Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
96. Gadis itu?


__ADS_3

...Happy Reading...


Saat dalam perjalanan pulang, mereka menceritakan tentang semua kebaikan paman itu, bahkan sedari awal mereka bertemu, walau paman itu sedang merasakan kesakitan atas penyakit yang dia derita, namun dia tetap menerima keluarga kami dengan senyuman.


" Mom, aku ingin berkunjung ke makan paman yang mendon○rkan kedua mat@nya untukku."


Aku ingin berterima kasih dengannya secara langsung, walau tidak bisa bertatap muka dengannya.


" Tentu nak, kita langsung saja mampir ke makamnya ya yank." Mommy langsung menyuruh daddy pergi ke makam pria itu.


Sepanjang perjalanan senyumku tidak pernah surut, aku bisa melihat kembali pemandangan pepohonan yang menghijau, warna-warni bunga disepanjang jalan dan birunya langit yang membentang di angkasa. Sungguh ini nikmat yang terkadang kita lupa untuk menyadarinya.


Namun senyumku terhenti, tatkala aku sampai di depan sebuah pusara, yang tanahnya pun masih terlihat basah dengan taburan bunga diatasnya.


Terlihat pula seorang gadis yang khusuk berdoa disampingnya, sambil memeluk kayu yang bertuliskan nama seseorang disana.


" Nak... kamu datang sendiri?" Carlos kemarin hanya datang sebentar saja dalam acara pemakaman paman baik itu, karena harus mengurus keperluan Ray, jadi dia belum sempat berbincang banyak dengan seluruh keluarganya.


" Iya paman." Jawabnya dengan sendu, sambil mengusap air matanya yang masih tersisa.


" Ayah kamu orang baik, pasti dia sudah berbahagia disana, dan mungkin dia sudah bisa tersenyum sekarang, karena sudah tidak merasakan sakit lagi."


Daddy mengusap lengan gadis yang terlihat sangat sedih itu, dia juga terlihat berhati lembut dan ramah dengan kami.


Ternyata dia adalah anak dari paman berhati mulia itu. Aku sangat bersyukur, ternyata di dunia ini masih ada orang baik seperti mereka.


" Owh iya... kenalkan ini putra om, yang kami ceritakan hari itu, namanya Raymond." Daddyku memperkenalkan aku dengannya.


Air mataku langsung menetes seketika, saat tanganku mulai bersentuhan dengan tangannya yang terasa sangat dingin saat ini, mungkin dia sudah terlalu lama disana, karena angin juga terlihat bertiup cukup kencang di area pemakaman itu.


" Raymond." Aku mencoba tersenyum saat menjabat tangan halusnya.


" Samantha." Jawabnya lirih sambil menundukkan kepalanya.


" Sekali lagi aku ucapkan terima kasih kepada seluruh keluargamu, karena sudah banyak membantuku, lain kali boleh kami berkunjung kerumahmu?"


Aku belum pernah melihat paman itu, setidaknya kalau berkunjung kerumahnya aku bisa melihat fotonya, dan mengenangnya dalam memori ingatanku.


" Tentu." Jawabnya sambil terus melihat kedua bola mataku, tatapannya sayu, seolah ada gurat kesedihan dalam pandangannya.


" Apa kamu masih sekolah, atau sudah bekerja?" Tanyaku, sambil mencoba untuk tersenyum, dan mengalihkan perhatiannya, tiba-tiba aku merasa canggung saat pandangannya tak beralih saat menatapku, seolah dia tertegun, atau mungkin dia merindukan kedua mat@ ini.


" Masih kuliah." Jawabnya singkat dia terlihat memalingkan wajahnya, dan mengusap mukanya dengan perlahan, sepertinya dugaanku benar dia pasti merindukan pemilik kedua mat@ku.

__ADS_1


" Kamu kuliah dimana nak?" Mommy Mala terlihat sedikit terkejut.


" Di Universitas XX tante." Jawabnya dengan lembut.


" Wah... itu kan Universitas Adelia dulu? ternyata kamu kuliah disana nak?" Tanya Mommyku yang terlihat bahagia.


" Iya tante, saya ngekos disana."


" Kok kamu kuliahnya milih jauh dikota?" Daddy terlihat penasaran.


" Saya mendapatkan beasiswa prestasi disana paman." Jawabnya yang terlihat mencoba untuk tersenyum.


" Wah... kamu anak cerdas ternyata, itu kan universitas terbaik disana."


" Kamu kos dimana?" Mommy kembali bertanya.


" Di dekat kampus tante."


" Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal dirumah kami, lumayan dekat kok jaraknya dari kampus, kalau kamu bisa bawa mobil atau motor dirumah ada kok, tapi kalau kamu tidak bisa, nanti dianter jemput sama Ray, ya kan nak?"


" Owh ya.. tentu saja." Jawabku dengan cepat, aku pun tahu caranya balas budi atas kebaikan orang.


" Kosanku dekat kok tante dengan kampus, dan aku sudah nyaman tinggal disana." Jawabnya sambil kembali menundukkan kepalanya.


" Iya nak, skalian om ajarin tentang bisnis, perusahaan itu atas nama kamu, jadi kelak kamu juga yang akan meneruskan perusahaan itu."


Namun dia hanya terlihat diam saja, entah apa yang ada didalam pikirinnya, aku pun tak tahu.


" Emm... hari sudah mulai gelap, kamu mau kami antar pulang nak?" Mommy Mala seolah paham dengan situasi saat ini, dan mengalihkan pembicaraan daddy.


" Saya masih ingin disini tante, rumah saya dekat dari sini, jadi saya bisa jalan kaki saja nanti." Jawabnya perlahan.


" Baiklah, kalau begitu kami duluan ya nak, sampaikan salam kami kepada keluargamu, lain kali kami akan berkunjung kembali." Ucap Mommy mengusap bahu gadis itu.


Dia hanya terlihat mengganguk saja, aku tahu perasaannya, dia mungkin masih sedih dan merasa kehilangan orang yang dia sayangi.


" Mom... apa dia nggak rela ya, kedua mat@ ayahnya diberikan untukku? kayak yang sedih banget lihat kedua mat@ku?"


Sepanjang jalan aku termenung, dan membayangkan tatapan matanya yang sendu, aku pun bingung harus bagaimana dan berkata apa selain terima kasih.


" Wajarlah Ray, dia pasti teringat dengan ayahnya." Mommy mencoba menenangkan hatiku dengan menggengam kedua tanganku.


" Jaga dia Ray, lindungi dia, anggap dia sebagai adekmu, itu pesan dan harapan dari bapaknya." Daddy ikut memberikan pendapatnya.

__ADS_1


" Pasti dad, aku pasti akan menjaganya."


Itu janjiku, karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas semua kebaikan paman itu.


" Besok kita adakan syukuran dirumah ya yank, kita undang warga sekitar."


" Ide yang bagus itu mom."


" Aku juga mau ngundang trio cendol dawet deh, lama banget nggak kumpul sama mereka." Wajah mommy langsung terlihat sumringah saat mengingat sahabat-sahabat karibnya itu.


" Mom, jangan bilang dulu ke kak Hana ya, biar aku saja yang memberitahunya secara langsung, bilang sama aunty Shanum dan uncle Mark juga ya?"


" Trus kamu tidak mau mengundangnya?"


" Ya diundanglah, yang benar saja, rasa rinduku ini bahkan sudah menumpuk setinggi gunung!" Jawabku dengan mantap, hanya aku yang tahu perasaan ini dan sakitnya menahan rindu, bagai tertusuk duri sembilu.


" Baju kebaya berwarna biru!" Ucap Mommy tiba-tiba.


" Siapa mom?" Kedua alisku langsung terangkat saat aku lihat tidak ada orang yang memakai kebaya sore-sore begini.


" LEBAY LUU...!" Ucap Mommy sambil menoyor keningku dengan perlahan.


" Makan bakso dipinggir jalan raya." Aku pun langsung membalasnya.


" Kamu pengen makan bakso nak?" Mommy malah menanggapinya dengan serius.


" Ooo... INDAHNYA CINTA!" Jawabku dengan lantang.


" Dasar bocah sableng!" Mommy langsung melengos mendengarnya.


" Kalau aku sableng, mommy apaan dong?" Aku langsung menatap wajah mommyku tersayang.


" Emaknya sableng lah!" Daddy langsung ikut menimpali candaan kami.


" Iya... trus ayang Wiro Sableng nya!" Mommy langsung menjulurkan lidahnya.


" Hahahaha... berarti kita keluarga Sableng dong ya..." Daddypun langsung tertawa karenanya, dia kembali tertawa terbahak-bahak melihat kami berdua, dan akhirnya kebahagiaan keluarga kami kembali seperti dulu lagi.


Tidak akan pernah aku sia-sia kan anugerah Tuhan yang sudah diberikan kepadaku, dan akan aku pergunakan untuk sebaik-baiknya.


..."Bukanlah harta yang membuatmu bahagia, tapi rasa bersyukurlah yang membuatmu menjadi orang yang merasakan kebahagian."...


..."Allah tidak menjanjikan langit itu selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar. Tapi, ketahuilah Dia selalu memberi pelangi setelah badai, tawa di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban dari setiap masalah."...

__ADS_1


__ADS_2