Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
124. Kewajiban Istri


__ADS_3

...Happy Reading...


Beberapa hari setelah kejadian itu Ray semakin dibuat prustasi oleh istrinya, ada saja alasan untuk menolaknya saat malam tiba. Saat diajak pindah kerumahnya pun dia masih menolak dengan berbagai alasan.


" Yank... ikut kerumah kita yuk?" Ray memelvk pinggang istrinya saat mereka berada diruang tengah.


" Lha ini kan juga rumah kita mas?" Jawab Hana sambil mengotak-atik laptopnya untuk mengecek pekerjaannya.


" Maksud aku kerumahku, masak dari Ijab Qobul sampai sekarang kamu belum pernah menginap dirumahku?"


Kalau dirumah mertuanya, dia tidak banyak berulah, jadi dia menjadi anak kalem dan tidak bisa meluluhkan hati istrinya dengan cara jahilnya, apalagi kamarnya dengan kamar mertuanya berdekatan di lantai atas, semakin sulit bagi Ray untuk menerjang pintu yang sudah dia jebol hari itu.


" Sama aja kan mas, lagian ini lagi nyiapin resepsi pernikahan kita juga kan, masih banyak yang belum diurus, kasian kalau mama beresin semuanya sendiri." Padahal itu cuma alasan dia saja.


Ckk.. begini amat kalau sudah jebol, malam pertama nggak jadi malam yang mengesankan dan di tunggu-tunggu lagi, apa dia sudah kapok mendes@h ya? padahal hari itu kedengaran dari suaranya, dia sangat menikmati kok, bahkan berulang kali mengej@ng sambil memelvkku dengan erat? masak sekali saja sudah bosan? padahal aku pengen banget.


" Terserah kamu deh, pokoknya aku mau pulang sekarang!" Umpat Ray dengan kesal.


" Ya sudah, hati-hati ya mas, kalau sudah sampai rumah hubungi aku." Jawab Hana dengan polosnya sambil terus mantengin layar laptopnya


" Kamu nggak mau ikut denganku?" Tanya Ray yang langsung melongo saat melihat betapa kerasa kepalanya seorang Hana.


" Enggak, besok aja kalau sudah resepsi pernikahan, biar aku bantu-bantu mama dulu disini." Jawab Hana yang sama sekali tidak merasa bersalah.


" Trus kalau aku kangen gimana?" Ucap Ray sambil menahan segala rasa dongkol yang ada didadaa.


" Mas kan tau alamat rumah ini? tinggal datang saja kapanpun mas mau, kalau enggak ya telpon kan bisa." Jawab Hana dengan enteng.


" Kamu ini, memang istri yang menyebalkan, ya sudahlah... terserah kamu saja, aku pulang sekarang!"


" Bye mas."


" Beneran nih nggak mau ikut?" Saat sampai didepan pintu dia kembali menoleh kebelakang, padahal bukan begini kemauannya, dia hanya ingin menggertak Hana saja tadi.


" Iya, hati-hati dijalan." Hana malah melambaikan kedua tangannya kearah suaminya.


Dengan terpaksa Ray melenggangkan kakinya kearah parkiran mobil dan segera pulang kerumah dengan rasa gondok yang menumpuk di jiwa.


" Hana... mana menantu kesayangan mama, aku buatin puding ini, dia pasti suka."


Shanum muncul dari arah dapur, sambil membawa satu piring puding hasil karyanya di dapur tadi, seperti itulah seorang mama kalau ada menantunya dirumah, bahkan mungkin lebih memperhatikan anak mantu ketimbang anaknya sendiri.


" Sudah pulang." Jawab Hana dengan tenang.

__ADS_1


" Pulang kemana?" Tanya Shanum dengan heran.


" Ya kerumahnya lah ma, kemana lagi?"


" Kalian bertengkar?" Shanum langsung meletakkan puding itu di meja dan mendekat kearah putrinya.


" Tidak."


" Lalu?"


" Ya katanya tadi Ray mau pulang, ya sudah biarkan pulang saja."


" Dia tidak mengajakmu ikut bersamanya?"


" Ngajak, tapi aku memang menolak, entar habis resepsi pernikahan saja sekalian."


Bugh!


Shanum langsung menyepak kaki Hana dan memiting lehernya.


" Aww... mama, ada apa?" Hana yang tidak memperhatikan gerakan mamanya langsung tumbang begitu saja.


" Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu, hah?"


" Apa sih ma?"


" Aku cuma mau bantuin mama nyiapin resepsi pernikahan saja, setelah itu aku baru ikut Ray ma."


" Emang kamu nggak bisa nyiapin disana, orang acara kita juga di hotel kok, ngapain kamu capek-capek mikirin itu, mama sama Mala bisa mengatasinya sendiri, lagian WO yang kita pesan akan menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik."


" Ya sudah... tapi lepas dulu tangan mama, sakit ini ma." Hana langsung berontak dari pitingan mamanya.


" Sana.. pergi nyusul suamimu!"


" Mama ini lah, masak anaknya sendiri diusir?"


" Hanami... seorang wanita itu kalau sudah beristri, orang yang diprioritaskan yang pertama itu bukan lagi orang tuanya, tapi suaminya, karena bagaimanapun, suami merupakan kepala keluarga yang nantinya harus mempertanggung jawabkan masa depan kalian di akhirat."


"Seorang istri yang salihah akan memperlakukan suaminya layaknya seorang raja, mencintainya seperti seorang pangeran. Jika pasanganmu marah, kamu harus tenang. Jika yang satu adalah api, yang lainnya haruslah air."


"Sakinah, mawaddah, dan rahmah tidak muncul dengan sendirinya, tetapi harus diusahakan bersama bukan sendirian, apa kamu sudah paham Hanami!"


Shanum seperti orang yang sedang ceramah di siang hari, panjang lebar tanpa jeda, suaranya bahkan melengking sampai memenuhi rumah mewahnya.

__ADS_1


" Hana paham ma." Hana hanya bisa memejamkan kedua matanya, bahkan suara mamanya melebihi suara toac di masjid.


" Tunggu apa lagi, temui suamimu sana, mau mama kasih satu jurus lagi kamu!"


Shanum sudah mengambil ancang-amcang dan memasang kuda-kuda dengan mata yang sudah melotot.


" Boleh Hana nyicipin pudingnya dulu ma?"


" Jangan menyentuhnya, itu puding buat menantu mama!"


" Astaga mama, aku ini anakmu bukan sih ma!"


" Raymond juga anakku, biar aku bungkus saja pudingnya, kamu bawakan sekalian buat dia."


Shanum langsung mengambil kembali puding yang dia letakkan diatas meja dan membawanya kembali ke dapur untuk dibawa kerumah besannya.


" Ya Tuhan... apa aku ini anak tiri?"


Hana hanya bisa mengumpat dengan lemas dan segera pergi ke kamar untuk menyiapkan baju-bajunya kedalam koper dan pindah kerumah Ray.


" Ma... anak tirimu mau pergi." Ucap Hana dengan lemah sambil menarik kopernya.


" Pergilah, jangan kembali tanpa suamimu!"


" Astaga? beginikah nasip anak tiri?"


" Jangan banyak drama, mama sama papa buat kamu dengan berbagai jurus, baru bisa brojolin kamu ke dunia ini, bawa ini puding dan juga rendang daging."


" Kok ada rendangnya juga ma?"


" Bawa sogokan kalau mau datang kerumah mertua, biar dia nggak marah karena kamu sudah mengabaikan putranya, sudah dibeli dengan emas berlian kok menyia-nyiakan anaknya! dibayar sah kamu sama dia, bukan kreditan apalagi cicilan!"


" Jadi hormati suamimu, jangan melawannya, mengerti kamu!" Ucap Shanum kembali.


" Mengerti ma! aku pergi ya, maaf jika selama menjadi anakmu aku sering bandel dan maaf juga karena aku sering mengalahkan mama kalau lagi adu taekwondo, aku menyesal ma." Hana memasang tampang pilunya.


" Nggak usah banyak akting deh, kamu cuma pergi kerumah suamimu, bukannya pergi ke Bulan, jaraknya juga bukannya jauhpun, nggak sampai satu jam juga sudah nyampek rumahnya!"


Shanum langsung tersenyum miring, walau sebenarnya sedih juga, nggak ada temennya ngobrol dan bercanda dirumah saat pagi menjelang.


Akhirnya Hana menyeret kopernya dan memasukkannya ke dalam mobil, siap meninggalkan rumah yang sedari kecil melindunginya dari panas dan hujan.


Tak butuh waktu yang lama memang jarak rumah mereka, kurang lebih setengah jam perjalanan, Hana langsung membelokkan mobilnya kedalam rumah mewah bak istana milik keluarga Raymond.

__ADS_1


..."Apa pun hal yang kau habiskan bersama keluargamu, nanti akan menjadi sumber pahala dari Allah. Bahkan dengan sepotong makanan yang kau suapkan ke mulut istrimu."...


To be continue...


__ADS_2