Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
57. Penangkal Petir


__ADS_3

...Happy Reading...


Kehebohan masih terjadi di kediaman rumah mewah Simon Anderson, kedatangan Raymond di rumah itu memang selalu membuat suasana menjadi heboh, dari masa sekolah sampai dia sudah menjadi anggota kepolisian sekalipun. Selalu ada saja tingkah konyolnya yang membuat seisi rumah menjadi ramai.


" Iya Ray... tunggu sebentar ya dek." Jawab Adelia dengan suara paraunya, energinya sudah terkuras habis ditambah lagi sampai se siang ini, belum ada asupan makanan dan minuman yang masuk kedalam tubuhnya.


" Kak, celanaku mana?" Tanya Adelia yang sibuk mencari-cari disekitarnya.


Karena ranjang yang mereka tempati sudah seperti kapal pecah, sprei tergulung sampai kebawah, bantal dan guling pun terlempar berserakan sampai ke lantai, hanya menyisakan selimut tebal diatas tubuh Adelia.


" Hmm... entahlah, aku lupa." Ganesh menjawabnya dengan ogah-ogahan, energinya pun terkuras habis tadi pagi, seolah dia mengerahkan seluruh kekuatannya, bahkan perban dikakinya pun sudah tidak serapi awal tadi,namun Ganesh tidak memperdulikannya, yang ada di otaknya cuma oh yes dan oh no saja.


" Gimana sih kak, kan kakak yang lepas tadi, mana si Ray udah teriak-teriak didepan lagi, bantuin nyari dulu kenapa sih kak." Umpat Adelia sambil clingak-clinguk ke kanan dan ke kiri.


" Di balkon kali sayang." Ganesh menjawabnya dengan mata masih tertutup, dia masih belum mau meninggalkan tempat tidur yang membawanya terbang ke surga dunia itu.


" Astaga kakak ini, ceroboh banget, kalau ketiup angin gimana?" Adelia langsung bergegas ingin pergi ke balkon untuk mengambilnya.


" Biarkan saja!" Ganesh tetap tidak perduli, yang penting keinginan atau hajat terbesarnya sudah terkabul pagi ini dan membuktikan bahwa dia sudah dapat memiliki Adelia sepenuhnya.


" Aw.. aw..!" Adelia merintih kesakitan saat dia bangkit dari tidurnya dan merasakan sakit dibagian intinya.


" Kenapa sayang?" Saat mendengar suara rintihan dari istrinya dia langsung terduduk.


" Aduh.. kenapa sakit buat jalan kak?" Adelia kembali terduduk di ranjang mewah itu.


" Aisshh... ini pasti gara-gara Ray, awas saja tu bocah!" Dengan entengnya Ganesh malah menyalahkan Ray yang tidak tau apa-apa tentang tragedi ayam berkokok ini.


" Kok gara-gara Ray sih, emang dia salah apa? orang kakak yang menyiksa diriku kok!" Adelia langsung menyipitkan kedua matanya, menatap aneh ke arah suaminya.


" Ciiih... menyiksa kok sampai merem-merem begitu, keenakan apa kelilipan sayang?" Ganesh langsung mengejek istrinya, sekali dua kali dia masih merasa kesakitan, untuk yang selebihnya malah dia yang terlihat lebih semangat.


" Woiiiii kak, ngapain kalian didalam sih? lama sekali, aku harus segera pergi ini!" Teriak Ray semakin tidak sabaran, karena waktunya tidak lama lagi, teamnya sudah menunggu di Markas.


" Tuh kan, memang adikmu itu yang bersalah, puncak semua masalah ada di dia, coba dia nggak datang, pasti kamu tidak kesakitan seperti ini." Umpat Ganesh tetap tidak mau kalah, padahal dia sendiri pelakunya.


" Trus gimana ini kak?" Adelia melihat tubuhnya dan tubuh suaminya yang polos, sepolos pikirannya.


" Aku gendong kamu ke kamar mandi saja, mandi air anget ya, biar nggak sakit, nanti aku cariin celana kamu yang entah terbang kemana itu." Ganesh langsung membopong tubuh polos Adelia kedalam kamar mandi.


" Yank... sekali lagi boleh nggak? dia bangun lagi nih?" Ganesh menunjuk adek kesayangannya yang sudah tegak berdiri saat terkena senggolan sedikit saja dari tubuh istrinya.


" Haish.. kakak ini, ada Ray didepan, dia pasti nungguin kakak!" Adelia malah sengaja menyentil pedang pusaka yang sudah tegak berdiri itu.


" Astaga yank, kamu kok malah mancing sih!" Ganesh langsung mendorong kembali tubuh istrinya ke dinding kamar mandi.


Plak!


Adelia langsung mengambil gayung disampingnya dan memukulkan tepat di buntut suaminya dengan gemas.


" Astaga yank, aku bukan anak kecil lagi, kenapa kamu memukulku pake gayung!" Ganesh langsung mengingat mommynya dulu yang sering memukulnya dengan gayung kalau dia disuruh mandi, tapi malah mainan air sampai berjam-jam.


" Keluar, aku mau mandi kak, sana temuin Ray duluan! takutnya ada yang penting." Adelia langsung mendorong keluar tubuh suaminya.


" Tidak ada yang penting didunia ini, selain penjebolan gawang pagi ini sayang, ternyata kamu hebat juga ya di ranjang, baru sekali saja sudah langsung mahir, wes pokoknya aku padamu sayang!"

__ADS_1


Bloush!


Pipi Adelia langsung terlihat merah merona, dia terlihat malu sendiri jadinya, kenapa masalah seperti itu harus dibahas pikirnya.


" Keluar nggak, atau aku pukul lagi nih!" Adelia langsung kembali mengangkat gayungnya.


" Waah... kamu ini sebenarnya anak momim Mala apa nenek gayung sih, apa semua wanita seperti itu!" Umpat Ganesh yang langsung menarik handuk bersih dikamar mandi.


" Tutup pintunya kak!" Teriak Adelia langsung tersenyum miring, dia pun bingung sendiri, walau awalnya sakitnya bukan maen, tapi kenapa setelahnya rasanya bisa senikmat itu pikirnya.


" Iya.. iya, kenapa setelah jebol dia jadi bawel sih?" Umpat Ganesh sambil menutup pintu.


" Mandi yang bersih, nanti kita main tiga ronde lagi." Teriak Ganesh kembali.


" NGGAK!" Adelia langsung berteriak dengan kesal.


Nggak nolak maksudnya, hehe...


" Kalau udah masuk saja, langsung dijepit, dasar wanita!" Ganesh langsung pergi menemui Ray, hanya dengan berbalutkan handuk dipinggangnya saja.


" Woiii... keluar nggak kalian, kalau enggak aku dobrak pintu ini!" Ray sudah mengambil ancang-ancang dari luar.


" Apa? berisik banget dari tadi, dasar penggangu!" Umpat Ganesh yang membukakan pintu dan langsung kembali ke ranjang mewahnya.


" Emang lagi ngapain kalian?" Jawab Ray yang langsung memasuki kamar besar itu.


" Rahasia dong, ini masalah ranjang suami istri, kamu belum sampai kesitu!" Ganesh memijit pinggangnya yang terasa linu-linu.


" Ciih... kayak yang udah bisa jebol gawang aja, palingan juga kakak gw masih perawan!" Ray langsung tersenyum miring.


" Kamu apain kakakku?" Ray langsung berkacak pinggang didepan Ganesh.


" Aku service habis-habisan dia tadi pagi, kenapa? iri? nikah bos!" Ucap Ganesh yang membuat Ray kalah telak.


" Heleh... palingan juga kamu yang ngemis-ngemis minta dikasih jatah kan? kamu pasti ngancam mau bunuh diri kan kalau kakak menolak!" Ray terlihat menyepelekan Ganesh kali ini.


" Woaaah... mulutmu ya, lamis betul dah! heh... asal kamu tahu, kakakmu duluan yang meminta denganku, hahay!" Ucap Ganesh dengan bangga.


Memang benar Adelia yang kemudian mengajaknya, setelah dia menjadi pria yang pura-pura tersakiti.


" Hoeekk.. nggak percaya gw sih! mana sih kakak lama banget keluarnya." Ray langsung memeriksa keberadaan kakaknya.


" Baru mandi ba sah dia, tadi malam kami main tujuh ronde!" Senyum dari wajah Ganesh terpancar dari sana.


" Dasar gilak ya kalian, mengotori pikiran suciku saja!" Umpat Ray yang kemudian memilih berjalan ke balkon sambil menunggu kakaknya selesai mandi.


" Hei... apa itu, astaga?" Ray menajamkan kedua matanya saat sesuatu yang berwarna merah dan hitam menggangu pandangan kedua matanya.


" Apaan sih?" Ganesh yang memainkan ponselnya langsung merasa penasaran dan berjalan ke arah balkon kamarnya.


" Apa itu ce... celana da lam? kenapa nyasar disitu?" Ray sebenarnya masih tidak yakin.


" HAH?" Kedua mata Ganesh seperti ingin keluar dari cangkangnya saat melihat arah pandangan Ray.


" Ray... ada apa?" Ternyata Adelia sudah selesai mandi dengan rambut yang sudah basah.

__ADS_1


" Punya siapa itu kak?" Ray bahkan menunjuk atap rumah tetangga, disamping rumah mewah Ganesh, karena kamar mereka berada dilantai dua dan memang paling ujung.


" Kyaaaaaa! sana tunggu dibawah saja kamu Ray!" Adelia langsung menarik lengan Ray, namun bahkan satu centimeter saja tubuhnya tidak bergerak dari tempatnya.


" Bahahahaha... apa itu punya kalian? kalian main diatas genteng orang begitu?" Ray langsung tertawa terbahak-bahak.


" Bukan begitu, haiss... enak saja kamu kalau menggosip ya!" Adelia langsung menepisnya.


" Lalu itu apa? punya kalian kan? hahahaha..." Ray bahkan sampai memegang perutnya yang terasa kram.


" Kakak... kenapa bisa sampai terbang kesana!" Bisik Adelia yang langsung melotot kesal kearah suaminya.


" Aku nggak tau yank?" Jawab Ganesh yang juga terkejut karenanya.


" Jadi benar itu punya kalian, astaga... kasian sekali tetangga kalian, hahaha.."


" Heh... bukan, itu bukan punya kami." Jawab Ganesh sambil memukul lengan adek iparnya.


" Jadi punya siapa? uncle Simon sama punya aunty Raras begitu, hahaha." Warna yang merah menyala membuat benda itu terlihat jelas dari atas.


" Bukan... itu pasti, anu... emm... benda Penangkal Petir!" Ganesh langsung menemukan ide cemerlangnya.


" APA? PENANGKAL PETIR? bahahahaha... jangan bercanda kalian!" Ray semakin terpingkal-pingkal karenanya.


" Heh, nie ya... kata nenek dari nenekku jaman dulu tuh, cara menangkal petir itu dengan melempar celana da lam pria dan wanita ke atas genteng, apalagi saat mereka punya hajat gitu, biar nggak hujan deras dan banjir, kamu nggak tahu saja legenda jaman dulu!" Jawab Ganesh dengan percaya diri.


Astaga kakak, penangkal petir dari mana lagi, alasan model apa lagi, itu memang celana ku, pasti kakak yang melempar sembarangan tadi pagi..


Adelia hanya bisa memejamkan kedua matanya saat mendengar ocehan yang tidak masuk akal dari suaminya.


Cekrik.. cekrik...!


Terdengar bunyi kamera ponsel bahkan dua kali dari ponsel milik Ray, dia sengaja mengambilnya diam-diam disaat mereka berdua sibuk memandangi benda penangkal petir itu.


" Ray... apa-apaan kamu!" Adelia langsung menarik-narik lengan adeknya.


" Hahaha... sebagai bukti, kalau benda seperti itu katanya bisa menangkal petir, hahaha!" Ray bahkan melupakan niatannya datang kemari, gara-gara tragedi itu.


" RAY!" Teriak sepasang suami istri ini secara bersamaan.


" Aku tunggu kalian dibawah, cepat kalian turun atau aku sebarkan foto itu keseluruh dunia, hahaha!"


Ray langsung berlari keluar kamar mereka, meninggalkan Adelia dan Ganesh yang terdiam membisu, sambil memandangi ****** ***** mereka masing-masing di atas genteng tetangga, Ganesh pun bingung, seingatnya dia melempar tidak terlalu jauh, tapi entah kenapa bisa nyasar sampai disana.


" Astaga kakak, kenapa bisa sampai terbang di genteng tetangga sih?" Adelia terduduk lesu di kursi balkon kamarnya.


" Aku nggak sengaja yank! maaf ya?" Ganesh pun tidak menyangka akan aksinya tadi pagi, mungkin dia terlalu semangat saat Adelia mengajaknya.


" KAKAK!" Adelia langsung memukuli tubuh suaminya secara membabi buta, antara kesal dan gemas, mengapa itu bisa terjadi, pikirnya.


Sedangkan Ganesh masih memikirkan cara, bagaimana cara mengambil kedua benda itu tanpa dilihat orang, dan tanpa ada seorangpun yang tahu, tapi mungkin itu mustahil baginya, karena tidak mungkin dia naik ke genteng tetangga itu sendirian.


..."Empat hal yang harus dijaga dalam hidup: kepercayaan, janji, hubungan dan hati. Tidak bersuara, tapi jika dikhianati, akan sangat menyakitkan."...


Maafkeun cuma satu bab lagi, othor lagi nggak enak badan nih, sedang berada di zona kepala pusing, tenggorokan gatal dan kawan-kawannya. Semoga kita semua terhindar dari musibah, bahaya corona, omicron dan tantecron ya bestie, jangan lupakan Hadiahnya🙂

__ADS_1


__ADS_2