Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
103. Kelakuan Jaenab


__ADS_3

...Happy Reading...


Sedari matahari mulai merangkak naik keatas, rumahku sudah terlihat ramai, para WO yang aku pesan untuk mendekor ruangan dan halaman rumahku sudah datang, mereka selalu teliti dalam segala hal, tidak ingin ada sesuatu yang kurang dalam sebuah event, itu kenapa WO Itu sangat terkenal, dan saat hari pernikahanku nanti, rencananya aku pun ingin mereka yang mendekor hotel tempat resepsi pernikahan kami.


Walau tadi malam aku sempat tidak bisa tidur karena kata aunty Mala, Ray belum pulang, namun entah mengapa aku yakin bahwa Ray pasti akan pulang hari ini.


Dan saat aku masih melamun sambil duduk di ruang utama untuk melihat para pekerja yang masih sibuk mempersiapkan acara itu, aku mendengar ada suara teriakan yang cukup jelas ditelingaku.


" Siapa sih yang teriak-teriak, memangnya ini di hutan apa?"


Aku langsung saja berlari menuju keluar rumah, memastikan siapa yang membuat rusuh dirumahku saat ini.


" Ciih... akhirnya pemeran utamanya datang juga."


Saat aku melihat ekpresi marahnya didepan pintu, bukannya ingin menenangkan tapi aku malah sengaja bersidekap sambil berjalan lambat ke arahnya.


" Kak Hana! apa-apaan ini? siapa yang tunangan?" Wajah Ray yang terlihat kusut itu mulai berubah menjadi warna kemerahan, mungkin dia baru pulang dari luar kota pikirku, tapi aku tidak akan selembek itu didepannya, dia bahkan baru datang sekarang.


" Siapa lagi, anak mama sama papa cuma aku doang kan." Jawabku dengan santai seolah tidak punya beban bersalah sama sekali.


" Kak Hana, tapi aku belum mempersiapkan segalanya, kenapa mendadak begini?" Tanya Ray yang ingin memegang tanganku namun aku langsung menghindarinya.


" Emang ada yang bilang, kalau aku tunangan dengan kamu? nggak ada tulisannya kan? cuma happy engagement doang setahuku." Aku mengedarkan pandangan kearah tulisan indah yang berhiaskan bunga segar didekatku.


" Trus kak Hana mau tunangan sama siapa emangnya, pacar kakak kan cuma aku?" Dia semakin sewot kelihatannya, tapi aku tetap calm down dong.


" Tunangan sama yang mau lah, emangnya cuma kamu aja yang mau, diluaran sana pada ngantri boskuh." Jawabku dengan jutek, yang membuatnya semakin meradang.


" Jangan main-main kamu kak Hana, mana sini yang mau melamar kamu, jantan dari mana coba, biar aku lihat!" Ucapnya dengan suara yang tak kalah melengking.


" Apa urusannya denganmu?" Aku bahkan tersenyum menyeringai.


" Ya jelas adalah! aku kekasih kakak, apa kamu sudah lupa?"


" Owh ya? mungkin memang aku yang lupa, karena terlalu sering diberi obral janji manis doang selama ini." Jawabku dengan sengaja, untuk menyindirnya.

__ADS_1


" Kakak? sayang, jangan begini dong, sudah aku bilang berapa kali aku bukannya ngasih obral janji, aku hanya butuh waktu sebentar saja kak."


Panggilan sayang darinya selalu membuatku goyah, namun tidak asyik dong ya jika sandiwaranya selesai sampai disini, nanggung banget ya kan?


" Hah... aku malas sama pria tukang PHP, aku mau sama pria yang pasti-pasti aja, ngapain buang-buang waktu ngak jelas, hubungan pacaran itu tujuan akhirnya ya lamaran trus menikah, kalau cuma bilang sabar ya, besok kita menikah, namun entah besok tahun kapan, buat apa dong? mending lupakan!" Aku membuang pandangan kesamping, karena tidak tega melihat wajah Ray yang terlihat menyedihkan.


" Kakak sayang, aku bukannya PHP, aku serius kok dengan hubungan kita, kemarin tuh baru ada sedikit keperluan, aku janji nggak akan lama kak, jangan dua in aku kek gini napa sih kak? kakak ini jahat banget lah." Ray mulai berjalan mendekatiku, berusaha ingin memelvkku tapi langsung aku tepis.


" Sudah terlambat, kenapa kamu baru datang sekarang." Jawabku dengan ketus, ekspresiku pun terlihat sangat meyakinkan, kalau ada event penghargaan pemeran wanita terbaik, mungkin aku sudah menyabet pialanya.


" Kak, aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk hubungan kita, aku sudah mempercepat semua urusannya, tapi karena teman-temanku terlihat capek, aku nggak tega meneruskan perjalanan dari luar kota, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat semalaman, dan berangkat pagi-pagi sekali." Dia melembutkan perkataannya, membuatku semakin tidak tega saja melihatnya sekarang.


" Tapi maaf Ray, sudah terlambat dan kamu bisa lihat sendiri kan dekornya sudah siap, bunga-bunganya sudah tertata rapi semua, catering dan semuanya mungkin sebentar lagi sudah mau datang, dan aku tidak bisa membatalkan ini semua kan?"


Dan mungkin inilah puncak dari kemarahan seorang Raymond, seolah jiwa pasukan tempur yang sudah lama terpendam tiba-tiba berkumpul menjadi satu dan meledak bagai bom waktu.


Braaaak!


Praaangg!


Dengan satu kali sepakan dan satu kali tendangan kakinya, rangkaian bunga yang melengkung dengan indah itu hancur berantakan.


Kedua matanya merah menyala, tangannya mengepal, nafasnya ngos-ngosan bahkan dadaanya terlihat bergerak naik turun.


Satu kata untuk kekasih berondongku kali ini, dia seolah berubah menjadi pria yang mengerikan karewa jiwanya seolah sudah tersulut dengan emosi, entah kemana hilangnya rasa kesabaran yang dia miliki.


" Ada apa ini, apa yang terjadi?" Ternyata mama Shanum mendengar suara berisik karena dekornya halaman rumah kami sudah runtuh karena ulah Ray.


" Aunty... hiks.. hiks.."


Tanpa aku sangka tanpa aku duga sama sekali, Ray berlari kearah mama dan langsung memelvknya dengan erat, dengan membawa deraian air mata, masih baik papa belum pulang, kalau sampai papa Mark melihatnya, bisa perang dunia ketiga kali ini, bahkan mungkin bukan hanya halaman rumahku yang hancur, bahkan isi didalamnya pun bisa remuk dan habis berserakan.


" Kenapa Ray?" Mama yang masih kaget, jadi tambah kelihatan semakin panik, sedangkan aku masih melongo ditempat saat melihat kelakuan pacar kesayangan aku itu.


" Putri aunty jahat banget sama aku, masak dia tega dua in aku." Mungkin baju mama sudah basah karena air mata Ray saat ini, yang terlihat mengalir deras.

__ADS_1


" Hah.. maksud kamu Hana selingkuh gitu?"


Kedua mata mama langsung melotot kearahku, mungkin beliau syock dan menggangap cerita ini sungguhan, karena rencana ini hanya aku dan aunty Mala yang tahu secara detailnya.


" Aunty tau nggak, aku pergi keluar kota cuma telat sehari saja pulangnya, Hana langsung mau tunangan dengan orang lain, padahal aku pergi karena ingin mengusut tuntas kejadian yang menimpaku hari itu, agar nanti mereka tidak mengancam keselamatan orang-orang yang aku sayangi."


" Astaga." Mama Shanum pun langsung menepuk punggung Ray untuk menenangkan.


" Hancur sudah semua aunty, padahal aku tuh sayang banget sama putri aunty, bertahun-tahun aku menunggunya, berjuang dari nol untuknya juga, mencoba untuk terus memperbaiki diri agar membuatnya bisa bangga jika memilikiku nanti."


" Awal mula perjumpaan kami saja, dia jutek sama aku, selalu mengabaikanku, dan tidak menggangapku ada, namun aku tetap setia menantinya."


" Bahkan ditenggah-tengah gempuran para gadis dikantorku yang ingin menjadi kekasihku saja aku tolak mentah-mentah, demi siapa? demi Hanami loh aunty."


" Tapi dia tega ninggalin aku bertunangan dengan orang lain, pokoknya aku nggak rela aunty, sampai matipun aku tidak rela."


Ray terus saja mengoceh dengan suara yang masih terdengar parau dan menyedihkan, mama yang sudah mulai curiga langsung mengepalkan satu tangannya kearahku dari balik punggung Ray.


" Hehe.." Aku hanya bisa menaikkan kedua jariku sambil tersenyum tanpa suara.


Sedangkan Ray masih terus memeluk tubuh mama, menumpahkan segala keluh kesahnya, seolah dialah anak kandung dari mama Shanum.


" Kalau begitu yang sabar ya Calon Menantu mama, kamu pasti bisa melewati ini semua." Mama Shanum sepertinya sudah tidak tahan lagi ingin beradu taekwondo denganku, karena kedua matanya terus menatap tajam kearahku.


" APA? CALON MENANTU MAMA?" Ray langsung melonggarkan pelukannya.


" Ya iyalah, emang siapa lagi?"


" Dasar Jaenab!"


Ray langsung menyipitkan kedua matanya dan tidak lama kemudian menjeling kearahku, dengan cekatan aku langsung ancang-ancang mengambil langkah seribu, kabur adalah jalan satu-satunya yang terbaik untuk saat ini.


..."Dalam takut yang tampak adalah hambatan, dalam yakin yang tampak adalah kesempatan."...


..."Hidup seperti sebuah piano, berwarna putih dan hitam. Jika Tuhan memainkannya, maka akan menjadi melodi indah."...

__ADS_1


Ramadhan tiba... Ramadhan tiba... marhaban ya Ramadhan 🤗 selamat berpuasa untuk semua ManTeman yang menjalankan, jangan lupa tetap berbagi jempol dan hadiahnya ya bestiequh, semoga semua berkah di bulan yang penuh kemenangan ini🥰


__ADS_2