
...Happy Reading...
Ray berada dalam posisi merasa bersalah namun merasa lucu juga, baru kali ini dia membuat seseorang pingsan walau tanpa menyentuhnya sedikitpun.
Beberapa karyawan lainnya mencoba memberikan pertolongan pertama kepada Peter, ada yang memijitnya ada juga yang memberikan minyak angin agar Peter cepat sadar.
" Ray, ikut aku kita bicara dikamarku." Hana menatap jengah wajah kekasihnya yang terlihat tetap tenang dalam situasi apapun itu.
" Apa? langsung ke kamar nih? nggak menunggu dia siuman dulu?" Tanya Ray yang malah berpikiran lain.
" Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?" Hana langsung mencubit pinggang Ray dengan gemas.
" Aw.. aw.. geli my Hana, habisnya kamu langsung ngajak ke kamar aja." Ray malah terlihat tertawa cekikikan karenanya.
" Karena nggak mungkin aku marahin kamu didepan karyawanku!" Ucap Hana yang tidak ingin membuat malu Ray sama sekali.
Dulu dia sering diberi nasehat oleh oma nya di Singapura, " kamu boleh merasa kesal dan marah kepada seseorang yang kamu sayang, karena itu hal yang wajar, namun jangan pernah memarahinya didepan umum, karena itu akan menjatuhkan harga diri seorang pria".
Dan pedoman itulah yang selalu Hana terapkan, karena walau sekesal apapun dia mulai menyadari bahwa tanpa Ray disisinya, dia pasti tidak banyak tersenyum dan tidak merasakan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
" Jadi aku mau dimarahin nih? argh... nggak mau, biar aku yang nungguin dia sampai bangun saja." Ray langsung balik kanan untuk mencari aman.
Namun sebelum Ray berhasil kabur, Hana langsung menjulurkan kaki jenjangnya kearah kaki Ray.
Brak!
Alhasil Ray tersandung kaki Hana dan hampir saja jatuh, untung dia selalu berlatih menahan keseimbangan tubuh, jadi dia tetap bisa berdiri tegap kembali.
" My Hana, jahat sekali kamu ini, tega kamu nglakuin kayak begini denganku, aku ini pacar kamu apa musuh kamu sebenarnya?" Rengek Ray yang langsung mengusap kakinya perlahan, dia merasa telah dianiaya oleh kekasihnya sendiri.
" Masuk ke kamar atau kita adu pemanasan sekarang, hurm... sudah lama sekali aku tidak mengeluarkan jurus-jurus Taekwondoku, aku rindu sekali membanting seseorang diatas matras." Hana seolah tidak peduli dengan kaki Ray, karena dia yakin tidak terjadi apa-apa.
" Tapi... lantai ini terlihat keras sekali ya? nggak ada yang bawa matras juga disini, kalau tubuh kita jatuh ke lantai kira-kira langsung patah nggak ya Ray?" Ucap Hana kembali sambil pura-pura memukul lantai itu dengan sendalnya.
Wao... aku pengen banget dibanting diatas kasur my Hana? dih... jadi makin gemes deh kalau lihat kamu marah begini... makin cinta jadinya...
Bukannya ketakutan Ray malah terlihat senyum-senyum tidak jelas, bahkan dulu saat tenaga dan ilmu beladirinya belum seperti sekarang saja dia bisa menjatuhkan Hana hanya dengan trik dan akal bulusnya, apalagi sekarang yang sudah punya kemampuan dua-duanya, dia seolah mendapatkan hiburan gratis dikala lelah menerpa sekujur tubuh.
" Aisssh... aku jadi menyesal datang kemari." Umpat Ray pura-pura, padahal didalam pikirannya dia sudah mulai menyusun strategi.
" Cih... siapa suruh datang-datang bikin onar!" Umpat Hana kesal.
" Emang siapa yang bikin onar? orang aku datang sekedar meramaikan kok." Ray tidak mau kalah dalam soal berdebat.
" Meramaikan jangan pake acara main-mainin pistol segala dong, kamu pikir kita terbiasa latihan militer apa? denger bunyi tembakan begitu mau copot rasanya nih jantung!" Umpat Hana sambil menutup pintu kamarnya.
" Mana sini yang copot? biar aku pasangin lagi!" Ray langsung berjalan mendekati Hana.
" Ray... kamu pikir ini mainan bongkar pasang apa! duduk sana!" Ucap Hana yang kembali mengeluarkan kedua taringnya.
" Lagian siapa suruh kalian mesra-mesraan dibelakang aku? mana pergi diam-diam nggak ngabarin aku? dasar pacar durhaka!" Ucap Ray dengan kesal.
" Astaga, emang siapa yang mesra-mesraan, kami cuma main game saja kok, lagian aku sudah menghubungimu beberapa kali, tapi nggak kamu angkat!"
Namun didalam hati dia mengucap syukur menghubungi Ray namun tidak diangkatnya.
" Masak sih?"
Ray langsung memeriksa ponselnya, ternyata ada beberapa panggilan telpon dari Hana yang terabaikan olehnya, karena mungkin dia berada dalam perjalanan, dan dia masih menyeting ponselnya dalam mode getar, jadi dia memang tidak mengetahuinya.
" Ada nggak? kalau nggak ada buang saja ponsel mahalmu itu!" Hana berbicara asal saja.
Wing!
Dengan patuhnya Ray melempar ponselnya, namun keatas ranjang milik Han dan langsung memeluk tubuh Hana dari belakang.
" Astaga Ray?" Hana kembali dibuat terkejut Ray melempar ponselnya sungguhan.
" Hehe... maaf, aku nggak dengar tadi kak!" Dia bahkan membenturkan kepalanya di punggung Hana.
__ADS_1
" Jadi siapa yang nyebelin ini?" Umpat Hana kembali.
" Tetep aja yang nyebelin kamu my Hana, hehe!" Ray menyandarkan kepalanya dibahu Hana dengan manja, dia bahagia saat Hana menghubunginya tanpa dia minta terlebih dahulu.
" Owh begitu?" Hana mengusap jemari Ray dengan lembut.
" Kakak, aku capek banget, belum sempat istirahat tadi dan langsung pergi kesini!" Rengek Ray.
" Benarkah? mau aku pijit dulu biar enakan?" Ucap Hana yang langsung mengambil ancang-ancang tanpa sepengetahuan Ray.
" Mau... badanku emang pegel semua my Hana."
" Baiklah." Hana langsung mencengkeram jemari kanan Ray dan ingin menyiku perut Ray drngan tangan kirinya.
" Tangan kakak kenapa?" Dengan cekatan Ray langsung menahannya dengan satu tangan, dia sudah bisa membaca kemana arah pikiran kekasihnya.
" Aish.. sial." Karena serangan dari tangan kirinya bisa ditahan, Hana berpindah haluan dengan menggerakkan kakinya memutar kebelakang untuk menjatuhkan Ray.
Brak!
Namun seribu kali sayang, Ray bukan anak pemula dalam bidang ilmu bela diri lagi, apalagi saat ini dia terkenal sebagai ahli siasat karena paling bisa melihat strategi dari lawan.
Alhasil bukan Ray yang terjatuh, tapi Hana yang jatuh kembali kedalam pelukan Ray karena kaki Ray lebih dulu menjegal kaki Hana sebelum dia beraksi.
" Aaaarrrggghhh!" Hana langsung berteriak, bukan karena kesakitan tapi karena gagal dua kali dalam menjatuhkan Ray.
" Hihihi... kakak mau ngapain sih tadi?" Ray langsung mengeratkan pelukannya ke tubuh Hana sambil terus meledek kekasihnya yang telah gagal menyerangnya dua kali.
" Nggak ngapa-ngapain kok, cuma mau nglemesin tangan aja." Jawab Hana yang langsung memulai drama, walau bagaimanapun juga dia pernah jadi senior kekasihnya, jadi harus tetap jaga gengsi dong, pikirnya.
Haha... tidak semudah itu melawanku sekarang my Hana.
" Owh ya? brati tadi juga mau nglemesin otot kaki juga dong?" Ledek Ray sambil terus menggoda Hana yang sudah melengos karena menahan malu.
" Ya iyalah... kakiku pegel semua, kebanyakan pake highheels di kantor." Jawab Hana yang telah menemukan jawaban yang masuk akal.
" Ututu... kasihannya, kalau begitu aku bantu!" Ray langsung mengangkat tubuh Hana dan membantingnya dikasur.
" Hehe... kenapa? apa kakak takut sekarang? dimana jiwa seorang Hanami yang tidak takut dengan apapun itu?" Ray langsung membuka seragamnya dan menaruhnya dikursi.
" Ray jangan main-main kamu, aku bilangin aunty Mala nanti loh!" Hana langsung mencari-cari ponsel miliknya.
" Tidak masalah, biar kita dinikahkan saja sekalian." Jawab Ray tanpa rasa takut sedikitpun.
" Ray... jangan begini dong, aku... aku belum siap Ray!" Pikiran Hana sudah kacau dan bercabang kemana-mana saat melihat Ray berjalan mendekat ke arah ranjang.
" Kenapa kak? nggak akan sakit kok?" Ray bahkan sudah mulai merangkak naik keatas ranjang VIP itu.
" Stop Ray, STOP!" Hana mengangkat kedua tangannya ke udara.
" Kenapa harus stop segala, aku ingin my Hana." Senyum licik dari wajah Ray semakin terlihat dengan jelas.
" Ingin apa? Ray... aku marah besar denganmu, kalau kamu sampai tega melakukan ini denganku sekarang!" Hana langsung memberikan ultimatum.
" Melakukan apa sih?" Ray bahkan semakin mengikis jarak.
" Aku tidak perduli, yang penting aku tidak mau seperti ini dulu sebelum kita sah Ray, tolonglah mengerti." Hana ingin mundur lagi, tapi sayang sekali tempatnya sudah mentok.
" Aku mengerti." Ray bahkan semakin melebarkan senyumnya.
" Bagus itu, sebagai aparat negara harusnya kamu memberi contoh yang baik bukan? jangan seperti ini Ray, eling Ray eling!" Hana langsung menutupi dadanya dengan bantal.
" Tentu, aku tidak akan lupa kalau aku ini aparat negara!" Ray menarik paksa bantal di da da kekasihnya.
" Jangan Ray, please lepaskan aku!" Hana langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat sebagai aksi protes kalau dia menentang kemauan Ray.
" Emang siapa sih yang menahan kakak? orang aku cuma mau tiduran sambil baring dikaki kakak aja kok." Giliran Ray yang memeluk bantal itu dengan erat dan merebahkan kepalanya dipangkuan Hana.
" HAH?"
__ADS_1
" Katanya mau mijitin tadi?" Ray menaikkan kedua alisnya.
"Owh iya, hehe... maaf aku lupa." Hana jadi malu sendiri saat mengingat apa yang sudah bersarang diotaknya.
" Dasar kakak mesvm!" Ray menyentil hidung mancung kekasihnya sambil terus tersenyum.
Aaaaaa... malunya aku! kenapa pikiranku bisa kearah sana sih! Ray itu seorang aparat negara, tidak mungkin dia melakukan hal serendah itu, bodohnya aku, kenapa aku selalu kalah dalam segi apapun dengannya, padahal dia lebih muda dariku..
Hana bahkan tidak berani memandang wajah Ray dipangkuannya, dia memilih memijit kepala Ray sambil membuang wajahnya.
" Apa kakak malu sekarang?" Tanya Ray tanpa basa basi sekalipun, karena wajah Hana sudah memerah bak kepiting rebus.
Hah? apa kelihatan dari wajahku?
" Ray kamu lapar nggak? mau aku ambilin makanan atau tidak?" Hana pura-pura mengalihkan topik pembicaraan.
" Cie... kakak malu yaa, hahahaha." Ray sudah tidak tahan lagi untuk tidak tertawa.
" Apaan sih Ray! awas... kalau nggak mau makan ya sudah, kakak makan sendiri."
" Kak..."
" Apa?"
" Berjanjilah untuk selalu setia denganku, apapun yang akan terjadi nanti." Ray langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Hanami untuk menahannya agar tetap di posisi itu.
" Cih... kamu pikir aku kak Ganesh, yang punya banyak mantan begitu, aku bahkan tidak punya mantan Ray?" Hana langsung berdecih mendengar perkataan dari sang kekasih.
" Aku pun tidak punya deretan mantan kak, kalau deretan wanita yang aku tolak sih memang banyak!"
" Mulai deh sombongnya." Hana mengusap rambut Ray dengan penuh kelembutan, jarang-jarang dia bisa bermesraan dengan Ray seperti ini, karena biasanya Ray sering mengajaknya berdebat, entah ada aja nanti yang menjadi topiknya.
" Kakak cinta nggak sih sama aku?"
" Ngomong apa sih kamu Ray?"
" Kenapa kakak tidak pernah mengungkapkannya denganku?"
" Harus ya?"
" Ya iyalah... kalau enggak gimana aku bisa tahu?"
" Denger ya Ray... kata sayang saja, rasanya tidak cukup untuk mengungkapkan rasa cintaku kepadamu." Hana mengatakan itu sambil membuang pandangan, seolah dia mengungkapkan apa yang ada dihatinya kini.
" Hmm?"
" Jika boleh minta satu hal pada Tuhan, aku ingin saat ini, waktu dihentikan sekejap, sehingga aku bisa bersama kamu lebih lama lagi, sebelum ada urusan dunia yang akan datang menggangu kita." Ucap Hana kembali.
" Kenapa kakak bisa berubah pikiran, dulu bukannya kakak membenciku kan?" Tanya Ray dengan hati yang sudah ser-seran.
" Bukan membenci Ray, hanya belum bisa menyadari akan kehadiranmu, padahal kamu membuat hidupku benar-benar bahagia melebihi apa yang pernah aku bayangkan sebelumnya." Sekelebatan kata-kata juteknya langsung berbaris rapi saat mengingat awal mula mereka bertemu dulu.
" Benarkah?" Ray tidak pernah menyangka Hana bisa berkata semanis ini.
" Kamu membuatku menyadari hal-hal yang tidak mungkin terjadi, bisa jadi kenyataan." Dan akhirnya pikiran dan hatinya terbuka, saat Ray mengacuhkannya dan dekat dengan orang lain.
" Siapa dulu dong orangnya! Raymond, hehe..." Ucap Ray yang langsung membanggakan dirinya sendiri.
" Ray..." Panggil Hana dengan pelan.
" Iya, kakak sayang..." Jawab Ray yang ikut memanggilnya dengan mesra.
" Terima kasih sudah memilih bertahan denganku sedari dulu, dan terima kasih juga karena sudah mencintaiku dengan segala ketidaksempurnaanku, i love you Ray..."
Entah mengapa dia tidak merasa malu saat mengatakan itu semua duluan kali ini, rasa sayangnya dengan Ray kini bahkan melebihi rasa ketertarikannya dengan Ganesh tempo dahulu.
" Aaaaaaaa... i love you too my Hana." Ray langsung bangkit dari tidurnya dan membawa tubuh Hana kedalam pelukannya, tidak lupa dia mendekap erat tubuh gadis yang sedari dulu dia sukai itu.
Akhirnya Ray bisa terdenyum bahagia, walau puluhan gadis berkata-kata manis dengannya, dia tidak pernah memikirkannya, namun saat kata-kata sederhana itu keluar dari mulut seorang Hanami, serasa tiap bait kata itu menusuk dan tertancap dihatinya yang terdalam.
__ADS_1
..."Cinta tidak selalu bisa diukur oleh seberapa lama kamu menunggu, tetapi bagaimana kamu memahami apa yang kamu tunggu."...