
...Happy Reading...
Suasana sedang haru-harunya malam itu, tangisan Samantha pun pecah disana, kesedihan yang jarang sekali dia bagikan ke orang lain, akhirnya tumpah semua disini.
" Gimana kalau aku saja yang memelvkmu?"
Disaat Ray dan Hana masih sedikit berdebat, tiba-tiba muncul sesosok pria yang masih berseragam lengkap ditambah jacket kulit berwarna hitam disamping gazebo tempat lesehan mereka berada tanpa disadari.
" Sialaaan... kamu benar-benar melaporkanku?" Samantha langsung beringsut mundur dan mulai mengumpulkan strategi dan kekuatannya, dia akan berjuang untuk lolos dari sana, apapun caranya.
" KEN? sedang apa kau disini?"
Ternyata Ray pun tidak tahu jika Ken sudah ada disana, dan itu membuat Samantha merasa ikut kebingungan.
" Aku pergi!"
Samantha ingin menerobos keluar dari Gazebo itu saat Ken mulai berjalan mendekat dan ingin duduk disamping Samantha.
" Jangan buru-buru adek gemoy, abang baru saja datang, masak sudah mau pulang?" Ken langsung menyunggingkan senyuman yang manisnya tidak seberapa itu.
" Maaf, lain kali saja." Jawab Samantha dengan acuh.
Ehh... tidak ada kata lain kali sgala, semua sudah game over mulai sekarang, kalau begini sih keluar dari kandang ayam masuk kandang Singa, lebih baik aku tadi dibawa dua komplotan tadi, setidaknya mereka hanya menggertakku, tidak akan berani membunuhku.
" Kita kan belum sempat kenalan dengan baik hari itu, apa kamu sudah lupa denganku?" Ken langsung menghadang langkah Samantha dan mulai mendekatinya, bahkan sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Aku lupa." Jawab Samantha sambil kembali beringsut mundur, kalau dia tidak berseragam mungkin tidak akan sepanik ini, namun seperti biasa, wajah tenangnya mampu menutupi segalanya.
" Kita kan belum lama bertemu, masak kamu sudah lupa, tega banget?" Ken pura-pura bersikap melow.
" Emang kamu siapa, kenapa aku harus capek-capek mengingatmu?" Samantha bahkan berani menatap wajah Ken yang langsung melotot.
" Pfffttthhhh..."
Ray dan Hana langsung menahan tawa bersama, tidak ada lagi rasa haru dalam suasana kali ini.
" Aku Ken, apa kamu tidak bisa melihat name tag dibajuku?" Ken langsung membuka jacket kulitnya sekalian memamerkan bintang dibajunya.
" Trus apa hubungannya denganku, banyak hal di dunia ini yang harus aku ingat, tapi tidak denganmu." Samantha bahkan berkata dengan jelas dan lugas tanpa berpikir panjang.
" Bahahahaha..."
Hana dan Ray malah tertawa cekikikan melihat perdebatan mereka, apalagi saat melihat wajah Ken yang seolah tidak terima, walau pangkat berjajar dengan wajah paripurna pun ternyata tidak dapat melumpuhkan pandangan dari seorang gadis mafia.
" Dasar Babon Mafia." Umpat Ken sambil melengos kesal.
" Hahahaha... makan dulu Ken, isi dulu tenagamu, siapa tahu tingkat kesabaranmu bertambah." Hana langsung menyodorkan satu bakul nasi didepannya karena kasihan melihat wajah prustasi dari Ken.
" Iya nih, mumpung nasinya masih setengah bakul, lauknya juga masih banyak, siapa tahu kalau kamu sudah kenyang, nanti bisa jadi Sakti mandraguna, dan tidak kalah berdebat dengannya." Ray langsung menyetujui ide kekasihnya.
" Aku boleh menangkapnya sekarang nggak sih Ray? gemes banget aku tuh lihatnya."
Ingin marah namun dia tidak punya hak, karena penyelidikan Samantha kemarin juga tidak resmi, karena itu permintaan Ray sendiri, namun rasa kesalnya begitu menggunung melihat tingkah gadis mafia itu.
" Emang mau kamu bawa kemana dia?" Raymond kembali terkekeh sambil asyik menyuapi ayam bakar ke mulut calon istrinya.
" Bawa pulanglah, tarok di Ranjang trus dikekepin, biar dia tau rasa!" Ken langsung melotot kembali kearah Samantha dengan maksud menakut-nakuti.
" Cih... Rasa apa?"
Namun sayang sekali, tidak terlihat gurat ketakutan sedikitpun dari wajah Samantha, dia bahkan membalas bertanya.
" Rasanya bobok manis dengan babon mafia, puas kamu?" Jawab Ken yang langsung memasang tampang garangnya.
" Ckk... kirain rasa yang tertinggal, atau mungkin rasa terkhianati, soalnya ekspresi bapak terlihat seperti wajah-wajah pria tersakiti."
Dengan tanpa rasa takut apalagi segan, Samantha membalasnya dengan asal saja, yang penting dia tidak kalah berdebat pikirnya.
" Wakakakakaka.."
Hana bahkan sampai menyembunyikan wajahnya dipunggung Ray karena tidak bisa menahan tawa, dia yang awalnya berfikir malam ini akan menjadi moment pilu dan kesedihan, ternyata malah bisa menjadi tertawa lepas seperti ini.
" Kamu panggil aku siapa?"
Saat mendengar kata bapak, dia langsung kembali darah tinggi.
" Bapak, emang salah?" Samantha pun mengulanginya dengan nada yang jelas.
__ADS_1
" Apa wajahku setua itu?" Ken kembali dibuat meradang dengan seorang gadis.
Dan tanpa di duga Samantha langsung mengganguk dengan cepat tanpa rasa ragu dihati. Padahal dia juga tidak memungkiri kalau wajah Ken memang tampan, apalagi bodynya yang aduhai kekarnya, namun karena sedari awal tadi Samantha sudah dibuat kesal duluan, jadi dia sengaja membalasnya seperti itu.
" Bapak putranya sudah berapa? atau sudah mau punya cucu?" Ternyata belum cukup Samantha membalasnya.
" Bahahahaha." Ray bahkan sampai memelvk Hana karena tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar perdebatan mereka, Samantha sungguh seorang gadis yang susah ditebak sifatnya.
Dengan kesal Ken langsung mengambil borgol yang ada pada sabuknya dan dengan cekatan langsung memborgol kedua tangan Samantha.
Klik!
" Heiii... apa yang kamu lakukan, apa-apaan ini." Samantha langsung terlihat protes keras saat kedua tangannya tidak bisa bergerak bebas.
" Ken... jangan main-main." Ray langsung terlihat membela karena kasihan melihat wajah panik Samantha, walau dia tahu Ken tidak bersungguh-sungguh mau menangkapnya.
" Siapa suruh? bukan aku, tapi dia yang main-main duluan." Ken langsung tersenyum miring meledek Samantha.
" Buka nggak, lepasin dong! aku nggak ada hubungannya denganmu!" Samantha ingin berontak namun tidak mau, jika nantinya orang-orang yang ada disana geger karena melihatnya di borgol.
" Apa kamu mau punya hubungan denganku?" Ken kembali berulah.
" Maksudnya?" Samantha menatapnya dengan penuh kebencian.
" Kita ke kantor KUA besok pagi, baru kamu akan resmi punya hubungan denganku!" Tingkah gila Ken mulai mengalir saat rasa kesalnya sudah bisa dia atasi.
" Cih... nggak sudi aku." Samantha langsung memalingkan wajahnya.
" Hahahaha... sudah-sudah, lepas dulu borgolnya Ken, dia belom makan dari tadi." Ray sudah tidak kuat lagi tertawa, perutnya sudah terasa kram, bahkan makanan mereka sudah dingin gara-gara terjeda karena tertawa melihat tingkah mereka.
" Owh ya... mau aku suapin?" Ledek Ken kembali dan mengalihkan pandangan kearah Samantha, namun sepertinya dia serius.
" Nggak!"
Gadis itu langsung menolak, walau tidak dipungkiri dia memang belom makan bahkan dari siang hari, kehidupannya sebagai anak kos memang jarang bisa makan enak seperti ini, apalagi dengan keadaan kantongnya yang memang tipis, sebenarnya dia sudah menahan lapar sedari tadi, apalagi saat mencivm wangi bakaran ayam yang menggoda selera.
" Kalau nggak mau, borgolnya nggak akan aku lepas, atau aku buang saja kuncinya?"
Ken memamerkan kunci borgol ditangannya, baru kali ini dia diacuhkan bahkan disepelekan langsung didepan kedua matanya, biasanya gadis-gadis disekitarnya saat dia goda sedikit saja sudah klepek-klepek karena melihat seragamnya, apalagi wajahnya yang memang tak kalah tampan, sedangkan Samantha bahkan diperlihatkan pangkatnya juga sama sekali tidak ada pengaruhnya.
" Mau pake sambelnya nggak?" Ken langsung duduk bersila didepan Samantha dengan membawa satu piring nasi beserta lauknya diatas kedua tangannya.
" Boleh, pake lalapannya juga." Samantha menunjuk satu piring lalapan disampingnya dengan dagu, warna dari sambal itu pun sebenarnya sudah mengoyangkan perutnya sedari tadi, tapi dia terus menahannya, karena kedua tangannya diborgol dibelakang.
" Haha... !" Ken akhirnya bisa tertawa. "Dasar babon, mulai nglunjak dia." Namun Ken tetap mengambilkannya juga, perlahan dia mulai menyuapi Samantha dan dirinya sendiri secara bergantian.
" Terong gorengnya boleh juga deh, hehe.." Samantha pun akhirnya tidak setegang tadi.
" Kalau Terong milikku mau nggak?" Ken semakin ingin menggodanya.
" Emang kamu punya kebun Terong?" Tanya Samantha, yang langsung membuat Ken dan Ray kembali tertawa bahkan sampai terpingkal-pingkal, sedangkan Hana dan Samantha malah terbengong melihat dua pria itu.
" Memang apa yang lucu?" Samantha menoleh kearah Hana yang sama-sama bingung sepertinya.
" Entahlah." Hana pun mengangkat kedua bahunya.
Sedari awal Ken melihat gadis itu, memang cara bicaranya lain, wajahnya selalu santai bawaannya, seolah dia tidak takut dengan apapun.
Dan akhirnya mereka berempat menikmati kudapan malam dengan penuh canda tawa, Ken yang awalnya tadi cuma tidak sengaja melihat mobil Ray parkir di halaman restoran itu langsung mampir saja, karena dia baru pulang dinas dan memang hendak mencari makan malam.
" Sekarang kamu mau pulang kemana, biar aku antar saja." Ray merangkul Hana sambil menyandarkan kepalanya di papan kayu belakangnya.
" Ke Kosan aku aja, besok ada jadwal kuliah pagi." Jawab Samantha.
" Heh... babon, kamu kuliah juga ternyata?" Ken langsung terheran mendengarnya.
" Emang kalau mafia nggak boleh kuliah, mafia juga manusia kan?" Tanya Samantha balik.
" Jadi mafia kok bangga, seharusnya kamu itu belajar yang benar, perbaiki diri, perbaiki akhlak, agar kelak suamimu dan anak-anakmu bangga karena memilikimu, biarpun kamu akhirnya hanya mengurus rumah tangga." Ken langsung mulai ceramah malam.
" Wah... sepertinya sudah siap jadi calon bapak rumah tangga nih?" Ledek Hana seketika.
" Siap lahir batin dia, cuma calonnya yang terbang nun jauh disana." Celetuk Ray ikut menimpali.
" Emang siapa yang punya cita-cita jadi mafia, siapapun pasti ingin jadi wanita baik-baik, tapi apa daya, keadaan tidak memungkinkan, syukuri saja apa yang terjadi, ambil hikmahnya, karena mengeluh juga tidak ada gunanya." Jawab Samantha dengan enteng.
" Hikmahnya kamu dikejar-kejar para brandalan tadi kan?" Ray langsung menjeling kearah Samantha.
__ADS_1
" Mau gimana lagi?" Jawab Samantha dengan pasrah.
" Keluarlah dari geng itu, apa ada syaratnya? atau harus membayar sejumlah uang? katakan berapapun Samantha, biar kamu bisa lepas dari gerombolan mereka." Ray langsung berbicara serius.
" Sejak ayahku meninggal hari itu, aku sudah memutuskan untuk keluar dari sana, apalagi aku mendengar geng kami bubar dan saat aku sempat mampir ke Markas mereka pun kosong, tidak lagi berpenghuni, jadi itu memudahkan aku untuk bisa lepas dari sana." Jawab Samantha yang sebenarnya masih merasa aneh sampai sekarang.
" Ya iyalah... orang mereka sudah tew@s semua, cuma tinggal kamu saja yang tersisa." Celetuk Ken sambil tersenyum miring.
" Benarkah? mereka sudah tew@s?" Samantha seolah tidak percaya.
" Hmm.." Ray dan Ken kompak mengganguk.
" Kalian menangkap dan membunuhnya?" Tanya Samantha yang ikut terkejut, pasalnya geng itu sangat kuat dan biasanya sulit dikalahkan, kenapa bisa tew@s semua pikirnya.
" Bukan kami yang menghabisinya, kamipun tidak tahu." Ken langsung menaikkan kedua bahunya.
Astaga... Deka? apa kamu juga ikut tew@s dengan mereka?
Samantha menundukkan wajahnya, mengingat satu orang dalam geng itu yang selalu baik dan melindungi dirinya.
" Kenapa wajahmu terlihat sedih? kamu kasihan dengan mereka, para gengster itu?" Ray langsung menelisik wajah gadis itu.
" Owh... tidak, aku punya satu teman disana, tapi ya sudahlah, mungkin itu sudah jalan takdir mereka." Samantha akan mencari tahu nanti pikirnya.
" Trus... kalau mereka semua sudah tew@s, kenapa dua pria tadi masih mengincarmu Samantha?" Hana si otak cerdas langsung bertanya-tanya.
" Iya juga ya? apa mereka juga terlewatkan?" Ray kembali mengingat kejadian tadi.
" Mereka bukan dari anggota kami." Jawab Samantha dengan tenang.
" Trus?" Ray semakin penasaran dibuatnya.
" Dari geng lain." Jawabnya cepat.
" Kamu diajak mereka untuk bergabung?" Ken pun ikut penasaran jadinya.
" Nggak juga sih?"
" Jadi kenapa dia menyerangmu? apa kalian pernah saling melawan dan bermusuhan atau gimana?" Ray langsung menyerang pertanyaan dengannya.
" Dia tidak menyerangku, mereka tadi hanya menyuruhku ikut dengannya, tapi aku menolak, jadi mereka memaksaku." Jelas Samantha dengan jujur.
" Alasannya apa?" Tanya mereka bersamaan.
" Karena..." Samantha terlihat ragu ingin mengatakannya.
" Karena apa Samantha, jujur dengan kami, agar kamu bisa lepas dari belenggu komplotan mafia, kami pasti akan membantumu dengan apapun itu." Ray hanya ingin memastikan anak paman baik itu kembali ke jalan yang benar dan tidak mengulangi kesalahan silamnya lagi.
" Benar itu Samantha, walaupun alasannya karena pengobatan orang tuamu, namun menjadi geng mafia tetaplah tidak baik, sebagai makhluk sosial kita tidak boleh egois, mempertahankan satu nyawa orang dan mungkin saja tanpa sadar kalian menghilangkan nyawa orang banyak, walaupun itu bukan kamu sendiri pelakunya, tapi pasti kamu akan ikut menanggung dosanya." Hana pun turut menasehati.
" Aku tahu kalau aku salah, aku pun menyesalinya, pikiranku terlalu pendek kala itu." Samantha kembali menundukkan kepalanya.
" Trus karena apa mereka mencarimu tadi?" Ray kembali mengulangi pertanyaannya.
" Hmm... karena katanya, bos mereka jatuh cinta denganku." Jawab Samantha setelah berulang kali menghela nafas.
" APA?" Teriak Hana, Ray dan Ken dengan kompak, bahkan suara mereka menggelegar disana.
" Dan ingin segera mempersuntingku." Lanjut Samantha kembali yang berhasil membuat ketiganya melongo.
" ASTAGA!" Mereka bertiga kembali kompak, antara terkejut, heran dan tidak menyangka jika hal itu bisa terjadi.
" Gilak... sainganmu Bos Gengster bro!" Ray langsung menepuk bahu Ken yang masih melongo menatap Babon Mafia yang telah mencuri perhatiannya itu.
" Cocok lah itu, Bos Gengster dan Komandan pasukan Reserse Kriminal, makin seru aja cerita hidupmu Samantha." Hana akhirnya terkekeh sendiri dengan lelucon hidup yang terkadang sangat menyesakkan.
" Haruskah aku menerima Lamarannya?" Samantha menatap Hana sambil ikut tersenyum.
" JANGAN, NGGAK BOLEH!"
Tanpa sadar Ken langsung berteriak kembali, sedangkan Hana, Ray dan Samantha langsung menatap wajah Ken dengan penuh tanya.
Padahal tadi Samantha hanya bercanda saja, karena dia sudah berjanji didalam hatinya untuk tidak akan masuk kembali ke lembah kelam masa lalunya, karena sebentar lagi dia sudah akan wisuda, dan berencana mencari pekerjaan yang layak dan halal baginya.
..." Yang sulit adalah instropeksi diri, yang mudah adalah menghakimi dan mengintimidasi. Jalani hidup dengan menyadari bahwa setiap manusia memiliki kekurangan, terutama diri sendiri, karena tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini."...
Walaupun othor cuma update satu bab, tapi ini sudah panjaaaaaaaaaaaaaaaaaang banget loh ya, sepanjang harapanku mendapatkan hadiah dari kalian, hehe...☺
__ADS_1