Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
91. Curahan Hati


__ADS_3

...Happy Reading...


Hembusan angin di siang ini terasa menyegarkan, walau langit tidak begitu cerah karena diselimuti oleh awan mendung, namun udaranya terasa sedikit menenangkan hati, mengusir segala penat yang melanda hati, melupakan sejenak sesuatu hal yang sudah menggerogoti pikiran seorang gadis bukan peraw@n yang satu ini.


" Huuh.."


Berulang kali aku memejamkan mata sambil duduk disebuah bangku dibawah pohon beringin yang sangat rindang.


" Argh... puyeng sekali kepalaku!"


Sesekali aku menjambak rambutku sendiri, yang sudah mulai panjang sebahu dan bergerai bebas oleh tiupan angin sepoi-sepoi siang itu, walau tidak sebebas diriku saat ini yang seolah sedang terbelenggu oleh kecemasan pada diri sendiri.


Entah mengapa tekanan demi tekanan seolah aku rasakan setelah kejadian malam itu, rasa sesalku kian tak berujung, seolah keberanianku mulai surut, tidak seperti saat aku ingin mencobanya malam itu.


Rasa takutpun seolah menyelimuti diriku yang seolah menjadi satu-satunya wanita pendos@ yang ada di muka bumi ini.


Walau aku yakin Raymond orang yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya, namun hatiku tetap saja merasa resah dan gelisah, lain cerita jika aku yang diterkamnya duluan, sudah pasti aku tinggal memaksanya untuk menikah saat ini. Namun sangat disayangkan, akulah penyebab itu semua terjadi.


Apalagi rasa bersalah dengan kedua orang tuaku sendiri dan juga kedua orang tua kekasihku tentunya, mereka pasti akan sangat kecewa dengan kelakuan gila ku ini.


" Aduh... kenapa kepalaku isinya Ray semua, aku jadi tidak bisa berpikir dalam pekerjaan."


Ya... seharusnya saat ini aku sedang bekerja, apalagi belum lama ini aku mendapatkan gelar CEO termuda, dan terbaik yang bisa mendapatkan tender besar dan mampu mengalahkan perusahaan besar lainnya yang sudah lama berkecimpung didalamnya.


Namun nyatanya, saat ini aku terpuruk disini sendiri, pagi tadi sebelum papa berangkat ke kantor aku meminta izin dengan papa, agar menggantikan aku sehari saja.


Aku ingin menyendiri dulu, memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya, andai Raymond mau diajak nikah sekarang, sudah pasti pikiranku tidak sekacau ini.


" Aaaa... aku hampir gila karenanya!"


Lebih tepatnya aku bisa gila karena semalaman teringat dengan pedang pusaka milik Ray, entah mengapa benda itu terbayang-bayang terus diminda nya, dan satu persatu reka adegan diriku menikm@ti benda itu kembali muncul seperti kaset video bajak@n, yang kadang lancar dan kadang pula rusak dan berhenti ditengah-tengah film.


" Kenapa aku tidak bisa melupakannya, padahal sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya." Gerutuku perlahan.


Untung saja taman itu sepi, karena mungkin masih jam kerja, dan anak remaja pun masih sekolah jadi penghuni taman kecil ini cuma aku seorang dan abang-abang pedagang kaki lima yang ada disebrang jalan.


Sudah beberapa hari sejak kejadian itu aku mencoba menahan untuk tidak bertemu dengan Ray, walau dia sering merengek dan berpuluh-puluh kali mengatakan kata rindu yang membuat sesak didaada, namun aku sengaja belum menemuinya, hanya sekedar telpon, bahkan video callnya sering aku tolak, aku takut jika ada set@n lewat dan meracuni diriku untuk melakukan hal yang tidak semestinya lagi saat kami bertemu.


Benar kata orang, sekali kita melakukan hal itu, pasti ada rasa candu yang akan membuat kita ingin mencobanya lagi dan lagi, bahkan orang bisa nekad mencari tempat yang tidak semestinya, asalkan mereka dapat menyalurkan hajatnya.


Itu semua terjadi denganku, apalagi aku melakukan itu atas dasar suka sama suka, namun endingnya ternyata aku yang harus menanggung ketakutannya sendiri.


Bukan karena siapa, tapi karena beban mental yang aku rasakan, dan kekecewaan atas diriku sendiri, yang tidak bisa mengontrol emosi jiwa.


Dan yang lebih membuat kepalaku berasa ingin pecah, aku melakukannya bukan hanya sekali, bahkan sampai nambah untuk yang kedua kalinya. Demi apa? akupun tak tahu.


Sebisa mungkin aku bertekad untuk tidak menemui Ray sampai dia mau aku ajak menikah, mau dibilang aku jahat atau kejam terserah saja, aku hanya tidak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya.


Karena saat berdua saja dengan Ray, gelombang cinta itu terasa mengombang-ambing jiwaku, dan aku berasa menjadi orang lemah yang rela dibikin apapun asal dengannya.


Tulilut.. tulilut...


Ponsel disaku celanaku terasa bergetar dan mengeluarkan nada dering kesukaanku yang membuatku berkali-kali membuang nafas kasar.


" Siapa sih?"


" Astaga Ray kenapa disaat aku sedang ingin menghindarimu, berulang kali kamu menelponku?"


Aku hanya bisa mendengus kesal saja, sebenarnya hati juga diliputi rasa rindu namun tidak ingin berjumpa denganmu.


Ingin sekali aku mengabaikan panggilan telpon darinya, namun aku juga tidak tega, aku takut kalau dia akan mengamuk lagi seperti yang sudah-sudah.


" Assalamu'alaikum Ray?" Jawabku dengan lemah lembut, aku selalu berusaha agar dia tidak tersinggung dengan segala ucapanku.


" Wa'alaikum salam kakak sayang." Jawabnya dengan tak kalah merdu, membuat senyum dibibirku terlukis saat ini, salah satu yang membuat aku jatuh tersungkur dihatinya adalah dari senyumannya yang sering menggoda imanku.


" Ada apa Ray?"


" Kakak sibuk ya? masih di kantor kah?"


Aku tidak ingin membuatnya kecewa, namun aku harus melakukannya, berbohong.. itulah yang harus aku lakukan.


" Iya Ray... banyak banget kerjaan yang numpuk dari kemarin."


" Sudah makan belom kak? walau sibuk jangan lupa makan, aku saja sering kakak paksa buat makan."


Walau terkadang tengil, namun pria itu selalu membuatku tersenyum dengan segala tingkahnya yang selalu bisa membuatku semakin jatuh cinta kepadanya, lagi dan lagi.

__ADS_1


" Sudah kok Ray, kamu juga harus makan ya, kasian nanti aunty Mala sedih kalau kamu nggak doyan makan."


" Kak.. aku kangen."


Kata itu akhirnya keluar dari mulutnya, kata yang selalu membuat aku susah untuk memejamkan mata dikala malam sudah tiba.


" Aku juga Ray." Jawabku dengan jujur, rindu itu memang menyiksa, namun dia tidak ingin menjadi ahli Neraka jika bertemu dengannya dan tidak bisa menahan segala rasa yang tercipta.


" Bohong!"


Dia mulai mengeluarkan senjatanya, ngambek adalah senjata paling jitu yang Ray punya, dia mampu membuat orang merasa bersalah karenanya.


" Beneran Ray, tapi memang aku lagi sibuk banget."


" Sudah beberapa hari ini, kakak nggak mampir kerumah loh, masak iya kerja di kantor sendiri kayak kerja rodi, emangnya ini jaman Romusa?"


Suaranya terdengar kesal, bahkan aku sudah membayangkan bagaimana wajahnya dan bagaimana bibirnya yang sudah dia monyongkan beberapa centimeter.


" Maaf ya Ray, kerjaanku numpuk banget ini, besok kalau sudah clear aku kesana ya."


" Kakak dimana?"


" Di kantorlah, dimana lagi Ray?"


" Kok ada burung?"


" Burung? burung apa, jangan ngomong aneh-aneh deh?"


" Bukannya aneh, tapi aku denger suara kicauan burung dan bunyi kendaraan motor disitu? kakak bohong ya, kakak dimana sekarang?"


Astaga... kenapa aku malah memikirkan burung lain? bener-bener sudah eror ini otakku, Ya Gusti ampuni hambamu ini!


" Owh... ini aku sedang buka sosial media tentang alam, dari tadi angka terus yang aku lihat, jadi pen liat yang seger-seger juga sebentar."


Padahal yang seger cuma kamu Ray, bibirmu bahkan mengalahkan rasa strawbery, ehh..


Berulang kali aku mengucap istighfar, seolah berbohong sudah menjadi kebiasaanku beberapa hari ini.


" Kak?"


" Hmm.."


" Aku juga Ray, tapi aku beneran sibuk, maaf ya?"


" Gimana kalau kakak nginep lagi dirumahku?"


" Heh? ngapain?"


Aku langsung terkejut dong, menginap semalam saja sudah membuat dosa besar, gimana kalau lagi? walau en@k tapi aku tahan saja.


" Kalau kakak terlalu sibuk saat siang hari, setidaknya malam kita bisa bertemu kan?"


" Sama aja Ray, kalau aku kesana pasti kamu sudah tidur, kakak sering pulang larut malam."


" Aku bahkan sering terjaga sampai pagi karena merindukan kakak."


Selalu seperti ini jika telpon lama dengannya, ada saja alasan yang membuatku tidak bisa membantahnya.


" Hmm.. besok kalau weekend saja ya? aku main kesana."


Akhirnya aku punya alasan, setidaknya kalau weekend kedua orang tuanya sering menghabiskan waktu dirumah, sehingga aku tidak hanya berduaan saja dengan Ray, jadi semua bisa aman terkendali.


" Nginep nggak?"


" Ya enggak dong Ray, kan besoknya harus kerja lagi?"


Nie bocah tengil maunya aku nginep terus deh? nggak tahu apa, aku selalu jantungan saat hanya berdua dengannya.


" Tapi datang pagi pulang petang ya?"


" Emang mau ngapain sih Ray?"


" Kakak harus bayar hutang."


" Hutang pa an?"


" Hutang karena seminggu ini kakak tidak menemuiku kan, tega kakak ihh, bahkan tanggal merah pun aku nggak libur mikirin kamu!"

__ADS_1


Mulai deh, keluar ilmu pergombalannya, walau senang namun aku berusaha untuk terdengar biasa saja.


" Yaelah... kakak kan kerja Ray, bukannya jalan-jalanpun, sibuk beneran kakak tuh."


" Nggak mau tahu, kakak tuh jahat banget, padahal rasa sayangku ke kakak itu kaya pas Powerangers waktu gak ada monster tau nggak!"


" Kenapa emang?"


" Nggak berubah!" Ucap Ray kembali, kedua sudut bibirku selalu terangkat disaat sudah seperti ini.


" Pfttthh.. begitu juga aku Ray, ya sudah, nanti kakak usahain ya, tapi sekarang aku harus meeting dulu, sudah ditungguin soalnya."


Iyain aja deh, urusan lain belakangan saja pikirku, karena aku tahu persis bagaimana Ray kalau sudah punya kemauan.


" Ya sudah, tapi janji ya."


" Iya bawel."


" Assalamu'alaikum kakak sayang."


" Wa'alaikum salam gantengkuh!"


Kasih aja sedikit pujian agar dia tidak rewel, pasti dia senyum-senyum nggak jelas saat mendengarnya, terkadang Ray memang imut, lucu dan menggemaskan.


Namun baru saja lima menit berlalu, ponselku sudah berdering kembali dengan nama pemanggil yang sama.


" Hallo, ada apa lagi Ray?"


" Kakak sebenarnya lagi ngapain sekarang?" Suaranya terdengar ketus sekali, padahal beberapa menit lalu masih terdengar manis saat menggombal.


" Di kantor Ray, masih sibuk beneran."


" Sibuk kok masih sempet-sempetnya buka sosial media, tuh burung kedengarannya masih merdu saja dari tadi, kayak bukan video gitu?"


Mau percaya apa tidak terserahlah, nie burung juga kenapa sih mendung-mendung berkicau mulu, tolong kerja samanya dong burung, please!


" Sengaja Ray, biar pikiran tenang gitu."


" Kakak bisa share lokasi sekarang, mumpung kak Adelia ada disini sekarang."


Dyar!


Ngapain juga minta share lokasi sih tong, gimana ini gw mau bohong!


" Kakak ada rapat Ray, maaf ya aku tutup dulu telponnya."


" Dasar pembohong! kesini sekarang nggak, atau kalau tidak aku datangi kerumah kakak, atau kepenjuru dunia bagian manapun kakak berada sekarang!"


" HAH?"


Kenapa dia bisa tahu kalau aku berbohong? gimana ini?


" Ayah kakak sekarang dirumahku, katanya kakak minta cuti hari ini." Ucapnya kembali dengan intonasi suara dari Do ke Do lagi.


" Astaga!"


Entah kenapa papa sekarang ada disana, padahal aku minta dia untuk menggantikan aku di kantor.


" Nggak ada alasan, cepat datang kemari, atau aku marah sama kakak!"


" Marah aja lah Ray, marah sana!" Ucapku dengan lemah.


" Aku kalau marah nekad juga loh kak, mau aku ceritain saja ke mereka sekarang tentang kelakuan kita malam itu?" Terdengar nada ancaman darinya.


" Kelakuan apa Ray? emang kalian ngapain malam itu?"


Terdengar suara Adelia disana, ternyata priaku ini tidak berbohong jika disana memang ada kakaknya.


Haish... kenapa dia jadi ikut menyudutkanku sekarang?


" Ya sudah, aku kesana sekarang, puas kamu!" Tidak ada yang bisa aku lakukan selain pergi kerumahnya sekarang juga.


Sengaja aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang kerumahnya, selain memikirkan strategi dan alasan lain agar Ray tidak semakin merajuk karena tau kalau aku berbohong. Namun saat sampai didepan rumah mewah itu dia melihat banyak mobil terparkir disana.


" Ada apa ini? kenapa banyak orang?"


Hanami langsung lari saat dia baru saja turun dari mobilnya, sekelabatan pikiran negatif muncul diotaknya, takut jika ada hal buruk yang menimpa orang-orang disekelilingnya yang dia sayangi.

__ADS_1


... "Menjaga hati tak hanya dilakukan satu orang. Hal itu akan semakin kuat jika dilakukan bersama."...


..."Tidak ada yang memiliki porsi lebih besar dalam menjaga hati. Setiap pasangan memiliki peran yang sama untuk saling menjaga."...


__ADS_2