Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
21. Aku ini punya siapa?


__ADS_3

...Happy Reading...


Ketegangan diruangan itu bukan hanya dirasakan oleh Ganesh sang pembawa masalah, namun semua yang ada didalamnya ikut merasakan juga, kecuali Ray tentunya, soalnya dia memang tidak begitu respect dengan kelakuan Ganesh, jadi dia tidak perduli seperti yang lainnya, dia hanya penasaran saja, dengan siapa gerangan dia akan menikah dalam waktu dekat ini.


" Maksud uncle aku menikah beneran gitu?" Tanya Ganesh yang masih mencoba berfikir lain.


" Ya beneranlah masak bohongan?" Jawab Carlos sambil menatapnya wajah Ganesh yang terlihat sedikit memucat itu dengan tajam.


" Tapi uncle, aku belum---? Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya sudah langsung dipotong oleh Carlos kembali.


" Nak Ganesh... menjaga diri dari zina itu jauh lebih mulia, ketimbang dimabuk cinta dalam dosa.” Carlos langsung mengutarakan pendapatnya kembali.


" Tapi aku masih muda uncle, aku bahkan baru saja mau masuk kedalam dunia kerja?" Ganesh jadi bingung harus bagaimana sekarang.


" Banyak orang berzina selagi muda dibiarkan, lalu mengapa nikah muda harus dipermasalahkan?” Pertanyaan Carlos seolah menusuk diri Simon dan Raras sebagai orang tuanya.


" Aku rasa itu memang jalan satu-satunya Nesh, agar kita lebih mudah untuk mengkonfirmasi didepan publik nantinya, kalau kamu masuk dalam dunia kerja dalam keadaan seperti ini juga tidak akan ada hasilnya nak." Ucap Simon membenarkan usulan Carlos.


" Lagian sayang, dulu kamu kan udah ngebet banget mau nikah, sekarang sudah jadi sarjana S2 kenapa malah jadi ragu begini?" Tanya Raras yang juga ikut mendukung usulan itu, karena dia juga takut kalau putranya akan jatuh di lubang perzinaan terlalu dalam lagi.


" Betapa banyak aktivitas sepasang manusia yang semula semuanya dosa, akan berubah menjadi pahala ketika itu dilakukan dalam bingkai pernikahan yang mulia, kalau kamu sudah seperti ini, mengapa tidak bersegera saja?" Carlos mencoba memberikan pengertian kembali kepadanya secara perlahan-lahan.


" Betul itu, daripada kamu cuma PHP in anak orang terus, sosor sana sosor sini, mending menikah dapat berkah!" Shanum yang sedari tadi hanya menyimak, tidak mau ketinggalan untuk memberikan wejangan.


" Nih ya kata pak ustad, hubungan pernikahan itu, sebuah ikatan yang menjadikan setiap pegangan tangan mampu membuat dosa berguguran, setiap belaian pacarmu yang kini berbuah dosa, akan berganti pahala setelah janji suci keluar dari lisanmu itu." Ucap Mala yang ikut menjadi sok bijak.


" Woaah... mantep banget kata bijak mommy ya?" Ray langsung mengacungkan dua jempol untuk sang mommy tercinta, dalam setiap keadaan hanya Ray lah yang selalu bersikap tenang tanpa beban, bahkan tanpa memusingkan kisah selanjutnya.

__ADS_1


" Itulah gunanya kita sering ikut kajian nak, hehe.." Mala langsung terlihat besar kepala dan langsung diberikan hadiah kecvpan dari sang suami.


" Sepertinya mau tidak mau, siap tidak siap kamu tetap harus menikah Nesh, karena cuma itu jalan satu-satunya, jadi kita bisa langsung konferensi pers dengan para petinggi perusahaan, dan ya memang cuma itu solusi untuk membersihkan nama baikmu." Mark kembali membujuk Ganesh yang malah terlihat prustasi.


" Masalahnya bukan karena aku tidak mau uncle, tapi aku menikah dengan siapa? aku sudah nggak punya pacar lagi uncle? aku ini milik siapa coba?" Ganesh hanya bisa mengangkat kedua tangannya, karena memang pacar terakhirnya ya istri orang kemarin.


" Bukannya hari itu kamu punya pacar bule? waktu wisuda itu loh, yang hari itu kamu bilang sizenya emm--" Simon masih mengingat obrolan singkatnya hari itu.


" Daddy!" Ganesh langsung menyuruh daddynya untuk bungkam, karena dia tidak mau Adelia menjadi lebih salah paham lagi dengannya.


" Ckkk... ya sudahlah, kalau begitu kamu bisa nikah kontrak saja, setelah masalah selesai dan keadaan bisa kembali membaik, kamu bisa urus surat perceraian kalian." Ucap Simon yang tidak punya ide lain.


" ENGGAK! aku tidak setuju bang." Raras tidak ingin kisahnya dulu terulang kembali dengan putranya, walau tujuan mereka berbeda, namun Raras tidak ingin putra satu-satunya salah langkah dan mengambil keputusan yang merugikan diri sendiri.


" Kenapa, dulu kamu juga gitu kan yank." Bisik Simon disamping telinga Raras.


" Tapi itu kan beda tujuan bang, niatku baik loh dulu." Jawab Raras mencoba membela diri.


" Abang... pernikahan itu kalau bisa hanya sekali saja dalam seumur hidup, kejadian kita dulu juga mengajarkan kita loh, gimana sakralnya sebuah pernikahan, nggak boleh main-main, karena selain itu bisa juga akan menjadi beban mental juga buat kita yang menjalani, jadi aku nggak mau mereka seperti itu juga nantinya." Umpat Raras yang sudah mengambil hikmah dalam kehidupan awal mulanya dulu.


" Trus gimana dong, Ganesh harus nikah sama siapa?" Simon memilih mengalah kalau sudah berurusan dengan istri tercintanya.


" Apa sama anaknya simbok Tum aja?" Raras hanya bisa menyangga kepalanya sambil duduk di kursi, karena memang tidak mudah mencari jodoh untuk bisa dijadikan teman hidup selamanya, kadang yang pacarannya sampai bertahun-tahun saja bisa kandas ditengah jalan, apalagi cuma dalam hitungan hari pikirnya.


" Mbok Tum siapa, penjual warteg sebelah itu? jangan main-main kamu sayang, dia sudah janda lho, emang nggak ada pilihan lainnya apa?" Simon langsung mendelik kesal saat mendengar saran dari istrinya.


" Trus siapa dong pa? nama anak kita itu udah jelek banget, hampir setiap orang yang punya sosial media tahu, sulit mencari gadis perawan yang mau sama dia?" Hanya air mata yang bisa mengerti betapa pedihnya hati seorang ibu kali ini.

__ADS_1


" Apa anaknya temen bisnis lama abang saja ya?" Simon langsung memikirkan target selanjutnya.


" Emang mau sama anak kita?" Tanya Raras yang seolah mendapat suntikan energi.


" Pasti mau kayaknya deh yank." Simon terlihat manggut-manggut, seolah dia dapat menjaminnya.


" Ya sudah, itu saja bungkus, besok berangkat lamar dia!" Raras bahkan langsung menegakkan kepala dan tubuhnya.


" Tapi dia sudah seumuran kamu sayang." Ucap Simon yang langsung membuat tubuh Raras yang tadinya semangat menjadi meleyot dadakan.


" Yaelah bang, masak Ganesh kayak nikah sama mommynya sendiri, padahal cita-cita mommy mau punya cucu banyak bang, biar bisa rame nih rumah yang segede tiga kali lapangan bola!" Raras mengusap wajahnya dengan tidak bertenaga.


" Kan nanti bisa program bayi kembar sayangku." Simon masih belum mau mengalah.


" Mau bayi kembar juga kalau ibunya sudah berumur tetap beresiko bang! mau apa Ganesh jadi duda muda!" Ingin sekali rasanya dia mandi dalam gunungan es agar kepalanya bisa dingin, tidak panas seperti sekarang.


" Kalau enggak kita progam buat adeknya Ganesh lagi gimana? kita cari dokter terbaik di seluruh penjuru negri ini sayang?" Simon malah menanggapi hal ini dengan hal lain yang semakin membuat Raras pusing kepala.


" Kita sudah coba berkali-kali bang, bahkan tiap malam!" Umpat Raras, seolah diruangan itu hanya mereka berdua saja.


" Mungkin usaha kita kurang kenceng yank, nanti malam kita lembur lagi bagaimana? buat sampai jadi okey?" Giliran Simon yang langsung bersemangat kalau sudah tentang iya-iya an.


" Pinggangku rasanya sudah mau copot bang, kamu banting aku tiap malam tanpa rasa sakit pinggang, IT'S MY DREAM BANG!" Raras bahkan tidak bisa walau hanya membayangkannya saja.


" Astaga.. kalian ini mikirnya malah sampai kesitu?" Ganesh hanya bisa takjub saat mendengar perdebatan orang tuanya yang terlihat menyimpang dari point utama dalam topik pembicaraan mereka.


Sedangkan teman-teman Raras dan para suaminya hanya bisa ikut menahan senyuman saja, ingin tertawa tapi takut dosa, nggak tertawa tapi ocehan mereka sangat mengo cok perut, saat mendengar ocehan gila sepasang suami istri itu, yang memang terlalu lebay menurut mereka.

__ADS_1


...“Jika kau menikah menunggu mapan, siapa yang dapat memastikan kau kelak akan mapan?”...


...“Jangan takut tak bisa makan, cacing yang tiada tangan dan kakipun rezeki tetap Allah berikan. Kau hanya perlu berikhtiar dengan tanggungjawab dan iman yang menjadi pegangan.”...


__ADS_2