannya kamu harus kembali berperang?" Ucap Ray yang hanya mengerjai Ken saja.
" Lagi? aaaa... bukannya sudah selesai Ndan?" Renggek Ken seperti anak kecil.
" Siapa bilang?"
" Trus kenapa cuma kita berdua saja? yang lain nggak ikutan?" Baru saja perang besar-besaran, masak harus perang lagi pikirnya.
" Tidak perlu, mereka sudah terlihat lelah."
Yaelah... tau gini mending gue nyusup aja didalam pesawat, berdiri-berdiri dah gue, daripada harus berperang lagi, abang lelah adek...
" Jadi anda pikir saya tidak lelah komandan yang terhormat?" Ken semakin menyesal karena tidak ikut pesawat bersama teman-temannya.
" Tidak, buktinya kamu masih bisa main-main denganku?"
" Aissshh... bagaimana aku tidak jomblo kalau setiap hari harus mencari penjahat terus tanpa henti."
" Jadi kamu mengeluh?"
Jelas, aku juga pengen kali punya gandengan Ndan?
" Tentu saja tidak, hurm... harusnya tadi kita tidak perlu bersiap juga, lumayankan mundur-mundur satu jam tidurnya, siapa tahu mimpi ketemu bidadari atau mimpi punya pesawat Jet kayak itu tuh? waah... siapa itu pemiliknya, pasti salah satu dari bangsawan disini."
Ken begitu terpesona melihat kemegahan jet pribadi yang baru saja mendarat disana.
" Bidadari gundulmu itu! Ayo kita berangkat!" Ray langsung kembali menggendong ranselnya.
" Kemana?" Tanya Ken yang terlihat belum siap jika harus diajak berperang lagi.
" Ke Pasar lowak buat tukar tambah kamu sama barang antik, biar nggak berisik!" Ray langsung berjalan mendahului Ken yang masih terbengong disana.
" Dengan bapak Raymond?" Tiba-tiba sang Co Pilot turun dan berlari kearah Raymond.
" Ya, saya sendiri." Jawab Ray dengan santai, karena dia memang sudah diberitahu oleh Mark kalau dia dijemput secara pribadi sebagai ucapan terima kasih dari keluarga Simon Anderson.
" Pesawat Jet sudah siap, kita bisa berangkat sekarang."
" APA?" Ken langsung mengucek kedua matanya.
" Okey baiklah, kita berangkat sekarang juga." Ray langsung menggangukkan kepalanya.
" Woooii... mau pulang nggak?" Ray langsung menendang kaki Ken perlahan karena dia seolah masih tidak percaya.
" Gilak, apa pesawat Jet itu sengaja datang untuk menjemput kita?"
" Tentu, apa kamu tidak dengar kalau dia tadi menyebut namaku?"
" Anda memang luar biasa Ndan!"
" Kalau masih mau bengong disini aku tinggal nih! katrok banget tau nggak!"
" Hehe... cuma kaget saja gitu, kirain jemput bangsawan, ternyata jemput kita dong." Ucap Ken dengan bangganya.
" Kita? lebih tepatnya gw aja, cuma gw nggak tega ninggalin kamu sendiri disini." Ray langsung melengos mendengarnya.
" Whatever! yang penting bisa pulang naik Jet pribadi yang mewah Ndan, haha.." Ken langsung berlari dan menaiki pesawat Jet itu, sedangkan Ray hanya tersenyum saja melihat tingkah konyol sahabat karibnya itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya pesawat jet itu mendarat di kediaman rumah Raymond sendiri.
Dan ternyata sang kekasih hati yang baru beberapa hari yang lalu menjadi miliknya itu, sudah menunggu kedatangan dirinya didepan rumah mewahnya.
My Hana? apa dia tahu kalau hari ini aku pulang? owh... pasti uncle Mark yang memberitahunya.
Ray turun perlahan dari tangga jet pribadi itu dengan senyum yang selalu tertuju ke arah wajah Hana yang sedang berdiri menyambut kedatangannya.
Seolah rasa penat dan lelah ditubuhnya hilang berterbangan saat melihat Hana ada didepan mata kali ini. Inilah moment yang dia idam-idamkan sedari dulu, saat pulang membasmi musuh, pulang disambut didepan pintu oleh gadis kesayangannya.
" My Hana." Teriak Ray dari kejauhan.
Sedangkan seperti biasa Hana hanya tersenyum tanpa menunjukkan kehebohannya, padahal dalam hati dia bahagia sekali karena bisa melihat kepulangan kekasihnya dengan keadaan selamat setelah berperang membasmi geng mafia.
" Aku kangen kamu." Setelah jarak tinggal beberapa langkah lagi , Ray langsung melempar tas ranselnya dan mulai merentangkan kedua tangannya ingin memeluk tubuh Hana.
__ADS_1
Namun...
" Kangen sama siapa?" Tiba-tiba Ganesh muncul dibelakang Hana dengan Adelia disana.
" Aiiissshh... selalu saja ada makhluk penggangu, menyebalkan sekali!"
" Kamu ngomong apaan?" Tanya Ganesh yang kurang bergitu dengar dengan celotehan Ray.
" Kangen sama kakakku lah! hai kak... sehat-sehat kan? udah pasti sehat dong ya, disaat cuaca ekstrim seperti ini pasti rumah kalian tetap tidak terkena hujan dan petir, bukan begitu?" Ledek Ray mengingat tragedi hari itu.
" Apa hubungannya?" Tanya Adelia yang langsung menjeling.
" Ya karena cuma kalian berdua sajalah yang punya penangkalnya, haha..."
" Berisik deh kamu dek! apa kamu baik-baik saja, ada yang terluka?" Adelia langsung memeriksa keadaan tubuhnya.
" Sudah berhasil belum?" Saat ditanya bukannya menjawab namun Ray malah kembali bertanya.
" Apanya?" Tanya Adelia terheran kembali.
" Diam kamu bocah, nggak usah banyak nanya, liat tuh temenmu kayak orang bingung, berdiri mematung saja dibelakang." Ucap Ganesh sengaja mengalihkan perhatian sambil menunjuk Ken yang masih menyimak obrolan mereka.
" Nih... bawa mobilku, besok jemput aku saat berangkat ke kantor!" Ray mengambil kunci mobilnya ditempat biasa dan melemparnya kearah Ken. Padahal Ken masih mau mendengar gosipan mereka tadi.
" Ya sudah, ayok kita masuk kedalam, bibi sudah masak banyak untuk menyambut kepulangan kamu." Adelia langsung menyuruh mereka semua masuk kedalam rumah.
" Kakak." Bisik Ray disamping telinga Hana.
" Hmm.." Kalau didepan keluarga mereka Hana tidak merasa keberatan dipanggil kakak, karena mereka semua sudah tau dari awal, beda kalau dikantor, takutnya mereka mengira kakak beradik, dan para staf-staf wanitanya akan heboh kembali meminta berkenalan dengan Ray.
" Mom sama dad kemana kak?" Ray pura-pura menanyakan orang tuanya, padahal dia cuma mau mengandeng tangan Hana saja.
" Baru keluar, sebentar lagi mereka juga pulang, kita makan saja dulu dek, sudah jam makan siang, Hana tadi juga pasti belum makan siang dia nungguin kamu dari tadi." Adelia langsung duduk bersebelahan dengan suaminya.
Benarkah? aaa... manisnya pacarku!
Ray kembali menggengam tangan Hana dibawah meja makan, sambil terus curi-curi perhatian dengannya.
" Kak kangen." Bisik Ray kembali sambil mengusap-usap jari didalam genggamannya.
Dan Hana hanya bisa menggangukkan kepalanya saja, diantara seluruh keluarganya memang belum ada yang mengetahui tentang status baru mereka.
Hana sungguh tidak banyak bicara setelah dia mulai menjadi wanita karier, perilakunya tidak seperti saat dia masih di bangku kuliah dulu.
Terdengar suara bunyi bel dari luar.
" Siapa yang datang?" Adelia yang baru mau mengambil nasi jadi berhenti.
" Mungkin salah satu dari rekanku, datang memberikan laporan yang kemarin." Ray langsung beranjak berdiri, setelah sempat membuat Hana tersipu malu karena Ray mencuri-curi waktu untuk menoel pipi Hana bahkan mengedipkan satu matanya, disaat Ganesh dan Adelia sedang mengamati arah pintu.
Benar saja, memang rekan Ray yang datang, namun yang tidak dia sangka, ternyata bukan cuma satu atau dua orang, tapi sepuluh orang.
" Rame banget, mau ngasih laporan atau reuni mereka, kenapa keroyokan begitu?" Ganesh terbengong sendiri sambil mennghitung jumlah rekan adek iparnya.
" Itu namanya bukan keroyokan kak, tapi kebersamaan." Jawab Adelia yang malah terlihat tersenyum melihat mereka.
" Kak, tolong bilangin sama bibi, buatin minuman sama cemilan buat mereka." Pinta Ray yang terlihat lemas.
" Okey, kakak bantuin sekalian, biar cepet!" Jawab Adelia yang selalu pengertian.
Padahal niat hatinya tadi dia mau bermanja-manjaan dengan kekasih hati yang masih fresh itu, tapi apalah daya, tidak mungkin dia mengusir rekan yang mau berkunjung ke rumahnya.
" Ray... aku pulang saja ya?" Hana langsung berlari mendekat kearah Ray sebelum dia kembali ke teman-temannya.
" Pulang! pulang saja kakak sana, jangan harap bisa ketemu aku lagi!" Umpat Ray yang langsung emosi.
" Kok gitu sih ngomongnya Ray?" Hana langsung melembutkan suaranya, dia tidak mau dicuekin Raymond lagi, karena hanya akan menyiksa batinnya sendiri.
" Lagian baru juga ketemu bentar doang, sudah mau pulang aja, nunggu sebentar aja nggak bisa apa? aku tuh ya nungguin kakak sejak dari bangku SMA tauk, berapa tahun coba, itung sendiri!" Ray langsung memelototkan kedua matanya.
" Tapi aku harus kembali ke kantor Ray?"
" Kakak ini nggak punya peri kemanusiaan dan perikeadilan atau bagaimana sih, pacarnya baru saja pulang dari berperang, dari luar negri lagi, cuma diliatin beberapa menit doang, kakak memang keterlaluan!"
" Cih... mentang-mentang sudah punya pacar!" Umpat Hana perlahan namun masih terdengar ditelinga Ray.
" Emang kenapa? orang pacarnya juga kakak kok!"
" Tapi itu temenmu banyak banget loh, ngapain juga aku disini, mending balik ke kantor lagi aja."
__ADS_1
" Nggak, kalau begitu kakak ikut aku kedepan saja, skalian aku mau kenalin pacar akuh ke mereka." Ray menarik lengan Hana.
" Nggak, aku nggak mau Ray!" Tapi Hana melepasnya dengan perlahan.
" Kenapa sih?"
" Mereka cowok semua!"
" Alasan saja kakak ini, dulu saat ikut taekwondo juga biasanya cowok semua, nggak setiap hari ada ceweknya."
Diantara ruang tengah dan ruang tamu, akhirnya mereka kembali beradu argument.
" Ya kan sekarang lain posisinya, ya sudah aku tunggu sebentar lagi deh!" Hana lebih memilih mengalah karena rekan-rekan Ray menoleh kearah mereka seolah bertanya-tanya.
" Tapi aku lebih khawatir jika kakak berdua saja dengan dia disini!" Ucap Ray sambil melirik Ganesh yang terlihat santai bermain ponsel sendiri, karena Adelia sedang membantu si bibi di dapur.
" Ya ampun Ray, kamu ini apa-apaan sih, dia kakak ipar kamu sekarang!" Sampai saat ini Hana masih tidak habis pikir, kenapa Ray masih menggangapnya menyukai Ganesh, padahal itu sudah lama berlalu.
" Tapi dia pernah singgah di hati kakak, sekian lamanya!"
" Nggak usah ngaco kamu, sana temui rekanmu!"
" Awas saja sampai kakak duduk deket-deket sama dia!"
" Iya bawel." Hana mendorong tubuh Ray perlahan agar segera menemui rekannya.
Tak selang beberapa lama saat Hana baru saja duduk, ponselnya berdering.
" Astaga... apaan sih ini bocah!" Hana hanya melihat saja nama di kontak itu dan memasukkan lagi dikantong sampai beberapa kali terulang kembali.
" Siapa yang nelpon sih dek? kenapa nggak diangkat?" Ganesh yang mendengarnya sedari tadi jadi heran sendiri.
" Nggak papa kak." Hana malah jadi merasa nggak enak sendiri.
" Angkat saja dulu, kali aja penting dek."
" Nggak usah kak, iseng aja nih orang!"
" My Hana! angkat telponnya!" Teriak Ray dari arah ruang tamu.
" Astaga, tu bocah benar-benar ya!"
" Tuh... sampai kedengeran kan dari depan sana, angkat saja dek, daripada berisik kan, nanti menggangu acara mereka?" Ganesh kembali mengingatkan, karena dia fikir suara dering ponsel Hana terdengar sampai depan.
Bukan begitu kak ceritanya...
" My Hana, angkat video callnya atau aku buang ponselnya!" Ucap Ray kembali.
" Ya ampun dek, siapa sih yang nelpon!" Ganesh langsung merebut ponsel ditangan Hana.
" Wooo... dasar bocah sableng! ngapain juga dia video call sekarang, orang cuma didepan sana, nenggok juga sudah kelihatan!" Umpat Ganesh dengan kesalnya, namun dia angkat juga akhirnya dan memilih mendekatkan wajahnya agar satu layar dipenuhi wajah Ganesh.
"My Hana! kenapa dia yang angkat! awas kalian kalau duduk dekat-dekat ya! jaga jarak kalian, bukan mahrom!" Ucap Ray tanpa rasa segan didepan rekan kerjanya.
" Kurang kerjaan kamu ya!" Ganesh bahkan memasang tampang garangnya yang sudah lama dia sembunyikan.
" Sini kak, dia memang agak aneh sekarang!" Hana mengambil kembali ponselnya sebelum Ray menjerit dari ruang tamu.
" Jangan dimatiin, aku akan pantau kakak dari sini!" Ray bahkan meletakkan ponselnya diatas meja sambil terus berdiskusi santai dengan rekannya.
" Dasar ikan Hiu!" Tanpa sadar Hana mengumpat kekasih berondongnya itu.
" Apa kamu bilang, aku ikan hiu?"
" Owh bukan... kamu salah denger pasti, maksudnya aku padamu!" Ucap Hana walau tanpa suara.
" Cie... ikan Hiu melayang-layang." Ucap Ray meneruskan.
" Apaan tuh?" Tanya Hana sambil menaikkan kedua alisnya.
" I Love You Sayang..." Bahkan didepan rekan-rekan kerjanya dia berani berkata seperti itu.
Kena lagi gue, ya Tuhan... kenapa aku selalu kalah telak dengan berondong yang satu ini.
" Ya Salam, nie orang benar-benar ya!" Wajahnya kembali bersemu merah jambu, niatnya pengen ngeledekin kekasihnya malah dia sendiri ya kena.
" Bahahahahahaha, cie.. cie... piwwittt!"
Akhirnya terdengarlah suara riuh renyah diruang tamu, sedangkan Hana yang berada diruang keluarga hanya bisa menahan malu, saat menjadi topik utama walau didalam hatinya dia sangat bahagia, namun disaat orang lain tertawa Ganesh malah terlihat seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
..."Pada dasarnya titik lelah itu ada, tapi itu bukan titik berhenti."...
..."Kurangi mengeluh tentang beban kehidupan karena bukan hidup yang bikin kita sulit, tapi kita sendiri yang bikin hidup itu sulit....